Kreasi Mendodoi Anak ala Long Nur

11 Januari 2015 - 09.46 WIB > Dibaca 1047 kali | Komentar
 
Suasana malam di kampung Teluk Belitung tak sepi seperti malam biasanya. Warga yang biasanya duduk di rumah menyaksikan tayangan televisi atau berkumpul dengan keluarga, memilih melangkah ke lapangan sepakbola Setiapati, kelurahan Teluk Belitung Kecamatan Merbau, untuk menyaksikan helat yang bertajuk Merbau Berirama IV, tajaan Pemuda Kreatif Kecamatan Merbau. Dan di helat itulah, Long Nur menunjukkan kebolehannya, sebuah tradisi mendodoi yang kemudian sudah dikreasikan menjadi seni pertunjukan.

Laporan JEFRI AL MALAY, Telukbelitung

MENGENAKAN baju kurung labuh berwarna kuning air dan berselendang merah, layaknya perempuan Melayu, Long Nur tampil memikat sekaligus menggelitik hati penonton yang hadir. Sebuah ayunan dan boneka sudah disiapkan di atas panggung, dengan set dan properti itu pulalah, Long Nur memperagakan polah dan tingkahnya.

Dualah belas tongkang
ke Jambi
Putiklah nenas oi
di dalam kebun
Tidakkah belas tuan
juri melihat kami
Siang berpanas,
malam berembun

Cendrawasih mati terkokol
Mati terkokol oi di balik pintu
Terima kasih bapak protokol
Memberi hambe sedikit
waktu


Demikianlah kira-kira dodoi pembuka dari persembahan seorang perempuan yang dikenal Long Nur itu di atas panggung. Bait demi bait yang dilantunkan perempuan yang telah berusia 56 tahun itu  mengalun sendu, mendayu-dayu, dengan suara khasnya.
Sayang Cik Putih bermain mercon. Mercon dimain oi di pagi raye. Terimakasih para penonton. Karena sudi melihat saye. Untaian bait dodoi pembuka kembali dilantunkan. Lalu, Long Nur pun mendekati ayunan yang sudah tersedia, seraya mengayunkan ayunan tersebut.

Layaknya mendodoikan anak, Long Nur pun berceloteh menimang-nimang boneka di dalam ayunan itu yang diumpamakan bagai seorang bayi. Sembari itu, kembali dia menyapa penonton. Ade tidak penonton di bawah pentas ni, kalau ade, Tepuklah tangan siket, dapat juge menghilangkan lutot menggeleto ni, sapanya yang tentu saja dibalas dengan tepukan tangan dan tawa dari penonton.

Aksinya kemudian dilanjutkan menimang-nimang boneka yang diimajinasikan sebagai bayi tersebut. Petatah-peititih, nasehat selalu mengisi ucapannya. Irama-irama dodoi pun terselip dari setiap ucap, namun demikian, gurau senda dan canda tawa kepada penonton tetap dipertahankannya sebagai upaya untuk memenuhi unsur hiburan.  Tak heran kemudian, gelak tawa tiba-tiba pecah di antara penonton bahkan terlihat sampai menendang-nendang kursi menahan geli melihat aksi Long Nur.

Gileng silade-lade. Gulai kepale siakap. Selame anak mak ade. Kuang siket mak bapak betangkap, timang Long Nur kepada boneka di tangannya yang otomatis kembali mengundang tawa para hadirin.

Laris Manis
Seni mendodoi semulanya dipahami masyarakat Melayu di Kecamatan Merbau sebagai nyanyian saat hendak menidurkan anak. Dalam kegiatan mendodoikan itu biasanya berisikan petatah-petitih, nasehat dan salawat nabi yang dinandungkan sambil mengayunkan ayunan bayi sampailah bayi terlelap.

Oleh Long Nur, kegiatan mendodoikan itu dikreasikannya menjadi seni pertunjukan. Katanya, kegiatan mendodoi itu juga sudah memang melekat di dalam dirinya. Karena orang tuanya dahulu melakukan kegiatan mendodoi tersebut sebagai aktivitas sehari-hari untuk menidurkan anak termasuklah dirinya.

Jadi tidak heran kemudian ketika diminta oleh seseorang di kampungnya untuk tampil mendodoi, Long Nur tidak menolak. Dan sejak beberapa tahun dululah, dia memulai dan mencoba kebolehannya yang semula tidak disangka-sangka dapat diterima. Mendodoi ni kan memang sudah ada sejak dahulu, sejak orang-orang tua kita dahulu. Dulu, waktu kecil, masih ingatlah bagaimana nenek atau mak kita mendodoikan kita, itulah yang saya kreasikan. Tak sangka pula, laku barang klasik macam gini di zaman kenen, ucap ibu dari empat orang anak ini polos.

Banyak tradisi-tradisi dahulu yang tidak diketahui oleh orang-orang zaman sekarang termasuklah tradisi mendodoi. Hal itu juga menjadi motivasi Long Nur untuk tidak menolak permintaan kepada dirinya agar memperkenalkan kembali tradisi mendodoi di kalangan generasi hari ini. Dengan berbagai upaya, akhirnya bentuk tradisi mendodoi itu, kembali dapat dipergelarkan di hadapan khalayak tentu saja dalam kemasan yang berbeda.

Jika pada masa dahulu, orang tua-orang tua hanya mendodoikan anak dengan senandung dan nyanyian di dalam rumah tetapi Long Nur mengkreasikannya dengan memasukkan unsur-unsur komedi dari polah tingkah dan dialog-dialog keseharian yang dialami baik dirinya atau masyarakat.

