Oleh: Nafi’ah Al-Ma’rab

Kangkung

14 Desember 2014 - 09.55 WIB > Dibaca 1861 kali | Komentar
 
Sejujurnya, aku benci dunia yang telah ditenggelamkan kata-kata. Kata-kata telah membanjiri dunia. Semenjak pagi hingga sore dunia telah penuh dengan kata-kata. Semua orang ingin berkata, yang kecil, yang besar, yang keriput yang mulus, semua menyesakkan dunia ini dengan kata-kata. Kata-kata seperti angin yang menembus telinga manusia. Kata-kata tak berwujud. Menyusup-nyusup ke kalbu siapa saja. Kata-kata ya kata-kata. Semua sudah jemu dengan kata-kata. Hingga semua tak hendak lagi berkata. Bahkan ketika aku telah berkata. Dan mungkin tersebab ini pulalah kata-kataku cuma tinggal kata-kata. Sudah seperti sampah yang terbang begitu saja. Semua tak mau dengar kata-kata. Meski aku telah kehabisan kata-kata. Lalu kusimpan kata-kata di balik tubuh yang kian hari kian membesar. Tak peduli dengan kata-kata. Karena aku sudah benci dengan kata-kata. Kata-kata lah yang telah membunuhku. Kata-kata lah yang telah memfitnahku habis-habisan. Kata-kata mereka telah membunuh kata-kataku. Oh Tuhan, lalu pada siapakah selayaknya aku berkata.

Aku perempuan kampung yang ditakdirkan menemani hidupnya. Seorang lelaki yang dipuji-puji akhlaknya oleh tetua kampung. Burhan, pria bergelar ustadz yang dinisbatkan ibu-ibu pengajian di mushala belakang rumah. Suamiku ustadz? Ya, ya aku senang bukan kepalang saat pertama kali mendengar seorang ibu menegurkan di kedai depan.

“Kak, kau istri Ustadz Burhan bukan?”

Alamak, senangnya aku. Suami ustadz. Ya, meskipun dengan gelar ustadz itu uang belanjaku pun tak bertambah, setidaknya senyumku bisa satu senti lebih tinggi di atas ibu-ibu lain. Bayangkan, semua ibu-ibu di sini berguru pada suamiku, Ustadz Burhan.

“Kak, kau beli kangkung kesukaan suami mu ya?”

Ibu-ibu di sini sangat perhatian pada suamiku. Lihat lah, ketika aku membeli sepucuk kangkung pada si tukang sayur pun mereka masih bertanya soal suamiku. Aku ingin marah (mungkin karena cemburu). Tapi oh itu tak pantas bukan? Karena aku istri ustadz. Maka kubalas saja dengan pertanyaan tak penting.

“Kok Ibu tahu?”

“Ya iyalah Kak, Ustadz kan sering cerita kalau ceramah, dia itu paling suka kangkung.”
Ya begitulah, hal tak penting pun menjadi penting saat sesuatu telah menjadi idola. Aku manggut-manggut saja sambil tersenyum.
***

Malam kian temaram. Kebiasaan perempuan kampung sepertiku usai magrib berlalu adalah membawa hidangan dalam nampan di hadapan suami. Itu tradisi. Kesetiaan kadang disetarakan dengan menghidangkan makanan. Di situ diukur nilai kepatuhan dan kecintaan. Dan bagaimana mungkin aku tak patuh dan tak cinta pada suamiku? Sedangkan ia berpeluh-peluh di siang hari mengumpulkan uang dalam kantung lusuhnya. Lalu ia berikan padaku di kala malam. Ia bilang, uang itu bekal di pagi hari. Begitu saban hari. Dan perempuan-perempuan kampung sepertiku dengan setia hanya menerima. Sebab kami maklum, di siang hari para lelaki telah sibuk bekerja apa saja. Ya meski suamiku bergelar ustadz, tapi haram baginya memperdagangkan status ustadz. Jadi saat ia mendapat bungkusan berkat dari warga yang baru usai kenduri, biasanya ia akan periksa berkat itu, kalau-kalau terselip amplop putih, ia akan buru-buru mengembalikannya. Ya, itulah ustadz. Jadi tak heran kalau ibu-ibu kampung sangat senang padanya. Karena ia tak mau dibayar, karena ia menolak uang.

Semangkuk hidangan sayur kangkung dan gulai patin kusuguhkan di hadapan suamiku. Ia melahapnya, sangat lahap. Lalu ia pun dengan mesra menyuapiku.

“Makanlah sepiring dengan Abang, Murni. Ingatkah kau saat Mak Andam dulu memintaku menyuapi mu di pelaminan? Mari kita ulang kenangan itu.”

Aku terkesima sejenak. Bagaimanapun kami kaum perempuan sangat lemah dengan rayuan. Kami menyenangi sanjungan para suami. Sebab di sana lah hati kami bisa terpaut. Kami merasa dihargai dan diperhatikan. Maka serta merta kubuka mulutku. Begitu nikmatnya saat butiran nasi berbalut batang-batang lembut sayur kangkung masuk ke dalam mulutku. Rasanya seoalah berubah seperti masakan raja-raja. Lezat sekali. Kunyahanku seolah tak mau berhenti. Suamiku nampak senang. Telaten sekali tangannya menyuapi apa yang ada di pinggannya. Aku mengunyah, lahap.
***

Ketika dunia yang kutumpangi ini telah ditenggelamkan oleh kata-kata, maka setiap sudut kampung kupandang laksana neraka. Semua wajah menyulut kebencian padaku. Mana hormat mereka pada istri sang ustadz? Tak ada lagi. Semua keagungan itu telah musnah. Yang ada hanya fitnah. Ya, menurutku fitnah.

