R. Saleh

[] dan Raja

14 Desember 2014 - 09.57 WIB > Dibaca 1904 kali | Komentar
 
[] dan Raja
Istilah peta bahasa memang belum akrab bagi masyarakat yang bukan berlatar belakang pendidikan bahasa (linguistik). Dalam ingatan banyak orang, peta  merujuk pada suatu gambar atau lukisan (pada kertas misalnya) yang menunjukkan letak tanah, gunung, laut, sungai dan sebagainya. Tidak jauh berbeda bentuknya, tetapi yang  digambarkan dalam peta bahasa adalah daerah penggunaan bahasa tertentu. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (dulu Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional)  pada 2009 telah membuat peta bahasa yang memuat bahasa-bahasa yang terdapat di Indonesia. Data dikumpulkan sejak 1995 (oleh guru-guru) dari setiap daerah di Indonesia termasuk dari Provinsi Riau.

 Dalam data pemetaan bahasa dari Provinsi Riau tersebut, tidak ada bunyi [] dalam bahasa-bahasa yang ada di Provinsi Riau. Begitu juga dengan data yang dikumpulkan setelahnya yang dilakukan setiap tahun oleh Balai Bahasa Provinsi Riau, yang sejak 2013 lebih difokuskan pada bahasa komunitas adat terpencil (KAT), juga tidak menemukan bunyi tersebut. Memang, penentuan daerah pengamatan (tempat mengambil data) belum mencakup dan mewakili semua daerah di Provinsi Riau. Padahal berdasarkan amatan, bunyi [] terdapat di beberapa daerah di Kabupaten Kuantan Singingi, yaitu di Lubuk Ambacang (Kecamatan Kuantan Mudik), Kenegerian Kari (Kecamatan Kuantan Tengah, dan Baserah (Kecamatan Kuantan Hilir).
Bunyi [] ini sepadan dengan unsur /-ar/ pada suku kata akhir dalam bahasa Indonesia. Sebagai contoh, /pasar/,  /gemar/,  /pagar/ di daerah tersebut, dilafalkan  (berturut-turut) [pasa], [gom], [pag]/, begitu  seterusnya untuk kata lain yang berpola sama.

Di tiga daerah itu juga terdapat kesamaan pola menyangkut unsur /-ur/ pada suku kata akhir bahasa Indonesia, sepadan dengan [ue]. Misalnya, kata /jalur/, /sayur/, /kapur/, berturut-turut, dilafalkan  /jalue/, /sayue/, /kapue/, dan seterusnya untuk kata lain yang berpola sama.

Selain bunyi []  dan [ue], juga ada keseragaman lain, yaitu vokal [a] pada suku kata akhir dalam bahasa Indonesia sepadan dengan [e]. Misalnya,  /papan/, /pinggan/, /makan/, dilafalkan (berturut-turut),  /papen/,  /pinggen/, /maken/ dan seterusnya untuk kata yang berpola sama.
Di Kecamatan Kuantan Hilir, bunyi [], [ue], [e]   tersebut dapat dijumpai di setiap daerah/desa, sedangkan di Kecamatan Kuantan Tengah  hanya dijumpai di Kenegerian (terdiri dari beberapa desa) Kari. Sementara itu, di Kecamatan Hulu Kuantan, bunyi-bunyi tersebut hanya dijumpai di Kenegerian Lubuk Ambacang. 

Berdasarkan fenomena tersebut, penulis ingin menjelaskan bahwa ada kelainan yang seragam dijumpai pada dialek di tiga daerah itu. Secara geografis, tiga daerah ini terpisah. Lubuk Ambacang berada di paling hulu sungai Kuantan, Kenegerian Kari terletak di pertengahan, dan Baserah berada di bagian paling hilir (sebelum Kecamatan Kuantan Hilir dimekarkan menjadi beberapa kecamatan).

Di antara daerah-daerah tersebut, muncul bunyi-bunyi yang berbeda. Bisa dikatakan bahwa bunyi [], [ue], [e] demikian  terdapat bagian hulu, tengah, dan hilir sungai Kuantan. Apakah ini hanya kebetulan semata? Atau barangkali ada sejarah yang melatarbelakanginya? Akan tetapi, mengapa ketiga bunyi itu  hanya dijumpai di tiga kenegerian (Lubuk Ambacang, Kari, dan Baserah) tersebut?

