Oleh: Helfizon Assyafei

Kambing "Dinas" Tsa'labah

7 Desember 2014 - 07.53 WIB > Dibaca 1418 kali | Komentar
 
Kambing
Helfizon Assyafei
Menjadi kaya, itulah cita-cita banyak sekali orang. Cita-cita itu hidup setua usia manusia. Dahulu sekali di zaman Nabi seorang bernama Tsa値abah yang amat miskin juga menyimpan rindu dendam menjadi orang kaya. Meminta didoakan kepada Nabi menjadi orang kaya. Nabi kata lebih baik menerima keadaan dengan perasaan ridho (ikhlas) dari pada mengikuti keinginan. Tsa値abah tetap mendesak Nabi Muhammad untuk mendoakannya. Ketika akhirnya Nabi memberinya sepasang kambing dan mendoakannya agar berkembang nasibnya pun berubah.

Doa Nabi terkabul. Sepasang  kambing itu kemudian berkembang hingga ribuan ekor. Mulailah Tsa値abah meninggalkan satu dua waktu salat fardhu. Ketika kambingnya makin berkembang puluhan ribu, salat Jumat pun tak sempat lagi. Tsa値abah benar-benar jadi bisnisman yang sukses kala itu. Banyak profilnya akan dimuat di media ketika itu (kalau saja ada media massa itu). Hanya satu saja yang pasti tak dikatakannya dalam keterkenalannya sebagai orang kaya. Apa itu? Yakni  Tsa値abah lupa pada janji. Ia enggan membayar zakat. Ia merasa dirinyalah yang berusaha mengembangkan ternaknya. Lalu  menjadi kaya adalah haknya. Mengapa harus dipungut ini itu pula oleh ketentuan agama yang bernama zakat.

Padahal sebelum mendapatkan kesuksesan lewat kambing 租inas dari nabi itu Tsa値abah berjanji akan lebih taat lagi bila diberi kekayaan. Katanya begini: Sedangkan miskin begini saja saya taat ya Rasul. Apalagi kalau diberi kaya pasti saya akan lebih taat lagi. Namun bak kata pepatah lupa kacang pada kulitnya. Lupa lah Tsa値abah pada janjinya. Akhir cerita ia menuai bencana yang amat ditakutinya yakni kemiskinan yang lebih parah.

Durhaka adalah satu di antara kutukan harta kepada pemiliknya yang lupa diri. Ini juga pernah dialami Qorun seorang warga di zaman Nabi Musa. Sama seperti Tsa値abah minta Nabi Musa mendoakan agar dirinya kaya. Setelah kaya ia bahkan menfitnah Nabi Musa dengan seorang perempuan. Di hadapan pengikutnya Nabi Musa berdoa bahwa jika ia melakukan maksiat seperti yang dituduhkan Qorun maka ia siap ditelan bumi. Jika tidak terjadilah yang sebaliknya. Qorun tenggelam bersama-sama dengan hartanya sekalian ke perut bumi.

Di dunia yang semakin materialistis bukan siapa (who) Anda yang penting tetapi apa (what) yang Anda punya yang lebih penting. Biar Anda koruptor misalnya (tentu bagi yang belum ketahuan KPK) kalau Anda kaya raya gemah ripah loh jinawi maka status sosial Anda tetap tinggi. Maka berlomba-lombalah orang untuk menjadi kaya denga cara apa saja. Termasuk enggan mengembalikan apa yang sebenarnya bukan miliknya. Seperti mobil dinas misalnya.

Banyak pejabat maupun wakil rakyat ketika sudah dilantik, berupaya mendapatkan mobil berplat merah dan membawa pulang kerumahnya. Tapi ketika turun dari jabatannya mereka lupa mengembalikan inventaris negara yang dibeli dengan uang rakyat itu, bahkan ketika dimintapun mereka enggan memberinya. Padahal setelah mutasi dari jabatan lama sang pejabat masih dapat jatah mobil dinas ditempat barunya. Jadilah dua unit mobil dinas terparkir di rumahnya. Ini benar-benar terjadi terjadi di Pekanbaru itu. Hasil audit BPKP mencatat bahwa banyak aset dan kekayaan daerah Riau yang tak jelas ujung pangkalnya terutama mobil dinas.

Fenomena mempertahankan mobil dinas setelah tidak menjabat ini memang merupakan trend bagi mantan pejabat, anggota DPRD yang sudah tak menjabat lagi. Pernah kejadian beberapa tahun yang lalu diberitakan media ada anak Bupati yang melego mobil dinas dan tertangkap saat mobil tersebut digunakan oleh pembelinya sebagai mobil angkutan umum. Ya Tuhan ..inilah negeri yang pernah ditulis di novel Tere Liye dengan judul Negeri Para Bedebah. Jika diimprovisasi lagi bisa jadi Negeri  Para Tsa値abah.

Apa yang diterapkan DKI Jakarta lewat sistem penggunaan mobil sewaan lebih menyederhanakan pengelolaan mobil dinas pejabat.  Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyampaikan, keputusan tersebut berlaku mulai tahun anggaran 2015. Dengan cara itu, Pemda tak menghadapi risiko mobil disalahgunakan. Biaya operasional kendaraan pun menjadi lebih murah. Semangat ini pernah juga disampaikan Presiden SBY dulunya.

鉄aya ingatkan para kepala daerah di seluruh Indonesia kalau membangun rumah-rumah pejabat, membeli mobil janganlah berlebihan, kata Presiden SBY  di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tahun 2010. Adakah pesan Presiden itu bermakna di tengah naiknya harga BBM dan sebentar lagi juga tarif listrik ini? Jawabnya tidak. Seolah mereka berkata kalau kami tetap mau mobil dinas mewah, masalah buat loh? Ya iya lah pak. He he. Gitu aja kok repot.***


Helfizon Assyafei
Wakil Pemimpin Redaksi
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi 鋳Amankan Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Senin, 19 November 2018 - 15:28 wib

Imaculata Autism Boarding School Beri Award pada Kompol Netty

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta

Follow Us