Oleh: Bambang Kariyawan Ys

Renjis Biah

11 Januari 2015 - 09.53 WIB > Dibaca 1653 kali | Komentar
 
Aku masih gelisah. Walau malam ini malam berinai bagiku. Inai yang menandakan kalau aku telah memasuki sebuah dunia baru. Dunia bahagia, kata orang-orang yang menyapaku. Tapi aku tak bisa mengerti tentang lintasan-lintasan hati yang selalu membisikkan akan sebuah ketidakyakinan. Entah itu apa. Suara-suara yang terdengar lirih menembus labirin di gendang tipis telingaku.

“Dia bukan untukmu.” Bisikan-bisikan yang membuatku bertanya-tanya mengapa ketidakyakinanku baru muncul saat kebahagiaan itu seharusnya kujelang. Detik-detik mendebarkan yang menyenangkan bagi sepasang insan yang akan mengikat diri menjadi satu.
Inai yang sedang berada di tanganku menjadi bisu. Seakan mengejekku dengan sikap ketidakyakinanku. Sikapku mengundang tanya dan heran orang-orang yang berada di sekitarku.

“Ada apa denganmu Biah?” Emak mendekatiku yang sedang menakung di tepi jendela. Inai yang berada di tanganku berubah warnanya karena tetesan air mataku.

“Entahlah Mak. Biah tak tahu dengan perasaan Biah.” Aku sandarkan kepalaku di pangkuan emak yang semakin renta. Terbayang kata-kata emak saat ayun budak dilaksanakan untukku, aku tak mau diayun bila tak mau lepas dari pangkuan emak.

“Biasalah tuh. Emak dulu juga seperti ini. Lama-lama terbiasa dengan orang yang akan kau sebut suami.” Emak bercerita kalau dulu dirinya saat berinai selalu mengundang tanya. Siapakah gerangan lelaki yang akan menjadi suami. Tak pernah ada pilihan untuk seorang perempuan membuat pilihan akan masa depannya.

Aku masih ingat perkenalanku dengan Bang Johan, yang saat ini akan menemani hari-hariku. Masih terngiang rayuan-rayuan cintanya saat aku dan Bang Johan selesai menyaksikan teater Tun Teja di gedung teater Idrus Tintin, gedung teater termegah di pulau Andalas ini. Berteman jagung dan pisang bakar yang berjejer di sepanjang trotoar kudengar dengan khusuk setiap kalimat yang mengalir dari mulut Bang Johan.

“Apakah telah ada lelaki lain di hati Biah?” Bang Johan menawarkan aroma cinta padaku.

“Tidak Bang.” Jawabku ragu. Haruskah kusambut aroma yang ditawarkannya? Kumenerawang memandangi selembayung dan ukiran pucuk rebung yang berkelindan di gedung teater itu.

Berbohongkah aku? Entahlah kegamanganku yang harus membenarkan pertanyaan Bang Johan. Bulan sabit pun patah di ujung rumah-rumah panggung Selaso Jatuh Kembar khas Melayu Riau.

Aku selalu menepis aroma cinta bila bayang-bayang trauma hadir saat kubersama dengan Bang Johan. Bayang-bayang seorang lelaki malam yang pernah mendatangiku di kamar lelapku. Lelaki malam yang pernah hampir menampar keperempuananku. Keberanian dari mana akupun tak tahu, kalau saat itu aku mampu menjengkangnya sekuat tenagaku. Aku hanya ingat di keremangan lampu tidur sempat kulihat ada satu tanda lahir di punggungnya. Sejak itu aku selalu trauma bila ada lelaki yang datang untuk mendekatiku. Tangisan tak pernah henti sejak peristiwa itu. Bermacam pengobatan dan konsultasi kejiwaan kulalui. Tidak mudah menerima kehadiran Bang Johan hingga menjadi calon suamiku saat ini.

Bang Johan yang berulang kali datang mencari simpati dari orang tuaku. Bolu kemojo dan dodol lempuk durian menjadi rutinitas buah tangannya untuk keluarga. Menyenangkan hati emak yang memang sangat suka dengan kue khas Riau itu. Trauma yang sempat membuatku mengurung diri perlahan-lahan pulih seiring bujukan dari ayah, emak, dan saudara-saudaraku. Ditambah keseriusan Bang Johan yang tampak ketika mengajak orang tuanya untuk bersilaturahmi dengan keluargaku. Aku masih ingat bagaimana keluarga Bang Johan merisik melalui ayah dan emak. Aku dari sebalik kamar mendengar jawaban yang menyatakan menerima Bang Johan.  

