Oleh: Muhammad Hapiz

Asap=Banjir

23 November 2014 - 07.15 WIB > Dibaca 633 kali | Komentar
 
Asap=Banjir
Muhammad Hapiz
HABIS asap terbitlah banjir. Itulah pergantian waktu di negeri bernama Riau. Dirudung susah berkepanjangan akibat dua musim tak natural ini. Kian tahun intensitas dan kualitasnya makin tinggi saja. Pemerintah seakan tak berdaya hanya bisa sebarkan masker dan sembako gratis berikut berbagai rencana penuntasan diatas kertas dibahas gunakan rupiah tidak sedikit di hotel mewah. Derita tanggunglah oleh masyarakat yang hanya bisa mengumpat, sumpah serapah sembari menikmati hisapan asap dan minum air banjir berlumpur dua musim tadi.

Di ceruk kampung warga terpapar asap dan air bah lugunya mengatakan tahun ini paling parah. Tahun berikutnya katakan lagi paling parah. Begitu seterusnya dari tahun ke tahun, asap dan banjir di Riau terjadi makin parah. Stigma paling parah itu mereka sampaikan tidak berdasarkan survei atau penelitian ilmiah. Tapi sederhana saja, karena terus merasakan mulai dari cerita datuk, orang tua hingga merasakan sendiri. Tapi belum ada survei, penelitian atau ekspos pemerintah yang jujur menyebut kata paling parah untuk dua musim ini. Yang ada malah muncul kalimat masyarakat sudah terbiasa dengan banjir bahkan menikmatinya. Kerifan lokal katanya. Parah.

Padahal asap dan banjir bukan tanpa sebab. Asap jelas-jelas akibat pembakaran oleh manusia. Intensitasnya bertambah seiring masifnya pembukaan lahan. Siapa yang membuka lahan secara masif yang jumlahnya sampai ratusan hingga ribuan hektare? Semua kita bisa menjawabnya dengan mudah, korporasi atau pemodal besar. Tapi tentu kita juga sama-sama heran, kenapa kebanyakan masyarakat kecil yang dijerat hukum. Hingga muncul perumpamaan hukum tajam ke bawah tumpul ke atas.
 
Bencana asap tiap tahun memenjara kita. Tahun 2014 ini saja, pembakaran lahan terjadi sejak Februari hingga agak berhenti mendekati September. Itupun masih saja terpenjara asap tapi giliran negeri tetangga Sumsel dan Jambi yang memproduksinya. Disebutkan 10.502 hektare lahan terbakar. Itu data resmi dirilis BNPB yang diyakini banyak pihak jumlahnya lebih luas lagi. Anehnya, sebagian besar terbakar di wilayah larangan hutan lindung yang sudah dialokasikan uang oleh negara untuk dipelihara atau di lahan yang diperebutkan statusnya seperti lahan izin hak penguasaan hutan (HPT) yang sudah habis.

Hujan kemudian turun deras. Berkaitkelindan, hutan yang kian habis kemudian menyebabkan air tak terkendali. Rasanya baru sekarang bisa betul-betul percaya pelajaran ketika di sekolah dasar dulu, bahwa akar pohon punya andil besar menahan air dan hutan penting untuk sistem ekologi lingkungan. Hutan Riau kian habis berganti tanaman rakus air bernama sawit. Kawasan banjir adalah daerah yang hutannya habis dimakan yang tak tersentuh hukum. Hutan lindung Suaka Marga Satwa Bukit Rimbang-Bukit Baling melintasi Kampar dan Kuansing sudah hampir separuh habis dibabat. HPT Sumpu yang luasnya sampai 20 ribu hektare juga bernasib sama.

Taman nasional tesso nilo di Inhu, Pelalawan dan Kuansing lebih parah lagi, sudah 40 ribu hektare lebih ditebangi. Hutan lindung Mahato di Rohul juga menjadi jarahan. Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu Bengkalis dan Siak baru Maret 2014 ini terungkap ribuan hektare sudah diambil kayunya, sebagian berganti kebun sawit. Hingga wajar jika dua musim laknat itu, asap dan banjir selalu terjadi dan semakin tinggi intensitasnya di Kampar, Rohul, Kuansing, Inhu, Rohil, Bengkalis. Kalau Pekanbaru, Rumbai dan Witayu misalnya hanyalah persoalah ketidaktegasan pemerintah dalam merelokasi warga setempat karena dataran terendah.

Ada solusi agroteknologi dan hentikan penambahan luas kebun di Riau ini untuk menekan bencana. Tapi untuk saat ini apa boleh buat. Luapan sungai tak tak tertahan lagi. Sekolah, masjid, kebun, sawah bahkan jalan umum lumpuh terendam air. Seketika itu penguasa merasa iba, merasa terpanggil ingin membantu menjelma menjadi sang penolong dengan menyerahkan berbagai bantuan. Ujung-ujungnya diselipkan niat politik. Tentu tak sebanding dengan tauladan Umar bin al-Khatab Ra sebagai rujukan kepemipinan yang ideal. Seandainya ada seekor keledai terperosok di kota Bagdad karena jalan rusak, aku kawatir Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban diriku di akhirat nanti (al-imam al-azam). Yang kemudian dikisahkan pula bahwa Umar tak segan-segan memanggul sendiri gandum di atas pundaknya untuk diberikan kepada seorang janda dan keluarganya saat diketahui bahwa mereka sedang kelaparan. Kontradiksi terjal memang bilamembandingkannya. ***


Muhammad Hapiz
Redaktur
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us