Oleh: Agus Sri Danardana

Mitos

23 November 2014 - 07.39 WIB > Dibaca 1560 kali | Komentar
 
Mitos
Agus Sri Danardana
Mitos (mythos [Yunani]; mythe [Belanda]), secara umum, dimaknai sebagai cerita berlatar masa lampau, tentang alam semesta dan/atau keberadaan makhluk di dalamnya, serta dianggap benar-benar terjadi oleh masyarakatnya. Dalam hal-hal tertentu, mitos hampir tidak dapat dibedakan dengan legenda. Keduanya (baik mitos maupun legenda) acap bertumpang tindih pula dengan cerita rakyat.

Mitos diyakini ada di setiap suku bangsa, bahkan di komunitas-komunitas. Tidak satu suku bangsa pun di dunia ini yang tidak memiliki mitos. Suku bangsa tertentu bahkan memiliki sekumpulan mitos sehingga memunculkan istilah mitologi Yunani, mitologi Hittit, mitologi Islam, mitologi Jawa, mitologi Melayu, dst.

Dalam kajian mitologi, kebenaran (rightness) “sesuatu yang dimitoskan” bukanlah hal yang terpenting. Hal yang terpenting adalah keyakinan atas kemampuan (capability) “sesuatu yang dimitoskan” itu dalam mengemban tugasnya sebagai perwujudan ide/konsep/gagasan masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu, dalam kondisi yang benar, “sesuatu yang dimitoskan” itu akan dapat mengembangkan integritas masyarakat: memadukan kekuatan kebersamaan yang terpecah serta dapat membentuk solidaritas, identitas kelompok, dan harmonisasi komunal. Kata histeris dan narsis, misalnya, berhasil mengemban tugasnya sebagai perwujudan konsep pengidap gangguan psikologis masyarakat Yunani Kuno. Konon, kedua kata itu diangkat dari dua nama tokoh dalam mitologi Yunani Kuno yang mengalami masalah psikologi: Histeria dan Narcissus. Histeria, karena mengalami ketidakberesan pada rahimnya, sering berlaku aneh dan selalu berteriak-teriak: kadang menangis, kadang tertawa, dan kadang marah-marah tidak dapat lagi mengendalikan emosinya. Sementara itu, Narcissus berperilaku aneh dengan mencintai dan mengagumi diri sendiri secara berlebihan. Kini, kedua kata itu telah mendunia, serasa milik bersama. Dengan kata lain, masyarakat Yunani telah berhasil memitoskan Histeria dan Narcissus sebagai milik dunia.

Riau memiliki Lancang Kuning (di samping Hang Tuah, Hang Jebat, Tun Teja, dll.). Sebagai produk budaya (Melayu), idealnya, Lancang Kuning selalu hidup dan memberi pengaruh terhadap perilaku dan pandangan hidup masyarakat. Lancang Kuning bukan sekadar sebuah ide/konsep/gagasan, melainkan suatu lambang dalam bentuk wacana. Lancang Kuning, dengan demikian, juga harus mampu menghadirkan sebuah sistem komunikasi yang menawarkan pesan masa lalu: ide, ingatan, kenangan, dan bahkan keputusan yang diyakini masyarakat Riau/Indonesia khususnya dan dunia umumnya.

Celakanya, Lancang Kuning belum benar-benar hidup di hati masyarakat. Setakat ini secara literer Lancang Kuning baru menjadi sebutan lain Provinsi Riau: Bumi Lancang Kuning. Lancang Kuning belum menjadi maskot yang dapat menumbuhkan rasa bangga masyarakat untuk memiliki dan mencintainya. Yang (sering) terjadi justru perdebatan mempertanyakan apakah (perahu) Lancang Kuning itu benar-benar ada atau hanya mitos. Konon, perahu itu belum memiliki deskripsi yang jelas dan pasti (ditentukan atas dasar kajian ilmiah) sehingga gambaran/replika Lancang Kuning yang ada sekarang ini pun diduga hanya didasarkan pada cerita atau dongeng.

