Oleh: Muhammad Hapiz

Kemanusian dan Ketentraman

18 Januari 2015 - 00.31 WIB > Dibaca 1240 kali | Komentar
 
Kemanusian dan Ketentraman
Muhammad Hapiz

DUNIA tanpa batas. Kondisi ini bukan saja pada alam maya atau internet saja. Dunia tanpa batas juga bisa diakses pengungsi yang mendapatkan legalitas dari badan dunia di bawah naungan PBB bernama UNHCR. Mereka bukanlah ras nomaden, berpindah-pindah sesukanya. Tapi mereka lari dari negaranya karena merasa terancam hidup, tidak ada ketentraman disebabkan kecamuk perang, konflik berdarah antar suku, atau antar aliran agama.

Pengungsi akibat perang dan konflik berdarah juga setua manusia di muka bumi ini. Sifat alamiah manusia, bahkan binatang sekalipun, akan mencari rumah atau sarang yang tenang hingga bisa ‘’bercocok tanam’’ demi kelangsungan keluarga. Catatan dunia memaparkan banyak peristiwa kekejaman atau pembunuhan massal terjadi. Tentu ingat kekejaman Tentara Nazi yang terkenal dengan peristiwa Auschwitz-Bierkenau di Polandia. Ratusan ribu orang Yahudi, terutama kaum homo, gipsi, politikus, orang cacat, wanita masa subur, dibunuh secara massal di tempat itu menggunakan gas beracun Ziklon B dalam ruangan kamar mandi palsu. Juga tidak akan lupa kekejaman perang Bosnia-Herzegovina, dimana sedikitnya 8.300 warga sipil muslim Bosnia dibunuh dengan kejinya. Catatan di Rwanda juga tidak  kalah hebat  memilukan. Dalam waktu hanya 5 jam, 10 ribu pengungsi Suku Tutsi dibantai secara massal tanpa ampun oleh ekstrimis Suku Hutu. Amerika juga tidak ketinggalan mencatat sejarah berdarahnya. Konflik diskriminasi Ras Afro-Amerika (kulit hitam), terutama pada 28 Agustus 1963 yang menuntut penyetaraan hak, juga tidak sedikit menelan korban.  Di Indonesia, peristiwa berdarah terjadi pada 1965, masa pembumihangusan PKI juga menjadi sejarah kelam.

Pada masa apapun, abad berapapun, pengungsi dengan berbagai nama tetap ada mencari ruang baru nan tenteram di muka bumi ini selama ketentraman tidak bisa diciptakan. Memasuki abad 21 ini, rentetan perang terjadi di negeri tanah arab, timur tengah, asia pasific. Suriah berkecamuk dengah hebatnya. Mesir, Irak, Libanon dan lainnya juga mengalami konflik dan perang tak berkesudahan. Kediktatoran pemimpin juga menimbulkan ketidaktentraman hingga berujung pemberontakan. Hingga manusia-manusia dari tengah bumi itu bergerak mencari rumah baru, mengungsi. Tak takut ganasnya laut, ketidakpastian tempat tujuan baru, pengungsi nekat meninggalkan tanah kelahirannya.

Secara keseluruhan, jumlah pengungsi dan pencari suaka yang dicatat UNCHR hingga Juni 2014 mencapai 51,2 juta orang. Pengungsi paling banyak berdasarkan negara sumber adalah orang Afghanistan, Suriah dan Somalia yang jumlahnya separuh dari seluruh jumlah pengungsi global. Pengungsian besar baru juga terlihat dari Afrika, terutama di Republik Afrika Tengah (CAR) dan Sudan Selatan.Untuk Indonesia, sampai November 2014, ditangani 4.456 pengungsi. Dari jumlah itu, 38 persen datang dari Afganistan, 18 persen Myanmar, Sri Lanka 8 persen dan Somalia 8 persen serta lebihnya dengan persentase kecil dari negara lainnya seperti Iran, Irak, Palestina.

