Oleh: Budi Hutasuhut

Lubang Tambang

30 November 2014 - 01.35 WIB > Dibaca 2270 kali | Komentar
 
Kisah ini tentang Amin, anak Haji Mahmud, warga Desa Hijrah, Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Laki-laki pendiam itu berkisah tentang kematian Rusman, orang yang dibawanya dari Sekotong, untuk satu tujuan: membantunya mencari urat emas di Olat Labaong. Dia menipuku. Aku membunuhnya! katanya.

***

Amin Haji Mahmud, seperti halnya warga Desa Hijrah lainnya, tak pernah menduga kalau Olat Labaong, bukit tandus yang berdiri kokoh di kampung itu, ternyata menyimpan emas di perutnya.
 
Puluhan tahuneh, konon, malah sudah ratusan tahun leluhur mereka tinggal di kaki Olat Labaong. Selama itu pula bukit tandus itu tak pernah memberikan apapun kepada mereka, meski hanya sebatang ranting untuk kayu bakar. Tidak ada pohon besar yang tumbuh di sana, kecuali pohon asam. Buahnya selalu habis dimakan monyet. Lainnya cuma semak perdu yang berduri, mereka menyebutnya bidara liar. Semak itu justru sangat merugikan, karena ranting-rantingnya yang penuh duri selalu melukai.

Tapi segalanya segera berubah sekitar enam bulan lalu, setelah Purwoto, seorang yang bekerja sebagai penggembala kerbau milik orang lain yang sering menggiring ternaknya ke kaki Olat Labaong, tanpa sengaja memungut sebongkah batu berwarna hijau kekuning-kuningan. Sepintas batu itu terlihat unik, berbeda dibanding batu lain yang berserakan di kaki bukit itu.

Purwoto sendiri sempat melemparkan batu sebesar bola kaki itu beberapa kali untuk menghalau sepi yang mendesak ke dadanya selama menggembala. Ia tak terlalu perduli. Tapi, saat ia bosan dengan kegiatan melemparkan batu itu, ia melamunkan nasibnya yang tak kunjung kaya sambil menatap batu itu. Ketika itulah ia membayangkan batu yang dilempar-lemparkannya sebagai sebongkah emas. Entah kenapa, matanya pun berbinar-binar. Ia segera pulang sambil membawa batu itu.

Batu itu diletakkannya di halaman rumah, di bawah tangga rumah panggungnya yang reot. Ia pun melupakan batu itu. Lama sekali. Entah setelah berapa bulan kemudian, ia ingat pada batu yang unik itu. Sambil membayangkan batu itu sebagai sebongkah emas, ia memukul-pukul permukaannya. Ajaib sekali, permukaan batu itu mengelupas dan terlihatlah bagian yang berkilau dari batu itu. Ia mengetuk-ketuk batu itu dengan batu lain, menghasilkan suara seperti logam dipukul. Ia terlonjak kegirangan begitu menyadari batu yang dipegangnya ternyata logam berwarna kuning.

Batu itu ternyata segumpal emas murni. Purwoto langsung kaya raya. Dengan hartanya, ia membeli semua kerbau yang digembalakannya. Sejak itu ia jadi penggembala kerbau miliknya sendiri.

Kabar penemuan emas di Olat Labaong itu cepat tersiar. Warga Desa Hijrah berbondong-bondong naik ke bukit itu. Berbulan-bulan mereka mencari emas di bukit itu tapi tidak seorang pun seberuntung Purwoto. Purwoto sendiri tidak pernah lagi menemukan emas di sana, meskipun sering menemukan batu-batu yang unik seperti batu yang mengandung emas itu. Namun, ternyata batu itu sama seperti batu lainnya.

Meski tak ada seorang pun yang bisa menemukan emas, tetapi warga Desa Hijrah tetap saja berusaha. Setiap orang berharap seberuntung Purwoto, padahal Purwoto sendiri tidak bisa lagi seberuntung dirinya. Bahkan, warga dari desa-desa sekitar ikut-ikutan naik ke Olat Labaong. Mereka memunguti batu apa saja yang didapat di bukit itu, membawanya pulang dan memecahnya menjadi krikil.

Tidak seorang pun seberuntung Purwoto. Namun, agar tak merasa malu dan tidak dinilai orang lain bahwa usaha mereka sia-sia, tak sedikit yang mengaku menemukan emas. Kemudian menunjukkan gumpalan emas yang sebetulnya hanya sesuatu yang mirip emas.

    Makin santer bahwa Olat Labaong memiliki emas. Bukit itu kemudian didatangi banyak orang. Mereka membangun tenda di punggung bukit, berusaha mencari emas. Berbagai upaya dilakukan, termasuk memanggil para sandro (dukun) dari berbagai daerah, untuk menemukan gumpalan emas lainnya. Tetap saja usaha mereka tak membawa hasil.

