Potret Negeri dalam Gerak

21 Desember 2014 - 07.36 WIB > Dibaca 1182 kali | Komentar
 
Helat Pasar Tari Kontemporer (Pastakom) VII usai sudah. Acara yang ditaja Pusat Latihan Tari (PLT) Laksemana itu sukses terlaksana di Anjung Seni Idrus Tintin berkat semangat dan rasa kebersamaan antar para seniman tari yang berkiprah di Indonesia. Seni tari bagi mereka adalah daya hidup sekaligus sebuah pilihan. Tidak ada kata main-main setelah menetapkan tari sebagai pilihan hidup.

Laporan JEFRI AL MALAY, Pekanbaru

SEPANJANG tiga malam berturut-turut para penari dari berbagai daerah dan provinsi di Indonesia yang hadir sebagai peserta Pastakom VII, menyuguhkan gerak. Berbicara dan berkisah melalui bahasa gerak dan pesan yang hendak disampaikan menggunakan gerak sebagai media komunikasi kepada penonton yang setia hadir memenuhi kursi yang telah disediakan di dalam gedung pertunjukan Anjung Seni Idrus Tintin.

Lenggang-lenggok tubuh, iringan musik dan penjiwaan serta ekpresi para penari berbancuh dalam ragam warna lampu di atas panggung. Kesemuanya mengisyaratkan pesan-pesan yang hendak disampaikan oleh masing-masing koreografer.

Ada cerita di dalamnya, ada kisah, ada simbol-simbol makna dari apa yang telah disuguhkan. Ada pula ungkapan jiwa dari setiap gerakan yang tentu saja layaknya sebuah tari mengandung unsur keindahan dalam bentuk, berirama dan berjiwa yang harmonis.

Sebagai salah satu forum pertemuan sangat penting dalam dunia seni pertunjukan, tentu saja helat yang pernah berskala international itu memberikan kontribusi bagi keberadaan serta perkembangan seni tari di Indonesia dan International di mana para seniman tari dapat berinteraksi dan bertukar informasi.  Hal itulah yang kemudian tampak pada Pastakom VII, adanya interaksi dan bertukar pengalaman panggung dengan ragam corak karya yang disuguhkan.

Dari mulai koreografer senior seperti Iwan Irawan Permadi (Pekanbaru), Ery Mefri (Padang), Eko Supriyanto (Solo) sampai kepada koreografer muda seperti Syafmanefi Alamanda, Sunardi, Ririn Raningsih, Wan Harun Ismail (Pekanbaru), Andre Nurvily (Jogjakarta), Duki Daryudi (Tanjung Pinang) dan sejumlah nama lainnya. Tentu saja kehadiran dan pergelaran karya dari para peserta di pelaksanaan Pastakom ke tujuh ini menjadi pertemuan dan titik temu yang penting bagi keberlangsungan seni pertunjukan di Indonesia ke depannya.

Demikian juga ragam ide, isu dan wacana yang telah mengisi helat Pasatakom tahun ini yang bertemakan synchronicity,atau daya kemampuan untuk menyelaraskan ide-tema dalam gerak itu. Kecendrungan morat marit negeri tampaknya mendominasi dari beberapa karya yang telah tampil.

Sepeti halnya karya Ririn Raningsih yang tampil malam pertama (12/12). Ririn yang baru saja menggelar Tugas aAkhir di Sekolah Tinggi Seni Riau itu mengangkat sebuah tarian yang diberi judul Merah. Tari ini menurut Ririn mengekspresikan kemarahan dan keberanian dalam menyikapi berbagai persoalan di negeri ini. Kemuakan dan kejenuhan menyaksikan berita baik disurat kabar, media televisi dan media lainnya yang setiap hari hanya menggambarkan persoalan-persoalan yang tidak pernah tuntas diselesaikan oleh pemerintah. simbol merah yang saya gunakan untuk menyimbolkan kemarahan. Setiap hari kita dihujami berbagai persoalan baik politik dan sosial yang menampakkan keburukan semata-mata. Kita sebagai masyarakat biasa selalu dibuat kesal dan marah menyaksikan hal itu, ucap Aning sapaan akrabnya.

