Ritual Tolak Bala di "Rabu Capuk"

28 Desember 2014 - 08.04 WIB > Dibaca 1462 kali | Komentar
 
Ritual Tolak Bala di
Para tetua kampung melaksanakan ritual Mandi Shafar untuk anak-anak sebagai perwakilan dari masing-masing kampung. Foto: jefri al malay/riau pos
Di piggiran pantai, Kampung Tanjung Punak didirikan panggung dan tenda. Di sanalah konon dipercaya, tempat ritual Mandi Shafar dilaksanakan sejak dahulunya. Pagi itu, Rabu (17/12) tampak masyarakat berkumpul. Rintik-rintik gerimis tidak menjadi penghalang. Tidak hanya warga tempatan, warga asal Dumai, Bengkalis dan lainnya tak mau ketinggalan mengikuti ritual berendam di laut.  

Laporan JEFRI AL MALAY, Rupat Utara

ORANG-orang dari masa lampau yang hidup dalam kebudayaan Melayu mempercayai hampir tidak ada persitiwa dalam kehidupan dapat dijelaskan secara harfiah semata karena pada tiap kejadian selalu bertaut erat dengan hal-hal yang kadangkala mengatasi logika. Seperti halnya dengan ritual mandi Shafar atau mandi tolak bala yang banyak ditemui di wilayah pesisir pantai.

Salah satu daerah yang masih rutin menggelar ritual mandi Shafar di Riau berada di Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis. Agenda tersebut sudah ditetapkan sebagai agenda budaya tahunan, tepatnya pada pekan terakhir di Bulan Shafar.

Konon asal muasal Mandi Shafar di Kecamatan Rupat Utara, persisnya di desa Tanjung Punak itu menurut penuturan tokoh masyarakat, Dolah sudah dilakukan sejak 1950-an. Ceritanya, masyarakat di pantai Rupat Utara kala itu sangat akrab dengan masyarakat di pesisiran pantai Malaysia. Maka acara ritual mandi Shafar itu, pertama kali dilakukan di pesisiran pantai di Malaysia. Tetapi tidak semua pantai yang mengadakan ritual mandi ini hanya beberapa diantaranya pantai Tanjung Keling dan sekitarnya, jelas lelaki yang sehari-hari sebagai pengurus LAM di Kecamatan Rupat Utara itu.

Menurut kepercayaan dan keyakinan masyarakat setempat kala itu, ritual mandi di Bulan Shafar bertujuan untuk menjauhkan musibah dan segala bencana. Bulan Shafar dipercayai sebagai bulan yang penuh dengan bencana dan bala. Bahkan di hari Rabu terakhir dari Bulan Shafar oleh orang tua dahulu disebut sebagai hari Rabu Capuk yang berarti hari Rabu yang selalu meninggalkan bekas buruk.

Di Rabu terakhir yang ditakuti ini, dulunya masyarakat hampir tidak melakukan aktivitas, mereka lebih banyak memilih duduk berehat saja di rumah, sampai kegiatan-kegiatan kecil seperti memetik daun, mematah ranting saja dilarang. Bilamana terjadi daun terpetik atau ranting terpatah oleh seseorang maka orang itu akan diberi sanksi. Adapun sanksinya, daun atau ranting tersebut harus diletakkan di atas sepih. Hal itu dilakukan supaya tahu siapa yang telah melanggar pantang dan larang yang telah disepakati. Dikala itulah orang tua dahulu melakukan mandi Shafar atau tolak bala ini, jelasnya.

Mandi Shafar Dulu dan Kini
Sebelum sampai Rabu terakhir di Bulan Shafar, kira-kira dua atau tiga hari sebelumnya, masyarakat sudah bergotong-royong membuat perigi yang gunanya untuk diambil airnya dan sekaligus menjadi air pembilas. Air di perigi tersebut sebelumnya juga sudah dibacakan doa-doa terkait dengan tolak segala macam bencana dan bala.

Dijelaskan Dolah, tepat pada Rabu terakhir atau disebut Rabu Capuk itu, masyarakat akan turun ke laut secara bersama-sama. Semuanya akan mandi di laut yang kemudian setelah itu barulah dibilas dengan air pegiri yang sudah dibaca doa tadi. Jadi, tiap-tiap warga akan dibilaslah dengan air bilasan dari perigi yang memang sudah disiapkan sebelumnya itu. Pada hari Rabu terakhir ini mereka berdoa dan mendoa air tolak bala yang tujuannya tak lain untuk menolak segala hal atau segala sesuatu yang tidak baik yang mungkin terjadi. Mudah-mudahan kita di Rabu terakhir ini diberi petunjuk oleh Allah Taala, ucap Dolah ketika ditemui Riau Pos  ketika usai menjadi pemandu ritual mandi Shafar tajaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Bengkalis di desa Tanjung Punak, Kecamatan Rupat Utara.

