Pertahankan Tradisi Sastra Lisan

11 Januari 2015 - 09.46 WIB > Dibaca 676 kali | Komentar
 
Tradisi mendodoi merupakan bagian dari tradisi sastra lisan yang ada di alam Melayu. Hal itu dikatakan seniman Hang Kafrawi yang hadir dalam kesempatan itu. Kafrawi juga menilai, apa yang dikreasikan Long Nur merupakan upaya pengkayaan terhadap khazanah kesenian yang ada di daerah ini.
 
Tradisi mendodoikan anak sudah ditinggalkan dan dilupakan oleh orang sekarang ini sebab untuk menidurkan anak, orang cukup menghidupkan musik dari HP, ucap Kafrawi.

Padahal mendodoikan anak dengan menyenandungkan petatah-pettitih, nasehat dan doa-doa sebenarnya sangat banyak manfaat bagi anak di kemudian hari. Saya yakin itu, psikologi anak, pola tingkah anak bahkan barangkali kecerdasan anak jauh lebih berkembang baik dengan didodoikan ketimbang lagu-lagu kekinian yang dihidupkan dari HP, ucap Kafrawi lagi sembari menambahkan tapi apa hendak dikata, beginilah zaman berbicara.

Pengaruh globalisasi, kesibukan aktifitas orang tua saat ini, tak bisa pula untuk dipungkiri sehingga kegiatan mendodoikan anak yang tentu saja membutuhkan waktu tidak dapat terlaksana dan akhirnya terlupakan.

Terlepas dari hal itu, Kafrawi juga menilai, kreasi yang dihasilkan Long Nur dengan pemahaman seni pertunjukan seadanya, berhasil menciptakan bentuk seni pertunjukan yang baru pula. Tradisi mendodoi menjadi bentuk pertunjukan monolog ala Melayu.
Hal itu kata Kafrawi dapat dilihat misalnya, penampilan Long Nur yang tidak hanya menggelar tradisi mendodoikan anak tetapi dia juga bercerita, bahkan menampilkan tokoh-tokoh imajiner seperti anak, suami dalam pentasnya itu. Long Nur berdialog dengan bayi dan suaminya meski tokoh tidka hadir, ada pula interaksinya dengan penonton. Dan memang kemudian dibumbui dengan humor agar penonton ikut tertawa. Inikan kalau dari segi bentuk hampir samalah dengan konsep monolog atau juga lebih dekat dengan konsep stand up komedi, jelas Kafrawi.

Setidaknya, Long Nur dengan kreasinya memberi corak baru terhadap khazanah tradisi mendodoi yang ada di daerah ini. Ketika anak-anak muda zaman sekarang tidak mengenal tradisi mendodoi, di tangan Long Nurlah kemudian ianya bisa dikenal kembali meskipun dengan konsep yang berbeda. Saya pribadi merasa terharu sekaligus bangga. Dengan pemahaman seni seadanya, Long Nur bisa berkreasi dan berkarya bahkan tidak menghiraukan usianya. Dia tampil bersemangat di hadapan penonton dengan bentuk karya yang diciptakannya sendiri. Pertanyaannya, bukankah ini pekerjaan kita selaku seniman? tutup Kafrawi.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us