Oleh: Taufik Ikram Jamil

Suara 15

18 Januari 2015 - 00.36 WIB > Dibaca 1383 kali | Komentar
 
PADA akhirnya, rasa hibalah yang memenuhi rongga dada Kacep sekarang setelah lelaki itu tidak datang-datang juga menemuinya. Sesuatu yang amat berbeda dibandingkan dengan masa ketika pertama kali lelaki tersebut datang. Begitu juga dengan kedatangannya kedua, bahkan untuk kali yang ketiga dan keempat. Malahan masih perasaan yang berbeda dibandingkan dengan kedatangannya pekan lalu. Apalagi membandingkannya dengan sikap Kacep sekarang yang justru menunggu lelaki tersebut di halaman rumah, tidak demikian sebelumnya.

Kacep menduga, jangan-jangan ia telah dicap sebagai orang yang tidak berperasaan, tidak bersedia menolong sesama, tidak dan tidak yang begitu panjang, begitu berjujai-jujai. Jangan-jangan…, ah begitu banyak gambaran buruk yang dapat ditimpakan kepadanya, sehingga lelaki tersebut harus menyingkir, menghapuskan segala harapan kepadanya. Tidak datang menemui Kacep lagi adalah sebuah keputusan dengan latar belakang keburukan dalam hubungan antara dia dengan lelaki tersebut.

Dengan demikian, Kacep merasa bahwa ia juga tergolong sebagai orang-orang yang dijumpai lelaki tersebut sejak beberapa tahun terakhir. Orang-orang yang dikatakan lelaki itu tidak mau membantunya dengan pura-pura tidak tahu, padahal sebenarnya tidak mau peduli dengan keinginan pihak lain. Suatu keinginan yang tidak berat, ringan saja yang dapat dilakukan sesiapa pun asal memiliki ketulusan dan sedikit keinginan berbakti bagi kemanusiaan.

Memang, dugaan buruk dan penggolongan dirinya ke dalam golongan orang-orang yang didatangi tersebut, tidak sempat terucap dari mulut lelaki itu sendiri. Tetapi bagaimana dia tidak menduga dan menggolongkan diri seperti orang-orang lain yang didatangi lelaki tersebut, sebab sikap maupun tindakannya sama dengan mereka. Sama dengan orang-orang yang didatangi lelaki tersebut sejak bertahun-tahun.

Kacep sempat memarahi lelaki itu, malahan memintanya untuk pergi. Tetapi lelaki tersebut tak berganjak sedikit pun, dengan tetap menyebutkan kalimat, “Sungguh kepada Bapaklah saya berharap lagi.” Bila kemudian lelaki itu pergi juga, hal itu dilakukannya entah dengan alasan apa, tetapi pasti tidak dengan alasan patah arang. Buktinya, dua hari kemudian lelaki itu datang lagi dengan harapan serupa.

Sampai akhirnya Kacep muak dan mendiamkan lelaki itu di luar rumah, hingga ia pergi sendiri—untuk kemudian datang lagi. Begitulah seterusnya, entah berapa kali dan entah berapa hari. Terjadilah apa yang kini terjadi, lelaki tersebut tak datang, tidak menampakkan batang hidungnya sekaligus tentu tidak menuturkan kalimat-kalimat pengharapan yang dibaluti pujaan terhadapnya.

Ya, dibaluti pujaanlah namanya, kalau lelaki tersebut mengatakan, “Sungguh kepada Bapaklah saya berharap lagi.” Bukankah dalam kalimat tersebut mengandung pengertian bahwa lelaki itu tidak punya harapan kepada orang lain lagi, tinggal hanya kepada Kacep. Tentu saja posisi yang diharapkan berada lebih tinggi dibandingkan dengan yang berharap. Apalagi ketika harapan itu telah coba diletakkan di pundak orang lain, di pundak ratusan bahkan ribuan orang sebagaimana diakui lelaki itu, tetapi berujung dengan kekecewaan. Bila lelaki itu juga kecewa dengannya, posisi Kacep tetaplah di ataswalau dengan kesan yang lain.

***

KACEP mengakui bahwa ia tidak merasa terganggu sedikit pun ketika pertama kali lelaki itu datang. Lelaki tersebut menyapanya dengan sopan, kemudian langsung saja memuji tiga cucu Kacep yang terlihat bersusun paku—seperti sebaya. “Beginilah kalau kita sudah tua, menjaga cucu. Emak dan bapak mereka bekerja,” kata Kacep menjawab pertanyaan lelaki tersebut.

