Riki Utomi

Sekolah Buangan

7 Desember 2014 - 08.09 WIB > Dibaca 2771 kali | Komentar
 
Jangan pernah mau mendaftar ke sekolah kami. Kau—boleh aku pastikan—akan menyesal. Akan gundah seluruh pikiranmu. Kau akan menyumpah dirimu sendiri sekaligus tidurmu akan terganggu sepanjang malam. Bukankah itu sesuatu yang tak siapapun menginginkannya? Tapi begitulah. Aku tidak membuat lelucon atau meneror seperti teroris yang membuat kekacauan negara. Tapi hal itu berpulang kepadamu saja. Terserah kau menilai nantinya. Tapi kalau kau ingin bergabung, sebaiknya harus mempersiapkan dengan mental baja. Tak satupun orang memaksa.

Jauh dari keramaian, tapi dia berdiri megah di wilayah pusat pemerintahan kota kabupaten. Melewati deretan perkantoran dinas instansi pemerintah kabupaten, ke arah timur sebelum kita lurus ke arah rumah sakit umum, ada jalan membelok ke arah kanan. Masuklah. Di kanan-kiri rimbun pepohonan tampak segar dan alami, yang kalau pagi terasa sejuk, menyegarkan badan dan nafas kita apalagi terdengar burung-burung berkicau bernyanyi.

Deretan panjang gedung akan menyambut pandangmu. Halamannya hijau seperti hamparan sawah ditambah sangat elok oleh tumbuhnya pohon ketapang yang rindang meneduhi kita dari terik matahari. Sambutan alami itu ternyata tidak sebanding dengan apa-apa yang kau harapkan ketika masuk ke kelasnya. Silahkan kau melangkah kaki ke koridor teras di tiap pintu kelas. Melongoklah ke dalam: matamu akan segera menyambut pemandangan yang memusingkan kepala. Meja lebih mirip tempat untuk jual bawang dan sayur. Bangku atau kursi remuk, bolong, dan tak dapat diduduki dengan nyaman. Papan tulis? Nyaris sama seperti tembok dinding yang penuh dengan goresan segala macam benda tajam—minimal pulpen—tentu yang selalu dibawa oleh siswa; mereka sangat gemar barangkali untuk menyayat-nyayat papan tulis itu. Jendela? Sudah barang tentu tertutup debu dengan kain penutup yang lebih mirip kain lap. Di sudut ruangannya terdapat tiang kayu dengan bendera yang bisu, kumuh, seperti rombengan yang tak disinggahi oleh siapapun. Bagaimana dengan foto pimpinan negara? Tak usah tanya. Tak ada yang patut diberi nilai baik, karena telah koyak-moyak wajahnya sejak pertengahan semester sebelum sampai mereka tamat. Dan pintu kelas? Lebih mirip pintu kamar mandi dengan kondisi nyaris tanpa kunci pasti, papan-papannya lapuk, jebol, dan syarat corat-coret dengan gambar yang menjurus pornografi; seperti juga meja-meja belajar mereka, sangat persis—meski tidak semua—tapi pasti hampir ada.

