Oleh: Zuarman Ahmad

Papyrus littéraire

21 Desember 2014 - 07.47 WIB > Dibaca 1450 kali | Komentar
 
DUNIA sastra heboh. Pemimpin redaksi majalah sastra Papyrus littéraire yang tersohor itu mati bunuh diri. Kepalanya hampir terpotong seluruhnya oleh pisau pemotong kertas, dengan darah melumuri meja pemimpin redaksi itu hingga simbah ke lantai.

Mobil polisi berdatangan dengan suara sirine yang berseliweran. Beberapa anggota polisi mendatangi ruang kerja pemimpin redaksi itu untuk mengadakan penyelidikan, sebagai bahan pemeriksaan ante mortem dan post mortem. Selesai pemeriksaan, jenazah pemimpin redakasi majalah Papyrus littéraire itu dibawa ke mobil ambulan untuk diadakan visum et repertum di kantor polisi. Kantor majalah sastra Papyrus littéraire itu kemudian dipasang police line.

Kepala polisi masih menyelidiki penyebab kematiannya, tetapi di koran-koran terkenal dan beberapa televisi terkemuka sudah memberitakan pemimpin redaksi majalah Papyrus littéraire itu mati bunuh diri. Selain seorang pemimpin redaksi majalah sastra terkenal, ia juga merupakan sastrawan hebat yang sudah banyak melahirkan puisi, cerita-pendek, dan novel, dan juga diakui banyak para sastrawan terkemuka lainnya sebagai guru dalam bidang sastra yang banyak melahirkan karya-karya sastra yang bermutu. Karya-karya sastranya yang liar dan déraillement menjadi panutan dan tonggak sastra kontemporer.

Sebelum kejadian yang sangat mengejutkan dunia sastra itu, sahabat saya yang juga merupakan wakil pemimpin redaksi majalah Papyrus littéraire ini menceritakan beberapa masalah yang serius tentang keadaan kantor tempat ia bekerja itu melalui email kepada saya.

Sahabat saya yang asli orang Perancis, tepatnya berasal dari kota Haguenau itu menulis ke alamat email saya bahwa perusahaan yang menaungi majalah tempat ia bekerja itu tidak lagi peduli dengan masalah keuangan, termasuk gaji karyawan yang biasanya normal, tetapi akhir-akhir ini bermasalah. Pemilik perusahaan nampaknya sepertinya hendak menutup dan mengakhiri perjalanan sastra yang selama ini menjadi laman bermain para sastrawan dunia itu, tanpa alasan dan sebab yang jelas.

“Sahabat. Sebelum pemimpin redaksi kami meninggal-dunia di ruang kerjanya, kantor kami  dikunjungi oleh beberapa orang penting dalam dunia dagang internasional. Saya tidak mengerti apa yang menimpa pemimpin redaksi kami, dan apa yang terjadi dengan perusahaan dan kantor majalah kami,” tulis sahabat saya itu dalam email-nya.

Ami. Avant de nous mourons-rédacteur en chef du monde dans son bureau, notre bureau a été visité par des gens importants dans le monde du commerce international. Je ne comprends pas ce qui est arrivé ŕ notre rédacteur en chef, et ce qui arrive avec les entreprises et les bureaux de notre magazine.”

“Sahabat. Saya turut berdukacita sedalam-dalamnya, atas apa yang menimpa pemimpin redaksi, dan majalah Papyrus littéraire kalian,” tulis saya membalas email sahabat saya itu.

Pukul duabelas malam. Terdengar suara dentingan tiang listrik yang dipukul oleh petugas ronda di komplek perumahan tempat saya tinggal, saya masih duduk di depan meja kerja. Saya membuka jendela di samping meja tempat saya bekerja di rumah yang ruangannya agak sempit. Angin sejuk menerpa wajah saya. Di luar tingkap hujan gerimis. Tempiasnya sesekali menimpa muka. Saya tengah menulis tajuk untuk nomor 199 majalah sastra dan budaya tempat saya bekerja. Sebagai wakil pemimpin redaksi, sama dengan sahabat saya itu, menulis tajuk adalah tugas rutin yang setiap sekali sebulan harus saya siapkan, selain mengedit sajak, cerita-pendek, dan esei budaya.

Selesai menulis dua alinea, saya rehat sejenak sambil menghirup teh pahit dan mengisap rokok kesukaan saya. Asap rokok menyeruak keluar lewat tingkap yang terbuka. Pikiran saya agak mulai kacau dan terbayang tentang pekerjaan yang sudah saya geluti selama limabelas tahun, sebagai redaktur dan sekaligus sebagai wakil pemimpin redaksi.

