Oleh: Agus Sri Danardana

Blusukan

25 Januari 2015 - 19.10 WIB > Dibaca 806 kali | Komentar
 
Blusukan
Agus Sri Danardana
Sebagai istilah, blusukan tergolong sangat fenomenal. Dalam dua-tiga tahun terakhir ini, kosakata bahasa Jawa itu beroleh angin baik sehingga mampu menenggelamkan dua istilah sejenisnya yang pernah ada: turba (turun ke bawah) dan sidak (inspeksi mendadak).

Adalah Joko Widodo (Jokowi) pemopuler blusukan itu. Sebagai pejabat/pemimpin (mantan Walikota Surakarta, mantan Gubernur DKI Jakarta, dan kini Presiden RI), konon, ia selalu berusaha dekat dengan rakyat yang dipimpinnya. Untuk itu, ia tidak segan-segan terjun langsung (turba) menemui rakyatnya (agar dapat menangkap aspirasi mereka) dan sekaligus melakukan pengawalan, pengecekan, serta penilaian (sidak) atas kinerja para birokrat bawahannya. Perilaku (Jokowi) seperti itulah yang kemudian dikenal dengan istilah blusukan. Padahal, dalam bahasa Jawa, blusukan (yang dibentuk dari kata dasar /blusuk/ + akhiran /-an/ itu) berarti ‘menyusup; masuk ke mana-mana (ke banyak tempat) pada lokus tertentu (biasanya semak-semak, rumpun, hutan, atau tempat-tempat yang dianggap sunyi dan tersembunyi [bahkan bermisteri] lainnya)’.

Kefenomenalan blusukan ternyata tidak hanya sebatas istilah. Blusukan telah menggurita, menjelma menjadi kebijakan publik yang hegemonik dan menimbulkan kontroversi dalam tata pemerintahan di Indonesia. Banyak pihak beranggapan bahwa blusukan merupakan langkah jitu dan maju. Blusukan dianggap tidak hanya menjadi wahana untuk mendengar aspirasi rakyat, tetapi juga berguna untuk mengurai keruwetan birokrasi yang terjadi selama ini. Meskipun demikian, tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa blusukan hanya menjadi sarana pencitraan para birokrat semata. Bahkan, sebagian dari mereka yang kontra itu tega melakukan pem-bully-an dengan membeberkan analisis sesat terhadap kata blusukan.

Menurut mereka, kata blusukan merupakan bentuk pendek dari belusukan. Dengan demikian, masih menurut mereka, kata dasar b(e)lusukan bukan b(e)lusuk, melainkan busuk (yang mendapat sisipan /-el-/ dan akhiran /-an/). Dengan analisis sesat (tetapi terkesan ilmiah) seperti itu, mereka kemudian memaknai b(e)lusukan sebagai ‘pembusukan; membuat sesuatu menjadi busuk’.

Terlepas dari kontroversi itu, upaya Jokowi dalam memopulerkan blusukan perlu mendapat acungan jempol. Disadari atau tidak disadari, Jokowi telah turut memekarkan kosakata bahasa Indonesia dengan menghidupkan kosakata bahasa daerah (Jawa), bukan dengan menghidupkan kosakata bahasa asing (seperti istilah car free night yang diikrarkannya beberapa saat sebelum pergantian tahun 2012 ke 2013 lalu). Upaya menghidupkan kosakata bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah itu penting karena tidak hanya akan bermanfaat bagi usaha pemekaran kosakata, tetapi juga akan bermanfaat bagi pembangunan karakter bangsa. Apalagi, blusukan merupakan inisiatif presiden. Bukan tidak mungkin blusukan akan menjadi program kebanggaan bangsa Indonesia dan mendapat apresiasi dunia jika dilakukan secara konsisten.  