“Prinsipnya kami menerima nak Johan. Jadi  kapan nak meminang dan mengantar tanda?”

Keseriusan Bang Johan dan keluarganya dilanjutkan dengan mengantar sebentuk cincin emas sebagai tanda meminang dan mengantar tanda. Cincin tanda aku telah diikat oleh seorang lelaki.

Seperti kilasan waktu hari menggantung pun tiba. Hari kelima menjelang hari pernikahanku. Kulihat pentas pelaminan telah dipasang dengan dominasi warna Melayu, kuning, hijau, dan merah. Pelaminan yang telah ditepung tawari dipasang hiasan berupa tabir belang yang digantung oleh juru pelaminan. Tabir belang berwarna kuning, hijau, dan merah digantung pada empat sisi pelaminan. Kulihat tempat duduk pelaminan yang akan menyandingkan aku dengan Bang Johan telah dipasang bantal papan dan bantal susun.

Malam hari di antara pelaminan kosong belum berpenghuni itu, Mak Andam menyiapkan tepak sirih, inai, lilin lebah, bedak sejuk, kain lap, lilin, sabun mandi, dan piring beralas serbet sebagai kelengkapan untuk berinai. Tangan, kuku, keliling tapak kaki dan tangan, dan tapak kaki ini penuh dengan inai sebagai tanda kesiapan diriku menyambut mahligai rumah tangga.
Malam ini, aku ditemani Siti, teman baikku yang selalu setia menawarkan telinganya untuk mendengarkan keluhanku.  

“Entahlah Siti, selalu saja ada bisikan-bisikan yang berusaha membatalkan rencana pernikahan ini,” keluhku. Semakin menjelang akad nikah yang awalnya bisikan itu halus, kini seperti berubah menjadi suara-suara yang berbicara tanpa wajah di hadapanku.

“Sebenarnya Biah sayang tidak sama Bang Johan,” tanya Siti sambil menyusun kelengkapan-kelengkapan untuk acara pernikahanku. Bunga berwarna-warni menghiasi kamar pengantinku.

“Entahlah Siti, bisikan-bisikan itu membuatku jadi ragu dengan pilihanku.” Kuhirup aroma bunga tanjung yang ditebarkan di setiap sudut ruang dan kamarku.

Aku hanya diam melihat Siti menyiapkan beras basuh, beras putih, beras kunyit, bunga rampai serta ikatan bahan tepung tawar berupa daun kalinjuhang, daun pepulut, daun ganada rusa, daun jejeruan, daun sepenuh, daun sedingin, rumput sambau dan akarnya.

“Kau tahu Biah, apa makna yang sedang aku siapkan ini?” tanya Siti sambil menyiapkan dulang tinggi tempat semua bahan disatukan. Begitu detilnya Siti menyiapkan semua yang akan digunakan untuk kelancaran pesta perkawinanku.

“Semua orang sudah tahu Siti, itu tepung tawar.” Heranku atas pertanyaan Siti yang menimbulkan tanya kembali.
 
“Ya, semua orang tahu itu, tapi tahukah kau maknanya?” Siti berusaha menjelaskan makna terdalam yang dikandung dari tradisi tepung tawar ini.

“Tepung tawar  itu adalah simbol peresmian ikatan suci. Tepung tawar bukan sekedar merenjis. Namun pahamilah bahwa ketika ikatan terikrarkan maka lupakan kegelisahan atas pilihan lain dan belajarlah setia pada pilihan itu.” Sebuah nasehat yang mengingatkanku pada kesetiaan yang harus dijunjung tinggi oleh perempuan-perempuan Melayu.

“Entahlah Siti, aku seperti tak kuasa untuk memberi alasan ketika Bang Johan mengeluarkan kata-kata sayangnya, aroma cintanya, dan sentuhan kelembutannya. Kepasrahanku sebagai perempuan yang tak tahan menerima kata-kata sanjungan.”

