Zapin Meskom ke Punca Cahaya

4 Januari 2015 - 15.04 WIB > Dibaca 1528 kali | Komentar
 
Dulu, zapin hanya dimainkan di ceruk-ceruk kampung. Di bawah pohon rambai dan halaman rumah-rumah penduduk Kampung Meskom, Kabupaten Bengkalis. Saat itu, zapin belum menjadi karya yang ramai dibicarakan, di serata negeri. Lalu, siapa yang menyangka, hari ini, Zapin Meskom kerap ditampilkan diberbagai perhelatan seni. Bahkan telah pula dipelajari banyak pihak, baik komunitas seni, maupun kampus seni.

Laporan JEFRI AL MALAY, Pekanbaru                                      

PULUHAN pengunjung duduk bersila di atas ampar berwarna kuning. Di dalam pondok yang berdiri di depan pengunjung, para pemain Musik Ghazal, beraksi dengan santai. Di bawah rindang Pohon Mahoni, tepatnya di halaman belakang sekretariat Sanggar Tengkah Zapin, para tetamu yang hadir disuguhkan dengan beraneka ragam makanan khas kampung. Sambil menikmati suguhan itu, tetamu pun disuguhkan ilmu dan wawasan serta pengalaman oleh para pembicara yang berkompeten.

Pembicara dalam perhelatan Dialog Budaya Akhir Tahun 2014, Rabu (31/12) itu, pelaku aktif Zapin Meskom, Baharuddin yang didatangkan langsung dari Kampung Meskom. Didampingi dua pembicara lainnya, penggagas Zapin Center, koreografer Riau, SPN Iwan Irawan Permadi dan Seniman/budayawan Pilihan Sagang 2014, Hang Kafrawi.

Setelah, dihantar dengan doa, dialog dimulai dengan pemutaran dokumentasi Maestro Zapin asal Riau, Almarhum Yazid, tokoh zapin anak jati Meskom. Dalam tayangan itu, digambarkan bagaimana giat dan tekunnya almarhum mencipta dan mencipta. Meski usia telah lanjut, tetap semangat mengajarkan tarian zapin kepada anak-anak muda di kampung Meskom.

Pembina Sanggar Tengkah Zapin, Yoserizal Zen sebagai penggagas Dialog Akhir Tahun dengan tema Zapin Meskom Menuju Puncak Cahaya, menegaskan pemilihan tema yang diangkat selaras dengan keberadaan Sanggar Tengkah Zapin yang memang fokus mengembangkan tari tardisi zapin, khususnya zapin dari Meskom. Karenya, anggota yang sekaligus menjadi pelatih dalam sanggar itu terdiri dari anak-anak muda asli dari Meskom yang kuliah atau berada di Pekanbaru.

Kami mencoba membina Zapin Meskom di Pekanbaru. Kami juga berupaya menyampaikan kepada publik bahwa tari zapin yang sampai saat ini masih tetap terjaga dengan baik itu berasal dari Meskom. Hal itu sudah ditandai dengan adanya Sang Maestro Zapin Melayu almarhumah M Yazid. Terlebih penting lagi, kami hendak meracuni orang Riau, bahwa zapin inilah bentuk tari tradisi di Riau bukan yang lain-lain. Harapan saya tentu dari dialog ini, pemikiran kita bisa terbuka dan melahirkan kesadaran bahwa zapin adalah milik kita yang sangat potensi untuk dikembangkan. Zapin harus menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. ucap Kabiro Humas Pemprov Riau itu di hadapan tetamu yang hadir malam itu.

Sedangkan keberadaan Sanggar Tengkah Zapin yang sudah berumur dua tahun itu, tidak lah bermaksud menjadi sanggar untuk tandingan atau untuk bersaing dengan sanggar-sanggar tari lain yang ada di Pekanbaru. Tapi Tengkah Zapin memberikan sesuatu yang berasal dari tradisi. Kami tidak takut dikatakan orang kampung, kami tetap mempertahankan tradisi ini. Bahkan ke depan kami sudah menyiapkan program Tengkah Zapin Goes to School. Kami akan memberi tunjuk ajar tentang zapin Meskom baik dari gerak maupun nilai-nilai filosofis yang terkadung dalam tarian tersebut, jelas Penyair Abad 21 itu.

Pengisi Waktu Senggang
Sebenarnya, tari zapin berasal dari Arab dan mulanya hanya dimainkan oleh kaum lelaki. Konon tari ini bermula dari keluarga kecil, seorang datuk duduk bermain gambus dan anak cucunya bermain marwas dan menari. Dimulai dengan taksim atau berserah diri. Menurut Baharuddin, kaum lelaki, kalaupun muhrim, ada batasan tertentu. Sedangkan lirik dan lagunya berisi tentang keagungan Tuhan, puja-puji nabi, nasihat-nasihat agama yang tersusun dalam bentuk pantun-pantun.

Itulah bentuk semula zapin yang diterima dalam pandangan Islam ketika itu. Dan semua itu saya dapatkan dari bertanya-tanya kepada orang tua-tua di kampung sepanjang pengalaman saya belajar tari zapin, ucap Bahar, sapaan Baharuddin, membuka cerita.

