Oleh: Devi Fauziyah

Naskah (Kuno)

7 Desember 2014 - 08.11 WIB > Dibaca 2908 kali | Komentar
 
Naskah (Kuno)
Devi Fauziyah
Perang Bharatayuddha sedang berlangsung seru di salah satu stasiun televisi di Indonesia. Para penggemar film “Mahabarata” tidak sabar untuk menanti kelanjutan cerita yang ditayangkan hanya tiga puluh menit setiap harinya itu, kecuali Ahad.  Mereka juga tidak sabar untuk menyaksikan aksi Arjuna yang tampan dan Drupadi yang jelita. Demam “Mahabarata” memang tengah melanda Indonesia.

Sesungguhnya, film “Mahabarata” digemari tidak hanya disebabkan para pemainnya yang tampan dan cantik, tetapi juga karena nilai-nilai luhur yang terdapat di dalam film yang kental dengan budaya India dan agama Hindu tersebut. Para penonton dapat melihat petuah-petuah bijak yang selalu disampaikan oleh Krisna, kesabaran Pandawa dalam menghadapi setiap permasalahan dalam kehidupan, serta sikap kesatria Abimanyu dalam peperangan.

Penonton juga dapat berkaca pada perilaku tokoh-tokoh antagonis dan akibat buruk yang ditimbulkannya, seperti kelicikan Sangkuni dan segala daya upayanya untuk menjatuhkan Pandawa; ketidakdewasaan Duryodana dan adik-adiknya dalam menghadapi kebenciannya kepada Pandawa sehingga ia selalu menuruti semua saran yang disampaikan oleh Sangkuni; serta kesombongan Karna dengan kemampuan yang dimilikinya sehingga membuatnya tidak mampu bersikap bijaksana. Di samping itu, penonton pun dapat menikmati kisah cinta Drupadi yang mempunyai lima suami (sekalipun tidak lazim, tetapi terjadi dan dapat berterima dalam cerita) serta rasa sayang yang berlebihan dari Destarata kepada anak-anaknya (Kurawa) sehingga menjadi salah asuhan.

Barangkali, sebagian penonton tidak menyadari bahwa cerita tersebut diangkat dari sebuah naskah lama (manuskrip). Konon, epos dari India (ditulis oleh Began Viasa Adri) itu pada awalnya berbahasa Sansekerta. Cerita itu, yang sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, masuk ke Indonesia melalui terjemahan dalam bahasa Jawa Kuno yang dilakukan oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh.

Di Indonesia, epos “Mahabarata” menjadi salah satu sumber inspirasi banyak pihak. Cerita itu tidak hanya mengilhami para sineas dan sutradara dalam pembuatan sinetron dan film, tetapi juga menginspirasi sastrawan dalam berkarya. Sekadar contoh, dapat disebutkan di sini beberapa judul, seperti “Krisna Kecil” (sinetron), “Arjuna Mencari Cinta” (film), dan  “Drupadi” (cerpen). Ketiga karya itu, konon, mendapat apresiasi yang tinggi dari masyarakat. Hal itu membuktikan bahwa sebenarnya naskah lama ketika dikemas dengan apik akan memberikan daya tarik tersendiri bagi penonton/pembaca masa kini.

Selain bermanfaat di dunia hiburan, “Mahabarata” juga bermanfaat di dunia akademis. Pada International Academy of Indian Culture and Aditya Prakashan, New Delhi (1993) S. Supomo mengangkatnya dalam karya ilmiah,  dengan judul “Bharatayuddha An old Javanese Poem and its Indian Sources”. Teks itu, bahkan, menjadi bahan pembelajaran mata kuliah Bahasa Jawa Kuno di Pascasarjana Universitas Indonesia, peminatan filologi.

Biasanya, teks pada naskah ditulis dalam bahasa “usang”, yang bisa jadi sudah tidak lagi dikenali oleh penuturnya sekalipun. Oleh karena itu, untuk memahami isi naskah, diperlukan sebuah keahlian khusus, di antaranya penguasaan bahasa Sansekerta, Jawa Kuno, dan Arab Melayu.

Simaklah contoh berikut:
Wet ni susrama darsaniya sinawan madana madanakarya kamini salwir nin sara warna bhusana teke sirah ira humatur susun-susun manka hru ragabandhanasemu sawit sekar i jaja hanasale-sale kalanya n panene pilis kadi maha rah ira sahidu ban jinenwaken (sebab ia bergaun cantik menyerupai dewi cinta menyiapkan perkawinan segala panah serupa pakaian sampai kepala seperti bunga ditusuk demikianlah panah mencabut tubuh seperti kalung bunga di dada ketika mengenai pelipis seperti berusaha darahnya diborehkan).   

Contoh di atas adalah penggalaan teks naskah Jawa Kuno cerita “Mahabarata”. Strukturnya banyak yang tidak sama dengan bahasa Jawa yang dipakai sekarang. Kosakatanya juga banyak yang sudah tidak familiar lagi dengan masyarakat Jawa saat ini sehingga orang Jawa sekalipun belum tentu mampu membaca naskah tersebut. Untuk mendapatkan makna yang lengkap diperlukan pemahaman teks secara keseluruhan sehingga didapatkan pengertian yang sama seperti yang dimaksudkan oleh penulis cerita. Itulah sebabnya campur tangan filolog sangat diperlukan.

Tugas pokok filolog adalah memperkenalkan naskah kepada masyarakat. Filolog harus dapat menjadi jembatan antara penulis pada masa lalu dengan pembaca sekarang. Artinya, filolog harus mampu menyajikan naskah, menafsirkan teks, memberi penjelasan yang intensif, serta membuat teks terbaca dan dapat dimengerti sehingga pesan-pesan yang terdapat di dalamnya sampai pada pembaca.
 
Ibarat titian, filolog adalah jembatan waktu (penghubung masa lalu dan kini). Melalui karya interpretasinya, ihwal sebuah naskah diungkap sehingga pesan dan amanahnya dapat dimengerti oleh pembaca sekarang. Biasanya, pesan dan amanah dalam naskah berupa nasihat yang terkait dengan ajaran moral, agama, dan etika (sopan santun). Dalam “Mahabarata”, misalnya, ajaran seperti itu terlihat dengan jelas pada keluarga Pandawa. Mereka sopan dalam bertutur, santun dalam bersikap, amanah pada janji, teposeliro ‘tenggangrasa’, adil dalam bersikap, dan selalu meminta restu kepada orang yang dihormati.

Celakanya, dalam kehidupan sehari-hari justru sifat-sifat angkara yang mudah ditemukan. Perkelahian, pencurian, perkosaan, penipuan, dan kemusrikan terjadi di mana-mana. Sifat-sifat mulia seperti yang diperlihatkan para Pandawa itu saat ini sudah menjadi barang langka yang sulit dijumpai, selangka dan sesulit menemukan dan memahami naskah.***
Salam.


Devi Fauziyah
Peneliti pada Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:01 wib

Hotel Prime Park Promo Wedding Expo

Jumat, 21 September 2018 - 16:00 wib

Kondisi Firman Makin Membaik

Jumat, 21 September 2018 - 15:58 wib

Najib Razak Kena 25 Dakwaan Baru

Jumat, 21 September 2018 - 15:45 wib

1.601 Warga Ikuti Aksi Donor Darah Eka Hospital

Follow Us