Jadi memang, susah-susah mudah juga nak memulai pentas mendodoi ni. Sebab kalau sudah di atas pentas, macam hilang semua yang sudah direncanakan. Tetapi kadang, melihat penonton terbekah-bekah ketawa, timbul pula ilham tu. Memacamlah yang disebut di atas panggung tu. Siapa yang merasa, biasanya terpingkal-pingkallah dia ketawa, cerita perempuan yang kesehariannya diisi dengan kegiatan berkebun dengan suaminya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Sedangkan irama yang didodoikan Long Nur dalam setiap pentasnya, menggunakan syair-syair dan nyanyian anak-anak yang masih melekat dalam ingatannya. Sebagaimana alam Melayu sangat kaya akan irama syair-syair, hal itu juga diakui Long Nur. Katanya, di tanah kelahirannya sendiri sangat kaya dengan irama-irama syair dan nyanyian-nyanyian ermainan masa kecil. Irama itulah yang saya bawa di setiap pentas saya.  Tapi pada pertunjukan saya di acara malam ini (Merbau Berirama IV red), saya pakai irama zaman dulu, irama ketika dukun-dukun memanggil hantu kalau nak mengobat orang sakit, ucapnya.

Selain itu, kata Long Nur, irama maulud, marhaban, juga terkadang dimasukkan dalam pentas mendodoinya. Tergantung kepada keperluan dan apa yang teringat di atas pentas saja. Hanya saja yang terpenting dari semua pementasannya adalah kesantunan dan setiap ucapan berupa merepeik itu jangan sampai melukai hati orang. Kadang di atas panggung tu, kita merepeik-repeik je, makanya perlu dijaga setiap ucapan, agar jangan sampai melukai hati orang, itu yang paling penting, ucapnya tegas.

Perempuan Serba Bisa
Dalam kesehariannya, Long Nur dikenal oleh masyarakat sebagai perempuan serba bisa. Artinya berbagai kegiatan dan pekerjaan sering dilakukannya tanpa mengenal kata gensi atau malu-malu. Hal itu dikatakan oleh salah seroang pemuda, Firdaus. Katanya Long Nur ini memang dikenal tak pandai malu.
 
Semua pekerjaan dibuat. Nak melait, nak bekebun sampai mendorong gerobak pun dibuat dia. Belum lagi kegiatan perempuan lainnya, main kompang, rabbana, maulid, marhaban, pokoknya serba bisalah perempuan satu tu. ucap Ketua  Pemuda Kreatif Kecamatan Merbau sekaligus ketua pantia pelaksana Festival Merbau Berirama IV tersebut.

Penampilan Long Nur di acara itu juga kata Firdaus karena tahun sebelumnya Long Nur berhasil meraih juara satu dalam lomba mendodoi. Bahkan di tingkat Kabupaten, Long Nur pernah meraih juara dua. Dijelaskan Firdaus juga, selaras dengan kegiatan Merbau Berirama yang dilaksanakan sudah memasuki tahun ke empat adalah guna menggairahkan kampung dengan seni budaya yang dimiliki.

Kami menginginkan regenerasi dari kesenian dan kebudayaan kita. Kita tampak zapin sudah berkuranng di Merbau ini. Apa lagi mendodoi, anak-anak muda sudah banyak yang tidak tahu. Tentu saja, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi lebih besar dan lebih baik setiap tahunnya. Dengan begitu, capaian yang menjadi misi utama dapat betul-betul terwujud dalam mengembangkan kesenian dan kebudayaan di kalangan masyarakat terlebih generasi muda. Memang saya akui, helat kami ini tidaklah besar, tidaklah menggaung tapi inilah yang bisa kami lakukan. Paling tidak, riak-riak seni budaya di kampung kami tetap dapat merecup setiap tahunnya dan untuk itulah kami selalu berharap kerjasama dari berbagai pihak, harap Firdaus.

Sementara itu, ketika ditanyai tanggapannya mengenai prestasi yang telah didapat, Long Nur tidak terlalu menghiraukannya. Apa yang penting baginya adalah bisa tampil dan menghibur masyarakat. Terlebih lagi dapat menghibur dengan apa yang dimiliki dari tradisi-tradisi yang ada sejak dahulu. Cuma yang disayangkan, tidak semua orang pula yang berminat dengan mendodoi ni, apalagi budak-budak muda zaman sekarang, langsung tak lekat di hati mereka. Kalau bernyanyi banyak yang pandai, tapi tak ada keinginan nak belajar mendodoi ni de,macam gengsi die masing-masing, jelas perempuan yang ternyata, almarhum ayahnya adalah seniman kampung sebagai pemain gambus.

Saat ditanya, ada atau tidak keinginannya untuk tampil di tingkat Provinsi, Long Nur mengekpresikan keterkejutannya seraya mengucapkan Bisa tampil di Provinsi saya ni? Tapi kalau memang ada kesempatan, dan umur panjang, sehat badan, dan ada yang mengundang, tentulah Long hendak juga pergi, tutup Long Nur dengan senyuman. (fed)
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 12:00 wib

ASN Tersangkut Narkoba Terancam Dipecat

Jumat, 21 September 2018 - 11:40 wib

Bupati Hadiri Rakornas APKP

Jumat, 21 September 2018 - 11:32 wib

Aplikasi BPJSTKU Raih Penghargaan ASSA Recognition Award di Vietnam

Jumat, 21 September 2018 - 11:24 wib

Komitmen Tolak Politik Transaksional

Jumat, 21 September 2018 - 11:20 wib

Terima 278 Formasi CPNS

Jumat, 21 September 2018 - 10:52 wib

Tim Yustisi Amankan 58 Warga Tanpa Identitas

Jumat, 21 September 2018 - 10:11 wib

UAS Jadi Perhatian Peneliti

Jumat, 21 September 2018 - 10:05 wib

Curi Besi Alat Berat, Dua Sekawan Dibekuk Polisi

Follow Us