Mengolah Kekuatan Tradisi

18 Januari 2015 - 00.31 WIB > Dibaca 997 kali | Komentar
 
Bermula dari sebuah keinginan, kerja keras dan kebersamaan, belasan musisi, pelaku musik, dan komposer dari berbagai kota bahkan mancanegara berhimpun di sebuah kampung kecil. Mereka hendak pula berbagi pengalaman bermain dan mencipta karya musik yang dituangkan dalam workshop, seminar, diskusi bahkan gelar karya. Semuanya terkemas dalam helat bertajuk Bokor World Music Festival, Tradition Music For The Next Generation.

Laporan JEFRI AL MALAY, Bokor

HELAT yang diselenggarakan pada 3-7 Januari lalu itu ditaja Sanggar Bathin Galang di salah satu ceruk kampung bernama Bokor, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Berbagai kelompok dan komunitas musik dari daerah luar berkumpul dan menggelar karya mereka dengan ragam garapan yang berangkat dari corak musik tradisi masing-masing daerah.

Ketua pelaksana sekaligus pimpinan sanggar Batin Galang, Sopandi menyebutkan helat perdana yang dilakukan ini memang difokuskan kepada musik tradisi. Tiap-tiap komunitas yang hadir, menggelar karya musik mereka di mana tradisi menjadi roh dari setiap karya yang dipergelarkan.

Dijelaskan Sopandi juga, tujuan dari helat tersebut tak lain untuk memperkaya khazanah musik tradisi terutama dari kalangan generasi muda. Hal itu dipandang perlu, karena kebanyakan anak muda saat ini, hampir tidak lagi peduli dengan musik-musik tradisi yang dimiliki. Karenanya, di samping gelar karya, juga diadakan seminar musik tradisi bagi kalangan generasi muda yang tergabung di sanggar-sanggar yang ada di Kabupaten Meranti, termasuklah siswa-siswa di dalamnya. Hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut, Jart Hassan asal Malaysia, Tengku Rahimah dari LAM Riau dan komposer Riau, Seniman Pemangku Negeri (SPN) Zuarman Ahmad. Ya, paling tidak kami berharap dengan helat ini, adanya upaya bersama dalam hal pelestarian musik tradisi, kalau kita tentunya musik Melayu, ucap Pandi sapaan akrabnya.

Selain itu, helat Bokor World Music Festival ini juga diharapkan mampu memberikan tontonan dan suguhan seni pertunjukan kepada masyarakat kampung. Pandi berpendapat, orang kampung juga berhak mendapat kesempatan yang setara dengan masyarakat di perkotaan terutama dalam hal apresiasi terhadap pertunjukan seni. Dengan hadirnya para musisi, seniman musik dari berbagai provinsi bahkan dari manca negara, masyarakat kampung bisa menyaksikan ragam karya musik. Apalagi generasi muda, dapat melihat geliat dan kreasi para musisi hebat yang mampu berkarya dengan tetap mengedepankan kekuatan tradisi sebagai sumber inspirasi, jelas Pandi lagi.  

Berlatar Alam
Sebuah panggung berukuran kira-kira 10 x10 Meter sudah didirikan di tepian tebing, tepatnya di Taman Wisata Desa Bokor. Lampu aneka warna menghujam ke arah panggung dan pepohonan yang menjadi latar belakang dari panggung tersebut. Di panggung yang tak beratap itulah, para seniman musik menggelar karya mereka selama dua malam (6-7 Januari Red).

Taman hutan yang biasanya gelap mengkakap dan sunyi, kini gegap gempita oleh sorak-sorai, tepuk tangan dan ragam aransmen musik. Gegar dan tengkah bunyi-bunyian dari ceruk kampung itu disaksikan warga tempatan dan warga daerah sekitar yang berdatangan.

Musiklah yang menyatukan kita di sini, ucap Sopandi. Ragam dan bentuk musik tradisi yang kemudian dikreasikan oleh para seniman musik di Indonesia menunjukkan bahwa kekuatan dan kekayaan khazanah seni musik di Indonesia ini adalah bersumber pada tradisi. Hal itu dapat disaksikan dari penampilan-penampilan yang ada. Tinggal lagi, bagaimana kita selaku kreator untuk mengembangkan kekayaan tradisi yang kita miliki untuk diperkenalkan ke tingkat nasional bahkan dunia sekalipun, ucap Sopandi.

Tampil pada malam pertama sebagai pembuka, para peserta workshop yang membawa karya kolaborasi musik dari hasil workshop selama beberapa hari itu. Dilanjutkan dengan persembahan dari Putra House Production. Berikutnya, Sanggar Kemas dari Kabupaten Kepulauan Meranti yang membawakan beberapa karya musik komposisi.

