Oleh: Basuki Fitrianto

Pulau Berkabut

28 Desember 2014 - 08.24 WIB > Dibaca 1887 kali | Komentar
 
Kisah-kisah mengerikan dan segala tanya tentang pulau berkabut sudah mendarah daging di tubuh kami. Setiap tarikan nafas dan langkah kaki, misteri pulau berkabut selalu membayangi. Tak terkecuali aku. Begitu aku sadar bisa merasakan bau asinnya angin laut, cerita-cerita pulau berkabut sudah berjejal di otakku. Segala ancaman dan larangan sudah seperti aturan tak tertulis yang harus ditaati. Melanggar sama dengan mati.

Jangan pergi ke pulau berkabut! ancam Mamak.

Kenapa tidak boleh, Mak?

Pokoknya jangan ke sana!

Mamak bukan orang pandai bicara. Kalimat yang keluar dari bibir tebalnya selalu sepotong itu pun dengan nada kaku. Mamak tak suka dengan pertanyaan bertubi. Tapi bila aku membandel tetap memberikan pertanyaan untuknya, kejengkelan segera menempel wajahnya. Lalu keluarlah kata-kata kasar.

Tanya Ayahmu sana! bentak Mamak.

Aku pun menemui Ayah di depan rumah yang sedang membetulkan jaring ikannya.

Yah, kenapa kita tidak boleh pergi ke pulau berkabut?

     Tubuh hitam Ayah dengan duduk bersila terlihat mengilap tertimpa cahaya matahari siang. Mulanya ia tak menggubris pertanyaanku. Aku jongkok di depan tumpukan jaring ikannya menunggu jawaban.

Kakekmu tak pulang karena nekat pergi ke pulau itu. Akhirnya walau kelihatan tak peduli Ayah menjawab juga.

Kenapa tak pulang, Yah?

     Ya, pasti mati. Pulau itu istananya raja iblis. Seluruh iblis penghuni alam semesta akan selalu kembali ke pulau itu. Pasti kakekmu dibunuh para iblis itu.

***

Rumah kami berderet - ada dua puluh rumah -. Jarak rumah kami dengan bibir pantai sekitar lima ratus meter. Sebagian jendelanya menghadap laut. Termasuk rumahku. Jadi setiap Mamak membuka jendela, pandangan pulau berkabut terhampar. Kabut itu melengkung besar menutupi isinya. Seperti jaring ayah menutupi perahunya.

Setiap senja aku selalu berdiri di depan jendela menatap pulau berkabut yang ada di tengah laut. Pertanyaan tentangnya selalu mengusik. Apa benar istana iblis ada di pulau itu? Kata Ayah jarak antara pantai dan pulau itu tidak terlalu jauh. Dengan menggunakan perahu motor dalam waktu satu jam sudah sampai. Tapi benarkah satu jam sedang Ayah tak pernah ke sana?

Seperti senja ini. Langit di garis laut memerah. Angin berhembus. Aku amati pulau itu yang jika senja seperti gundukan kuburan besar. Mungkin karena bentuknya seperti kuburan maka Ayah menamai istana iblis? tanyaku dalam hati.

Pulau itu bukan istana iblis, sanggah temanku. Pulau itu penghuninya para manusia pemakan daging manusia.
Kata siapa? tanyaku.

Abahku. Katanya pada suatu malam Abah bermimpi didatangi seorang wanita cantik. Wanita itu berharap Abah bisa menolongnya mengantar ke pulau berkabut. Mulanya Abah besikeras tak bisa menolong. Wanita cantik itu menangis. Ia akan memberi emas sebesar kepala jika Abah bisa membawanya ke pulau berkabut. Akhirnya Abah menyanggupi. Tibalah Abah di bibir pantai pulau berkabut. Ketika hendak menambatkan perahunya tiba-tiba datang segerombolan manusia dengan bau busuk. Mereka menangkap Abah.

Tapi anehnya wanita cantik tadi hilang entah ke mana. Dibawalah Abah ke tengah pulau. Kedua tangan Abah dibentangkan di antara dua pohon. Pisau-pisau di tangan manusia bau busuk sudah siap dihunjam ke tubuh Abah. Dengan tergagap akhirnya Abah terbangun dari mimpinya.

Ah, tapi itu kan mimpi? bantahku.

Lama aku berdebat dengan temanku. Untuk menemukan titik terang akhirnya kami sepakat menemui Tetua kampung kami.
Tetua kampung sudah rapuh dimakan usia. Kedua matanya buta. Tapi pendengarannya masih tajam. Ia sedang mengunyah pinang ketika kami datang.

Pulau itu bukan istana iblis juga bukan pulau berisi manusia pemakan manusia, kata Tetua kampung. Pulau itu tak berpenghuni. Hewan juga tak ada di sana. Karena apa? Sebenarnya kabut penutup pulau itu beracun. Ketika aku masih muda dan belum buta, ada orang kota datang ke kampung ini. Dia bilang padaku bahwa sebenarnya pulau itu berisi banyak emas. Lalu ia memintaku untuk menemaninya. Aku setuju, tapi hanya sampai di batas lima ratus meter sebelum menembus kabut. Akhirnya dengan dua perahu kami menuju pulau. Seperti perjanjian awal aku berhenti di batas kabut. Orang kota sendirian melaju dengan perahunya. Ketika sudah sampai di garis tipis kabut, aku lihat ia meronta-ronta seperti sesak nafas. Kedua tangannya mencekik lehernya sendiri. Aku yakin bahwa kabut itu beracun.

