Menggugah Nasionalisme

30 November 2014 - 00.16 WIB > Dibaca 813 kali | Komentar
 
Salah satu fungsi teater adalah sebagai media edukasi atau sarana pembelajaran. Teater bisa pula mengkomunikasikan nilai-nilai dan semangat nasionalisme, demokrasi dan nilai-nilai lainnya  yang berkenaan dengan ke-Indonesiaan.

Laporan JEFRI AL MALAY, Pekanbaru

ITULAH yang menjadi visi dan misi dari Tetaer Keliling yang dimpimpin oleh Hj Ir Dery Syrna, sebuah grup teater asal Jakarta yang pentas di Ajung Seni Idrus TIntin beberapa waktu lalu. Grup ini telah berusia 40 tahun dengan jumlah pementasan yang sudah diproduksi lebih kurang 1500 pementasan sehingga tak heran kemudian grup ini mendapat rekor MURI atas grup teater modern dengan jumlah pementasan terbanyak yang dilakukan secara berkeliling di seluruh pelosok negeri bahkan di sepuluh negara.

Konsep pertunjukan teater keliling dilakukan di mana saja. Hal itu disampaikan Dery. Katanya, teater keliling juga siap pentas kapanpun, pagi, siang, sore atau pun malam tanpa hirau panas atau hujan selama penonton bersedia. Teater yang berdiri 13 Februari 1974  ini juga terbiasa pentas di aula sekolah, halaman kampus, lapangan basket hingga lapangan sepakbola. Di pasar, taman hiburan, kebun binatang, jalanan, rumah sakit umum, kantor camat, wali kota, gubernur, istana kepresidenan, gedung MPR. Demikianlah Konsep Teater Keliling bahkan para pemain di teater keliling harus siap untuk memainkan minimal empat cerita. Selalu siap berkolaborasi dengan pemain setempat dengan latihan dalam waktu singkat, jelas perempuan yang telah berusia 60 tahun tersebut.

Sementara itu, sesuai dengan nama grup yang telah ditabalkan, Teater Keliling sejak terbentuk nya memang sudah berazam untuk berkeliling, mencoba untuk keluar dari tembok Taman Ismail Marzuki (TIM). Diceritakan Dery, awal proses berteaternya dulu pernah bergabung dengan grup tetaer seperti Teater Kecil, Teater Populer, Teater  Mandiri tetapi kemudian ada sesuatu yang belum didapatkan. Akhirnya bersama dengan sang sutradara tetap, Rudolf Puspa serta bersama kawan-kawan lainnya seperti Buyung Zasdar, Paul Pangemanan mendirikan Teater Keliling, sebuah grup teater yang pentasnya berkeliling mulai dari seluruh pelosok tanah air hingga sampai ke manca negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Timor Leste, Pakistan, Korea Selatan, Mesir, Rumania dan  Australia.

Tahun 2014, Teater Keliling melakukan pentas keliling di Sumatera. Beberapa provinsi disinggahi untuk mementaskan sebuah naskah yang idenya dari Dery dan disutradari oleh Rudolf Puspa. Sebelum ke Pekanbaru-Riau, mereka sudah pentas di Palembang, Jambi. Setelah  di Riau, grup ini kembali melanjutkan pementasannya di Medan, Sumbar, Bengkulu dan Lampung.

Dengan konsep yang kita usung ini, kita bisa berdialog kepada masyarakat, kita jadi bisa mengetahui banyak hal kemudian bisa saling bertukar pengalaman. Kita senang sekali, seolah-olah kita tahu sesuatu, kemudian kita bisa kasi tahu ke yang lain, jadi berbagi terus. Rasanya seperti di cas terus, ucap perempuan yang juga berprofesi sebagai arsitek tersebut.

Tidak ada trik khusus menjaga grup mereka tetap langgeng sampai di usia ke 40 tahun. Hanya saja, selaku pimpinan kata Derry, mereka membangun rasa kekeluargaan antar sesama dan menerapkan open manajemen. Semua anggota tidak dianggap sebagai anak buah melainkan anak-anak sendiri dan sahabat. Dan selalu membiasakan tradisi mengeluarkan pendapat. Jadi kita semuanya adalah keluarga dan sahabat, bukan anak buah dan dengan tradisi mengeluarkan pendapat, mereka yang tadinya tidak senang masalah sosial atau politik, kita ajak mereka berdiskusi supaya paling tidak mengetahui, sehingga terbukalah matanya ditambah dengan berbagai latihan. Ya, Alhamdulilah, mereka mereka bertahan sampai saat ini, jelas Derry lagi.

Sementara itu, Rudolf Puspa selaku sutradara, dia tidak hanya bertugas membina anak-anak untuk mengetahui apa itu teater melainkan juga memberikan pemahaman bahwa mereka semua tidak hidup dari teater tetapi bagaimana menghidupi teater. Namanya menghidupi, ya berilah apa yang kita punya, ucap lelaki yang sudah berusia 64 tahun itu.

