Bahasa Melayu untuk Indonesia

14 Desember 2014 - 09.38 WIB > Dibaca 1579 kali | Komentar
 
Sejak abad ke-7, bahasa Melayu telah terbukti memainkan peran yang sangat penting dalam bidang perdagangan, pemerintahan, agama, ilmu dan pengetahuan dan sosial budaya umumnya. Itulah sebabnya bahasa Melayu menjadi lingua franca yang pada gilirannya menjadi bahasa international kala itu.

Laporan JEFRI AL MALAY, Batam

Perbincangan mengenai bahasa Melayu dipandang dari jejak sejarah dan kontek kekinian berlangsung di acara prakonvensi Hari Pers Nasional (HPN) 2015 di Batam, Jumat (12-13 Desember) di Hotel Harmoni One. Acara yang merupakan rangkaian dari HPN 2015 di mana Provinsi Kepuluan Riau men jadi tuan rumah itu, mengangkat tema Bahasa Melayu untuk Indonesia yang Baharu dan Bahari.

Hadir sebagai pembicara dalam seminar yang diadakan selama dua hari itu, Abdul Malik seorang budayawan dan cendikiawan Melayu (Kepri), Linguis Universitas Indonesia, Dr Totok Suhardiyanto, (Jakarta), budayawan dan sastrawan Riau, Taufik Ikram Jamil (Riau), Kolumnis sepakbola dan esais, Zen Rs (Jawa Barat), seniman dan penyair Riau, Marhalim Zaini (Riau), dan Ketua Forum Bahasa Media, Td Asmadi.

Memang untuk setakat ini tidak ada yang mengetahui secara pasti bila tepatnya bahasa Melayu dikenal di muka bumi ini. Tetapi kemudian, disebutkan salah seorang pemateri, Abdul Malik bahwa bahasa Melayu diperkirakan sudah ada sejak 4000 tahun silam. Katanya, hal itu didasari oleh kenyataan pada abad ke tujuh (Sriwijaya), bahasa Melayu sudah mencapai kejayaannya. Inikan menjadi jelas, bahwa tak ada bahasa di dunia ini yang dapat Berjaya secara tiba-tiba tanpa melalui perkembangan tahap demi tahap, papar Malik yang juga berprofesi sebagai dosen di Universitas Maritim Raja Ali Haji.

Abdul Malik di hadapan peserta seminar yang dihadiri para guru-guru bahasa dan pakar-pakar bahasa serta seniman budayawan itu juga memaparkan sejarah perjalanan dan perkembangan bahasa Melayu dari masa ke masa. Dari bahasa Melayu zaman Sriwijaya (633) hinggalah sampai pada persiapan bahasa Melayu menjadi bahasa nasional, bahasa pemersatu bangsa. Katanya, penyebaran bahasa Melayu yang telah terjadi berabad-abad karena salah satunya disebabkan kesederahaan susunanya dan sedap bunyinya, tidak ada bunyi yang sulit diucapkan oleh orang asing.

Tetapi patut pula kita akui, pembinaan yang intensif yang dilakukan oleh Raja Ali Haji dan kawan-kawan ketika di Kerajaan Riau-Lingga sejak abad ke-19 sampai dengan awal abad ke-20 yang memungkinkan bahasa Melayu terpelihara dengan baku yang kemudian disebut bahasa Melayu Tinggi. Dan bahasa Melayu inilah pada kongres I Pemuda Indonesia,, 2 Mei 1926 diberi nama baru dan pada peristiwa Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1982 dikukuhkan sebagai bahasa nasional, jelasnya.

Kemudian seorang pakar linguis dari Universitas Indonesia, Dr Totok Suhardiyanto membentangkan wacana mungkinkah bahasa Melayu sebagai bahasa antarabangsa. Lelaki yang men gaku di masa kecilnya pernah hampir lima tahun tinggal di Tanjungpinang itu kemudian menyebutkan bahasa Melayu memiliki ketahanan yang luar biasa. Makanya tidak kedudukannya sebagai bahasa Lingua Franca tidak akan pernah bergeser. Hanya saja untuk menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa antarabangsa, berbagai tantangan pun muncul, diantaranya disebutkan Totok, persaingan dengan bahasa Inggris, perbedaan etno-linguistik di antara suku bangsa di Asia Tenggar, persoalan sejarah dan politik dalam negeri dan atau kawasan, persoalan ekonomi di kawasan dan dalam negeri, bahkan pengaruh bahasa slang atau dialog Jakarta.

