Seni, Mengabarkan Nilai Kemanusiaan

7 Desember 2014 - 07.55 WIB > Dibaca 929 kali | Komentar
 
Kami berkesenian menjunjung hati nurani untuk kelangsungan hidup negeri ini, pekik Seniman/Budayawan Pilihan Sagang 2014, Hang Kafrawi dalam orasi budayanya pada malam penyerahan Anugerah Sagang di Hotel Pangeran, beberapa waktu lalu.
 
Laporan JEFRI AL MALAY, Pekanbaru

PERNYATAAN itu kemudian diperjelas lagi di hadapan tetamu undangan yang hadir dengan mengatakan, bahwa karya seni dihasilkan dari pengamatan, gejolak batin, dari peristiwa yang berlaku di tengah masyarakat. Yang pada akhirnya, kesenian memasuki wilayah ceruk-ceruk, relung-relung kehidupan, bertugas mengabarkan nilai-nilai kemanusiaan.

Kekuatan seniman adalah berpegang pada hati nurani. Ketika hati nurani seniman luntur, maka tiada yang dapat diharapkan lagi dari karya-karya yang dihasilkan. Seniman memandang tidak hanya dengan kedua biji mata, mata hatilah pandangan utama para seniman dalam membuhul kenyataan yang sedang berlangsung. Ketajaman mata hati ini menjadi energi untuk membangkitkan gairah bahwa manusia adalah sama dan bagi seniman yang mendiami tanah Melayu ini, memperjuangkan negeri ini dalam karya-karyanya menjadi harga mati, tegas Hang Kafrawi.

Tidak salah kemudian Budayawan Taufik Ikram Jamil menilai, Anugerah Sagang tajaan Riau Pos dan Yayasan Sagang, yang sudah berjalan 19 tahun ini, tidak hanya sebatas sebuah komitmen budaya tetapi tindakan nyata yang dirancang sekaligus dilaksanakan merupakan pekerjaan besar untuk memuliakan manusia. Waktu telah mengujinya, bagaimana pekerjaan tersebut telah menjadi monument yang terus hidup, ucap seniman senior tersebut.

Taufik juga menegaskan Anugerah Sagang adalah sebuah tindakan nyata dan mendahului dari banyak wacana. Diantaranya, pakar futuristik pernah menyebutkan pada abad 21 adalah abad yang dikuasai agama dan seni. Tetapi pada abad ke 20 (1996, red), Riau Pos dan Yayasan Sagang sudah mendahului dan mengarah ke hal itu dengan pelaksanaan Anugerah Sagang yang pertama pada 1996.

Kemudian, hal lainnya kata Taufik adalah pada 1999, Riau bersepakat untuk menjadikan negeri ini menjadi pusat kebudayaan di kawasan Asia Tenggara. Tetapi tiga tahun sebelumnya, Sagang sudah mendahuluinya.

Peristiwa seperti ini sangat diperlukan. Dan seharusnya Pemerintah Riau dan Indonesia, berterima kasih kepada Riau Pos dan Yayasan Sagang karena telah menunjukkan, beginilah seharusnya pekerjaan seni budaya itu, ucap Taufik.

Senada dengan hal itu, Budayawan Al azhar mengatakan, Anugerah Sagang yang merupakan pemberian penghargaan kepada sosok yang menunjukkan dedikasinya terhadap kehidupan berkesenian baik dari segi karya yang dipilih unggul, berkualitas serta semua pemikiran yang mampu menggerakkan dinamika budaya Melayu itu merupakan contoh terbaik bagaimana peristiwa-peristiwa kebudayaan seharusnya dikelola secara tunak dan berterusan tak kenal lelah.

Tahun ke-19 pelaksanaannya sudah seharusnya diucapkan tahniah sama setara baik kepada penerima dan terkhusus kepada pengelola dan pelaksana, Riau Pos dan Yayasan Sagang, ucap Ketua Harian Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR).

