Oleh: Agus Sri Danardana

Keris

11 Januari 2015 - 09.53 WIB > Dibaca 1119 kali | Komentar
 
Keris
Agus Sri Danardana
Secara umum, keris dimaknai sebagai ‘senjata tajam yang bersarung, berujung tajam, dan bermata dua (bilahnya ada yang lurus, ada yang berkeluk-keluk)’ (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008:681). Dalam perkembangannya, pengertian/makna keris sering mengalami perubahan seiring dengan perkembangan rasa bahasa dan sistem simbol dalam masyarakat penggunanya. Di Jawa, misalnya, keris dianggap sebagai istilah yang tumbuh dari jarwadhosok ‘akronim’: ke dan ris. Ke akronim dari kekeran ‘pagar, penghalang, peringatan, pengendalian’, sedangkan ris akronim dari aris ‘tenang, lambat, halus’. Keris, dengan demikian, dipahami sebagai alat defensif dengan konsekuensi akan pentingnya penekanan tentang kesadaran etis yang mengesampingkan performan keris sebagai senjata tajam yang keras dan agresif.

Pengertian seperti itu biasanya berbarengan dengan pemolesan makna simbolis tentang kesejahteraan hidup melalui konsepsi angsar, yakni kepercayaan akan adanya kekuatan dalam karya estetik yang akan dapat mendatangkan keberuntungan. Dalam proses regenerasi, “pesan moral” seperti itu dianggap sebagai wasiat ‘nasihat peninggalan nenek moyang’ yang wajib dijalankan. Di satu sisi, keris ditempatkan sebagai senjata untuk perlindungan diri, di sisi lain keris menjadi simbol kedewasaan, kepercayaan, kebebasan, serta tanggung jawab sosial dalam masyarakat.

Dalam keluarga masyarakat Jawa, seorang ayah biasanya akan memberikan bilah keris kepada anak perempuannya yang akan menikah. Keris itu kemudian diserahkan kepada (calon) suami (untuk disimpan), di samping sebagai tanda adanya ikatan berdasarkan persetujuan keluarga terhadap (calon) menantu, juga sebagai tanda penyerahan tanggung jawab atas anak perempuan dari seorang ayah kepada menantu (dan besan) untuk mendapatkan kasih sayang, perlindungan, dan kesejahteraan. Jika keluarga baru itu kandas (bercerai), keris akan diserahkan kembali ke mertua (disimpan oleh perempuan yang menjanda). Keris akan dikeluarkan kembali jika si janda menikah lagi.

Pewarisan keris dapat pula dilakukan atas dasar kepercayaan kepada pihak lain, bukan atas dasar keturunan (proses regenerasi). Dalam kasus-kasus tertentu, pewarisan keris bahkan terkait dengan simbol garis penerus yang berhubungan dengan kapasitas khusus tertentu dalam tradisi, seperti pewarisan otoritas yang dimiliki seorang tokoh/kerajaan kepada tokoh/kerajaan lain yang dipercaya dapat memegang amanat.

Taufik Ikram Jamil (TIJ), penyair Riau ternama, pernah menjadikan keris sebagai sumber inspirasi salah satu sajaknya. Sesuai dengan judulnya, “tameng sari kuserahkan kembali”, sajak 9 bait (dimuat dalam Fragmen Waktu, 2010:106—107) itu berkabar tentang ihwal keberadaan keris tameng sari.

sumpah itu tak akan pernah terlupakan
makanya keris tameng sari ini sempat lama kusimpan
jadi semerbak kuntum-kuntum bunga
berucap pada negeri-negeri jauh
dengan kefasihan mantera tanpa keluh


Begitulah bunyi bait pertama sajak “tameng sari kuserahkan kembali” itu.

Perlu diketahui bahwa pada mulanya Tameng Sari adalah nama seorang hulubalang (pendekar) kerajaan Majapahit. Ia memiliki sebilah keris yang sangat sakti. Dalam Hikayat Hang Tuah disebutkan bahwa Tameng Sari, karena mengamuk dan hendak membunuh raja Majapahit saat menerima kunjungan hulubalang kerajaan Melaka, mati di tangan Hang Tuah. Atas kejadian itu, keris Tameng Sari dihadiahkan oleh raja Majapahit kepada Hang Tuah. Sejak saat itu keris itu pun disebut keris tameng sari. Konon, keris tameng sari itu pula yang digunakan Hang Tuah untuk membunuh Hang Jebat.

Penghadiahan keris tameng sari dari raja Majapahit kepada Hang Tuah, setidaknya, memiliki dua makna. Di samping merupakan sebuah pengakuan (atas ketangguhan Hang Tuah) dan tanda ikatan persahabatan (atara Raja dan Hang Tuah, Majapahit dan Melaka, bahkan Jawa dan Sumatera), penghadiahan itu juga merupakan simbolisasi dari sebuah prosesi pewarisan otoritas kerajaan Majapahit kepada kerajaan Melaka yang dianggap mampu memegang amanat. Betulkah demikian? Wallahualam bissawab.

Yang pasti, bagi si aku lirik (TIJ), menyimpan keris tameng sari bukan sekadar karena adanya kewajiban pemenuhan atas sumpah/janji, melainkan juga karena adanya pengakuan: dengan kefasihan mantera tanpa keluh atas keberadaan keris tameng sari (dengan segala makna simbolisnya) yang telah mengharum ke negeri-negeri jauh sekalipun.

Meskipun demikian, pada bait 2, si aku lirik mencoba menampik hal itu dengan mengatakan, “tapi aku memang bukan yang dulu/sementara itu engkau begitu lembut untuk diri sendiri/hingga aku menduda dari catatan-catatan laku/yang tak panjangkan sua kita/pada tali persaudaraan yang kian pendek”. Oleh karena itu, si aku lirik pun membuat keputusan (bait 3) seperti berikut ini.

lalu kuserahkan kembali keris tameng sari ini
bersama kisah pilu di hulunya
tempat kita sama-sama pernah bergenggam
ketika berbagai mimpi diandam
di tengah jaga yang menjelang
tetapi dalam tidur pun tiada bertemu
nasib baik terpuruk ke dalam angan-angan


Setelah membeberkan berbagai kekecewaannya (dengan menyodorkan keironisan-keironisan yang dinyatakan pada bait 4, 5, 6, 7, dan 8), aku lirik menutup sajaknya dengan mengulang keputusannya (bait 9) seperti berikut ini.

kuserahkan kembali keris tameng sari ini
sebelum tikamnya menjadi makin runcing
di tanganku kehilangan kendali
karena jarak yang kian tersarung
untuk kesalahan yang terus terasah
dalam catatan-catatan berbatu
yang telah mencalarkan diri sendiri
demi marwah yang makin basah oleh air mata


Atas pembacaan sederhana seperti itu, dua simpulan dapat dibuat. Pertama, keris tameng sari (oleh si aku lirik) tidak hanya dipahami sebagai senjata untuk perlindungan diri, tetapi juga dipahami sebagai simbol ikatan persaudaraan antarkita: aku dan engkau, Melaka dan Majapahit, dan/atau daerah (Riau/Sumatera) dan pusat (Jakarta/Jawa). Kedua, keris tamengsari dikembalikan karena si aku lirik kecewa, merasa telah dikhianati oleh engkau: pemberi keris tameng sari. Salam.


Agus Sri Danardana
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us