Oleh: Agus Sri Danardana

Natal

21 Desember 2014 - 07.48 WIB > Dibaca 1531 kali | Komentar
 
Natal
Agus Sri Danardana
Natal sesungguhnya sama artinya dengan harlah, akronim dari hari lahir. Bagi kaum Kristiani, natal memiliki arti khusus, yakni saat Isa Al-Masih dilahirkan ke dunia oleh “perawan suci” Maryam. Hari lahir anak manusia yang oleh kaum Kristiani dikenal sebagai Yesus Kristus (anak Tuhan yang menjelma dalam bentuk manusia untuk melakukan penebusan dosa umatnya) itulah yang disebut natal.

Dalam kitab suci Alquran, natal disebut sebagai yauma wulida ‘hari kelahiran’, yang secara historis oleh para ahli tafsir dijelaskan sebagai hari kelahiran Nabi Isa. Firman Allah dalam surat Al-Maryam: al-salamu ‘alaiyya yauma wulidtu ‘kedamaian atas diriku pada hari kelahiranku’, misalnya, jelas-jelas memperlihatkan hal itu. Bahwa kemudian Nabi Isa “dijadikan” anak Tuhan oleh umat Kristiani, adalah suatu hal yang lain lagi.

Sebagai istilah, natal digunakan dalam banyak bidang. Di bidang kebidanan, misalnya, dikenal istilah prenatal. Biasanya, prenatal disandingkan dengan kata lain (misalnya dengan kata perawatan) menjadi perawatan prenatal ‘perawatan sebelum kelahiran’. Sementara itu, di dunia pendidikan (tinggi), dikenal pula istilah diesnatalis yang memiliki arti khusus ‘hari ulang tahun berdirinya suatu lembaga pendidikan tinggi (universitas, akademi, dsb)’ (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008:327).
Istilah lain untuk harlah dan natal adalah maulid. Ketiganya memiliki arti yang sama, yakni ‘hari lahir’. Yang membedakan ketiga istilah itu adalah status dan makana dalam penggunaannya. Harlah berstatus dan bermakna umum, sedangkan natal dan maulid berstatus dan bermakna khusus. Artinya, harlah dapat digunakan untuk semua manusia, sedangkan natal dan maulid hanya untuk manusia tertentu: Nabi Isa (natal) dan Nabi Muhammad saw. (maulid).

Tradisi memperingati hari lahir, ternyata, justru tidak mengambil nama hari sebagai momentumnya. Umumnya, peringatan hari lahir ditentukan berdasarkan sistem penanggalan tertentu, seperti Masehi (umum), Hijriah (Islam/Jawa), Saka (Hindu/Bali), dan Imlek (Tao/Tionghoa). Natal dan Maulid, misalnya, selalu dirayakan pada setiap 25 Desember (Masehi) dan 10 Rabiulawal (Hijriah). Pun perayaan hari lahir manusia/lembaga, umumnya, dilakukan setiap tahun pada tanggal (ke)lahir(an)nya, bukan pada hari (ke)lahir(an)nya, berdasarkan sistem penanggalan yang dianutnya.

Menurut Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), maulid ‘saat kelahiran Nabi Muhammad saw.’ pertama kali dirayakan atas perintah Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (dari Dinasti Mamalik yang berkebangsaan Kurdi itu) untuk mengobarkan semangat kaum Muslimin agar menang dalam perang Salib (Crusade). Konon, Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (Saladin the Saracen) harus berperang melawan orang-orang Kristiani yang dipimpin Richard Berhati Singa (Richard the Lion Heart) dan Karel Agung (Charlemagne) dari Inggris dan Perancis. Untuk membangkitkan semangat tentara Islam dalam peperangan itu, Saladin memerintahkan dilakukannya perayaan Maulid Nabi setiap tahun, di bulan kelahiran Rasulullah. Bahwa kemudian peringatan itu berubah fungsinya (bukan lagi mengobarkan semangat peperangan, melainkan untuk mengobarkan semangat orang-orang Islam dalam perjuangan tanpa senjata), hal itu sama sekali tidak mempengaruhi asal-usul kesejarahannya. Peristiwa yang terjadi pada enam abad setelah Rasulullah wafat itu hingga kini masih dirayakan dalam berbagai bentuk. Meskipun Dinasti Sa’ud melarangnya di Saudi Arabia, karya-karya tertulis berbahasa Arab (dalam bentuk puisi dan prosa) terus bermunculan untuk “menyambut kelahiran” itu.

