Oleh: SPN Dantje S Moeis

Ubi

4 Januari 2015 - 15.10 WIB > Dibaca 1158 kali | Komentar
 
Mencangkung, duduk di batu miring turap penahan longsor sungai Indragiri yang membelah ibukota negeri kami Rengat Kota Bersejarah. Aku agak sedikit masgul setelah melihat tayangan teve negeri jiran yang baru saja berganti pimpinan negara, sekaligus para menterinya.

Di Hari Ulang Tahun Korps Pegawai Republik jiran ke-43, pemerintah mereka  mencetuskan ‘Gerakan Nasional Revolusi Mental Aparatur Sipil Negara’ (ASN). Para Pegawai Negeri Sipil (PNS) diminta meninggalkan mental priyayi dan stop pemborosan.

Terhitung mulai hari itu, Senin (1/12/2014), PNS mereka dilarang rapat di hotel-hotel atau tempat mewah lainnya dan harus menggelar acara di tempat yang sudah disediakan.

“Itu bagus” pikirku. Gerakan tersebut diperkuat dengan Surat Edaran No. 13/2014. Isinya adalah, PNS dihimbau untuk menyelenggarakan seluruh kegiatan instansi pemerintah di lingkungan masing-masing atau di lingkungan instansi pemerintah lainnya.

“Itu juga bagus”. Selain itu, pemerintah negeri jiran juga menginstruksikan agar pegawai dan pejabat negara mengkonsumsi makanan lokal. Seperti ubi rebus. Konsumsi ini juga harus disajikan pada saat rapat pegawai pemerintahan. Perintah berdasarkan Surat No. 10/2014 ini juga berlaku mulai tanggal 1/12/2014. Begitu menurut keterangan pers yang disampaikan Menpan negeri jiran itu. “Nah, ini dia. Apa juga bagus buat semua?” Point terakhir inilah penyebab masgulnya hati ini, sampai kini dan mencangkung di dinding batu miring hingga dini-hari kini.

Jauh sebelum mereka mengeluarkan kebijakan tentang perkuatan sektor makanan-pokok rakyat dan menjadikan ubi sebagai pengganti beras. Seperti yang pernah kuceritakan di sebuah media massa tiga belas tahun lalu. Aku yang pernah berperan sebagai pejabat tinggi di negeri kami ini, tepatnya di tahun 2001. Melalui corong televisi pemerintah dan swasta malam itu aku menyiarkan kebijakan yang kuambil dalam banyak hal, terutama tentang perubahan-perubahan di bidang pangan. Perubahan bertujuan peningkatan strata sosial maupun ekonomi masyarakat banyak.

Laporan setelah itu, tak satupun terlihat adanya keluhan masyarakat tentang diversifikasi makanan pokok. Puja dan puji silih berganti datang yang kesemuanya ditujukan kepadaku Pak Mentut.

Kenapa Pak Mentut? Mentut adalah singkatan dari (Ment)eri (ut)ama di negeri kami, sebuah negara yang sedang demam perubahan, pembaharuan di segala lini dan sangat anti gaya lama. “Mentut”, agaknya semaksud dengan “Perdana Menteri” di pemerintahan gaya lama atau sama dengan “First Minister,” atau “Prime Minister,” atau “Principal Minister” di pemerintahan beberapa negeri Eropa dan Amerika sana. Aku sebagai tokoh utama dalam cerita ini, adalah orang yang memegang jabatan Mentut terpilih hasil “Pemirak (pemilihan rakyat)” yang sungguh-sungguh sangat demokratis, konstitusionis, sedikit dramatis dan yang terpenting adalah Pemirak yang bersifat, Betaraha (bebas tak rahasia), anti gaya lama. Jadi teranglah segalanya, bahwa penggantian nama panggilan buatku menjadi Pak Mentut,  sangatlah kuat dan beralasan.

Dampaknya tergambar bersih jelas namun tak mengenakkan buat aku pribadi, berlangsung terus menerus sejak terpilihnya Menteri utama baru dan awal pencanangan langkah kerja, aku menerbitkan Keputusan  Menteri Utama disingkat “Kementut.”