Beberapa saat, saya tercenung sejenak. Suara gerimis hujan masih terdengar di luar rumah. Saya masih teringat sahabat saya wakil pemimpin redaksi majalah sastra Papyrus littéraire yang terkenal itu. Jika majalah mereka ditutup, maka tamatlah laman tempat para sastrawan mencurahkan segala perasaan dan jiwa seninya. Selain itu, apa yang dapat dilakukan sahabat saya itu kalau ia berhenti dan tidak bekerja lagi? Pikir hati saya. Tapi ia mungkin sudah punya tabungan masa tuanya, tidaklah sama gajinya dengan saya di negeri yang tak maju-maju ini, ceracau saya dalam hati.

Pukul 02.00, dinihari. Suara hati saya masih mengadakan dialog Begitulah nasib kebudayaan, dan terutama para seniman dan satrawan yang menggantungkan hidupnya hanya mengharap upah yang tidak seberapa pada pekerjaan seni  dan budaya, demi periuk-nasi dan agar dapurnya terus berasap, kata saya dalam hati, dengan pikiran yang terus menerawang.

Mulanya saya berpikiran bahwa peristiwa seperti yang menimpa sahabat saya itu tidak akan terjadi di negara maju seperti Perancis tempat sahabat saya itu. Entah bagaimana, saya juga mulai risau mendengar cerita sahabat saya yang bekerja di majalah sastra Papyrus littéraire yang terkenal itu, padahal tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya.

Jika peristiwa yang menimpa sahabat saya itu juga menimpa diri saya dan kawan-kawan saya di majalah tempat kami bekerja, bagaimana dengan kelangsungan sekolah anak-anak saya yang masih kecil, dan pekerjaan apa yang dapat kami lakukan untuk menopang hidup sehari-hari, sedangkan  gaji selama ini hanya cukup untuk keperluan rumah-tangga dan biaya sekolah anak-anak sekadarnya saja, tidak dapat menabung untuk hari tua dan kelangsungan sekolah anak-anak  pada pendidikan yang lebih tinggi, kata hati saya dengan pikiran yang jauh entah kemana.

Jam sudah menunjukkan pukul 03.00. Lamat-lamat terdengar suara musik dari televisi yang belum dimatikan oleh anak saya, ketika ia tertidur. Jeux d’eau dari musik Maurice Ravel, seorang dari banyak komponis Perancis yang saya suka musiknya. Ketika lagu itu selesai, saya mematikan televisi dan kemudian pergi tidur di samping isteri saya yang sudah pulas.

***

Tiga bulan kemudian, setelah kematian pemimpin redaksi majalah sastra Papyrus littéraire itu, wakil pemimpin redaksi sahabat saya itu mengirim tulisan ke email saya.

“Sahabat, Saya mendapatkan secarik kertas dalam lipatan buku antologi puisi yang ditulis oleh mendiang pemimpin redaksi sebelum ia mati bunuh diri, saya kirimkan hanya kepada anda sahabatku, dan saya mengharapkan saya dan anda sahabatku yang hanya tahu rahasia isi tulisan itu. Selain itu, saya kabarkan kepada sahabat bahwa saya tidak lagi bekerja sebagai wakil pemimpin redaksi di Papyrus littéraire, karena kantor majalah ini sudah ditutup. Dan, pada suatu hari setelah itu, ketika saya melewati jalan bekas tempat kantor kami, saya membaca tulisan di dinding kantor itu:
Le magazine porno papyrus. ***


Zuarman Ahmad
wakil pemimpin redaksi majalah budaya Sagang, dosen musik AKMR, STSR, konduktor BSO, dan pelaku seni.
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 12 November 2018 - 21:00 wib

Maksimalkan Melalui Produk Unggulan

Senin, 12 November 2018 - 20:30 wib

2019, Tour de Singkarak Lintasi Mandeh dan Jambi

Senin, 12 November 2018 - 20:00 wib

Tausiah UAS Banjir Jamaah

Senin, 12 November 2018 - 19:00 wib

Transaksi Harian Saham Anjlok 1,89 Persen

Senin, 12 November 2018 - 18:30 wib

Lions Club 307 A2 Beri Bantuan Pengecatan Panti Asuhan

Senin, 12 November 2018 - 18:00 wib

Cukai Rokok Batal Naik, Target Pajak Sulit Tercapai

Senin, 12 November 2018 - 17:00 wib

PT Pekanperkasa Promo Spesial Akhir Tahun

Senin, 12 November 2018 - 16:30 wib

KPP Pratama Bangkinang Edukasi Siswa lewat Pajak Bertutur

Follow Us