Oleh: Imelda Yance

Esperanto

16 November 2014 - 06.46 WIB > Dibaca 1412 kali | Komentar
 
Esperanto
Imelda Yance
Banyak yang menebak bahwa Esperanto merupakan kata yang berasal dari bahasa Spanyol. Tebakan tersebut cukup beralasan, karena bentuk dan pelafalannya memang mirip dengan kata-kata dalam bahasa negeri matador tersebut. Ternyata, Esperanto merupakan nama sebuah bahasa buatan/artifisial (artificial/constructed language). Nama Esperanto diambil dari gelar penciptanya, Dr. Ludovic Lazarus (Ludwik Lejzer) Zamenhof (1859 – 1917),  yang dalam bahasa Esperanto berarti  ‘seseorang yang berharap’. Bahasa ini pertama kali dipublikasikan pada 1887.

Bahasa dapat dibuat atau dirancang, Esperanto contohnya. Bahasa ini dilahirkan karena kegalauan Zamenhof terhadap kekisruhan akibat ketiadaan bahasa perantara dalam situasi multilingual atau poliglotisme di tempat ia dibesarkan, Bialystok, Polandia. Di sana hidup tiga suku bangsa dengan bahasa yang berbeda: suku bangsa Polandia (berbahasa Polandia atau  Polsky), suku bangsa Belarus (berbahasa Belarus dan Rusia), dan suku bangsa Yahudi (berbahasa Yiddish).

Zamenhof sendiri akhirnya tumbuh sebagai seorang poliglot (menguasai lebih dari 6 bahasa: Polandia, Rusia, Yiddish, Jerman, Perancis, Latin, Ibrani, Yunani, Inggris, Italia, Spanyol, dan Lithuania). Masalah lain timbul, yaitu saat memilih satu bahasa sebagai bahasa perantara. Tiap kelompok menginginkan bahasa kelompoknyalah yang dipilih. Kala itu (juga sekarang), tampak sekali identitas dan nasionalisme melekat pada bahasa.

Perdamaian disuarakan Zamenhof melalui bahasa Esperanto. Bahasa ini diprediksi akan diterima oleh semua pihak. Konon, hal itu disebabkan oleh kenetralannya (bukan bahasa siapapun atau bangsa manapun). Masa pun menjawabnya. Saat ini, setelah lebih dari satu abad, Esperanto telah tumbuh menjadi bahasa gaul internasional. Penuturnya diperkirakan telah mencapai 1 juta orang. Bahkan, sudah menjadi bahasa ibu (bahasa pertama).

Keberterimaan bahasa Esperanto secara luas juga tidak terlepas dari kemudahannya untuk dipelajari. Sistem ejaan dan  lafal bahasa ini sama, sehingga tidak sulit diucapkan (sama dengan bahasa Indonesia). Sistem tata bahasanya juga sangat sederhana, tidak memiliki kata kerja yang tidak beraturan (irregular verbs). Walaupun berdasar pada bahasa Latin, kosa katanya pun mudah dibentuk dari kosa kata yang sudah ada. Misalnya, kata benda berakhiran /-o/, kata sifat berakhiran /-a/, dan kata keterangan berakhiran /-e/.

Selain  faktor kebahasaan tersebut, keberadaan Esperanto juga didukung oleh  faktor di luar bahasa, seperti adanya lagu, buku, majalah, film, dan saluran radio berbahasa Esperanto. Bahkan, Asosiasi Esperanto pun telah didirikan pula.

Sebenarnya, bahasa buatan/artifisial di dunia tidak hanya Esperanto. Ada bahasa lain diciptakan jauh sebelum Esperanto. Bahasa Solresol diciptakan oleh Francois Sudre tepat 60 tahun (1827) sebelum kelahiran Esperanto.

Berturut-turut dipublikasikan bahasa Communicationssprache (1839) oleh Joseph Schipfer, bahasa Universalglot (1968) oleh Jean Pirro, dan bahasa Volapuk (1879—1880) oleh Johann Martin Schleyer. Setelah kelahiran Esperanto hingga tahun 1900-an, tercatat sebanyak 32 bahasa buatan.

Tampaknya, pembuatan bahasa tidak berhenti sampai di situ. Pada tahun 2000-an saja lahir lagi 3 bahasa. Di antaranya yang paling baru adalah bahasa Lingwa de planeta yang diciptakan pada 2010 oleh Dmitri Ivanov. Jadi, membuat bahasa bukanlah hal yang mustahil. Yang sulit adalah membuatnya tetap hidup (terpakai). Nah, pemakainyalah yang (terutama) menjadi penentu.

Situasi yang dialami oleh pencipta Esperanto, Zamenhof, tidak terlalu jauh berbeda dengan yang dialami oleh masyarakat Indonesia yang hidup di wilayah perkotaan. Namun, etnik sekaligus bahasa yang beragam boleh dikatakan tidak menjadi penghambat interaksi karena ada bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi nasional.  

Lalu bagaimana dengan situasi kebahasaan di Riau? Di tengah keberagaman dialek bahasa Melayu Riau (Siak, Indragiri, Rokan, Kampar, Kuantan), mencuat persoalan tentang dialek yang akan dijadikan sebagai bahasa Melayu Riau standar. Tampaknya, belum ada titik temu dari para pendukung dialek-dialek tersebut (Danardana, 2010).  Padahal, keberadaannya sangat vital, karena bahasa itulah akan dipakai sebagai acuan tentang bentuk yang baku (terutama dalam pembelajaran), dipakai dalam situasi resmi (kedaerahan), dan menjadi bahasa persatuan dalam masyarakat yang mempunyai banyak bahasa (dialek) di Riau.

Kalau bahasa Melayu Riau standar itu ada, tentu bahasa itulah yang akan diajarkan dalam muatan lokal di sekolah misalnya. Tentu bahasa itulah yang mendesak untuk dilengkapi dengan bahan-bahan ketatabahasaan misalnya. Namun, sampai saat ini, bahasa Melayu Riau standar itu belum ada. Apakah kebuntuan itu membuat apa yang dilakukan Zamenhof menjadi masuk akal juga buat Riau? Entahlah.***


Imelda Yance
Pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 15:30 wib

Puskesmas Kampar Bersiap Hadapi Akreditasi

Selasa, 18 September 2018 - 15:00 wib

Pasar Desa Kasikan Terbakar

Selasa, 18 September 2018 - 14:56 wib

Hotel Dafam Tawarkan Kenikmatan Kopi Ple-Tok

Selasa, 18 September 2018 - 14:46 wib

Topan Mangkhut Tewaskan 59 Orang

Selasa, 18 September 2018 - 14:43 wib

OJK Diharapkan Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Selasa, 18 September 2018 - 14:42 wib

Pekanperkasa Gelar LCV Party dan LCV Gathering

Selasa, 18 September 2018 - 14:30 wib

Bingung Ferrari ‘Menghilang’

Selasa, 18 September 2018 - 14:06 wib

ACE Hadirkan Program Smart Lighting Smart Living

Follow Us