Sejak dari awal, lanjut suami dari Derry ini, mereka memang selalu mengajak siswa dan mahasiswa, dalam setiap garapan dan program keliling tersebut. Karena memang target mereka adalah mencerdaskan bangsa melalui kesenian dan kebudayaan, menggerakkan kesadaran orang muda terhadap sejarah bangsa dan membangun tanpa merusak. Memperkenalkan bangsa pada dunia. Kita selalu menerapkan nilai-nilai gotong royong, kerjasama sebagaimana yang terdapat di dalam falsafah Pancasila, itulah yang kita hidupkan di teater. Kita tidak berfikir mendapatkan apa dari teater. Tapi yang aku berbuat untuk kesenian ini, ucapnya sembari menambahkan mereka selalu membangun regenerasi secara terus-menerus. Selalu memberikan target dan motivasi kepada anggotanya, kalau bagus baru bawak keliling.

Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah
Jas Merah judul pementasan yang digelarkan Teater Keliling di Anjung Seni Idrus Tintin. Judul itu sendiri diambil dari semboyan yang sangat terkenal dari Soekarno dalam pidatonya yang terakhir pada Hari Ulang Tahun Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966. Jas Merah merupakan singkatan dari Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Tak heran kemudian, pentas yang berdurasi lebih kurang satu jam lebih itu menyuguhkan berbagai persoalan sejarah Indonesia yang saat ini hampir dilupakan oleh generasi muda.

Pentas didekor dengan simbol-simbol kebesaran sejarah seperti candi, gedung MPR dan juga siluet untuk pertunjukan wayang. Di tengah-tengah terdapat box yang dijadikan meja untuk dipamerkan kekayaan-kekayaan alam Indonesia seperti emas, batu bara dan lain-lainnya. Seseorang masuk ke pentas dengan melakukan monolog. Menyampaikan kepada penonton sebuah pernyataan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar, dengan kekayaan alam yang dimiliki seharusnya semangat yang dimiliki untuk membangun bangsa ini harus terus digelorakan.

Berjalan, terus berjalan.  Itulah waktu yang tiada pernah berhenti. Seiring dengan itu, aku menyadari perjalanan bangsa ini. Sesungguhnya bangsa ini adalah bangsa yang besar, mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah bangsa yang besar itu, ucap pemain yang tak lain adalah sutradara sendiri, Rudolf Puspa.

Setelah itu dari samping penonton, terdengar pula suara seorang perempuan tua, aktor lainnya yang mendengung-dengungkan tentang demokrasi. Bahkan setelah sampai di tengah-tengah panggung, sang aktor yang diperankan oleh pimpinan Teater Keliling, Derry itu menyebutkan demokrasi seolah-olah kehilangan bentuk tetapi tidak dalam pentas kali ini. Penonton silakan merespon pentas ini, pentas lakon ini, semuanya harus berbaur, mengeluarkan pendapatnya, pikiran dan gagasan, ucap Derry.

Sejenak setelah itu, masuk dua orang pemain lainnya dari samping kiri dan kanan bagian depan pentas. Keduanya mulai berdialog, bertanya-tanya dengan penonton. Setelah akhirnya kedua aktor itu naik ke atas panggung. Tak lama kemdudian, seorang lelaki yang membawa properti kamera, handphone BB dan Android muncul di tengah-tengah penonton seraya bertanya kepada penonton yang dilewatinya terkait dengan apa saja handphone yang dimiliki. apa merek handphone kalian? tanyanya kepada penonton.

Ketiga anak muda dalam pentas itu menggambarkan sekelompok anak muda dengan beragam karakter yang tumbuh berkembang di zaman serba materialistik yang mengukung sekaligus menggerus jiwa nasionalisme. Meskipun demikian, sebenarnya di benak mereka masih tertanam pahlawan dan tokoh-tokoh sejarah seperti Soekarno, Kartini dan Martha Tiahahu.

Sehingga dalam dialog demi dialog mereka yang seolah-olah menggambarkan kondisi kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia, tiba-tiba panggung disirami cahaya merah, biru agak kegelapan. Hadir di tengah-tengah mereka sosok tokoh-tokoh pahlawan yang mereka sebutkan. Ketiga tokoh pejuang itu tak lain adalah Presiden Indonesia yang pertama, Soekarno, tokoh perempuan Indonesia, Kartini dan pejuang perempuan asal Maluku, Martha Christina Tiahahu.

Dalam temaram lampu warna warni dan juga ilustrasi musik yang mendebarkan, ketiganya secara silih berganti meneriakkan kata jangan lupakan sejarahjangan lupakan sejarahjangan lupakan sejarah. Memperhatikan ekpresi ketiga aktor yang berperan sebagai penjuang-pejuang Indonesia itu, tampaknya  mereka marah dan kesal dengan keadaan Negara Republik tercinta ini sebab sepanjang kehadirannya, mereka meneriakkan dan melengkingkan semangat perjuangan, perbaikan moral, kesadaran akan sejarah dan macam-macamlah hal yang bersangkut paut dengan semangat nasionalisme.