Ada sebuah pekerjaan besar yang kemudian harus dilakukan untuk menjawab tantangan itu. Seperti misalnya, mendorong terus dan menambah intensitas kerja sama kebahasaan, kesusasteraan dan pendidikan di antara Negara-negara berbahasa Melayu, mendirikan pusat-pusat kajian Melayu di negara-negara ASEAN dan berupaya menyatukan dunia Melayu yang ada di kawasan Asia, jelasnya.

Berharapan pada Jurnalistik dan Sastra
Harapan untuk mengembalikan kegemilangan dan kemulia an bahasa Melayu sebagai cikal bakal bahasa Indonesia serta untuk menangani lintang pukang dan pembantaian bahasa Indonsia hari ini, menurut pembicara asal Riau, Taufik Ikram Jamil adalah jurnalistik. Katanya, jika kita mengakui jurnalitik adalah pilar keempat dari demokrasi maka harapan keberlangsungan bahasa Melayu tergantung kepada media massa sebab diyakini sekali hari ini, jurnalistik bisa mencerahkan dan melakukan apa yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Dan kita melihat hal itu, makanya saya punya harapan. Tetapi harapan harus juga dibarengi dengan usaha dan upaya. Artinya, ketika media massa harus bertempur pula dengan kapitalisme apakah kemudian mereka juga dalam waktu yang sama memikirkan bahasa. Sebab begini, kecendrungan media massa saat ini yang saya tangkap adalah mengadopsi bahasa pasar. Tidak lagi seperti di jaman reformasi, sebagai bahasa aksi. Tapi saat ini hanya bahasa respon sehingga banyak bahasa pasar yang  diangkat ke bahasa media, ucap budayawan seniman asal Riau tersebut sembari mencontohkan kata seronok yang pada hari ini menjadi bermakna atau berbau pornografi yang jelas-jelas telah lepas dari makna sebenarnya.

Sementara itu, Marhalim Zaini selaku pembicara berikutnya, menegaskan bahwa justru tempat menggantungkan harapan atas keberlangsungan dan pembinaan bahasa Melayu itu kepada karya sastra. Hal itu menurutnya sudah terbukti dalam sejarah dengan beberapa tokoh yang berperan penting di dalamnya. Terlebih lagi menurut penyair asal Riau itu, semua tulisan adalah sastra, adalah berita.

Kandungan isi karya sastra tertulis yang mengandung pesan-pesan, informasi, nasehat, mitos, sejarah, adat-tradisi, alam, nilai-nilai, seni, dan lain-lain adalah informasi atau berita tentang realitas sosial-budaya masyarakat. Maka, terlepas dari bagaimana sejarah jurnalistik Melayu berjalan dengan caranya sendiri sampai masuk ke zaman percetakan, saya melihat dari perspektif kesusastraan dan dunia keberaksaraan Melayu, bahwa antara sastra dan berita, fakta dan fiksi, sejarah dan mitos, sampai kini pun tidak benar-benar dapat terurai dengan sempurna. Bahkan ketika sebuah media menerapkan istilah jurnalisme sastra atau sastra jurnalistik sesungguhnya tengah mengembalikan makna awal dari dunia keberaksaraan kita, ucapnya.

Tampil juga pembicara dari Jawa Barat, Zen Rs yang memandang pembantaian bahasa Melayu dari perpektif bahasa media terutama di berita olahraga. Betapa katanya,  tantangan serius yang dihadapi bahasa Melayu yang salah satunya adalah berita sepakbola di mana merupakan medan pembantaian bahasa Melayu karena banyak bahasa istilah-istilah yang masuk hanya dicomotkan begitu saja, tanpa ada filter. Diperparah lagi, kemunculan media baru yang menepatkan otoritas sepenuhnya kepada si pemilik seperti misalnya media sosial. Perkembangan istilah-istilah digital yang juga merupakan momok bagi bahasa Melayu, jelas esais tersebut.