Dan kau, ingin mendaftar ke sekolah itu juga? Jangan. Sebelum nafas penyesalan menyesakkan dadamu yang membuat kau depresi hingga rela barangkali untuk mengakhiri hidup. Aku tidak berlebihan dan bukan pula bermaksud melontarkan lelucon. Yakinlah, kau akan mendapatkan teman-teman baru yang jauh dari sifat manusia. Beragam karakter cerminan buruk akan segera kau imbas masuk ke dalam dirimu seperti cairan suntik yang perlahan menjalar ke seluruh tubuh dan menjadikanmu terasa tak nyaman.
Kau harus sadar, bahkan sadar untuk selamanya kalau nanti temanmu bukan manusia tetapi hanya mirip manusia. Mereka adalah binatang atau setan yang tepatnya  berwujud manusia. Meski kurikulum gembar-gembor menyuarakan pendidikan berkarakter… namun tidak bagi siswa sekolah itu, karena begitu sulit menanamkan karakter itu bagi mereka. Bayangkan… kau setiap menit akan mendapatkan asupan kata-kata pedas, tajam, menyinggung, yang berujung tindak laku emosi untuk membalas. Bayangkan… kau akan menemukan sikap tingkah laku yang tak etis sebagai siswa, yang berujung imbas kepadamu. Otomatis kau akan mengikuti mereka karena apabila tidak, siap-siap kau akan dianggap tidak pantas berada di lingkungan mereka yang membuatmu semakin lama dikucilkan dari lingkungan pergaulan di situ. Bayangkan… kau tidak akan mendapatkan sikap tingkah-laku sopan sedikitpun kepada teman sebaya, bahkan pada orang yang lebih tua semisal guru dan penjaga sekolah. Semua tingkah laku mereka mirip binatang yang tanpa tahu adab dan aturan. Bayangkan… siap-siap telingamu pedas setiap hari oleh cemoohan, sindiran, ejekan, bahkan cacian yang merupakan “sarapan” sehari-hari bagi mereka di sekolah itu. Mereka tak dapat dibilangi, tak dapat diperbaiki, tak dapat dicakap, karena perasaan mereka telah hilang. Bayangkan… kau hanya merugikan diri sendiri, karena kau tak akan pernah tumbuh rasa motivasi dalam belajar di setiap mata pelajaran. Sebab teman-temanmu tidak satu pun memiliki rasa penting dalam ilmu—lihatlah nanti, mereka pasti akan menyepelekan pelajaran. Bahkan menentang apa-apa yang diperintahkan guru semisal penugasan. Mereka hanya merasa terpaksa melaksanakan tugas-tugas itu. Bayangkan… masih banyak yang ingin aku kemukakan, tapi aku tidak ingin kau sedih karena ini… aku hanya takut kau menangis…
***
Aku takut kau menangis… karena kau yang kutahu berasal dari keluarga baik-baik. Pasti memiliki etika pergaulan yang baik, tutur bahasa yang lembut, sikap yang lunak, bijaksana, dan pintar karena orangtuamu rajin membimbingmu belajar tiap malam atau rela merogoh kocek untuk ikut les di luar jam sekolah sepert anak-anak Cina itu.

Aku hanya khawatir melihat kau menangis kalau saja telah menjadi siswa di sekolah itu. Aku sungguh takut kepribadiamu terkikis pelan-pelan menjadi dari apa-apa yang telah kusampaikan. Tentu saja sangat disayangkan bukan? Karena kau memiliki kepribadian yang selaras dengan cita-cita orang tuamu. Jangan sampai hancur ketika telah barada di sekolah itu.

“Apa yang mesti kuperbuat?” desismu. Lalu kau memandang dengan mata sayu. Aku tak berharap hal itu terjadi, tapi aku agak bersalah telah menyedihkanmu. Tapi yakinlah ini untuk kepentinganmu juga, bukan?

“Tak ada yang perlu dirisaukan. Banyak jalan lain. Kau dapat mendaftar ke sekolah lain, yang lebih baik, unggul, dan berprestasi, bukan?”

Kau mengangguk sekenanya. Barangkali tidak bergeming—bukan marah melainkan bingung.

“Aku tak hendak melukai perasaanmu. Tapi ini penting untuk kau ketahui. Bahwa tak ada yang patut di banggakan dari sekolah itu yang nantinya akan menyesali dirimu sendiri. Kau tak akan memiliki prestasi yang membanggakan dari sekolah itu. Bahkan hanya mirip sebagai tempat penjara.”

“Sekolah itu?” tanyamu terbelalak. (kurasa kau tak membuat-buat).

“Sudah pasti.”

“Penjara? Bagaimana bisa?” tanyamu kembali.

“Jelas bisa. Kau tidak akan merasa nyaman oleh semua temanmu. Tak ada yang patut dibanggakan dari mereka yang hanya mengejar ijazah dan asal-asalan dalam sekolah. Inti dari mereka hanya sekadar sekolah daripada di rumah tidak ada pekerjaan. Kau harus tahu, yang menginginkan mereka sekolah sebenarnya adalah orang tua mereka bukan mereka sendiri.”

“Segitunya?”

“Segitunya…”

“Hm…”

“Kau harus tahu bahwa hampir tiap hari betapa lukanya perasaan guru-guru di sekolah itu. Tapi mereka menahannya dengan bersusah-payah. Mereka berusaha ikhlas meski terus menghadapi ‘binatang’ yang sulit di didik dan di ajarkan.”

“Hal yang sangat tidak pantas bagi siswa di situ.”

“Benar. Jadi jangan pernah masuk ke sekolah itu,” kujawab cepat. Berusaha meyakinkanmu. Kuharap kau sadar.
***

Pak Ngah Leman, memicingkan mata, ketika lewat di depan sekolah itu dengan becak dayungnya. Aku menangkap isyarat lain yang lebih memiliki arti menusuk. Ada gundah kebencian, ada sergah hati kusam bermain dalam benaknya. Sorot matanya di akhir lebih mencekam, seolah ingin menelan gedung sekolah itu. Aku hanya diam. Aku tahu selain dia, masyarakat nun jauh di luar sana memiliki pandangan miris seperti dia.