Ritual Mandi Shafar yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Kecamatan Rupat Utara. Salah satu potensi yang menjadi bagian dari kearifan lokal karena memiliki nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat dijadikan alas dan sumber kearifan dalam perbuatan dan tindakan di segala aspek kehidupan masyarakat. Hal itu pulalah kata Bupati Bengkalis, Herliyan Saleh yang turut hadir, dapat menguatkan dan memajukan daerah dengan identitasnya sendiri.

Sementara itu, pelaksanaan dan tata cara ritual mandi Shafar sekarang jauh berbeda dari apa yang dilakukan orang-orang terdahulu. Tidak ada lagi misalnya, membuat perigi atau bersama-sama turun ke laut. Akan tetapi ritual Mandi Shafar saat ini dilaksanakan dalam kemasan sebuah helat budaya yang melibatkan jajaran pemerintah dan masyarakat. Kebersamaan dalam melaksanakan ritual itu kini tampak sebagai upaya untuk tetap menjaga tradisi yang telah diyakini turun temurun oleh masyarakat tempatan.

Rumilah, salah seorang guru SMA Negeri 2 Bengkalis menyebutkan dia dan beberapa rekan lainnya hadir di desa Tanjung Punak tak lain karena ingin menyaksikan ritual mandi Shafar yang kini telah menjadi agenda budaya tahunan di Kabupaten Bengkalis. Kami belum pernah  menyaksikan ritual mandi Shafar, makanya jauh-jauh datang berombongan untuk menyakasikan ritual budaya ini, ujar Rumilah yang langsung diamini rekan-rekan guru lainnya.

Sementara itu, di atas panggung tempat pelaksanaan ritual, telah disediakan delapan buah pasu yang telah dihias sedemikian rupa. Hisasan yang terangkai di pasu tersebut hiasan yang terbuat dari pucuk dan mayang kelapa. Hiasan itu juga dikenal sebagai hiasan untuk mandi kumbo taman yang  lazimnya digunakan untuk acara adat pernikahan.

Dijelaskan pembuat perkakas kumbo taman, Buchari, segala alat-alat kelengkapan ritual mandi Shafar yang dibuatnya merupakan bagian dari yang disebut kumbo taman yaitu tempat keperluan air yang dipakai untuk membasuh tubuh. Secara sederhana, kumbo atau kumbah bermakna membasuh atau memandikan dengan air. Sementara taman dimaksudkan seagai sebuah tempat yang penuh dengan bunga.

jadi kumbo taman diisyaratkan sebagai simbol kolam pemandian yang dikelilingi taman bunga. Ini pula yang mewakili perigi dalam ritual mandi Shafar yang dilakukan tetua kita dahulu, jelasnya.

Ritual mandi Shafar diawali dengan kehadiran Dolah selaku pemandu di atas panggung. Beberapa saat, beliau berdiri sembari membacakan doa-doa. Kemudian secarik kertas yang telah ditulis dengan ayat-ayat doa itu dimasukkan ke dalam air di dalam pasu yang sudah tersedia. Air yang sudah dimasukkan kertas ayat doa-doa itulah disebut dengan air wafa.

Sejurus kemudian, sebanyak delapan pasang anak lelaki dan perempuan diarak menggunakan kompang menuju ke atas panggung dan duduk dikursi yang telah disediakan. Di hadapannya, telah tersedia air wafa yang nantinya digunakan oleh tetua-tetua yang hadir untuk memandikan anak-anak perwakilan dari delapan desa yang ada di kecamatan Rupat Utara tersebut.

Satu persatu tetua kemudian dipersilahkan menepuk tepung tawari anak-anak yang mengenakan pakaian Melayu itu. Setelah itu, barulah kemudian air wafa disirami ke masing-masing tubuh anak-anak tersebut dengan menggunakan centong dari tempurung kelapa. Usai melaksanakan ritual itu, anak-anak kembali ke tempat semula.