Tak lazim bagi perilaku seorang Menteri, apalagi untuk seorang  Mentut. Hal ini sungguh membuat bingung orang dekatku yang setiap saat selalu mendampingiku kemana-mana, dan ketak-laziman itu kembali terulang kali ini.

Melanggar rambu-rambu protokoler, meninggalkan setiap pertemuan resmi maupun tak resmi pulang ke kediaman sebelum acara benar-benar usai dan anehnya, kulakukan setiap selesai jamuan makan.

“Mana remote control pembuka pintu pagar!” Tergesa tak sabar, merangsak ke depan, meraih benda kecil bertombol banyak yang terletak di dash board mobil dinasku. Menekan salah salah satu tombol alat otomatis pembuka pintu pagar kediaman. Tak sempat mencapai car-port, apalagi tindakan lazim ajudan untuk membukakan pintu kendaraan, aku membuka sendiri pintu mobil, menghambur ke luar menerajang pintu kediaman, menghilang masuk kamar dan menguncinya dari dalam.

Tak ada yang tahu, apapula penyakit atau kelainan yang ku-idap akhir-akhir ini. Pernah pada suatu hari, pada kejadian yang sama, Bu Mentut isteriku karena rasa khawatir dan cemas melihat perubahan perilaku aku, bertanya.

“Kenapa bang? Apa yang terjadi, apa abang kurang sehat? Dinda panggilkan dokter keluarga kita ya.” Beruntun pertanyaan dan jalan keluar yang diusulkan isteriku, sebagai ungkapan rasa prihatin seorang isteri tak bertendensi apa-apa. Namun, kalimat itu jadi alat pemicu meledaknya amarahku.

“Diaaaaaam! Dinda telah menabur pupuk di kebun kemarahanku yang kini mulai berputik. Jangan dinda ulangi keinginan untuk memanggil dokter. Aku sehat, sehat lahir bathin. Tak seorangpun kuizinkan untuk memeriksaku perihal kelainan ini. Aku yakin, ini akan hilang dengan sendirinya, itu hanyalah bentuk keterkejutan yang akan mengalami proses penyesuaian.”

“Apa yang sebenarnya terjadi bang, mengapa abang seperti menyembunyikan sesuatu. Apakah dinda sebagai isterimu tidak punya hak untuk mengetahui perihal yang terjadi pada abang. Apakah dinda tak dapat lagi abang percaya? Katakan bang, katakanlah yang sejujurnya.”

Aku tergelak di sela rasa sakit menghimpit, hingga mataku yang memang sipit menjadi lebih menyipit, membentuk satu garis yang kemudian mengeluarkan air mata, merasa ada sesuatu yang menggelikan dari kalimat panjang isteriku. “Ha…ha… dinda, kalimat-kalimat dinda tadi sangat puitis, mengingatkan abang pada judul lagu ‘Katakanlah Yang Sejujurnya.’ Ha…ha….dan membangkitkan kenangan lama pada masa lalu kita, masa kita pacaran dulu. Tak sebarispun kalimat berbunga dinda ucapkan masa itu, selain hanya merengek, merajuk dan tertawa lepas, ngakak tanpa sungkan sesuai umurmu yang masih sangat muda pada saat itu. Ha….ha….”

“Ah abang, dinda jadi malu. Apakah abang menginginkan dinda tetap seperti dulu? Cengeng, aleman, perajuk dan selalu tertawa ngakak? Dinda ingin berubah bang. Sebagai seorang Isteri Mentut yang latar belakang pendidikan cuma SMP, dinda sadar, dinda harus mengimbangi agar abang tidak malu beristerikan dinda dan kemudian berpaling ke perempuan lain.” Tanpa sadar isteriku kembali ke sifat lamanya, merajuk. Aku cepat mengantisipasi agar keadaan itu tidak berlanjut.

“Ah, hanya bergurau, abang bangga padamu yang kini sangat pesat kemajuannya. Dinda sekarang sudah bisa aktif berkomunikasi dalam beberapa bahasa asing, sudah piawai bicara politik, sosial, ekonomi sampai ke hal-hal yang bersifat ilmiah. Sungguh, sumpah mati dik, abang bangga.” Aku jujur dan bukan hanya sekedar menghibur. “Tapi abang ingatkan, untuk hal yang satu ini jangan dinda utik-utik lagi. Abang tak ingin kelainan yang terjadi pada abang akhir-akhir ini diketahui banyak orang dan menurut abang, tak perlu dibesar besarkan karena sangat riskan dan menjadi ancaman yang dapat menjadi peluang empuk bagi lawan politik kita untuk membantai.”