Keberadaan Zapin Meskom dikisahkan Bahar, konon awal Zapin Meskom yang dikenal pada hari ini berasal dari seorang yang bernama Abdullah Nur. Beliau merupakan seorang utusan dari kerajaan Siak yang bertugas sebagai penjaga pelabuhan di Tanjung Jati. Disebabkan Abdullah Nur adalah seorang pemain zapin, dia membawa alat musik gambus yang dimainkannya ketika waktu senggang. Maka kemudian dikarenakan bertugas di Tanjung Jati itu, Abdullah Nur tidak lupa melaporkan keberadaanya dengan salah seorang batin atau sekarang disebut penghulu kampung. Abdullah ini kemudian melapor ke Batin Senerak ketika itu bernama Moh Yatim yang masih berpangkat moyang saya, kenang Kepala Bidang Kebudayaan di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah raga Kabupaten Bengkalis itu.

Kedatangan, Abdullah Nur tentu saja disambut baik oleh warga setempat. Sehingga dalam pergaulannya sehari-hari mulailah dia memperkenalkan tari zapin itu kepada warga tempatan di saat senggang seperti habis Isya sambil minum-minum kopi. Abdullah Nur itu menurut cerita yang saya dapat, memang dia pemain zapin dan selalu membawa alat musik Gambus. Mulailah ia mengumpulkan teman-teman untuk belajar zapin, termasuklah ketika itu yang belajar Almahum Yazid, Ismali, Hasan dan beberapa orang lain hingga sampailah ke generasi sekarang ini, jelas Bahar.

Gerak Zapin Meskom yang ada pada hari ini tidaklah berdasarkan apa yang didapat ketika dulu karena menurut Bahar awalnya di Meskom itu hanya ada enam gerakan. Tetapi kemudian dalam pembelajarannya ke sana-sini, bertanya kepada yang patut maka didapatlah suatu kesimpulan keberadaan secara sederhana gerak zapin Meskom yang sekarang ada 12 ragam gerak itu mendapat tambahan dari ragam gerak daerah lain seperti Merbau, Meranti, Rupat dan Dumai.

Saya temui hal itu langsung terjun ke lapangan dan juga mendapati banyak orang-orang Meskom yang berasal dari Teluk Belitung, Merbau dan lain-lain sehingga suatu ketika saya pernah diamanatkan orang tua saya yang menyebutkan kalau nak belajar zapin pergilah ke Merbau, jelas Bahar lagi.

Jika ada pertanyaan misalnya kenapa keberadaan tari zapin itu lebih dapat dipertahankan di daerah pesisir, hal itu juga dijelaskan Baharuddin dalam dialog budaya yang berlangsung sederhana dan akrab itu. Dalam bincang-bincang santai itu kata Bahar pula melanjutkan, dulu orang-orang kampung menebang pokok sagu, malamnya menunggu air pasang, mereka berzapin dulu dengan belajar di pondok-pondok yang tersedia.

Orang-orang pesisir juga dalam pekerjaan sehariannya memang dilihat banyak memiliki waktu senggang, seperti misalnya melaut. Ada istilah kelam besar dan kecil. Sehingga sekali ke laut itu sampai tiga hari atau seminggu baru pulang. Untuk mengisi waktu ketika pulang dari laut itu, waktu-waktu senggang yang ada digunakan untuk aktivitas berseni. Ini yang mungkin agak berbeda dengan aktivitas masayarakat pedalaman seperti menebang hutan dan lain-lain, ucapnya.

Kemudian di waktu senggang itu yang diisi dengan berkesenian itu jugalah bertujuan menunjukkan kepada anak cucunya tentang tunjuk ajar yang baik salah satunya pada zapin atau pantun, berzanji, kompang, bardah. Itulah yang menghibur mereka setelah lelah mencari rejeki di laut dan memanfaatkan waktu luang sembari member tunjuk ajar kepada anak cucu mereka. Hal ini saya dapatkan dan pahami setelah bertanya kepada orang-orang tua, ujar Bahar.

Dalam kesempatan itu juga Bahar merasa bangga karena ada pihak yang peduli dan berniat baik untuk mengembangkan dan memperkenalkan tari zapin ini sampai ke tingkat provinsi seperti salah satu yang dilakukan Sanggar Tengkah Zapin. Kata Bahar, dulu cahaya zapin hanya ada di kampung, di bawah pokok rambai, di halaman depan rumah warga Meskom dan hari ini zapin Meskom sudah ada tempat pembelajarannya di ibukota provinsi.

Memang kemudian, diakui Bahar masih banyak pekerjaan lainnya selaku pelaku zapin Meskom yang pada hari ini patut diperjuangkan dan menjadi tugas bersama. Hal itu tentu pula harus ada sinergi dari semua pihak, tidak hanya dari pelaku dari kesenian itu sendiri tetapi juga misalnya perhatian dan kepedulian pemerintah juga sangat diperlukan.