Dilihat dari pewarisan nama yang masih digunakan hingga saat ini, di sepanjang aliran sungai Kuantan, terdapat di beberapa daerah pemakaian gelar raja di awal nama, yaitu di tiga daerah tersebut. Selain tiga daerah itu, gelar raja juga terdapat di Desa Siberakun, Kenegerian Simandolak. Dilihat dari dialek, Desa Siberakun tidak sama dengan Kenegerian Kari, Kuantan Hilir, dan Lubuk Ambacang.

Walaupun demikian, dapat ditarik satu benang merah yaitu unsur /-ar/, /ur/,  /-a/  pada suku akhir kata bahasa Indonesia diucapkan, berturut-turut, [], [ue], [e] hanya dijumpai di daerah-daerah yang menggunakan gelar raja di awal nama, kecuali di Desa Siberakun. Perlu juga diketahui bahwa tidak semua keluarga yang ada di Kuantan Hilir, Kenegerian Kari, dan Lubuk Ambacang tersebut menggunakan gelar raja.

Jika kita ingin melihat asal usul gelar raja yang dipunyai oleh beberapa keluarga di Baserah, Kenegerian Kari, dan Lubuk Ambacang tersebut, ada kemungkinan bahwa keluarga-keluarga yang ada di tiga daerah tersebut berasal dari Kerajaan Keritang, Indragiri, yang sudah ada sejak abad ke-13. Pada masa Sultan Hasanuddin, Sultan Indragiri ke-13 (1735-1765), terdapat pembagian wilayah kekuasaan. Daerah kekuasaannya tersebut sampai ke daerah di sekitar sungai Kuantan dari bagian hilir hingga ke bagian hulu.

Dari sistem pemerintahan, awalnya Kabupaten Indragiri Hilir, Kabupaten Indragiri Hulu, dan Kabupaten Kuantan Singingi merupakan satu kabupaten (Indragiri Hulu). Kemudian, berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1965, dimekarkan menjadi dua: Indragiri Hilir dan Indragiri Hulu. Pada 1999, Kabupaten Indragiri Hulu dimekarkan lagi menjadi dua: Kuantan Singingi dan Indragiri Hulu.

Namun, tentu saja sejarah tersebut (baik pada masa Kerajaan Keritang maupun setelah Indonesia merdeka) belum cukup sebagai pijakan untuk mengatakan bahwa pemakai gelar raja yang ada di daerah sepanjang sungai Kuantan saat ini berasal dari Kerajaan Keritang. Pendapat itu tentu  memerlukan kajian yang mendalam.

Melalui tulisan ini, penulis hanya ingin mendedahkan bahwa ada satu fenomena kebahasaan yang terdapat di Kabupaten Kuantan Singingi. Fenomena itu adalah adanya kelainan yang seragam perihal pemadanan unsur /-ar/, /-ur/, dan /-a/  pada suku akhir kata bahasa Indonesia dengan  (berturut-turut) [], [ue], dan[e]. Bunyi-bunyi tersebut terdapat di daerah yang secara geografis terpisah, yaitu di bagian hilir (Baserah), di bagian tengah (Kenegerian Kari), dan di bagian hulu sungai Kuantan (Lubuk Ambacang). Di daerah-daerah tersebut juga terdapat beberapa keluarga yang memakai gelar raja. Apakah ini kebetulan saja?***


R. Saleh
Pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 19:30 wib

Orba Jadi Alat untuk Takut-Takuti Rakyat

Selasa, 20 November 2018 - 18:51 wib

Kemenpan RB Tak Akan Turunkan Passing Grade CPNS 2018

Selasa, 20 November 2018 - 18:25 wib

Transaksi Mencurigakan Tokoh Agama

Selasa, 20 November 2018 - 17:54 wib

Surat Suara Lebih Besar dari Koran

Selasa, 20 November 2018 - 17:38 wib

2 Hafiz Rohul Raih Juara di MHQ ASEAN

Selasa, 20 November 2018 - 17:36 wib

Najib Razak Kembali Diperiksa KPK Malaysia

Selasa, 20 November 2018 - 17:32 wib

Granadi Disita, DPP Partai Berkarya Pindah Kantor

Selasa, 20 November 2018 - 17:22 wib

Sabu Rp4 M Disimpan dalam Tas Ransel

Follow Us