Oleh: Muhammad Amin

Zaman Batu, Mentalitas Batu

28 Desember 2014 - 08.03 WIB > Dibaca 1343 kali | Komentar
 
Zaman Batu, Mentalitas Batu
Muhammad Amin
INI saatnya zaman batu, ketika batu kembali menjadi wacana sehari-hari nyaris tak henti. Ini bukan saja tentang batu akik yang fenomenal itu, tapi lebih menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan.

Ada pemerintahan yang keras kepala alias “berkepala batu”. Mumpung berkuasa dan bisa menguasai hajat hidup orang banyak, pemerintah tega pelan-pelan mencabut subsidi bahan bakar minyak (BBM), dengan alasan BBM banyak dinikmati orang kaya. “Kepala batunya” pemerintah ini tentunya dikaitkan dengan turunnya harga minyak mentah dunia hingga ke level 65 dolar AS per barel. Padahal, asumsi APBN 2014, harga BBM akan dibeli seharga 105 dolar AS per barel. Pemerintah untung besar dengan menjual mahal BBM ini. Rakyat yang menanggungnya. Pemerintah dikecam, tapi karena “berkepala batu”, cuek saja.

Turunnya harga minyak dunia direspon negara lain dengan menurunkan juga harga BBM dalam negerinya. Di Malaysia, BBM jenis RON97 dan RON95 turun masing-masing menjadi 2,46 dan 2,26 ringgit per liter atau sekitar Rp8.000. Harga ini lebih rendah dari pada di Indonesia dengan harga premium Rp8.500 per liter. Padahal BBM RON95 dan RON97 setara pertamax dan pertamax plus yang di Indonesia harganya Rp11 ribu.

Kenaikan BBM mendapat kritik keras dari masyarakat. Bukan nominal Rp2 ribunya yang terlalu dipusingkan rakyat, tapi efek dominonya. Harga cabai hingga batu gilingnya naik gila-gilaan. Demo pun berlangsung di seluruh wilayah tanah air. Dari bakar ban, blokir jalan, sandera truk BBM, hingga melempar batu ke aparat dilakukan para pendemo. Beberapa warga yang merasa terganggu pun balas melempar batu. Perang batu pun terjadi. Di Pekanbaru, ada mobil petugas yang pecah kaca karena dilempar batu. Batu dan injakan sepatu pun mampir ke dalam musala RRI Pekanbaru. Di Makassar, perang batu usai demo kenaikan BBM mengakibatkan nyawa seorang warga melayang.

Sebagian pejabat terkesan lempar batu sembunyi tangan terkait berbagai insiden yang terjadi. Tapi ada juga yang pasang badan dan bertanggung jawab, kendati konkretnya tak jelas tanggung jawab apa yang diambil. Toh,  tak ada pejabat yang mundur terkait insiden yang terjadi. Memang perlu mentalitas dan kepala batu untuk menghadapi situasi seperti ini. Itulah yang dimiliki pemerintah saat ini, baik dalam arti positif maupun negatif. Hal ini tidak terjadi di zaman Pemerintahan SBY yang cenderung toleran dan memahami kondisi masyarakat. Di masa SBY, kenaikan BBM dilakukan dengan “terpaksa” ketika harga minyak dunia naik. Tapi tidak untuk saat ini.

Bagi pemerintah bermental batu, rakyat tidak boleh dimanjakan dengan harga murah. Dengan harga-harga yang ditinggi, rakyat akan terlecut untuk bekerja keras. Rakyat harus bermental batu juga seperti penguasa yang berkepala batu dan berhati batu.

Dari perspektif rakyat, mentalitas batu sebenarnya sudah mereka miliki. Sebagian orang Indonesia adalah pekerja keras, workaholic, yang jelas-jelas punya semangat baja dan mentalitas batu. Mereka akan mengejar prestasi sekuat mungkin dengan tekad yang membatu pula. Mentalitas batu yang pertama ini tentunya patut diapresiasi. Tapi tak sedikit juga rakyat yang bermentalitas batu dalam arti yang lain. Tak peduli BBM naik atau turun, musim hujan atau panas, yang jelas tiap malam mereka akan bermain batu alias domino. Santai. Itulah prinsip hidup rakyat Indonesia yang bermental batu jenis kedua ini.

Kini, booming pula masyarakat yang menggemari batu-batu perhiasan jenis akik. Dari batu bacan, delima, sungai dareh, kalimaya, rubi, atau kecubung,  mulai menghiasi jari. Dari rakyat jelata hingga pejabat memakainya. Dari Aceh hingga Maluku dan Papua ada bahan batunya. Dari lapak kelas kaki lima yang berharga Rp100 ribu hingga etalase mal berharga puluhan juta rupiah menyediakan berbagai jenis batunya. Jelas, ini adalah sebuah evolusi perilaku, menjadi mentalitas batu. Cuma saya tak tahu, apakah mentalitas batu yang ini mengarah ke yang pertama atau yang kedua: pekerja keras atau santai. Yang jelas, kita memang sedang kembali berevolusi ke zaman batu.***


Muhammad Amin
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us