“Murni, siapa lelaki yang telah menghamili mu?” laksana halilintar yang menyambar. Sebuah kalimat tajam serupa pisau terucap dari mulut suamiku.

“Lelaki? Lelak itu pastilah abang”

“Tak perlu kau tipu aku Murni. Sejak dua bulan lalu abang ke kampung seberang dan jarang pulang, abang tak pernah sentuh kau. Lalu anak siapa yang kau kandung itu?”

Dan lelaki itu kupikir bukan lagi ustadz ketika ia pun latah berucap memfitnahku. Sama seperti semua orang di kampung ini. Aku bahkan tak mampu lagi menitiskan air mata. Aku tak mengerti dengan semua ini. Pria macam apa dia? Aku tak pernah berhubungan dengan pria manapun, aku ini istri ustadz, bodoh sekali kalau aku berselingkuh. Tapi dia menolak hakikat bayi yang kukandung ini sebagai anaknya, lalu anak siapa?

“Murni, jangan kau hancurkan karir dakwah suami mu. Kalau kau memang mencintai lelaki lain dan ada main hati dengan dia, kau jujurlah pada Mak Atun. Mak akan sampaikan ke Burhan baik-baik. Kalian baru menikah setahun, tak elok rasanya dipandang orang kampung.” Perempuan setengah baya yang biasa mengantari kami setandan pisang coba berkata pelan padaku.

“Mak, sumpah mak, demi Tuhan aku tak pernah berhubungan dengan pria lain.”

“Lalu kenapa kau bisa hamil? Burhan dua bulan pergi dan pulang hanya sebentar-sebentar dalam sehari. Malam-malam hari kau selalu sendiri. Jadi dengan siapa kau hamil?”

“Mungkin Bang Burhan diam-diam pulang di malam hari mak, ketika aku tidur.”

“Jangan beralasan kau Murni, kampung seberang tak ada kapal di malam hari. Itu tak mungkin terjadi. Kau harus jujur Murni, kau selingkuh dengan siapa?”

“Mak, demi Tuhan mak, demi Tuhan aku tak pernah mengkhianati suamiku.”

Semenjak itulah aku membenci kata-kata. Tak ada yang bermakna dari kata-kata. Kata-kata hanyalah penghancur hidupku.

Kata-kata telah mencampakkan aku ke rahim kematian. Semua orang menodaiku dengan kata-kata. Aku memang perempuan kampung yang terlahir dari keluarga tak alim. Tapi soal zina, aku tahu betul hukumnya. Perempuan yang sudah menikah bakal dirajam hingga mati jika kedapatan berzina. Mereka pikir aku tak khatam ilmu fiqih di Ibtidaiyah dulu. Mereka kira cuma mereka yang tiap sore belajar kitab kuning. Tapi perutku ini? Aku tak tahu, sungguh aku tak tahu kenapa bisa membesar begini. Aku tak berani periksa ke bidan. Di sepanjang jalan mata-mata perempuan kampung laksana belati yang akan menghujami tubuhku dari atas hingga bawah. Tidak, biar lah aku akur pada takdir. Jikalau pun suamiku tak mengakui, meskipun aku mati bersama anak yang kukandung, aku akan ikhlas.
***

Orang-orang di kampung itu telah melupakan Murni dan Burhan yang pergi dari kampung semenjak Murni melahirkan. Mereka malu menelan aib. Tapi semenjak itu pula perempuan-perempuan kampung berpantang memasak kangkung.

“Jangan masak kangkung, nanti kau hamil macam Murni!” emak-emak di kampung mewanti-wanti setiap anak gadis mereka. Lalu salah seorang yang paling cerdas diantara mereka pun bertanya pada orang tuanya.

“Mak, memangnya kenapa kalau makan kangkung? Aku di kota selalu makan kangkung, dan kangkung di rumah makan harganya mahal Mak, masaknya pun lezat.”

“Tidak nak, emak tahu mau kau hamil macam Murni. Mulai sekarang jangan lagi makan kangkung nak!”

Si anak terdiam. Tapi sungguh ia masih penasaran. Orang tuanya hanya bilang jangan makan kangkung, nanti hamil macam Murni. Tentu saja itu terdengar seperti mitos. Lalu ia pun beranjak ke belakang rumah. Bagian belakang rumah gadis itu berbatasan langsung dengan kuantan yang banyak ditumbuhi kangkung-kangkung segar. Kabarnya dulu Murni memakan kangkung di kuantan ini hingga ia hamil. Benarkah? Anak gadis itu kian penasaran. Diam-diam dipetiknya beberapa batang kangkung yang digenangi air kuantan, lalu ia bawa pulang. Di rumah lagi-lagi dengan mengendap-endap ia memasak kangkung itu dengan bumbu resep yang ia ambil dari resep buku masakan koki terkenal. Sempurna, gadis itu kegirangan mendapati masakan kangkungnya sangat lezat.

Dan anak yang tak patuh pada ibunya itu pun mendapat azabnya. Dia pun hamil serupa Murni. Lalu masyarakat kampung kian heboh. Mereka mengamuk menghabisi kangkung-kangkung di kuantan. Ada yang membakar dan ada pula yang mencincang-cincang. Air kuantan tak luput dari amukan warga, mereka memasukkan racun dalam air kuantan.

 “Lintah-lintah, enyah lah! Kami akan menghabisi mu karena kau berani bersarang di perut anak-anak kami!”***


Nafi’ah Al-Ma’rab
Cerpen-cerpennya memenangi beberapa penghargaan diantaranya: Nominator Pemenang Cerpen Kemenegpora 2012, Pemenang Harapan Cerpen LCMR Rohto 2013, Pemenang Harapan Kutulisnusantara 2013, Pemenang Favorit Lomba Cerpen Perum Perhutani Green Sastra 2013 dan sebagainya.
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Wafat, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us