Koreografer lainnya, Syafmanefi Alamanda yang juga tampil malam pertama menggelarkan karyanya berjudul Basondi. Karya itu menurut Nanda sapaan hariannya itu terinspirasi dari keberadaan suku Sakai yang terpinggirkan oleh ulah perusahaan yang memiliki HPH. Tanah Sakai hanya tinggal sepetak di kelilingi ribuan hektar tanah perusahaan.

Ironis memang. Dan karya yang berjudul Basondi ini diambil dari bahasa yang digunakan masyarakat Sakai dalam sebuah ritual pengisan bomo. Basondi berbentuk segi empat yang artinya, sendi, siku dan berpojok. Basondi juga merupakan spirit yang mereka miliki sebagai media penyampaian permohonan dan tempat bersemayamnya para roh nenek leluhur yang selalu membantu suku Sakai. Kini tanah mereka tinggal sepetak dan terpojok, ucapnya.

Masalah negeri yang begitu kompleks juga tergambar dari karya Agung Kusumo Eidagdo dalam karyanya berjudul Sapu Jagad. Karya yang tampil pada malam ke dua ini (13/12 red) itu berpijak dari gerak tari Ndolalak sebuah tari rakyta dari Purworejo. Sapu Jagad membuang bebendu atau hal-hal yang buruk yang terjadi pada diri sendiri maupun kotoran-kotoran yang ada di sekeliling kita sehingga mampu menciptakan kehidupan yan gdinamis dan saling bersinergi, jelas Agung.

Sebuah persemabahan tari lainnya, berjudul Ketuk Palu karya Wan Harun Ismail juga menggambarkan betapa telah porak porandanya moral di negeri ini sehingga untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan sekarang sampai rela menggadaikan marwah.  Tarian yang digambarkan dengan dekor dan kostum sebagai sebuah ruang sidang mengisayaratkan sebuah paradigm terhadap pencapaian mufakat telah tidak dipentingkan lagi. Rasa hormat, budaya malu sekarang berganti dengan karakter liar. Hal itu dapat kita temui di segala sisi saat ini, baik di persidangan, rapat-rapat anggota dewan dan lain-lain. Selalunya keputusan-keputusan yang diambil dengan menggandaikan marwah, ucap Iwan.

Seorang koreografer Syafrinaldi dari Tembilahan mepresentasikan kekacaauan negeri ini baik bidang politik, kesehatan, pendidikan, keamanan dengan sebuah karya yang berjudul Di Persimpangan Jalan. Negeri kita saat ini seperti sedang berada di persimpangan. Bingung menetukan ke mana arah dan tujuan. Hal itulah yang coba saya potret dengan menggunakan media gerak dan komposisi dalam sebuah tarian ucapnya singkat.

Tampil juga, koreografer lainnya, Eko Supriyanto dengan karya berjudul Under.  Alfiandri dengan karya berjudul Benalu, Kurnia Ilham yang membawa karyanya berjudul Ciek Tigo, Sabri Gusmail karya berjudul The Silent Noise, Ego karya koreografer Ruki Daryudi, karya tari Pranata dengan koreografer Andre Nurvily, Sunardi dengan karyanya berjudul Miror, Iwan Irawan Permadi yang mengangkat karya berjudul Air Janggi dan Ery Mefri dengan judul karya Sanghawa.
 
Teraju utama helat Pastakom Seniman Peamngku Negeri (SPN), Iwan Irawan Permadi mengemukakan Pastakom bertujuan untuk memberdayakan potensi seni dari para seniman tari. Mengembangkan aspek kreatifitas dunia tari melalui lintasan batas semua ruang dan waktu, batas geografis maupun etnis. Dengan menggenggam semangat kebersamaan dalam keberagaman, serta memiliki visi ke depan.

Diakui Iwan juga bahwa tahun ini tidak bisa mengikutsertakan kawan-kawan seniman tari dari luar Indonesia seperti halnya beberapa tahun lalu. Tidak hanya seniman dalam negeri tetapi sejumlah nama-nama penting lainnya telah pula mengharumkan helat ini sehingga Pastakom menjadi barometer perkembangan tari di dunia. Disebutkan Iwan beberapa tokoh tari manca negera yang pernah terlibat di Pastakom sebelumnya seperti Sen Hea Ha (Korea), Rachel Scott Crawford (USA), Polly Motley (USA), Azmi Juhari (Singapura), Osman Abd Hamid (Singapura), Michi Tomioka (Jepang), Bilqis Hijjas (Malaysia), Sharmila MUkerjee (India), Suman Sarawgi (India), dan Ronnarong Khampha (Thailand).

