Menyampaikan Pesan lewat Teater

23 November 2014 - 07.35 WIB > Dibaca 2196 kali | Komentar
 
Menyampaikan Pesan lewat Teater
Para pelakon bernyanyi dan menari sebagai pembuka pertunjukan di Gedung Cik Puan, Kota Bengkalis. Foto: *6/fedli azis/riaupos
Teater Matan pentaskan sandiwara komedi berjudul Romieh dan Juliah di Kota Terubuk-Bengkalis, Sabtu (15/11) lalu. Pementasan yang berlangsung di Gedung Cik Puan itu mendapat sambutan hangat dari para apresiator, baik dari kalangan pelaku teater maupun penonton umum.

Laporan Fedli Azis, Pekanbaru

Tawaran konsep komedi yang dipergelarkan mengingatkan keberadaan tonil dan sandiwara bangsawan yang dulunya berkembang pesat di Bengkalis.

Unsur-unsur komedi yang terkemas dalam pentas Romieh dan Juliah produksi Teater Matan bukanlah konsep baru apalagi di Bengkalis yang menjadi salah satu daerah di mana pernah begitu maraknya Sandiwara Bangsawan dan Tonil. Unsur Komedi atau humor dalam pentas teater-teater tradisi pada masa dahulunya justru menjadi hal yang  diperhitungkan ketika sebuah pagelaran teater dipentaskan di hadapan khalayak.

Bahkan menurut penyair asal Riau, Syaukani al Karim yang hadir pada malam pertunjukan itu menyebutkan dalam tradisi Melayu, komedi atau kelucuan menjadi bagian penting untuk menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat pada masa dahulu. Tidak hanya berlaku pada pertunjukan teater-teater tradisi tetapi juga pada karya-karya sastra yang hidup pada masa itu. Sebut saja, lanjut Syaukani misalnya karya-karya penulis seperti Soeman Hs. Beberapa karya cerpen diantaranya Salah Sangka, Kawan Bergelut dan lainnya, hampir semua komedi dalam bentuk satir, ucap Syaukani.

Keberadaan tokoh yang kepiawaiannya dalam menyampaikan cerita-cerita satir seperti Yong Dolah juga membuktikan bahwa humor atau komedi mendapat tempat di dalam keseharian orang-orang Melayu khususnya Bengkalis. Sesungguhnya menurut Syaukani, pesan-pesan yang dihantarkan dalam bentuk humor bernada satir akan lebih cepat masuk kepada penonton tanpa melukai banyak orang. Bisa dilihat lagi misalnya bagaimana bentuk cerita-cerita rakyat yang berkembang seperti Lebai Malang, Musang Berjanggut, Ayah Andeh dan lain-lain. Jangankan itu, untuk menasehati seseorang dalam keseharian saja, sering disampaikan dengan cara berseloroh. Bahkan banyak pula misalnya kita temui pantun-pantun jenaka dan berkelakar, ujarnya.

Lebih dari itu, budaya humor dalam kebudayaan orang Melayu dapat pula ditandai saat mulai berkembangnya dunia seni pertunjukan tradisional seperti Mak Yong, Bangsawan, Mendu, Mamanda, Randai Kuantan dan tradisi lisan lainnya. Bumbu humor selalu menjadi bagian terpenting dari setiap pertunjukan baik dari sisi improvisasi para pemain maupun karakter tokoh dan kemasan cerita yang dipentaskan, jelasnya lagi.

Sebut saja Tonil misalnya, sebuah produk budaya Melayu dalam bentuk sandiwara komedi yang hidup dan tumbuh subur di beberapa kampung di Bengkalis pada era 1980-an ke bawah. Seingat Syaukani, di Bantan dulu terdapat kelompok tonil yang cukup terkenal yang diasuh oleh Almarhum Abdul Munir (anak kepala desa saat itu). Diantara pemain yang cukup tenar pada waktu itu bernama Almarhum Pak Usu Mat. Kelompok tonil itu akan tampil di masa-masa senggang atau musim istirahat dari pekerjaan seharian sebagai nelayan ataupun penebang hutan.

Mereka tampil di pentas yang telah disediakan. Dengan kesederhanaannya mereka mem bawa kisah-kisah yang berlatar belakang Melayu semenanjung seperti kisah Hang Tuah, Putri Hijau dan lainnya. Semua keperluan dan kepentingan pentas, mereka siapkan sendiri. Tentu saja kemudian, kelucuan menjadi suguhan dan pola penyam paian dari beberapa babak karena itulah pola penyampaian yang sesuai. Masyarakat Melayu dahulu dalam kepahitan hidup, sudah terbiasa menerima pesan dari hal-hal yang ringan dan sederhana, tidak bisa melalui hal-hal yang berbau filsafat atau berat. Agaknya, inilah yang sedang dijajaki pentas Romieh dan Juliah produksi Teater Matan yakni bagaimana telihat upaya untuk mengembalikan teater itu kepada masyarakat, jelas anak jati Bantan tersebut.