Indonesia bukan negara pihak Konvensi 1951 tentang Status Pengungsi atau Protokol 1967 sehingga Indonesia tidak memiliki kerangka hukum dan sistem penentuan status pengungsi. Sehubungan dengan keadaan tersebut, UNHCR menjadi badan yang memproses permintaan status pengungsi di Indonesia. Ramainya pengungsi yang kini menetap di Indonesia karena mayoritas mereka berstatus transit untuk memasuki Negara Australia. Australia adalah pihak negara dalam Konvensi 1951 dan protokol 1967 itu dan negeri itu menjadi primadona tujuan karena terkategori yang mapan secara ekonomi.

Tapi kebijakan terbaru Negara Australia soal pengungsi ini patut diperhitungkan Indonesia untuk mengambil langkah selanjutnya. Australia sudah mengetatkan pemberian suaka politik terhadap permintaan pengungsi dalam beberapa bulan terakhir ini. Australia menerapkan kuota terbatas. Sehingga ribuan pengungsi yang transit menunggu untuk diterima Australia makin tidak jelas nasibnya, hari, bulan bahkan untuk berapa tahun mendatang. Kebijakan Australia ini meniru sebagian negara Eropa yang juga mengetatkan untuk menerima pengungsi. Hal mendasar terjadi pengetatan itu karena sering terjadinya kerusuhan, pertikaian, baik antar sesama pengungsi atau dengan orang sekitarnya akibat sulitnya mereka beradaptasi karena beda budaya, ras ataupun agama.

Kini sebagian pengungsi itu berjalan, berkumpul dan beraktivitas di depan mata kita. Di Pekanbaru disebut jumlahnya 533 orang berasal dari berbagai negara, terutama timur tengah. Anehnya, Dirjen Imigrasi Kemekumham di Jakarta merasa heran kenapa jumlah pengungsi itu makin banyak di Pekanbaru. Dirjen Imigrasi merasa tidak pernah mendatangkan mereka ke Pekanbaru, apalagi dengan jumlah ratusan. Siapa yang mendatangkan dan kenapa ke Pekanbaru? Apakah ruang gerak mereka demikian leluasanya? Apakah memang ada mafia pengungsi yang mencari untung dari keadaan mereka ini? Sebagai negara hukum, semestinya pertanyaan ini bisa dijawab dan ditindak oleh pengambil kebijakan di negeri ini dengan mudah.

Pengungsi adalah manusia yang memang harus dimanusiakan. Riau (kini Kepri) bukan tidak pernah mengelola pengungsi. Kurun waktu 1975-1979, ratusan ribu pengungsi Vietnam pernah ditangani UNHCR dan Pemerintah Indonesia. Cara mengelolanya sederhana, ditempatkan di sebuah pulau yaitu Pulau Galang dan ditangani secara khusus. Hingga kini pulau itu malah menjadi destinasi wisata di Provinsi Kepulauan Riau. Itu satu pemikiran menangani pengungsi. Karena pemerintah perlu lebih bersiap diri. Perang dan konflik di timur tengah dan asia pasifik masih terus saja terjadi. Jumlah pengungsi bisa kian besar. Indonesia satu dari sekian banyak daerah tujuan. Apalagi sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di Indonesia, tentu saja menjadi pertimbangan penduduk yang ingin mengungsi dari negeri muslim lainnya. Rasa kemanusian dan sesama muslim, tentu kita welcome. Tapi kalau malah mengganggu keamanan, sosial dan kebudayaan kita, pemimpin negeri ini harus tegas. Jangan sampai rasa kemanusian kita malah mengancam rasa ketentraman kita di kemudian hari.***


Muhammad Hapiz
Redaktur
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Sabtu, 17 November 2018 - 08:31 wib

Dari Ambon Daihatsu Jelajahi Pulau Seram

Follow Us