Ya, kemampuan financial kita terbatas tahun ini bahkan kita juga tidak dapat bantuan dana dari pemerintah.  Namun rasa kebersamaan yang terjalin kuatlah yang menjadi semangat kawan-kawan seniman dari luar Riau untuk datang kemari dengan biaya mereka sendiri, ucap Iwan.

Namun demikian, Iwan selaku pimpinan PLT Laksemana itu berazam akan terus berupaya agar Pastakom terselenggara setiap tahunnya. Dan hal itu tentu saja berkat dukungan dari kawan-kawan seniman. Saya kira helat ini juga dapat berkontribusi terhadap ekpos potensi daerah, sebagai sebuah upaya untuk promosi potensi-potensi seni budaya, pariswisata yang kita punya, tutupnya.

Murni Perjuangan Seniman

Untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai yakni memberdayakan potensi seni  dan mengembangkan aspek kreativitas, Pastakom VII juga melakukan workshop yang diselenggarakan di awal pelaksanaan (10-12 Desember red). Workshop yang diikuti puluhan peserta yang terdiri dari penari-penari dari berbagai daerah Riau itu bertujuan untuk memberikan bekal mendalam kepada para piata tari muda.

Dengan materi multidisiplin yang diberikan oleh para ahli yang berkompeten di bidangnya, diharapkan pula peserta dapat memiliki wawasan luas dan memiliki dasar kuat untuk aktif dan kreatif seperti yang diucapkan Iwan Irawan Permadi. Sehingga karya tari dari Sumatera dan Riau khususnya dapat berpartisipasi dalam berbagai forum tari, untuk menyemarakkan perkembangan dunia tari Riau dan Indonesia, jelasnya.

Sementara itu, Kabiro Humas Provinsi Riau, Yoserizal Zen yang hadir menyaksikan gelar karya tari Pastakom sangat mengapresiasi atas apa yang dilakukan PLT Laksemana. Saya tahu persis, bagaimana perjalanan helat Pastakom ini sejak awal digelarkan, dan saya juga tahu bahwaPastakom ke-VII memang hasil dari perjuangan seniman, tidak ada bantuan dari pihak manapun. Acara yang luar biasa ini, patut kita apresiasi sebagai upaya mengembangkan seni dan budaya, apalagi Pastakom sebuah helat dimana menampilkan karya-karya yang sudah melewati kurator, artinya tari yang ditampilkan adalah karya-karya yang memang dinilai layak dan patut. Inilah perjuangan itu, ucap Yoserizal sembari mengucapkan tahniah kepada SPN Iwan Irawan Permadi selaku pimpinan Pusat Latihan Tari Laksemana sekaligus penggagas acara Pastakom tersebut.

Sedangkan, koreografer Indonesia asal Padang, Eri Mefri yang juga merupakan penggagas awal helat Pastakom itu mengakui, karya-karya yang telah dipentaskan selama 3 malam beruturut-turut adalah sebuah bukti nyata bahwa di Sumatera memiliki potensi tari yang luar biasa untuk dikembangkan dan diperkenalkan ke dunia luar.
 
Ini sebuah pekerjaan untuk mengabarkan kepada dunia bahwa karya seni tari kita juga bisa dan pantas untuk diapresiasi. Untuk itu, sebenarnya saya berpikir, ajang seperti ini sudah semestinya didukung pemerintah setempat, karena di saat carut marut politik, sosial dan ekonomi di Indonesia, dengan apa lagi kita hendak mengharumkannya  di mata dunia kalau tidak dengan seni dan budaya, tutup koreografer terkemuka Indonesia itu.(fed)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 18:39 wib

Traffic Website SSCN Padat di Siang Hari

Selasa, 25 September 2018 - 17:38 wib

Angkat Potensi Kerang Rohil

Selasa, 25 September 2018 - 17:30 wib

PMI Ajak Generasi Muda Hindari Perilaku Menyimpang

Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki

Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik

Follow Us