Sementra itu, salah seorang pelaku Bangsawan lainnya yang pernah disebut-sebut sebagai pelaku Bangsawan Muda menyebutkan pada masa berikutnya, bentuk tonil yang ada di kampung-kampung di Bengkalis diperkaya pula dengan masuknya sandiwara bangsawan yang berkeliling dari Medan. Kelompok ini kadangkala hampir berbulan-bulan menetap di sebuah kampung termasuk di Bengkalis. Mereka membawakan sandiwara-sandiwara Bangsawan dengan latar belakang Melayu Deli. Selain itu, kelompok ini juga akan membawakan paket lainnya yaitu Joget Lambak. Katanya, dengan latar balakang itu pulalah kemudian agaknya keberadaan teater tradisi Bangsawan kerap kali tampil di berbagai perhelatan di tengah-tengah masyarakat.

Dijelaskannya juga, bumbu humor memang selalu menjadi penyedap dalam lakon teater Bangsawan. Dianya menjadi elemen penting yang biasanya tertuang dalam setiap pertunjukan dengan gaya-gaya improvisasi para pelaku atau pemain. Itulah sebabnya, dalam teater bangsawan ada yang namanya tokoh Kadam, Mak Inang, Jin, dan beberapa tokoh lainnya. Di mana keberadaan tokoh tersebut memang dihajatkan untuk mencairkan suasana.

Tapi yang menarik, cairnya suasana bukan pula untuk melawak semata-mata, sindiran-sindiran terhadap persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat biasanya dikiaskan dalam ungkapan kata-kata lakon yang diperankan. Tak jarang, pesan-pesan cerita yang hendak disampaikan keluar melalui improvisasi pemain dan pola tingkah yang menggelitik hati. Sehingga tak ada yang merasa terluka, di sanalah letak kecerdasannya, ungkap Suhaimi.

Sedangkan penilaiannya terhadap konsep yang ditawarkan Teater Matan dalam pentas Romieh dan Juliah di Bengkalis, kata Suhaimi sangat tampak kaitannya dengan keberadaan pada teater-teater tradisi yang mengutamakan kekuatan aktor dan improvisasi. Hanya saja, unsur hiburan terlalu mendominasi sehingga ada beberapa hal penting yang terasa diabaikan. Mungkin hal itu disebabkan salah satunya, pada beban adegan yang cukup panjang. Sehingga tampak seolah-olah para aktor berlomba-lomba untuk membuat penonton tertawa. Tapi saya akui, untuk sebuah tontonan yang menghibur, pentas Romieh dan Juliah luar biasa. Dengan durasi dua jam setengah, mampu membuat penonton di Bengkalis macam tak berhenti ketawa dan bertahan sampai ke penghujung, ucap Suhaimi sembari menambahkan saran agar ke depan dapat lebih diramu lagi, memilah-milah mana adegan yang tidak perlu dihadirkan dan mana yang harus dikedepankan.

Pola Teater Tradisi
Bagi Teater Matan sendiri, pentas lakon Romieh dan Juliah sebenarnya merupakan program bulanan yang memang di dalamnya ada sebuah kehendak untuk menjajaki pola-pola permainan dalam teater-teater tradisi.

Selian itu, kata Monda Gianes selaku sutradara dalam pentas cerita yang terinspirasi dari kisah klasik Romeo and Juliet, pentas ini proses yang kedua dari teater Matan untuk menjajaki kahzanah-kahzanah teater tradisi yang kita miliki. Sebelumnya sudha pernah ditampilkan lakon dengan pola yang serupa berjudul Hang Tuah Agaknya yang disutradari Hang Kafrawi.
Dalam pementasan serupa ini, kami mencoba menerapkan atau katakanlah mengadopsi pola garapan dari teater tradisi bahkan sampai pada pola penyutradaraan. Misalnya, tidak ada yang namanya naskah. Yang ada hanyalah alur cerita yang dibuat sutradara. Bagaimana pengembangan dialog, itu diserahkan kepada para aktor sepenuhnya.

Semua itu, ditawarkan dalam proses latihan. Silakan para aktor mencari karakter, pola ucap dialog dan kelengkapan unsur pertunjukan lainnya, terang alumni Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) itu.

Disadari oleh Teater Matan, kata Monda, aktor-aktor dari teater tradisi sebenarnya sangat kuat. Teater Bangsawan misalnya, para aktor dahulu itu disamping memiliki kemampuan improvisasi yang luar biasa, juga harus pandai menari, bernyanyi, pandai menghibur sehingga penonton merasa begitu dekat dengan pertunjukan. Hanya saja, barangkali pelaku-pelaku teater tradisi tidak mengetahui yang namanya dramaturgi, hukum-hukum panggung. Nah, beberapa hal inilah yang sebenarnya menjadi capaian kami di teater Matan.  Boleh dikatakan proses ini merupakan sebuah labor bagi teater Matan. Bagaimana misalnya, para aktor bisa mengeksplorasi kemampuan dalam berimprovisasi, menyatukan emosi dengan pemain lainnya dan bahkan penonton, membuat dialog-dialog sendiri dari alur atau adegan yang disediakan sutradara layaknya dalam lakon teater tradisi, jelas Monda Gianes.