Anugerah Sagang juga merupakan salah satu motor penggerak dari pencapaian atas perkembangan seni budaya. Hal itu dilontarkan Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat, Lembaga Adat Melayu Riau, Tennas Effendi yang hadir pada malam penyerahaan Anugerah Sagang 2014. Tennas menilai, Anugerah Sagang juga patut diapresiasi dan didukung bukan saja karena konsistensi pelaksanaan yang sudah membuktikan ketunakan pengelolanya tetapi lebih dari itu, helat Anugerah Sagang juga secara jelas menunjukkan kehendak yang mulia dalam menjaga, memotivasi dan mengembangkan serta memuliakan pekerjaan akal budi. Ini penting untuk kita dukung bersama karena berkesesuaian pula dengan visi misi Riau 2020 untuk menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara, ucapnya.

Mengekalkan Nafas Ke-melayuan
Keberadaan Anugerah Sagang sebagai upaya mengawal seni budaya dan sastra Riau ke depan. Merupakan azam anak jati negeri untuk terus melakukan sesuatu dalam pelestarian, mengembangkan budaya Melayu.  Ibarat syair Sagang adalah untaian kata yang menjadi urat nadi sebuah puisi, ibarat teater Sagang adalah lakon utama sebuah drama, ibaratkan musik Sagang adalah gubahan maestro yang berkilau, ibarat tari sagang menjadi masterpiece sang koreografer dan ibarat lukis, Sagang adalah monumen rupa yang kemilau.

Ketua Pembina Yayasan Sagang, Rida K Liamsi dalam sambutannya malam itu mengatakan tidak mudah untuk terus berusaha secara terus menerus melaksanakan Anugerah Sagang hingga sampai ke tahun yang ke-19. Tentu saja hal itu terlaksana berkat kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak terutama pemerintah Provinsi Riau.

Rida juga menyebutkan, bagi Riau Pos Grup yang merupakan induk dari Yayasan Sagang sudah  Mmenjadi sebuah azam untuk berupaya tetap memberikan perhatian khusus kepada kelangsungan dan kesinambungan kesenian dan kebudayaan Melayu. Karena negeri yang bernama Riau ini katanya, merupakan negeri yang menjadi salah satu teras dari tumbuh dan berkembangnya budaya Melayu.

Dengan kontribusi yang kecil ini, diharapkan kehidupan seni budaya, sastra di Riau dapat bekembang dengan baik. Dan semoga ini bisa menjadi laluan , itulah upaya kecil yang bisa kami lakukan untuk sama-sama menyokong kebudayan dalam upaya tetap mengekalkan nafas keMelayuan, ucap budayawan Riau itu.

Yayasan Sagang sendiri terus melakukan upaya-upaya dalam memberikan perhatian kepada kebudayaan dan kesenian. Ketua Yayasan Sagang, Kazzaini Ks mengatakan Anugerah Sagang sebagai bagian dari menghargai jerih payah dan kreatifitas para seniman budayawan Melayu. Dengan jerih payah itulah kita masih memiliki identitas. Dan semoga ini menjadi cita-cita bersama, ucap Kazaini Ketua Umum Dewan Kesenian Riau (DKR) itu.

Sementara itu, Plt Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman sangat mengapresiasi acara tersebut. Katanya melalui acara anugerah ini diharapkan Melayu bisa besar dari Riau. Pemerintah Riau juga sangat menghargai upaya Riau Pos dan Yayasan Sagang dalam menghargai pekerjaan dan ketunakan seniman/budayawan di mana tindakan ini merupakan langkah nyata untuk mewujudkan visi dan misi Riau 2020, menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan di rantau Asia Tenggara. pEmerintah Provinsi Riau akan selalu mensuport uapya-upaya serupa ini agar kita sama-sama bisa memahami, mengembangkan dan menjaga kebudayaan Melayu Riau, ucapnya.