Tetapi ritual mandi Shafar belumlah selesai karena setelah itu, giliran masyarakat pula yang akan melakukan ritual mandi Shafar. Warga dipersilakan mengambil air wafa di atas panggung. Ketika itulah tampak mereka kemudian berlari-lari menuju panggung, berebut-rebutan mengambil air yang sudah dibacakan doa-doa itu. Panggung pun tampak dipenuhi warga baik anak-anak, remaja bahkan orang tua. Ada yang hanya membasuh muka, membasuh rambut sebagai syarat dan ada pula yang membawakan botol air mineral kosong untuk diisi air wafa. Suasana itu pula yang menjadikan ritual mandi Shafar menjadi lebih semarak, canda tawa dan juga segala kebersamaan mengisi suasana di Rabu Terakhir bulan Shafar tersebut.

Shafar, Tafsir Tentang Waktu, Ketika dan Masa
Budayawan asal Bengkalis, Syaukani al Karim menyebutkan tradisi mandi Shafar sesungguhnya berangkat dari sebuah tafsir tentang waktu, ketika dan masa. Katanya, orang Melayu yang selalu mempunyai kearifan dna pemahaman tinggi tentang ketika dan saat, selalu mempertimbangkan mudarat dan maslahat dari sebuah hitungan hari dan bulan. Orang dahulu percaya, bahwa perubahan waktu, baik penggalan hari, bulan dan tahun diikuti dengan kejadian-kejadian yang mengisi dan menyertainya, ucap penyair Riau tersebut.

Pada mulanya, Shafar bermakna kosong. Dan kosong adalah awal dari sebuah least menuju kemenangan. Pada masa lampu, lanjut Syaukani, kaum-kaum awal da masyarakat jahiliyan di jazirah Arabia pra Islam, menjadikan bulan Shafar sebagai bulan peperangan, meninggalkan rumah dalam keadaan kosong, dalam rangka menaklukankabilah lain. Mungkin saja dari tradisi zaman berzaman itu, maka shafar dipandang sebagai bulan dukacita dan airmata, jelasnya.

Dalam tafsir lain juga, Shafar disebut sebagai bulan tiupan angin. Bulan ini, dari sudut pandang musim, dipandang kurang menguntungkan dan karenanya sejumlah aktifitas tidak dapat dilakukan secara maksimal. Barangkali dari kegagalan sejumlah aktifitas pada bulan pancaroba ini, maka kemudian muncul dalam keyakinan kolektif masyarakat bahwa bulan Shafar adalah bulan yang penuh bala, lanjutnya.

Seorang ulama Shalihin bernama Ahl al-Kasyf adalah seorang alim ulama yang dipercayai memiliki kemampuan membaca sesuatu yang tersirat juga bisa memperkuat pandangan tentang bulan Shafar ini. Kata Syaukani, Ahl al-Kasyf pernah mengatakan bahwa setiap tahun diturunkan 324.000 bala dan semua itu diturunkan pada rabu akhir bulan Shafar sehingga bulan Shafar menjadi sebuah bulan yang sulit dalam menjalani kehidupan.

Meskipun demikian, Syaukani menegaskan keberanan akan pandangan ini sebaiknya dikembalikan kepada Tuhan yang maha pemilik ilmu dan penguasa semesta. Sebagaimana mestinya, sebagai hamba Syaukani mengajak untuk percaya bahwa pada Arba Mustamr jadikan sebuah hari Rabu penghujung yang penuh Iktbar. Katanya tak ada bala yang bertebar, yang ada hanya ujian, sebuah semaian pohon kasih dari maha pengasih yang kelak berbunga sayang.

kita akan kelak akan memetik buah keberkahan, jika kita memahami dan menjalaninya dengan ketaatan dan kerelaan hati yang tiada henti.  Dan sesungguhnya, pada Arba Mustamr, pada Rabu yang dicemaskan ini, mari kita perkokoh keyakinan bahwa segala sesuatu datang dari Allah dan akan kembali kepadanya. Jadikan bulan Shafar yang penuh iktibar sebagai bulan untuk kita berdoa menyempurnakan ikhtiar menjemput kejayaan yang akbar, ucapnya mantap.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 20:34 wib

BPJS TK Beri Penghargaan pada Tiga Perusahaan Terbaik

Kamis, 20 September 2018 - 19:00 wib

Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 wib

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 wib

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 wib

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Kamis, 20 September 2018 - 18:24 wib

Ketua Ombudsman RI Gelar Kuliah Umum di Unri

Kamis, 20 September 2018 - 18:00 wib

Sah, BPI Kerjasama dengan Negeri Istana

Kamis, 20 September 2018 - 17:39 wib

Dimsum, Chinese Food Yg Menggugah Selera

Follow Us