Mungkin karena itulah, masih menurut Gus Dur, dua kata (natal dan maulid) yang mempunyai makna khusus tersebut tidak dapat dipersamakan satu sama lain, apa pun  alasannya. Dalam hukum Islam (fiqh), keduanya adalah yuqlaqu al’am wa yuradu bihi al-khash ‘kata yang lebih sempit maksudnya, dari apa yang diucapkan’. Hal itu terjadi karena perbedaan asal-usul kedua istilah tersebut dalam sejarah perkembangan manusia yang sangat beragam ini. Sebagai akibatnya, tidak dapat dimungkiri, kedua istilah itu telah sangat mengkhusus penggunaannya. Natal khusus dipakai untuk orang-orang Kristiani, sedangkan maulid dipakai untuk orang-orang Islam.

Pada 25 Desember 2014 nanti umat Kristiani di seluruh dunia akan merayakan Natal. Biasanya, umat Kristiani (dan umat agama lain) di Indonesia akan saling memberi ucapan selamat. Ucapan selamat yang sudah lazim (karena sering digunakan) adalah Selamat Hari (Raya) Natal. Sudah benarkah bunyi ucapan itu?

Seperti yang telah dibicarakan di muka, kata natal memiliki arti khusus ‘hari (ke)lahir(an) Isa Almasih (Yesus Kristus)’. Atas dasar itu, ucapan Selamat Hari (Raya) Natal dapat dikatakan sebagai bentuk yang lewah (mubazir) karena menggunakan dua kata yang sama arti. Karena artinya sudah tercakupi dalam natal, kata hari (raya) tidak diperlukan lagi. Dengan demikian, ucapan selamat yang benar adalah Selamat Natal.

Kelewahan adalah penggunaan kata secara berlebih. Kehadiran kata itu sesungguhnya tidak terlalu diperlukan sehingga, jika dihilangkan, tidak akan mengganggu informasi yang disampaikan. Biasanya, kelewahan terjadi akibat penggunaan kata yang bersinonim (sama arti) secara bersama-sama, seperti agar supaya, demi untuk, seperti misalnya, dan adalah merupakan.

Pada kasus ucapan Selamat Hari (Raya) Natal, kelewahan terjadi akibat penggunaan kata hari (raya) yang maknanya secara tersirat sudah terdapat pada kata natal. Hal yang sama terjadi pula pada contoh berikut ini.

(1)    Mereka akan menikah pada (hari) Jumat, (tanggal) 9 Januari 2015 nanti.
(2)    Setiap (bulan) Ramadan ia selalu mengadakan acara berbuka bersama.

Contoh di atas tergolong bentuk yang lewah dan mubazir karena menggunakan kata hari, tanggal, dan bulan yang maknanya secara tersirat sudah terdapat pada kata Jumat, 9 Januari 2015, dan Ramadan. Tanpa kehadiran kata hari, tanggal, dan bulan itu, informasi yang terdapat pada kalimat (1) dan (2) tidak terganggu, bahkan akan terasa lebih efektif.

Demikianlah, ternyata dalam berbahasa pun kelewahan dan kemubaziran itu sering terjadi. Sebagai bangsa yang beragama, kita tentu mengetahui bahwa kelewahan dan kemubaziran itu tidak disukai Allah. Untuk itu, mari kita bersama-sama menjauhinya, tidak terkecuali ketika dalam berbahasa.

Selamat Natal.
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 21:38 wib

PT Amanah Travel Berangkatkan 23 Jamaah Umrah

Selasa, 20 November 2018 - 19:30 wib

Orba Jadi Alat untuk Takut-Takuti Rakyat

Selasa, 20 November 2018 - 18:51 wib

Kemenpan RB Tak Akan Turunkan Passing Grade CPNS 2018

Selasa, 20 November 2018 - 18:25 wib

Transaksi Mencurigakan Tokoh Agama

Selasa, 20 November 2018 - 17:54 wib

Surat Suara Lebih Besar dari Koran

Selasa, 20 November 2018 - 17:38 wib

2 Hafiz Rohul Raih Juara di MHQ ASEAN

Selasa, 20 November 2018 - 17:36 wib

Najib Razak Kembali Diperiksa KPK Malaysia

Selasa, 20 November 2018 - 17:32 wib

Granadi Disita, DPP Partai Berkarya Pindah Kantor

Follow Us