Disusul setelah itu persembahan dari Forum KOMPANG (Komunitas Panggung) Batam. Taufik selaku pimpinan komunitas ini sangat mengapresiasi heat Bokor World Music Festival. Katanya suasana tenang dan nyaman menjadikan helat ini semakin menunjukkan bahwa seni musik itu sangat universal. Di mana pun dipergelarkan, akan tetap mendapat tempat tersendiri baik bagi pelaku maupun aprsiatornya. Kita dapat rasakan sendiri misalnya, bagaimana gegap gempita dan kebersamaan yang terkemas di helat ini, di sebuah kampung yang jauh dari haruk pikuk suasana kota. Saya sudah komfirmasi dengan beberapa kawan untuk mempromosikan helat ini sampai ke Eropa, ucapnya.

Tampil juga pada malam pertama itu, Harry Toledo, salah seroang basis musik Jazz dari Jakarta. Penampilannya yang dibantu minus one itu menunjukkan kelihaian jemari memainkan bass itu sama mempesonanya dan mengesankan dengan Coaching Clinic yang dilakukan sebelumnya kepada pemuda Meranti beberapa hari sebelumnya. Persembahan malam pertama itu, ditutup dengan penampilan dari Provinsi Aceh, Pucok Buleuan yang membawakan dua buah karya yang salah satu diantaranya diberi judul Rhythm Aceh.

Sedangkan pada malam ke dua, juga menampilkan musisi dari berbagai daerah yang tak kalah kreatifnya dengan malam pertama. Dibuka dengan persembahan dari Kepulauan Meranti, The Legend. Kemudian grup bernama Brengkest dari Palembang.  Ampil juga grup Keroncong Iblis asal Solo dengan membawa garpan musik etnik yang kemudian dipadukan dengan tarian kolosal.

Tak ketinggalan, grup musik Horjabius asal Sumatera Utara yang bermastuatin di Jakarta. Grup yang terkenal dan kental mempersembahkan karya-karya musik etnik Batak dipadukan dengan musik modern.  Morgan sang vokalis mengungkapkan helat Bokor Worls Music ini memang luar biasa, semangat kebersamaan dari panitia yang kemudian  bisa menggelar acara di kampung eperti ini.  

Ini salah satu desa di Indonesia yang mengadakan even world music,  imbasnya.

Tampil juga persembahan dari Fild Player dari Malaysia. Kedatangan kali ini, Fild Player hanya berdua, sang vokalis dan drummer. Mereka kemudian tampil dalam kolaborasi musik bersama dengan sanggar Batin Galang. Dengan membawakan beberapa buah lagu yang selalu dipopulerkan oleh Fild Player, persembahannya pun tak kalah menarik. Sekitar empat buah lagu, yang aransmennya dibancuh dengan alat musik tradisi seperti, gambus, gebano, biola menyatu bersama suara Jart Hasan selaku vokalis dan tebuhan drum dari rekannya. Di penghujung tampilan, dengan mengusung irama joget, Jart Hasan mengajak para hadirin untuk naik bersama-sama di atas panggung untuk ikut berjoget. Dan tak ayal lagi, para penoton, pun akhirnya berjoget bersama-sama dalam kebersamaan jalinan silaturahmi di sebuah panggung yang berada di ceruk kampung tersebut.

Jadi Agenda Tahunan
Apresiasi terhadap helat Bokor World Music Festival ini tidak hanya dari kalangan musisi.  Tetapi Muzamil baharudin selaku wakil ketua DPRD Kepulauan Meranti juga turut takjub sekali atas pelaksanaan acara yang ditaja di ceruk kampung tersebut. Katanya, di helat tersebut, dirasakan kebersamaan yang tercipta dari suasana keaslian alam. Dengan panggung yang didekor sengaja tidak beratap dan berlatarkan alam hutan kebun durian dan manggis kemudian dipadukan dengan pencahayaan, Insy allah acara Bokor world Music Festival akan kita backup dan akan dijadikan agenda tahuna di kepulauan meranti ini, ucapnya.

Senada dengan itu, harapan dari Kepala Desa Bokor, Aminnulah juga menyebutkan helat serupa ini dapat dijadikan agenda tahunan karena di samping dijadikan sebagai acara seni pertunjukan, juga dapat mempromosikan desa Bokor, Mudah-mudahanlah,  acara ini akan di adakan setiap tahunnya oleh Sanggar Batin Galang yang tentu saja didukung oleh pemerintah dan pihak swasta, harapnya pula.

Sementara itu, atas sukses dan lancarnya acara, Sopandi mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan musisi dan seniman musik yang telah hadir di kampung Bokor untuk sama-sama bertukar pengalaman baik dalam bentuk masukan dan diskusi serta pengalaman panggung yang didapat dari persembahan maisng-masing. Ini menjadi kekuatan dan semangat kami di daerah untuk tetap bertahan dan berupaya bagaimana kekayaan seni tradisi kita dapat dilestarikan dan dikembangkan, dikreasikan dalam sebuah karya. Dan semoga helat ini dapat pula kami pertahankan setiap tahunnya karena yang nyata didapat adalah adanya terlihat kecintaan dan kesadaran generasi muda di Meranti untuk mengenal dan mempelajari alat-alat musik Melayu, tutup Pimpinan Sanggar Batin Galang tersebut.(fed)
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us