“Sudahlah ... lupakan keraguan itu. Aku mau menyiapkan pulut balai yang indah untuk acaramu esok,” alih Siti sambil membolak-balik pulut kuning untuk menyusun pulut balai. Pulut balai dibuat dari kayu berkaki empat dan tingkatnya ada yang 3 atau 7 dan setiap tingkat berisi pulut kuning sebagai lambang kesuburan dan kemuliaan. Pada tingkat paling atas dari balai biasanya diletakkan panggang ayam sebagai lambang pengorbanan atau pun inti berupa kelapa parut dimasak dengan gula aren. Setiap tingkat dari balai tersebut diletakkan telur dibungkus kertas minyak yang sudah dihias dan bertangkai lidi, kemudian dipacakkan ke pulut balai.

Seri matahari pagi sepenggalahan, berandam dilakukan untukku. Mak Andam mencukur bulu roma di wajah, membersihkan muka, membetulkan alis dan anak rambut.

Kusambut pagi dengan lelah. Aku mengenakan pakaian Melayu berwarna kuning. Sunting keemasan bertengger di kepalaku. Tanjak dengan bros keemasan melekat di kepala Bang Johan.  Sebuah keris terselip di antara sarungnya. Cekak musang Bang Johan senada dengan baju yang kukenakan. Tenun songket Siak yang sangat gemilang kami kenakan. Akad nikah pun digelar, aku mengikuti ritual sakral ini dengan meresapi setiap detil yang dilakukan. Aku hayati pantun yang berbalas sebagai penenang hatiku yang resah.

Batang ramai suka memanjat
Melilit sampai pohon meranti
Datang kami mempunyai hajat
Ingin menyampaikan hasrat hati

Kain puteri sulaman pelangi
Cantik dan molek jadi idaman
Dahulu kami pernah berjanji
Memetik bunga kembang di taman


Majelis kebahagiaan aku lalui bersama Bang Johan yang  menyatukan kami sebagai suami istri pun kami lalui.  Beras basuh, beras putih, beras kunyit, dan bunga rampai berulang kali direnjiskan kepada kami. Kucoba menikmati kebahagiaan ritual ini.

Makanan mengundang selera hadir di hamparan meja. Gulai asam pedas ikan patin, roti jala berkuah kari dan durian serta air es laksamana mengamuk kunikmati di sela menerima uluran selamat padaku. Kuperhatikan senyum ayah dan emak membuatku larut dalam bahagia. Orkestra musik khas Melayu berganti-gantian menyanyikan lagu-lagu Melayu klasik. Sri Mersing, Patah Hati, Fatwa Pujangga, Kuala Deli, Mak Inang Pulau Kampai, Pengantin Baru, dan lagu-lagu lainnya menambahkan hati ini semakin bersenandung. Gesekan akordian dan biola, dentingan orgen, pukulan bebano dan kompang bersatu dalam harmoni yang mendayu-dayu.

Di kamar pengantin  yang berhiaskan warna-warna biru kesukaanku, aku malu bisa bersama lelaki yang kini telah menjadi suamiku. Sepinggan sisa tepung tawar kugenggam-genggam sebagai tanda malu. Bang Johan telah melepaskan baju teluk belanganya. Namun ketika Bang Johan membalik, di punggungnya kulihat tanda lahir yang sempat menghantuiku selama ini. Aku bergerak cepat melemparkan sepinggan tepung tawar ke badan Bang Johan. Aku berteriak sekuatnya.

“Emak!!! Bang Johan, Mak! Dia yang dulu mau memperkosa, Biah!!”***


Bambang Kariyawan Ys
Guru Sosiologi SMA Cendana Pekanbaru. Aktif bergabung di Forum Lingkar Pena Riau. Telah menerbitkan buku kumpulan puisi, kumpulan cerpen, novel, dan pendidikan. Peserta undangan MMAS (Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra) Kemdiknas 2010, Penerima Anugerah Sagang 2011, Nominator Anugerah Pena 2013, dan Peserta Ubud Writers and Readers Festival 2014.
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi ’’Amankan” Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Senin, 19 November 2018 - 15:28 wib

Imaculata Autism Boarding School Beri Award pada Kompol Netty

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta

Follow Us