Amin Haji Mahmud termasuk yang tak pernah berhasil, tapi tak pernah menyerah. Suatu hari ia berusaha mencari sandro yang akan membantunya menemukan emas di Olat Labaong. Ia dengar sandro di Sekotong sangat hebat. Para sandro di sana sering dipakai orang untuk menemukan urat emas di luar areal tambang emas milik sebuah perusahaan penambangan emas di daerah itu. Itu sebabnya orang Lombok kaya raya dan sering berangkat haji.

Maka Amin Haji Mahmud berangkat ke Sekotong. Kemudian ia berkenalan dengan Rusman, kabarnya seorang sandro.

***

Amin Haji Mahmud baru tahu Rusman bukan seorang sandro setelah laki-laki itu menginap di rumahnya. Tapi ia tidak kecewa. Untungnya, Rusman tahu soal urat emas di dalam perut bumi karena ia berpengalaman menjadi penambang emas di Sekotong. Karena pengetahuannya yang luas tentang tambang emas, Amin Haji Mahmud mengajaknya ke Olat Labaong.

    Hari pertama menakik punggung Olat Labaong yang miring, Rusman membagi ilmu dan pengalamannya. Katanya, emas itu mudah dikenali dari bentuk batu tempatnya menempel. Warna batu itu hijau lumut kekuning-kuningan. Batu itu membentuk sebuah garis tajam di tanah, memanjang hingga sepuluh meter ke dalam perut bumi. Itulah yang disebut urat emas.

Kita harus menggali, tanya Amin Haji Mahmud.

Rusman mengangguk.

Purwoto menemukan emas tanpa menggali.

Kalau rezeki, ada kalanya bertemu emas di permukaan tanah.

Seperti apa bentuknya?

Mari kita cari.

Berdua mencari batu beremas di permukaan Olat Labaong yang tandus. Tanpa terasa mereka mengelilingi bukit itu. Setiap kali bertemu tumpukan batu, mereka berhenti. Ketika Amin Haji Mahmud tertarik melihat sebongkah batu yang unik bentuknya, ia memungutnya dan menunjukkan kepada Rusman. Setelah mengamati batu itu, Rusman mengatakan batu itu tidak berharga. Cuma, batu itu tidak dibuangnya. Ia malah memuji keunikan batu itu. Batu ini bagus untuk mata cincin, kata Rusman dan memasukkan batu itu ke dalam tas yang dibawanya.
Boleh juga, kata Amin Haji Mahmud. Kalau jadi batu cincin, kasih aku satu ya.

Begitulah terus menerus dan mereka tidak pernah menemukan emas yang dicari. Cuma, banyak batu unik yang mereka temukan. Rusman mengumpulkan batu-batu itu di dalam tasnya.

Tak ada emas, batu cincin pun jadilah, kata Rusman, Kalau begini, kita harus menggali sampai ke perut Olat Labaong.

Dua hari kemudian, setelah mempersiapkan semua keperluan penggalian, Amin Haji Mahmud dan Rusman berangkat ke Olat Labaong.

Tapi, tunggu dulu, beberapa jam sebelum berangkat, Amin Haji Mahmud masuk ke kamar tamunya. Tanpa sengaja ia menemukan tumpukan batu di salah satu sudut kamar. Batu-batu yang oleh Rusman disebut bagus untuk mata cincin. Ukuran batu-batu itu bervariasi, paling besar ukuran dua kepalan tangan laki-laki dewasa. Karena batu itu sangat banyak dan bentuknya unik-unik, Amin Haji Mahmud jadi tergoda untuk mengambil sebongkah. Ia berpikir akan mengasah sendiri batu itu jika memang bagus untuk mata cincin.

Batu itu dikantongkan Amin Haji Mahmud ketika mereka berangkat ke Olat Labaong. Tak ia bilang pada Rusman soal batu yang diambilnya itu.

Ia lebih banyak diam sambil memperhatikan Rusman yang sibuk mencari lokasi penggalian untuk penambangan emas. Ia ingin belajar dari Rusman. Dan, ketika Rusman menunjuk sebuah titik untuk mulai menggali, Amin Haji Mahmud bertanya kenapa harus memilih titik itu.
Kau lihat saja nanti, kata Rusman sambil memulai penggalian.

Saat Rusman menggali, Amin Haji Mahmud berdiri di bibir lubang. Ia bertugas mengangkat bongkahan tanah bekas galian. Tanah-tanah itu ditimbun tak jauh dari lubang. Terkadang, sambil menunggu Rusman, Amin Haji Mahmud mengeluarkan batu yang dikantonginya. Iseng-iseng ia pecahkan batu itu dengan memukulkannya ke bongkahan batu lain. Ternyata, batu itu mengelupas. Selapis batu lepas dari permukaannya sehingga terlihat permukaan yang berkilauan dan berwarna kuning kehijau-hijauan. Amin Haji Mahmud tersadar ia sedang menggenggam emas. Ia tersentak ternyata Rusman telah menipunya.
*
Amin Haji Mahmud terbangun pada suatu malam karena ada yang mengetok-ketok pintu rumahnya. Ia melihat istrinya yang terbaring di sampingnya sebelum keluar dari kamar tidur. Dalam hati ia menggerutu tentang siapa yang datang bertamu larut malam. Pertanyaan itu terjawab dengan kehadiran Rusman ketika pintu ia buka.  Seluruh tubuh Rusman berwarna merah karena dilumuri tanah. Amin Haji Mahmud tersentak dan terlonjak. Mau apa kau?! teriaknya.