Semakin bingung dan tak mengerti, isteriku hanya dapat mengangguk dan berkata lirih. “Ya bang, kalau itu keinginan abang.” Kemudian kami berpelukan dan berlanjut di sela rasa sakit yang sementara terkalahkan.

Aku berpeluh dingin, meringis menahan sakit yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ada rasa perih melilit, kembung padat, mual nak muntah dan desakan kuat dari dalam, sulit seperti tumpat dan tak dapat disalurkan dengan kentut atau sendawa. Berkali-kali aku mengalami hal seperti ini dan aku sudah tahu pasti penyebabnya. Namun sampai detik ini aku belum mendapatkan cara, atau obat yang paling efektif untuk menangkal penyebab kelainan perut ini. Untuk mengelak, adalah sesuatu yang mustahil walau terkadang, akibat rasa sakit yang begitu hebat menyerang, terlintas juga di benakku untuk mengangkat gagang telepon, menghubungi dokter Suarmian, dokter keluarga kami. Aku bersyukur, keinginan seperti itu sampai saat ini masih dapat kutahan. Untuk hal yang satu ini, aku takkan mempercayai siapapun dan kuyakin penyakit ini tak akan menghantarkan aku ke liang kubur.

Terus menekan dan mengusap perut dengan berbagai macam minyak gosok. Mulai dari berbagai merek minyak kayu putih, balsem, minyak tanah yang dicampur dengan irisan bawang merah sampai ke upaya yang sangat tradisional, yaitu menggulung-gulungkan botol berisi air hangat keseputar perut. Tampaknya usaha tinggal usaha, namun sakit tak juga berkurang dan ini sangat kusadari. Karena derita seperti hal ini sudah berulang kali ku-idap. Yang dapat meringankan hanyalah, kalau aku dapat mengeluarkan gas yang berkecamuk melalui proses kentut yang berlajut ke buang air besar. Namun itu tak mudah.

 “Sebetulnya untuk menjadi populer dan dianggap sukses mengatasi krisis ekonomi berkepanjangan, banyak hal yang dapat kulakukan.” Aku bergumam dalam hati sambil menahan rasa sakit. “Banyak aspek yang dapat dijadikan solusi pencerahan, demi kepentingan masa depan sekaligus dapat mengharumkan namaku. Namun kenapa aku terlalu gegabah mengambil keputusan. Sebuah keputusan yang berakibat penderitaan panjang bagiku.”

Isteriku, Bu Mentut menahan duka melihat penderitaan yang ditanggung oleh suaminya tercinta dan pemandangan itupun hanya dapat ia lihat dari lubang kunci kamar tidur kami yang sengaja kukunci dari dalam. Tak satupun yang dapat ia perbuat. Ia paham akan temperamenku yang setiap petuah, pesan maupun kata-kataku sama sekali tak boleh dibantah, apalagi dilanggar. Terlalu besar resiko yang ia hadapi apabila hal itu coba-coba dilanggarnya. Namun dibalik itu, aku adalah orang yang sangat perhatian terhadap isteri, anak maupun masyarakat. Karena sifat positif itulah, aku, Pak Mentut dengan usia relatif muda, berhasil dengan karir yang melesat pesat di berbagai bidang, termasuk di bidang politik dan pemerintahan.

Bu Mentut semakin cemas. Sejak pukul dua belas siang tadi, pulang menghadiri temu-wicara dengan para petani ubi di desa Sendolas Rengat Hilir, aku, Pak Mentut tak keluar dari kamar. Tak makan siang. Tak makan malam dan tak menonton televisi. Dari lubang kunci di mana selama ini Bu Mentut dapat melihat situasi keadaan kamar kami. Namun kali ini, hal itu tak dapat ia lakukan. Aku sengaja membiarkan anak kunci menetap pada lubangnya setelah memutar dan mengunci pintu.

Resah berbaur pasrah, Bu Mentut tak lain hanya dapat berdoa semoga hal yang tidak diingini tak terjadi dan hanya itu yang dapat ia lakukan.