Kemeriahan Prosesi
Pelaksanaan Anugerah Sagang 2014 dikemas dalam helat yang dimeriahkan dengan nuansa seni Melayu. Mulai dari hiburan lagu-lagu menjelang tamu datang hingga sampailah ke acara prosesi penyerahan Anugerah Sagang.

Sebuah pertunjukan seni tari yang ditata salah seorang dosen tari Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR), Syafmanefi Alamanda dan diiringi dengan gegap gempita musik iringan composer Zalfandri alias Mat Rock mengantarkan para hadirin ke acara prosesi. Diawali dengan tarian yang bertemakan bersahabatan, sebanyak belasan penari mengekspresikan gerak dan langkahnya di atas panggung. Sajian tarian yang berpijak dari tari tradisi Melayu, zapin dan silat itu kemudian menjadi penanda untuk menyambut arak-arakkan tropi yang hadir dari arah belakang penonton.

Suara nafiri sebagai pembuka langkah arak-arakan. Lengking suaranya menambah suasana arak-arakkan menjadi lebih takzim. Semua mata tertuju pada barisan yang perlahan-lahan melangkah menuju ke atas panggung. Begitu sampai di bibir panggung, barisan disambut dengan silat yang dilakukan oleh dua orang pemuda. Usai silat, Plt. Gubernur, Arsyad Juliandi Rachman,  Walikota, Firdaus MT  dan beberapa tamu undangan lainnya menabur beras kunyit untuk arak-arakkan tropi tersebut sebagai tanda penghormatan dan keberkahan.

Demikianlah akhirnya, hingga tropi kemudian diltakkan di tempat yang telah disediakan di atas panggung. Begitu barisan kembali ke tempatnya masing-masing, Sepasang pembawa acara, Ekki Gurin dan Rose Cirenti memanggil satu persatu peraih Anugerah Sagang 2014 untuk diberikan tropi, piagam dan dana penghargaan.

Sebanyak tujuh kategori dipersilakan satu persatu naik ke atas panggung. Dimulai dari karya jurnalistik budaya yang diraih Fenny Ambaratih berjudul Raja Ali Haji; Peletak Dasar Tata Bahasa Melayu. Untuk karya penelitian budaya pilihan sagang diraih Junaidi Syam dkk atas karyanya berjudul Tiga Lorong, Teguh Berdiri di Tengah Persimpangan Riuh Ramai. Sementera itu karya non-buku, diraih  Riau Rhythm Chamber Indonesia (RRCI) atas video music berjudul Suara Suvarnadvipa.

Selanjutnya, institusi/lembaga seni budaya diraih Sanggar Keletah BUdak pimpinan Rina Entin.  Untuk karya buku pilihan Sagang diterima oleh Jefri al Malay atas karya buku kumpulan puisinya berjudul Timang-timang Nak Ditimang Sayang, sedangkan seniman serantau diterima budayawan dari Malaysia, Prof Zainal Borhan dan seniman/budayawan pilihan Sagang diraih Hang Kafrawi.

Masing-masing berhak atas uang tunai sebesar Rp 10 juta, piagam dan tropi berlapis emas 24 karat. Sementara itu, khusus seniman/budayawan pilihan Sagang mendapat uang tunai Rp15 juta dengan piagam dan tropi yang sama.

Seniman Serantau, Prof Zainal Borhan usai helat menyebutkan sangat mengapresiasi acara Anugerah Sagang. Katanya Yayasan Sagang telah memulakan tradisi agung untuk kebudayaan Melayu Riau.

Sudah barang tentu helat serupa ini amat berguna karena ada pihak yang berterusan menilai setiap karya. Penerima anugerah merupakan contoh teladan atau role model kepada sastrawan dan budayawan lain khasnya generasi muda. Walaupun generasi muda berusaha mencipta identity merkea namun contoh teladan dari terdahulu diperlukan juga, ucap budayawan dari negeri jiran, Malaysia itu.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us