Pasar Tari Kontemporer VII

Tradisi Sumber Inspirasi Tak Pernah Habis

14 Desember 2014 - 09.46 WIB > Dibaca 946 kali | Komentar
 
PASAR Tari Kontemporer (Pastakom) tajaan Pusat Latihan Tari Laksemana kembali digelar setelah sekitar delapan tahun tidak terselenggara. Menurut penggagas utama, Seniman Pemangku Negeri Iwan Irawan Permadi, terakhir pelaksanaan pada 2007. Setelah itu, kegiatan yang bertaraf international itu tidak dapat lagi dilaksanakan disebabkan keterbatasan dana.
 
Namun demikian, berkat kerja sama kawan-kawan seniman serta persaudaraan dan semangat kebersamaan, tahun ini helat serupa dapat diselenggarakan yang ke tujuh kalinya. Meskipun kemudian, diakui Iwan Irawan dana untuk pelaksanaan tahun ini sangat mimim dan terbatas dan ham pir tidak ada bantuan dana dari pemerintah, Tapi saya senang karena bagaimana pun kawan-kawan sudi hadir di acara Pastakom VII. Acara ini terselenggara sebenarnya berkat kekuatan persaudaraan dan silaturahmi yang  terjalin antara seniman-seniman tari. Kawan-kawan mau hadir, menggelarkan karya mereka bahkan dengan mengeluarkan dana sendiri, ujar koreografer senior itu.  

Pasar Tari Kontemporer itu sendiri sudah diposisikan sebagai salah satu forum pertemuan sangat penting dalam dunia seni pertunjukan yang memberikan kontribusi pada keberadaan serta perkembangan seni tari di Indonesia dan international di mana para seniman tari dapat berinteraksi dan bertukar informasi karena menurut Iwan, Pastakom bertujuan untuk memberdayakan potensi seni dari para seniman tari. Mengembangkan aspek kreatifitas dunia tari melalui lintasan batas semua ruang dan waktu, batas geografis maupun etnis. Dengan menggenggam semangat kebersamaan dalam keberagaman, serta memiliki visi ke depan. Dan kebetulan tema yang kita angkat tahun ini adalah synchronicity yaitu daya kemampuan untuk menyelaraskan ide-tema dalam gerak, ucap Iwan.

Memulai Pastakom ke VII, helat dimulai dengan workshop selama tiga hari (10-13 Desember). Adapun yang memberikan materi dalam workshop tersebut adalah seorang koreografer dan penari terbaik Indonesia dari Solo, Eko Supriyanto, S.Sn, MFA, koreografer dari Padang, Eri Mefri dan Angga, seorang penari asal Padang.

Dalam kesempatan itu, Eko memberikan pelatihan kepada puluhan peserta workshop terkait dengan teknik menari dan koreografi belakangan banyak saya temui kasus dibeberapa daerah yang saya kunjungi, para penari yang sudah memiliki teknik menari yang baik tetapi mereka terjebak dengan masalah drama, naratif sehingga melupakan bagaimana memahami mutualisasi gerak itu yang sebenarnya berasal dari tubuh, disitulah kekuatannya, ucap Eko.

Dalam kesempatan itu juga, Eko menegaskan pekerjaan penari kontemporer sekarang ini adalah terdiri dari tiga segmen kreatif yaitu menjenguk kembali tradisi, mempertanyakannya, dan menginterpretasikan tradisi.
 
Saya memandang, tari tradisi sebagai sumber inspirasi yang tidak pernah habis baik dari segi kontek kulutral budaya, komunitas masyarakat pendukungya. Dan seharusnya, bagi Indonesia, juga harus memandang demikian, yang apabila terus diolah saya percaya dan yakin sekali dapat memberikan daya kreatif kita untuk berkarya, jelasnya.

Senada dengan itu, koreografer asal Padang juga mengemukakan hal yang sama. Katanya tidak ada penari hari ini yang mampu mengalahkan penari tradisi. Tari tradisi itu kontemporer yang luar biasa hal itu dapat dibuktikan dan dilihat sekarang misalnya pada penampilan yang cendrung menyesuaikan tempat, suasana, cara menari.

Tidak satu pun koreografer yang mengalahkan pelaku tradisi  itu tapi koregrafer hari ini mampu beranjak dari situ. Kita tahu, seluruh basik tari tradisi memang tercipta melalui kehidupan keseharian, terbentuk secara alami. Tidak seperti kita yang apabila ada even baru, menari. Maka bisa kita lihat, para pelakubtradsisi punya aura yang luar biasa yang tidak ada pada garapan baru kita. Karya kita cendrung instan. Mkanya bagi saya dan anggota, latihan setiap hari adalah harga mati, ucapnya.

Selain workshop, acara Pastakom juga dikemas dalam bentuk pergelaran karya-karya korografer yang ada ditanah air yang diadakan Jumat malam (12/12) di Anjung Seni Idrus Tintin. Pereglaran tari yang berlangsung selama tiga malam berturut-turut itu menampilkan ragam bentuk karya dari masingmasing koreografer dengan tetap terbingkai dalam tema yang telah ditetapkan.

Penampilan malam pertama dibuka dengan tarian olang-olang yang didatangkan langsung dari Suku Sakai. Kemudian disusul penampilan berikutnya dari Sekolah Tinggi Seni Pekanbaru (STSR) dengan judul garapan Merah karya Ririn Raningsih. Selanjutnya ditampilkan karya dari Ruki Daryadi dari Tanjung Pinang dengan karya berjudul Ego.

Tak kalah menariknya pada garapan berikut yang berjudul Basondi karya Syafmanefi Alamanda. Karya ini mendedahkan persoalan yang dialami masyarakat suku Sakai yang kian terpinggirkan. Lahan masyarakat suku Sakai harus menyempit karena HPH yang diberikan oleh penguasa kebijakan kepada perusahaan. Maka Basondi yang berarti sendi atau siku yang digunakan dalam sebuah ritual pengisian seorang bomo (dukun, red), diharapkan bisa menjadi media penyampai masalah yang mereka hadapi sejak dulu hingga hari ini, ucap Nanda sapaan akrabnya.

Kemudian pertunjukan malam pertama ditutup dengan kehadiran sepasang penari yang menciptakan gerak-gerak yang berdasar pada apa yang menjadi realitas sensasinya. Karya tari yang diberi judul Under itu merupakan konsep dari Eko Supriyanto (Solo) yang mengeksplor keleluasaan tubuh untuk bergerak mengikuti sensasi dan sensor inisiasinya. Karya ini mencoba mencari realitas kekuatan dari simplisitasnya, terang Eko singkat.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 01:22 wib

Prabowo Tunjuk Neno Warisman Jadi Wakil Ketua TKN

Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Follow Us