Dialog antar dimensi itu menggambarkan Indonesia hari ini sudah kacau balau dengan berbagai persoalan yang tak selesai, mulai dari kasus korupsi, kriminal, sampailah kepada persoalan anak-anak muda yang berada diantara kegamangan dalam kepungan kekuatan modal asing dan pengaruhnya.

Pada babak berikutnya, seorang perempuan mengenakan baju serba putih yang tergeletak di salah satu box berwarna putih sejak awal mula pertunjukan mulai menggeliat dan merintih. Rupanya, sosok itu diibaratkan ibu pertiwi yang hari ini merintih, menangis bersedih diakibatkan ulah manusia Indonesia itu sendiri. Lagu-lagu nasional dan tema kepahlawanan pun memenuhi ruangan. Bahkan di sesi berikutnya, para aktor mengajak penonton mengibarkan properti bendera merah putih yang sudha diberikan sebelum memasukkan gedung pertunjukan. Berkibarlah bendera merah putih seukuran telapak tangan itu diantara temaram lampu yang menyimbah di penoton malam itu.
 
Si sutradara ketika ditemui usai pementasan mengatakan, pentas ini bertujuan untuk menyentuh batin anak muda, untuk menyadari bahwa Indonesia punya sejarah besar yang hampir dilupakan. Dan kita harus bangkit kembali, kita memiliki kekayaan alam, kekuatan sendiri mestinya milik kita itu kitalah yang mengurusnya, bukan orang lain. Kesadaran itu benar yang hendak kita sentuh karena kalau kita tahu milik kita, tentu kita ambil dan kita jaga. Toh namanya juga milik kita, ucapnya.

Rudolf juga menyebutkan hampir semua pentas Teater Kelilng bicara soal social, semangat nasionalisme yang kemudian disentuh dengan kemasan budaya. Kita ingin membangun negeri ini dengan tidak melupakan kekebudayaan. Negeri ini kan sebenarnya memilki kekayaan dan kekuatan yang luar biasa hal itu sesuai dengan target Teater Keliling yakni  membina anak muda supaya menjauhi kekerasan. Dan saya yakin, teater bisa menjawab hal itu karena belajar teater adalah ebaljar tentang karakter manusia, yang pada akhirnya para aktor kami yang dominan anak muda menjadi paham dan menemukan karakternya sendiri, mereka jadi tahu akibat kekerasan dan betapa mulianya kasih sayang, tutup Adolf.

Sementara itu, salah seorang warga neagara Belanda, Hayner yang ikut dalam program keliling di Sumatera mengatakan dia telah menyelesaikan S3 menulis tentang Teater Keliling. Yang menarik dari teater ini menurutnya, ide dan gagasan para pembangunnya yang focus pada teater sebagai media edukasi.Mereka semua berfikir dan berkeyakinan, teater mampu membangkitkan semangat untuk membangun bangsa dan Negara, ucapnya terbata-bata dalam bahasa Indonesia.

Selain itu menurut hayner, Konsep teater keliling yang menarik itu adalaha grup ini beritikad untuk memberikan pendidikan melalui teater terutama kepada orang muda, pendidikan politis, sosial, budaya dan lainnya. Teater keliling bermain untuk remaja, untuk mahasiswa, untuk murid karena merakelah unsur yang penting untuk mentraformasi ide-ide republik Indonesia,ucapnya.

Pimpinan Komunitas Riau Beraksi studio Seni Peran, Willy Fwi menyebutkan sangat mengapresiasi pertunjukan dari Teater Keliling. Untuk itulah, dia bersedia menjadi patner pentas di Pekanbaru. yang lebih menarik dari pentas ini adalah konsistensi mereka seperti Rudolf dan istrinya, Derry. Sampai hari ini mereka tak berhneti untuk naik ke atas panggung padahal kalau dari usia, mereka jauh lebih tua dari kita semua. Kedua suami isitri itu sudah berusia enampuluhan ke atas tapi lihatlah semangat mereka, sampai hari ini masih mempertahankan konsep kelilingnya.

Bahkan program keliling Sumatera tahun ini, mereka menggunakan bus, ucap Willy.

Senada dengan itu, sutradara dan pemain dari sanggar Matan, Monda Gianes mengatakan luar biasa tunak dan seriusnya mereka dengan teater. Di usia yang sudah lanjut itu masih bersemangat untuk berteater. Memang pada pada akhirnya, lanjut Monda teater dan konsep menjadi pilihan masing-masing komunitas tetapi teater juga mempelajari hidup dan kehidupan itu sendiri. Teater Keliling memilih konsepnya sebagai media edukasi kepada remaja dan generasi muda untuk menanamkan nilai-nilai dan semangat nasionalisme. Kita mungkin tidak bisa berbicara tentang capaian estetika dari Teater Keliling tapi kita bicara konsekuensi dan ketunakan mereka terhadap misi yang mereka usung. Saya kira, layaknya sepasang suami istri itu sebagai pejuang kebudayaan, ucap Monda.(fed)
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us