Kau ingin tahu lebih lanjut, setelah kuceritakan hal itu kepadamu. Bahwa ada respon negatif dari masyarakat. Meski aku tidak tahu pasti. Tapi kau harus tahu, bahwa pada umumnya masayarakat telah menganggap sekolah itu buangan. Buangan dalam segala hal: remaja yang bermasalah, remaja yang dari latar belakang kuluarga broken home, remaja yang sulit di didik, remaja yang egoistis, remaja yang pencuri, remaja yang bermulut kotor, remaja yang tak tahu diri, remaja yang tak beradab, dan mereka hanya ampas yang tak berguna bagi masyarakat bahkan negara ini.

Begitulah, aku hanya memberi penjelasan tapi untuk tidak menakut-nakutimu. Penyesalan tentu tidak di awal tetapi pasti di ujung. Tak ada yang dapat diusahakan selain sabar dan terus berusaha dari para guru, tentu, dengan segala daya upaya. Kau harus tahu bahwa profesor di bidang pendidikan pun belum tentu dapat langgeng mengajar di sekolah itu.
“Segitukah?” kau menyela setelah menyeruput teh es.

Aku mengangguk.

“Kau tak berlebihan?”

“Tentu tidak. Bukan hanya aku yang mengatakan, tetapi juga para guru.”

“Apa yang harus aku lakukan?” tanyamu yang membuatku tersentak. Aku seperti yang kau tahu tentu saja tidak mau kehilanganmu. Tapi tentu saja aku juga tidak ingin kau menjadi bagian kehancuran berada di sekolah itu nantinya. Aku tidak mau itu.

Kau merengut. Hatiku semakin remuk. Setidaknya kau berpikir keras tentang semua ini. Seandainya ayah dan ibumu masih ada dan berada di kota seberang, pasti kau telah lenyap dari jangkauanku. Tapi seperti yang kau katakan, kau tidak ingin tinggal dengan bibimu yang tak memiliki sifat keibuan itu. Kau pasti merasa seperti anak tiri ketika berada di dekatnya—tersiksa apakah fisik atau psikis—selalu tebuang tanpa diperhatikan dan terlantar. Tapi itu kenyataan, aku tak bisa berkata apa lagi. Seandainya nilaimu tinggi dalam hasil pencapaian Ujian Nasional SMP, pasti kau telah bertandang ke sekolah yang dianggap favorit yang menjadi tujuan utama bagi para siswa berprestasi. Tentu saja, sebab siapa yang tidak ingin masuk ke sekolah yang lebih bermutu, bukan?

Kau menangis ketika tahu nilai murni hasil Ujian Nasional SMP minim dan standar. Boleh saja kau masuk ke sekolah yang ramai diincar itu di ibu kota provinsi, meski nilaimu jelek, tapi kau harus siap-siap mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Tentu tidak sedikit. Apakah itu mudah? Seperti kataku tempo hari.

“Mudah saja kalau banyak uang!” sergahmu ketika itu dengan mulut mencorong ke depan.

Aku hanya tertawa. Melihatmu marah begitu semakin bertambah kecantikanmu. Apalagi kau memakai sedikit olesan lipstick berwarna ungu—tapi tidak berlebihan.

“Aku ingin sekolah… melanjutkan apa yang kucita-citakan.”

“Bagus. Tentu itu bagus. Tapi…” aku tersentak, kau langsung memotong.

“Jangan masuk ke sekolah buangan itu?” wajahmu keruh.

“Ya. Jangan. Jangan kau mencoba untuk mendaftar masuk ke sana.”

Kau menarik nafas. Sorot matamu seperti mencerminkan ruhmu entah dimana. Sejenak aku tak menemukan kegairahan, melainkan kehampaan. Kau lebih mirip pohon yang meranggas tertiup angin sehabis hujan.

“Apa yang kau katakan benar. Apa gunanya kita bersekolah di lingkungan  siswa yang bejat. Aku tidak ingin menjadi jahat. Aku bukan anak nakal, tapi pintar, aku bukan anak pemalas, tapi rajin, aku bukan anak bermulut kotor, tapi lemah lembut, aku bukan anak tidak punya etika, tapi anak sopan santun, dan aku tidak ingin menjadi bagian kehancuran oleh karena—seandainya—bersekolah di sekolah buangan itu,” kau berkata tegas, mirip tentara.