Sejalan dengan pemikiran Taufik Ikram Jamil, Ketua Yayasan Sagang, Kazzaini Ks yang juga hadir menyatakan hal serupa bahwa media sebagai salah satu tempat untuk mengawal pembantaian bahasa Melayu yang terjadi hari ini. Beliau melihat seperti ada ketidakikhlasan segelintir orang untuk mengakui bahwa bahasa Indonesia itu berasal dari bahasa Melayu padahal sesungguhnya sejarah telah mencatat itu.

Media katanya sangat berperan untuk mengawal kezaliman bahasa Melayu yang sedang terjadi. Diceritakannya ketika dia menjabat sebagai redaktur di Riau Pos, selalu diadakan pelatihan-pelatihan kepada wartawan terkait dengan bagaimana menjaga dan meningkatkan kepedulian terhadap penggunaan bahasa. Bahkan ada standar untuk pemilihan dalam penggunaan kata-kata. Ini menurut saya penting seperti halnya acara seminar ini. Kepedulian terhadap bahasa agar dapat menghindari serbuan-serbuan dari bahasa asing dan menjaga kokohnya bahasa kita, bahasa Melayu yang seharusnya menjadi tempat kembali. Diibaratkan  rumah, bahasa Melayu menjadi tempat kembali dari segala penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, menjadi tempat rujukan kembali, ucap Ketua Dewan Kesenian Riau tersebut.

Sementara itu,  Gubernur Provinsi Kepulauan Riau, H Muhammad Sani yang juga hadir untuk membuka acara seminar tersebut sangat apresiasi atas acara yang diselenggarakan PWI Provinsi Kepulauan Riau. Katanya Bahasa Melayu adalah cikal bakal bahasa Indonesia, kalau tak ada bahasa Melayu, tidak ada bahasa Indonesia. Melaui seminar ini, diharapkan kita coba kembali mengangkat marwah bahasa Melayu, dengan memperkuat monumen bahasa yang kita miliki, katanya.

Ketua PWI Provinsi Kepri, Ramon Damora mengatakan pemilihan tema yang dikemas bertujuan untuk melihat dan membuka mata kepada semua bahwa bahasa Melayu itu sangat kaya. Bahkan dengan mudah bisa menjangkau isu-isu kemaritiman dan kesiapan menyambut Masyarakat Ekonomi Asia. Bahasa Melayu juga sudah pernah digulirkan isunya sebagai cikal bakal bahasa Asia, hanya saja lanjut Ramon, belum ditemukan bentuk yang pas.

Maka pada prakonvensi bahasa Melayu yang ditaja, para pendekar-pendekar bahasa akan coba menggali dan mendedah serta menelaah ranah bahasa Melayu tidak hanya dalam kontek sejarah tetapi juga aplikasinya di masa kini, jelasnya.

Selain acara seminar, pada malam harinya , para peserta yang terdiri dari para pendekar bahasa, wartawan, sastrawan membacakan puisi dalam helat yang diberi tajuk Hempasan Puisi Para Munsy yang diselenggarakan di DePatros Caf.(fed)
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 21 November 2018 - 10:45 wib

Pingsan dan Meninggal Usai Lomba Salawat

Rabu, 21 November 2018 - 10:45 wib

APBD 2019 Rp1,47 T

Rabu, 21 November 2018 - 10:30 wib

Harga Daging Ayam Naik hingga Rp2 Ribu

Rabu, 21 November 2018 - 10:30 wib

Target Final buat Fajar/Rian

Rabu, 21 November 2018 - 10:15 wib

Sekda Tinjau Kerusakan Jalan Rokan-Kampung Tinggi

Rabu, 21 November 2018 - 10:00 wib

Pekanbaru Yakin Jadi Tuan Rumah Porprov 2021

Rabu, 21 November 2018 - 10:00 wib

Polisi Telusuri Jaringan Pengedar Empat Kilogram Sabu-Sabu

Rabu, 21 November 2018 - 09:53 wib

Solar Langka di Batam

Follow Us