Pertanyaan itu tidak mendapat jawaban. Wajah Rusman yang seram  pun menghilang, berganti wajah istrinya, Hindun, yang memucat.
Ada apa? tanya istrinya. Kau bermimpi Rusman lagi?

Amin Haji Mahmud hanya mengangguk. Tubuhnya basah oleh keringat. Nafasnya terengah-engah.
 
Istrinya jatuh kasihan padanya. Sudah satu pekan sejak kabar kematian Rusman, suaminya selalu dihantui oleh mimpi tentang Rusman. Setiap malam ia harus berjaga untuk membangunkan suaminya jika mengigau dalam tidur, menyebut-nyebut nama Rusman. Itu membuat tidurnya selalu terganggu.

Sebetulnya, sudah ia sarankan agar suaminya kembali ke Olat Labaong. Ia meminta agar bekas longsoran tanah itu digali lagi dan mengambil mayat Rusman.

Bagaimana pun mayat itu harus diperlakukan selayaknya, dimakamkan di tempat yang bisa diziarahi oleh sanak keluarganya. Selain itu, ia menyuruh suaminya agar memberitahu keluarga Rusman di Lombok.

Amin Haji Mahmud menolak saran istrinya, terutama soal menggali longsoran itu. Pasalnya, tidak pernah ada tanah yang longsor di Olat Labaong. Ia sendiri yang melongsorkan tanah itu untuk menimbun Rusman di dalam lobang galian dengan tanah bekas galian. Ia melakukannya untuk memastikan bahwa Rusman benar-benar telah mati setelah sebuah hantaman batu ia daratkan ke kepala laki-laki itu.
 
Istrinya tidak pernah tahu kejadian sebenarnya. Istrinya hanya tahu soal tanah longsor itu. Ia pun tak pernah ingin memberitahukannya. Ia menyimpan peristiwa itu sendiri sebagai rahasia pribadinya. Tapi, semakin ia simpan rahasia itu, semakin hidupnya tak tenang. Tiap malam ia bermimpi didatangi Rusman. Dan, suatu malam, ia mengingau meminta maaf kepada Rusman sambil memohon agar tidak dikunjungi lagi.

Istrinya yang tak pernah tidur, menyimak igauan itu dan berubah penilaiannya tentang kematian Rusman.

Lalu, entah bagaimana kejadiannya, seluruh warga Desa Hijrah tahu kalau Rusman mati dibunuh Amin Haji Mahmud. Kemudian mayat laki-laki itu ditimbunnya di lobang bekas penambangan emas. Semua orang membicarakannya. Tentu, pembicaraan itu telah ditambah-tambahi sesuai minat si pencerita. Kemudian pembicaraan itu sampai ke telinga Amin Haji Mahmud dan ia tersentak.

Bukan seperti itu ceritanya, bantahnya. Aku membunuhnya karena dia menipuku.

Amin Haji Mahmud menceritakan soal penipuan itu. Ia mengaku bersalah dan siap mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tapi, warga Dusun Hijrah yang mendengar pengakuan itu tak memintanya bertanggung jawab. Amin Haji Mahmud merasa heran: Kenapa?
Apa? tanya salah seorang.

Bukankah seharusnya Kalian membawaku ke kantor polisi karena sudah membunuh.

Tidak, kata yang lain. Kami tak akan membawamu ke kantor polisi.

Ya, kata yang lain lagi. Ketika kamu ke Sekotong mencari sandro agar bisa menemukan emas dengan mudah, pada saat yang sama kami juga mencari sandro. Kita semua mencari sandro secara diam-diam karena takut emas yang akan kami temukan diketahui orang lain.
Saya juga mencari sandro dan membawanya ke mari. Tapi kata yang lain.

Tapi apa? Amin Haji Mahmud mendesak.

Sama seperti Rusman, sandro itu penipu dan menipu kami. Kami pun membunuh mereka dan menanamnya di lobang galian emas.
Amin Haji Mahmud terbelalak. Jadi.!

Sudahlah! Mari kita menambang lagi. ***


BUDI  HUTASUHUT (HTS)
lahir 3 Juni 1972 di Sipirok, sebuah kota di Sumatra Utara. Menulis cerpen, esai, dan sajak di berbagai media cetak dan sudah diterbitkan dalam puluhan buku. Kini menetap di Kota Padangsidempuan, bekerja sebagai jurnalis lepas sambil berkebun anggrek.
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Follow Us