Sesungguhnya, jika menengok kembali sejarah Nusantara, cerita, kisah, atau dongeng (yang dalam perkembangannya dapat menjadi mitos itu) diyakini pada mulanya adalah fakta sejarah juga. Cerita, kisah, atau dongeng itu, karena tidak tercatat dalam dokumen atau arsip sebagaimana kebiasaan orang Eropa, hanya diingat dan diturunkan dari generasi ke generasi sebagai tradisi lisan. Tentu saja di dalam konteks kelisanan itu terdapat unsur sejarah lisan. Artinya, sumber informasi yang diperoleh masih dapat diketahui dari pelaku atau saksi/orang yang memperolehnya dari tangan pertama. Sumber yang disebut terakhir itu disebut sumber sekunder. Semakin jauh dari sumber sekunder (tersier dan seterusnya) kemungkinan besar akan semakin sulit juga untuk didapat konfirmasi yang benar-benar valid. Sekalipun demikian, Allen dan Montell (1946), tetap meyakini bahwa sejarah dalam arti umum dan dikenal dalam masyarakat justru adalah kisah-kisah yang disampaikan melalui kelisanan (orally communicated history).

Beberapa waktu yang lalu, sebuah saluran berita menayangkan Kumamon sebagai maskot Kota Kumamoto. Konon, Kumamon, beruang hitam yang berwajah ramah dengan bulatan berwarna merah di pipinya itu, terpilih menjadi maskot terpopuler di Jepang pada 2011 melalui poling daring (online). Karena dipromosikan dengan baik, sebagai penarik wisatawan, kepopuleran Kumamon pun semakin menjadi. Maskot itu telah menjelma menjadi logo semua komoditas di Kota Kumamoto, salah satu kota di bagian selatan Jepang. Dalam waktu yang relatif singkat, Kumamon ada di mana-mana: di pena, buku, tas, kaos, payung, vas bunga, taplak meja, dan tempat sampah sekalipun. Begitu pula yang terjadi di beberapa kota wisata di Indonesia. Yang menarik dari semuanya itu adalah maskot-maskot itu terbukti telah mampu mendongkrak omset penjualan semua komuditas yang dilabelinya. Artinya, maskot ternyata tidak hanya bermanfaat untuk kepentingan membangun identitas, tetapi juga bermanfaat untuk kepentingan-kepentingan lain, seperti membangun perekonomian masyarakat.

Pertanyaan penting yang harus segera dijawab adalah perlukah menghadirkan kembali citra Lancang Kuning dalam kehidupan sehari-hari?

Mengingat Riau pernah berjaya sebagai negeri bahari atau maritim, pertanyaan itu mengharamkan jawaban, “Tidak perlu.” Mengapa? Karena, sebagai produk budaya (Melayu), Lancang Kuning harus mampu menghadirkan pesan masa lalu (sebagai negeri maritim) dalam kehidupan masyarakat masa kini. Artinya, Lancang Kuning tidak cukup hanya ditampilkan sebagai logo dan replika, tetapi juga harus ditampilkan sebagai penghadir imaji (citra) kemaritiman.

Seperti halnya Kumamon, yang dihadirkan sebagai maskot wisata dan konservasi hutan lindung, Lancang Kuning seharusnya juga dapat hadir untuk kepentingan-kepentingan mulia seperti itu. Mengingat Riau pernah berjaya sebagai negeri maritim, konservasi sungai (agar tranportasi air bergairah kembali) menjadi mutlak untuk dilakukan. Terlebih lagi, banyak kalangan yang mengeluhkan minimnya tempat wisata di Riau. Jika sungai-sungai yang ada di Riau ini dapat berfungsi kembali seperti di masa lalu, sesungguhnya Lancang Kuning pun akan menjadi maskot wisata yang benar-benar dapat diandalkan: tidak hanya mampu menggaet wisatawan, tetapi juga mampu menggairahkan kehidupan masyarakat.

Konon, Riau bermula dari “riuh”. Mitoskah itu?***

Salam.


Agus Sri Danardana
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us