Oleh: Agus Sri Danardana

Tahun Baru

28 Desember 2014 - 08.20 WIB > Dibaca 1046 kali | Komentar
 
Tahun Baru
Oleh: Agus Sri Danardana
Dua tahun lalu, beberapa saat sebelum pergantian tahun 2012 ke 2013, istilah car free night diikrarkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Jokowi, yang sekarang menjadi Presiden Republik Indonesia. Peristiwa itu saya anggap fenomenal karena mampu “menggoyang” Indonesia. Bagaimana tidak? Karena direspon secara membabi buta oleh banyak pihak, istilah car free night itu tiba-tiba merebak di banyak tempat (hampir di seluruh kota di Indonesia, seperti Bandung, Yogyakarta, Semarang, Denpasar, Medan, Makassar, dan tentu saja Pekanbaru) sebagai penanda perayaan pergantian tahun. Padahal, saya meyakini, tidak semua orang dapat memahami secara benar konsep istilah asing: car free night itu, oleh masyarakat Jakarta sekalipun.

Kegemaran orang Indonesia (terutama para pejabatnya) dalam “berasing ria” seperti itu sebenarnya sudah lama berlangsung. Sekalipun istilah-istilah asing itu sering tidak dipahami masyarakat secara benar, anehnya, mereka tetap saja tidak peduli. Sebagai contoh, penggunaan kata sepur. Kata yang diadaptasi dari spoor (Belanda} ‘rel/jalur kerata api’ itu hingga kini dipahami masyarakat (terutama Jawa) secara kaprah sebagai ‘kereta api’, bukan sebagai ‘rel/jalurnya’. Lucunya, Gubernur DKI Jakarta 1997/2007 (Sutiyoso, ketika itu) justru melanggengkan kekaprahan itu dengan memopulerkan bus way. Di samping merusak tatanan perilaku berkendara rakyat Indonesia (yang sudah terbiasa naik-turun penumpang dari kiri dipaksa harus turun-naik dari kanan), bus way juga telah menimbulkan pemahaman yang salah. Pada kenyataannya sekarang ini orang tidak mengatakan naik bus Trans Jakarta (merek bus yang diizinkan menggunakan jalur itu), tetapi naik bus way.

Begitu pun dengan car free night. Sekalipun sudah ada kegiatan sejenis (car free day), tidak tertutup kemungkinan car free night akan dipahami secara salah oleh banyak orang. Apalagi istilah itu muncul dan popular untuk memperingati pergantian tahun, bukan tidak mungkin orang awam akan memaknai car free night sebagai peringatan tahun baru. Hal itu dimungkinkan oleh gencarnya penyiar/reporter media massa elektronik (radio dan televisi) dalam memberitakannya. Umumnya mereka tidak terlebih dahulu menjelaskan bahwa car free night merupakan upaya pemberian tempat agar masyarakat dapat memperingati pergantian tahun tanpa terganggu oleh lalu-lalang kendaraan (bermotor), tetapi langsung menyebutnya sebagai peringatan tahun baru. “Saudara, ternyata car free night tidak hanya digelar di Jakarta, tetapi juga di banyak tempat, seperti Bandung, Yogyakarta, Semarang, Pekanbaru, dan Denpasar,” demikian kata salah satu dari mereka di sebuah televisi swasta ternama.

Kejadian serupa juga sudah pernah muncul pada dekade 70-an. Ketika itu, mungkin karena hampir di semua SPBU terpasang peringatan/larangan: no smoking ‘dilarang merokok’, orang awam pun menganggap bahwa pompa bensin itu sama artinya dengan no smoking. Begitu pula dengan welcome ‘selamat datang’. Kata itu, karena tertera di hampir semua keset, dianggap berarti ‘pengesat kaki’, bukan ‘selamat datang’. Entah hanya berseloroh atau serius, banyak orang (terutama grup lawak dan/atau penyiar radio) menjadikan hal itu sebagai bahan pertanyaan.

“Apa bahasa Inggrisnya pompa bensin dan keset?” demikian kira-kira bunyi pertanyaan itu.

“No smoking dan welcome!” jawabannya.

Bagaimana dengan kasus car free night? Istilah asing itu pun sesungguhnya dapat diindonesiakan, misalnya, menjadi bebas kendaraan (bermotor). Jika berjangka waktu atau berbatas ruang, peringatan/larangan itu tinggal ditambah keterangan saja: misalnya menjadi daerah bebas kendaraan bermotor (pukul 20.00 s.d. 24.00). Peringatan/larangan seperti itu jelas lebih mudah dipahami daripada malam bebas kendaraan (bermotor), kecuali memang berlaku untuk semua tempat dan sepanjang malam. Bukankah car free night sesungguhnya penuh dengan ketidakjelasan itu?

Pembentukan frasa (gabungan kata) dengan bebas sudah lazim dilakukan meskipun masih dalam jumlah terbatas. Bebas becak, bebas (asap) rokok, dan bebas banjir adalah contohnya. Kata bebas dalam ketiga bentuk itu mengandung arti yang sama: ‘tidak ada’. Dengan demikian, pengubahsuaian car free night menjadi bebas kendaraan (bermotor) sungguh merupakan upaya yang pantas diacungi jempol. Di samping memperlihatkan adanya sikap positif terhadap bahasa Indonesia, pengubahsuaian itu juga memperbanyak jumlah frasa berunsur bebas yang memiliki kesamaan arti. Bertambahnya jumlah frasa berunsur bebas yang memiliki kesamaan arti itu penting karena dapat mengeliminasi frasa berunsur bebas dengan makna yang lain: bebas parkir ‘parkir gratis’ yang pernah ada.

Nah, belajar dari beberapa kejadian itu, masih adakah kebanggaan untuk “berasing ria”? Sudah sangat miskinkah bahasa Indonesia? Padahal, jika diperlakukan secara kreatif, bahasa Indonesia sesungguhnya mampu digunakan untuk semua urusan di segala bidang. Bukankah kaya-miskinnya bahasa sesungguhnya sangat bergantung pada keluasan cakrawala pengetahuan dan/atau pandangan dunia (world view) penggunanya?

Tidak lama lagi 2014 akan berganti 2015. Sebagai masa awal pemerintahan baru (yang bertampuk di tangan Joko Widodo-Jusuf Kalla dan seluruh anggota Kabinet Kerjanya), 2015 seharusnya dijadikan masa baik segala momentum. Mampukah mereka membawa bangsa Indonesia ke kehidupan baru, sebagai bangsa yang eksis di negerinya sendiri karena mampu dan bangga menggunakan bahasa Indonesia untuk segala kepentingannya? Atau, masih harus bersabarkah kita menantikan munculnya sikap positif masyarakat (terutama pejabat) terhadap bahasa Indonesia yang konon diyakini sebagai jatidiri bangsa ini?

Kalaupun masih harus bersabar, semoga kita tidak akan lagi bersua dengan buah pahit penantian, seperti yang sering terjadi selama ini. Kita masih punya harapan. Esok, lusa, atau kelak kita akan menyaksikan para pemuka negeri ini mau dan mampu (dengan penuh kebanggaan) menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.
Selamat tahun baru 2015, Saudara-saudaraku.***
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Follow Us