Selaku Kabid Kebudayaan, diakui Bahar sudah menyiapkan belasan program untuk mengembangkan seni-seni tradisi termasuk di dalamnya zapin Meskom yang tentu saja perlu waktu dan kerja sama untuk mewujudkannya. Hanya saja, katanya untuk tahap awal jabatannya itu, sudah ditetapkan oleh pemerintah usulan untuk membuat gerbang zapin di desa Meskom yang pelaksanaan kerjanya akan dimulai dalam raktu dekat.

Insyaallah dalam waktu dekat semua itu akan terlaksana dan memang kedepan kita juga sudah berencana untuk membuat laboratorium zapin, dokumentasi zapin. Karena di kabupaten Bengkalis sendiri, zapin sudah ditularkan ke kampung-kampung lainnya, tutupnya.

Kesenian bagaimanapun konteksnya adalah sama saja. Tak kira di  manapun berada dan di manapun berkembangnya. Terutama yang namanya seni tradisi yang tersebar di setiap daerah adalah untuk mengukuhkan dan memperkuat identitas. Hal itu disampaikan pembicara lainnya, Hang Kafrawi dalam dialog budaya akhir tahun tajaan Sanggar Tengkah Zapin.

Kata Hang Kafrawi, di tanah Melayu  perlu adanya kekuatan untuk penyadaran akan identitas tersebut sehingga dengan demikian, seni itu pun menjadi kekuatan, menjadi letupan untuk tetap menjaga kebudayaan. Kita pada zaman ini, bukanlah untuk pengelus atau mengelap kebudayan masa lalu, kemudian kita pajangkan. Hari ini kita perlu mengkreasikannya menjadi sesuatu hal yang baru tetapi yang hendak saya tekankan adalah bahwa tradisi yang ada perlu pula dijaga dengan baik. Memang kebudayaan tidak statis, mengikuti perkembangan zaman, tapi harus ada yang menjaganya, ucap Ketua Jurusan di  Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning itu.

Seperti halnya Sanggar Tengkah Zapin yang mengambil zapin Mesom sebagai kekuatan. Tetapi kemudian menurut Kafrawi, langkah selanjutnya adalah bagaimana misalnya ada upaya mematenkan bahwa Zapin Meskom merupakan Zapin Melayu Riau sehingga kemudian ia memang menjadi identitas dan kekuatan.  

Senada dengan itu, pandangan seorang seniman, budayawan Riau lainnya yang turut hadir Taufik Ikram Jamil mengemukan hal serupa. Bentuk dan ragam seni yang kaya di Riau ini harus dilakukan upaya untuk mematenkannya. Karena memang diakui, Indonesia dalam hal mematenkan ini sangat lemah. Hal itu dilihat misalnya bahwa Singapura dalam setahun mematenkan benda miliknya sebanyak 5000, sedangkan Malaysia sebanyak 2000 dan Indonesia hanya berkisar 200 atau 300.

Tapi yang hendak saya tegaskan, jangan takut dan terbuai sertamerta dengan industri, itu biarlah tugas dinas terkait. Kita selaku seniman, harus tetap belajar dan mempertahankan tradisi ini, karena bagaimana pun orang akan rindu. Perlu kita akui, informasi terkait dengan tradisi sangat kurang dibandingkan informasi yang datang dari luar. Seniman kreasi sudah oke, tapi seniman yang menjaga tradisi harus tetap ada. Tradisi itu diibaratkan benda yang sedikit tapi sangat tapi mahal, ucap Taufik Ikram Jamil.

Terkait dengan keberadaan Zapin Meskom, Taufik mengemukakan bisa saja dengan nilai-nilai dan filosofis yang terkandung di dalamnya menjadikan tari Zapin ini mampu menjawab pertanyaan dari orang luar semisal apa sesuatu yang bisa dilihat dan disaksikan tetapi dapat mencerminkan gambaran umum tentang orang Melayu Riau.

Dalam hal itu dicontohkan Taufik, keberadaan Wayang. Ketika Wayang dipertontonkan, maka semua sudah terlihat Jawanya, baik filosofi dan nilai-nilai lainnya. Barangkali zapin bisa menjawab hal itu. Karena Zapin memiliki ragam gerak dan filosfi yang luar biasa. Bentuk dan geraknya memberi inovasi yang begitu dahsyat bagi perkembangan tari misalnya, ujar mantan wartawan Kompas tersebut. (fed)
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 14:34 wib

145 Perusahaan Ikuti Pameran Listrik Cerdas

Kamis, 20 September 2018 - 14:30 wib

Kemenangan Dramatis

Kamis, 20 September 2018 - 14:24 wib

Transmart Carrefour Gelar Fashion Carnaval

Kamis, 20 September 2018 - 14:21 wib

20 Model dan Ikon Tampil di Pekanbaru Runway 2018 CS Mal

Kamis, 20 September 2018 - 14:11 wib

Pamflet Undangan Diskusi Divestasi Newmont itu Hoax

Kamis, 20 September 2018 - 14:00 wib

Momen Kebangkitan Hendra/Ahsan

Kamis, 20 September 2018 - 13:56 wib

Ayola First Point Promo Kamar selama September

Kamis, 20 September 2018 - 13:43 wib

E-commerce Bebas Asing

Follow Us