Tapi bagi Monda pribadi, selaku sutradara dalam pentas Romieh dan Juliah ini, membawa konsep yang seperti sedang diusung ini ke Bengkalis menjadi tantangan sekaligus beban tersendiri.  Katanya ini seperti bertandang ke sarang Bangsawan. Bagaimana tidak, Bengkalis disamping terkenal dengan kabupaten terkaya di Riau, juga memiliki para tokoh-tokoh teater tapi terlepas dari hal itu, lanjut Monda, setidaknya disini pula proses pembelajaran itu diharapkan.Bengkalis memang menjadi target dari konsep pertunjukan teater yang kami usung, karena kami sepakat, untuk mematangkan proses ini diperlukan masukan dan kritikan langsung dari para pelakunya, kata Monda.

Kekuatan improvisasi dari pelaku teater tradisi kembali dijelaskan Syaukani memang tak dapat dipungkiri. Tonil misalnya, dahulu orang tua-tua tidak mengenal naskah drama. Apalagi mereka justru belum mengenal huruf alias tidak pandai membaca. Jadi selaku sutradara atau biasa disebut Imam hanya memberikan ulasan tentang jalan cerita. Misalnya, sutradara menjelaskan nanti adegan sekian, dikau berkelahi, marah kemudian mati. Secara spontanitas, para pemain akan melakukan adegan tersebut di atas panggung. Dialog-dialog dikarang sendiri oleh pemain, pengembangan adegan tergantung juga kepada pemain. Hal itu sebenarnya tidak menjadi kesulitan disebabkan satu hal bahwa cerita-cerita rakyat, sejarah, legenda yang berkembang ketika itu, memang sudah di luar kepala mereka, jelas Syaukani.

Yang Ada, Yang Terlupakan
Hang Kafrawi selaku pimpinan Teater Matan mengatakan banyak hal yang dimiliki oleh kekayaan tradisi yang sesungguhnya merupakan kekuatan, termasuklah unsur humor atau komedi. Teater Matan melalui program pentas bulanan yang disebut pentas Sandiwara Komedi sebenarnya ingin menunjukkan bahwa kesenian tradisi memiliki sebuah kekuatan yang apabila diolah barangkali menjadi kekuatan baru pula.

Saya merasa seperti ada yang terputuskan saat ini. Kita seolah lupa bahwa tidak hanya ketoprak, ludruk, stand up comedy dan semacamnya, bahwa Riau juga punya Yong Dolah, Tonil, Bangsawan dan beberapa teater tradisi lainnya. Di mana kesemua itu, juga mengemas unsur kelucuan dalam bentuk seni pertunjukan yang cerdas, terang Kaprodi Universitas Lancang Kuning itu.

Untuk itulah, kemudian Teater Matan membuat sebuah program yang tujuannya tentu saja mempelajari hal itu dan kembali menawarkannya kepada masyarakat. Proses ini, bagi Teater Matan menjadi menarik karena ada unsur-unsur tradisi dan ilmu teater modern lainnya yang bisa kami bancuh menjadi satu-kesatuan ide, semangat yang baru. Dan memang, program ini kami rencanakan akan dipentaskan di daerah-daerah. Hanya saja untuk saat ini, tujuan pertama ke Kabupaten Bengkalis dahulu, jika nanti dana mencukupi, barulah kita tentukan daerah lainnya, terang seniman/budayawan pilihan Sagang tahun 2014 tersebut.

Mencermati apa yang disampaikan Kafrawi, Syaukani menjelaskan bahwa saat ini kultur, sistem sosial masyarakat Melayu secara perlahan memang mulai berubah. Bisa saja hal itu disebabkan banyak hal seperti salah satunya tuntutan hidup, perkembangan zaman dan lain sebagainya. Hal ini kadangkala membawa dampak perubahan pula pada kebiasaan dan kebutuhan.

Sehingga banyak hal yang kemudian seperti terlupakan. Masarakat Melayu terjebak dalam kearifan lokal sendiri dengan tidak melanjutkan kepiawaian oleh generasi hari ini. Kita seolah-olah berangsur pindah dari yang tidak kita miliki, berpindah ke sesuatu yang tidak punya kita tapi banyak yang kemduian kita temui, justru tidak mampu, jelas Syaukani.

Seharusnya kembalilah ke tradisi yang mengasuh kita, lanjut Syaukani karena dengan cara inilah kemudian ditemukan jati diri masing-masing. Dalam satu sisi misalnya, seni pertunjukan bahwa dahulu babak-babak kelucuan menjadi pola penyampaian yang sangat tepat untuk menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat. Dan itu pulalah kadangkala seperti ditinggalkan atau terlupakan, padahal sebenarnya disanalah letak kearifan lokal itu. Apalagi dengan perrkembangan tekhnologi saat ini, banyak hal yang kita miliki yang bia dijadikan acuan, dijadikan bahan dasar, dijadikan ide besar untuk dikembangkan sesuai dengan tuntutan zaman, tutup Syaukani.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:01 wib

Hotel Prime Park Promo Wedding Expo

Jumat, 21 September 2018 - 16:00 wib

Kondisi Firman Makin Membaik

Follow Us