Lalu kau memelukku, erat. Barangkali sebagai ungkapan terima kasih. Barangkali sebagai bentuk kau masih peduli kepadaku. Tentu saja aku setuju. Dan kau yang kusedihkan masih bingung untuk melanjutkan kemana. Aku yakin dengan kekuatan cinta tidak akan melunturkan sikap yang telah dibangun. Sekolah sesuatu yang harus untuk dijalani, ucapmu. Aku mengangguk takzim, mengiyakan dengan sungguh-sungguh. Sekarang hanya dua pilihan, apakah kau pergi ke pangkuan bibimu untuk melanjutkan sekolah di kota? Atau masuk ke sekolah buangan itu, karena nilaimu tidak mencukupi….

“Aku tidak ingin kau larut dalam kebingungan…”

“Hidup adalah pilihan…,” balasmu lirih.

“Pilihan yang tidak tepat akan berujung kesengsaraan, bukan?”

“Bisa jadi. Tapi semua butuh proses, bukan?”

“Proses harus dilandaskan oleh pikiran yang matang dalam memilih dari awal. Kalau tidak akan menjurus pada penyesalan, maka pikirkanlah masak-masak,” balasku sambil melihatmu menatap jauh ke kabur matahari sore.

Akhirnya kau mengangguk. Kurasa hati kecilmu tidak akan mau kesia-siaan melecutkan hatimu lebih sakit. Maka aku akan tetap menanti jawabanmu dari dua pilihan itu.

“Bagaimana dengan hubungan persahabatan kita?”

Aku diam.
***

Sore yang hangat. Kau membuatkanku secangkir white coffe dengan ditemani lima potong bika ambon. Sungguh menggugah selera asalku yang sangat kampung, tapi tidak kampungan. Aku menunggumu sambil harap cemas. Aku siap akan semua keputusanmu. Lima menit beralalu, dan kopiku tinggal setengah.

“Aku akan ke kota. Bersekolah di sana. Melanjutkan cita-citaku. Aku yakin harapan sekolah di tempat yang lain akan lebih menjamin masa depanku untuk menjadi manusia yang berkarakter. Aku punya tekad dan cara untuk menembus sekolah-sekolah teladan di kota. Aku tidak mau masuk di sekolah yang memiliki siswa bajingan itu, yang kau sebut sekolah buangan. Apa yang kau katakan telah kupahami lebih jauh, dan tak ada gunanya kita berproses di sekolah itu…”

Aku terkejut sekaligus bangga, bercampur cemas. Cemas… karena kau tentu saja kelak tak berada lagi di sisiku. Tapi aku bangga, ya, aku bangga akan sikapmu itu.***

Selatpanjang,  November 2014


Riki Utomi
pegiat sastra. Sejumlah tulisannya termuat dalam Suara Merdeka, Lampung Post, Banjarmasin Post, Serambi Indonesia, Padang Ekspres, Berita Kota Kendari, Inilah Koran, Medan Bisnis, Haluan Kepri, Batam Pos, Haluan Riau, Metro Riau, Koran Riau, Riau Pos, Sabili, Sagang, dll. Juga Terangkum dalam antologi Yayasan Sagang, Leutika Prio, Taman Budaya Riau, Helat Penyair Serumpun, Negeri Poci, 100 Tahun Cerpen Riau, dll. Menggerakkan wadah kreatif menulis Cahayapena. Buku fiksinya Mata Empat (2013). Tinggal di Selatpanjang.
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 12 November 2018 - 21:00 wib

Maksimalkan Melalui Produk Unggulan

Senin, 12 November 2018 - 20:30 wib

2019, Tour de Singkarak Lintasi Mandeh dan Jambi

Senin, 12 November 2018 - 20:00 wib

Tausiah UAS Banjir Jamaah

Senin, 12 November 2018 - 19:00 wib

Transaksi Harian Saham Anjlok 1,89 Persen

Senin, 12 November 2018 - 18:30 wib

Lions Club 307 A2 Beri Bantuan Pengecatan Panti Asuhan

Senin, 12 November 2018 - 18:00 wib

Cukai Rokok Batal Naik, Target Pajak Sulit Tercapai

Senin, 12 November 2018 - 17:00 wib

PT Pekanperkasa Promo Spesial Akhir Tahun

Senin, 12 November 2018 - 16:30 wib

KPP Pratama Bangkinang Edukasi Siswa lewat Pajak Bertutur

Follow Us