Enam bulan lalu, tepatnya Agustus tahun 2001. Aku, Pak Mentut di awal masa jabatan, tanpa melalui proses yang berbelit, tanpa persetujuan staf ahli di bidang gizi dan pangan, serta tanpa persetujuan parlemen karena yakin keputusanku ini tidak akan mengalami rintangan berarti dan memang pada kenyataannya, keputusan ini sangat disambut oleh masyarakat. Keputusan Menteri utama yang disingkat menjadi Kementut bernomor: 01/mentut-Indra/Agust./2001 tentang diversifikasi bidang pangan, yang singkatnya berisikan keputusan tentang keharusan merubah secara progresif revolusioner, bentuk makanan pokok dari beras ke ubi kayu (ketela pohon, singkong). Alasan mendasar dari Kementut yang kukeluarkan adalah, karena semakin tingginya nilai jual beras di pasar internasional, berarti kalau semua beras yang dihasilkan para petani negeri ini dilempar ke pasar internasional, maka otomatis akan dapat lebih mensejahterakan kehidupan petani itu sendiri dan menjadi sumber devisa terbesar bagi negara.

 Sebagai alternatif pengganti, seluruh rakyat diwajibkan untuk mengganti makanan pokoknya ke ubi, dengan alasan ubi adalah makanan pokok pengganti yang paling cocok dan atas  pertimbangan, bahwa ubi mempunyai kadar gizi dan karbohidrat yang memenuhi persyaratan untuk dijadikan makanan utama. Dari sisi lain, ubi juga dengan mudah dapat tumbuh tanpa proses penanaman, pemeliharaan, pemupukan yang berlebihan bahkan dapat tumbuh di halaman-halaman rumah dan tepi jalan.

 “Ha….ha….ha….ha…..” Terdengar lantang suara tawaku yang membuat terkejut isteriku yang sedari tadi dirundung resah dan gelisah.

“Aku korban dari keputusan yang kubuat sendiri.” Aku berkata dalam hati.

“Ubi tak cocok buat perutku namun sesuai buat rakyatku. Walau demikian ketidak cocokan ini biarlah menjadi salah satu rahasia dari sekian rahasia pribadiku dan yang pasti, rahasia yang satu ini akan kubawa sampai mati.”

Sekali lagi isteriku, Bu Mentut yang berdiri di depan pintu kamar kami dikejutkan teriakan lantang dari dalam.

“Dindaaaaaaa! Siapkan makan malam, taruh di depan televisi. Ingat, jangan ada ubi! Aku laparrrrrrrrr!” Disusul derit pintu kamar yang terbuka, memunculkan wajahku yang lega seiring bau busuk menghambur keluar. Bau khas yang sangat dikenal isteriku. Bau yang membuat ia nak muntah. Bau Kentut aku, Pak Mentut suaminya, yang memadati ruang kamar, melepaskan aku dari siksa “Kementut,” namun memberi pencerahan pada kehidupan rakyat.

Alamak…sudah pukul setengah empat subuh rupanya. Bergegas tegak dari mencangkung, aku hanya dapat berharap dalam hati, “semoga ubi selain cocok buat perut rakyat negeri jiran, cocok pula bagi perut para pejabat negaranya”.***


SPN Dantje S Moeis
Perupa, penulis kreatif, redaktur senior majalah budaya “Sagang”, dosen Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR),Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) Pekanbaru.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 26 September 2018 - 13:10 wib

Diana Tabrani-Neno Warisman Mengadu ke Komnas HAM

Rabu, 26 September 2018 - 12:54 wib

Smartfren Hadirkan Voucher Super 4G Unlimited

Rabu, 26 September 2018 - 12:46 wib

JPO Ditutup

Rabu, 26 September 2018 - 12:30 wib

5.131 Hektare Lahan Telah Terbakar

Rabu, 26 September 2018 - 11:55 wib

Dilabrak Istri Pertama

Rabu, 26 September 2018 - 11:26 wib

19 TKI Nonprosedural Dipulangkan Lewat Dumai

Rabu, 26 September 2018 - 11:09 wib

2 Bulan, Beraksi di 8 TKP

Rabu, 26 September 2018 - 10:56 wib

Melibatkan 10 Tenaga Verifikator

Follow Us