Kacep dan lelaki itu kemudian terlibat percakapan santai, sampai ia bertanya tentang nama sebagaimana biasanya kalau orang baru berkenalan, tentu setelah terlebih dahulu disebutkannya namanya sendiri. Semula, Kacep menganggap telinganya salah dengar, sehingga meminta lelaki itu menyebut kembali namanya. Tetapi ia tak salah dengar, setelah ditanya berkali-kali, lelaki tersebut tetap menyebut dirinya dengan nama Suara.

“Nama yang ganjil. Suara. Apa betul nama Bapak, Suara?”

Kacep tak menyangka, justru lewat pertanyaan yang penuh dengan keraguan tersebut, lelaki itu mengawali cerita tentang dirinya. Ia menyebutkan, bukan Kacep saja yang meragukan tentang namanya. Rata-rata orang yang ditemuinya bersikap demikian. Tetapi ia tidak mempermasalahkan walaupun baginya, nama tersebut tidaklah aneh. Sebutan dari nama tersebut sangat akrab bagi semua orang. Tak ada seorang pun yang merasa asing dengan sebutan itu. Istilahnya lagi, sebutan tersebut merupakan kata asli orang-orang di sini. Serapannya sudah terjadi sangat lama, sekian abad, yakni dari bahasa sanskerta, swara.
 
“Tapi takada orang yang menggunakan kata itu sebagai namamanusia, kecuali kalau untuk nama organisasi atau media misalnya,” sambut Kacep.

Lelaki itu mendehem, barangkali menyetujui kalimat Kacep tersebut. “Tentu, saya datang ke sini, bertemu dengan Bapak, tidak bermaksud memperbincangkan soal nama itu. Asal Bapak tahu dengan nama saya, jadilah…Agar senang Bapak memanggil saya, agar mudah Bapak mengingat saya, agar enteng Bapak menandai saya,” kata lelaki itu. Cepat ia menyambung ucapannya kemudian dengan mengatakan, “Sungguh kepada Bapaklah saya berharap lagi.”

“Untuk hal apa?”

Tak lengah lagi, lelaki yang mengaku bernama Suara itu menceritakan, ia telah berjalan sekian jauh dan bertemu dengan ratusan bahkan ribuan orang, untuk memperoleh kelayakan. Layak digunakan, layak dimanfaatkan. Tak lelaki dan tak perempuan dewasa, telah begitu banyak dijumpainya untuk itu. Berbagai jenis profesi mereka, termasuk bencong dan pelacur.  Karyawan, pengusaha, pejabat mapun politikus, bahkan agamawan sekalipun, tak luput dari daftar sebagai orang-orang yang didatanginya untuk itu. Militer atau sipil, sama saja. Di kota dan di desa, ia datangi mereka untuk tujuan serupa.

Cuma Suara mengaku amat kecewa karena apa yang diharapkannya, jauh dari kenyataan, jauh panggang dari api. Meskipun demikian, ia tidak sampai membuat suatu koluhum alias jeneralisasi bahwa semua orang, apa pun jenisnya, apa pun profesinya, telah mempecundanginya. Sebaliknya, dari pribadi-pribad yang dijumpainya, yang didatanginya, memang telah memperlakukannya secara tidak layak. Ia hanya digunakan untuk pemanis di bibir, bahkan lebih dari itu adalah untuk tujuan-tujuan negatif.

Contoh terkini, disebutkannya apa yang terjadi baru-baru ini. Ia malahan diperjualbelikan dengan penuh penghinaan. Bagaimana mungkin ia hanya dihargai limapuluh atau seratus ribu rupiah agar seseorang dapat menduduki jabatan tertentu, mewakili sekian banyak orang dalam apa yang disebut lembaga perwakilan rakyat atau daerah atas nama sebuah bangsa maupun negara berdaulat. Kadang tak sekali jual, tetapi dua atau tiga kali, dengan pembeli dan penjual yang berbeda-beda pula.