Apakah orang kota itu mati? tanyakku.

Iya.

Tapi kenapa Tetua tidak menolongnya?

Menolongnya? Aku tidak ingin mati konyol.

Cerita Tetua tadi seperti ribuan kelelawar memenuhi otakku. Jantungku berdegup kencang. Tapi rasa penasaran masih mencengkram benakku.

     Tutup jendela itu! Mamak tak ingin pasir masuk dalam rumah! bentak Mamak.

     Pelan aku menutup jendela senja yang mulai menghitam. Di sana, di atas laut, lampu-lampu petromak nelayan mulai menyala seperti kunang-kunang betebaran di atas kuburan.

***

Langit dipenuhi bintang. Kerlap-kerlip. Cuaca kelihatannya cerah. Menurutku ini malam yang tepat untuk melaut. Malam ini aku bertekad pergi memasuki pulau berkabut. Aku sudah tidak tahan dengan simpang siur keberadaan pulau berkabut. Aku sudah bosan berdiri di depan jendela setiap senjanya. Tentu saja aku harus sembunyi-sembunyi untuk sampai ke sana.

Pelan aku dorong perahu kecil menuju laut. Setelah badan perahu penuh menyentuh air aku segera meloncat ke perahu. Pelahan dan bertenaga mendayung maju perahu. Di depan sana nyala petromak  nelayan berkeliaran. Aku harus menjauhi mereka. Sebab jika mereka tahu pastilah akan mengejarku, menghalangi aku untuk pergi ke pulau berkabut.

Otakku berpacu dengan suara akibat ujung dayung memukul permukaan air. Juga berpacu dengan perasaan was-was yang kini mulai merambat di pembuluh darah. Jika benar pulau itu adalah istana iblis, maka matilah aku seperti kakek. Jika benar penghuni pulau berkabut manusia pemakan manusia, maka habislah aku disantapnya. Jika benar kabut itu beracun. Tapi malam ini aku harus sampai ke sana. Aku ingin membuktikan kebenaran simpang siur pulau berkabut.

Perahuku melingkar menjauh dari perahu para nelayan. Aku berharap mereka tidak mengetahui keberadaanku.

***

Kini aku sudah di batas kabut. Batas hidup dan mati. Aku berhenti sebentar. Ayunan gelombang laut menggoyang perahu dan tubuhku. Perasaan khawatir timbul kembali. Teringat Tetua kampung, tentang beracunnya kabut. Tentang orang kota yang meronta mencekik lehernya sendiri. Haruskah aku lanjutkan perjalananku? tanyaku lirih mendongak seakan bertanya pada lautan bintang di langit.

Akhirnya aku putuskan untuk terus melaju. Dengan memejam mata sekuat tenaga dan pikiran penuh gejolak, maka perlahan aku terobos kabut. Pertanyaan Aku mati? Aku mati? berlomba dengan degup kencang jantungku. Dan Aku tidak tercekik. Berarti kabut tidak beracun. Untuk sementara aku lega.

Bentuk bayangan pulau berkabut mulai terlihat. Pulau itu ternyata besar sekali. Jauh di tengah pulau itu betebaran cahaya warna-warni yang tidak pernah aku temui di kampung. Apakah istana iblis itu ada di antara cahaya warna-warni?

Dengan penuh hati-hati melaju mendekati pinggir pantai. Aku tidak mau para manusia pemakan manusia mengetahui kedatanganku.

Berusaha tanpa mengeluarkan suara aku tarik perahu ke darat. Jongkok sejenak mengamati keadaan. Setelah merasa aman aku pun mulai melangkah pelan masuk ke tengah pulau.

***

Ketika aku membuka kedua mata yang pertama aku dengar adalah raungan tangisan Mamak. Lalu Mamak menubruk tubuhku. Para tetangga berdiri mengerumuni tidurku. Aku juga melihat kepala-kepala menyembul di jendela senjaku.

Ayah menyeruak mendekatiku. Syukurlah kamu selamat! pekik Ayah gembira.

Di antara desingan pertanyaan yang mereka lontarkan aku mencoba mengingat-ingat kejadian yang menimpaku. Ya, aku ingat. Sepulang dari pulau berkabut, di tengah laut, tiba-tiba badai datang. Aku terombang-ambing. Aku berusaha menyeimbangkan perahu. Tapi akhirnya aku terhempas ke laut. Tubuhku timbul tenggelam melawan derasnya laut. Aku berhasil meraih papan pecahan perahu.

Kau pasti pergi ke pulau berkabut? tanya Ayah.

Aku mengangguk pelan.

Sudah Ayah bilang jangan pergi ke sana! Untung kamu masih selamat.

Ruangan riuh menyatakan kesetujuannya dengan pendapat Ayah.

Aku sebenarnya ingin mengatakan tentang pulau itu. Bahwa sebenarnya pulau itu dipenuhi dengan bangunan-bangunan tinggi. Penuh cahaya jika malam. Bangunan-bangunan dengan mulut mengeluarkan asap pekat. Juga ada manusia macam Mamak, Ayah. Tapi wajah mereka pucat seperti tak bergairah hidup. Aku ingin mengatakan itu. Tapi mulut Ayah dan para tetangga seakan menahanku untuk mengatakannya.***

Rumah mimpi, 2014.


Basuki Fitrianto
lahir di Yogyakarta, 22 Desember 1968. Pendidikan SMKIN Yogyakarya Jurusan Teater.
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Jumat, 16 November 2018 - 17:00 wib

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Follow Us