***

KETERANGAN-keterangan lelaki bernama Suara semacam itulah yang memuakkan Kacep. Bukan karena Suara mengatakan hal itu ke itu juga agar Kacep meyakini apa yang sudah menimpanya, terlebih lagi bagi Kacep, keterangan-keterangan lelaki tersebut, sama sekali tidak masuk akal. Tetapi Kacep tidak pula dapat memberi sebarang alasan untuk membantah Suara, sekaligus tidak dapat pula membenarkan apa yang disangkakannya terhadap Suara. Selebihnya, Kacep sama sekali tidak tertarik untuk bertanya dengan cara apa agar ia dapat memperlakukan Suara secara layak, sebagaimana diminta lelaki itu kepada banyak orang dan ternyata telah mengecewakannya.

Sebaliknya, Suara terus saja memberi keterangan mengenai nasib yang menimpanya. Hampir setiap hari ia mendatangi Kacep, persis ketika lelaki tersebut membawa cucu-cucunya berjalan ke halaman rumah. Suara terus saja bercerita, walaupun Kacep menyibukkan diri dengan cucu-cucunya yang berumur empat sampai enam tahun. Cucu-cucu yang menggemaskan, sedang lucu-lucunya.

Dua cucu yang berumur tiga dan enam tahun adalah anak Juandi dengan Rosi, sedangkan yang berumur empat tahun adalah anak Bihar dengan Titik. Anak yang berumur empat tahun itu telah yatim piatu, menyusul tewasnya Bihar dan Titik—kedua orang tuanya—dalam kecelakaan mobil belum lama berselang.

“Sudahlah, aku sudah mendengar ceritamu. Aku tak dapat menolong. Pergilah. Aku sibuk dengan cucu-cucuku ini,” pinta Kacep.

Dengan terlebih dahulu meminta maaf, Suara mengaku dapat memahami kondisi Kacep. Tetapi dengan amat memelas, ia minta didengarkan lagi. Ini tidak saja sebagai upaya agar pemahaman Kacep terhadapnya masuk jauh ke dalam hati, tetapi juga dapat menghiburnya dari kekecewaan akibat telah diperlakukan secara tidak layak selama ini. Suara pun mengaku idak dapat memastikan apakah Kacep mendengarkan atau tidak, tetapi yang jelas ia harus menceritakan nasibnya terus-menerus, sehingga tidak mungkin pergi sebagaimana permintaan Kacep. Harapannya agar Kacep tidak seperti orang-orang yang sudah ditemuiya, hal itu disebut Suara sebagai suatu keniscayaan.

“Usahlah ganggu aku dengan cucu-cucuku ini,” kata Kacep.

Teringat pada kalimat itu, Kacep tersentak sadar bahwa sudah beberapa hari pula cucu-cucunya tersebut dibawa Juandi dan Rosi—orang tua dan paman mereka—pergi silaturahim ke Batam dan Tanjungpinang. Tiba-tiba Kacep amat merindukan mereka, apa saja tentang mereka. Mata, hidung, rambut, tingkah, juga suara mereka. “Suara?” tanya Kacep dalam hati. Diulanginya kata tersebut dengan tambahan sejumlah kata lain, sehingga menjadi kalimat, “Suara cucu-cucuku? Suara yang jujur, polos, dan karenanya penuh kegembiraan, dilumuri kebahagiaan?”

Ah, segera ia tepis kalimat baru di kepalanya itu dengan cara menghamburkan diri ke dalam rumah, takut kalau-kalau ia akan mengaitkan mereka dengan kedatangan lelaki yang mengaku bernama Suara. Menghenyakkan diri di sofa ruang keluarga, begitu saja ia merasakan bahwa rumah initelah menjadi amat besar, setelah isterinya Rafiah meninggal dunia, sebelum Juandi dan isteri sekaligus anak-anak mereka, berhasil dirayunya untuk tinggal bersama.

Buat sementara ia sendiri lagi, sebelum anak dan cucu-cucunya pulang. Ia memang sendiri lagi, tanpa isteri, tanpa anak-anak, tanpa cucu-cucu, dan tanpa lelaki itu—tanpa lelaki yang mengaku bernama Suara itu…***


Taufik Ikram Jamil
menulis prosa dan puisi, yang sudah diterbitkan dalam  sejumlah buku. Memperoleh beberapa penghargaan penulisan cerpen antara lain dari majalah sastra Horison, Dewan Kesenian Jakarta, dan Pusat Bahasa Dikbud. Menetap di Pekanbaru, Riau.
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us