Contoh baik sebagai bukti bahwa bahasa dapat digunakan sebagai alat pembangun karakter bangsa pernah diperlihatkan oleh kata canggih. Kata canggih (yang semula berarti ‘cerewet, bawel; suka mengganggu’), setelah diberi tambahan makna (menjadi ‘kehilangan kesederhanaan yang asli; berpengalaman; bergaya intelektual’ [KBBI, 2008: 241]), serta-merta mampu menenggelamkan sophisticated (Inggris) yang mulai marak ketika itu. Bak kacang goreng, kata canggih laris manis digunakan masyarakat dengan penuh rasa percaya diri. Serta-merta, kebanggaan bangsa pun terbangun.

Kata-kata (yang bersinonim sekalipun) sering kali memiliki cakupan makna yang tidak tetap dan tidak sama luasnya. Hal itu menyebabkan frekuensi penggunaan (kepopuleran)-nya tidak dapat diramalkan karena kekerapan penggunaannya sangat bergantung pada perkembangan cita rasa mesyarakat pemakainya. Oleh karena itu, kata yang kekerapan penggunaannya sangat tinggi, pada suatu ketika mungkin akan mengalami penurunan. Kata mantap, bakda, dan rileks, misalnya, dulu frekuensi pemakaiannya sangat tinggi. Namun, setelah muncul kata mapan, pasca, dan santai, kata-kata itu mulai ditinggalkan. Dalam tempo yang singkat orang-orang pun telah bercita rasa sama: gemar memakai kata mapan, pasca, dan santai. Begitu pula kata manuver, negoisasi, antisipasi, dan antusias yang kini sedang berebut hati cita rasa pemakainya. Pada suatu saat nanti, mana kala sudah ada pilihan kata lain yang lebih cergas, bisa jadi akan segera dilupakan orang. Kasus yang sama telah terjadi pada kata toast, breidel, established, up to date, tourist, constraint, dan announcer. Ketujuh kata itu, masing-masing, telah digantikan oleh sulang, berangus, mapan, mutakhir, pariwisata, kendala, dan pewara.

Bagaimana dengan blusukan? Mungkinkah blusukan akan dapat bertahan lama? Atau sebaliknya, mungkinkah blusukan akan segera digantikan oleh kata lain? Jawabannya tentu sangat bergantung pada sikap bangsa Indonesia terhadap bahasanya. Namun, jika melihat kasus-kasus penyulihan yang dicontohkan di muka, kemungkinan blusukan akan dapat bertahan lama lebih besar peluangnya. Mengapa? Karena, di samping dianggap secara konsep benar-benar dapat menggantikan kata turba dan sidak, blusukan juga tidak diadopsi dari bahasa asing. Meskipun mungkin tidak menyadari, pada kenyataannya, bangsa ini masih membanggakan bahasanya, bahasa Indonesia. Buktinya sudah disebutkan di muka: bangsa ini lebih suka menggunakan canggih, sulang, berangus, mapan, mutakhir, pariwisata, kendala, dan pewara daripada sophisticated, toast, breidel, established, up to date, tourist, constraint, dan announcer.

Rasa bangga menggunakan bahasa Indonesia seperti itu sudah selayaknya berkobar di hati seluruh rakyat Indonesia, teristimewa di hati para elitenya. Mengapa harus begitu? “Karena dalam sejarah panjang sebuah kata (bahasa) termaktub jatidiri bangsa sebagai pengguna yang berkembang bersamanya. Oleh karena itu, bangsa yang tidak merawat bahasanya (dengan tidak memelihara dan menggunakan khazanah kata-katanya dengan saksama) adalah bangsa yang tidak mampu merawat dan mengembangkan dirinya,” jawab Jacques Derrida. Pun, “Karena bahasa menunjukkan bangsa,” ungkap pepatah. “Karena pejabat/pemimpin harus blusukan, bukan keblusuk ‘tersesat’,” kata yang lain.***

Salam.


Agus Sri Danardana
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 14:45 wib

Baznas Sosialisasi Zakat Petani Padi di Sungai Mandau

Rabu, 19 September 2018 - 14:30 wib

Beruang Madu Terkena Jeratan Babi

Rabu, 19 September 2018 - 14:00 wib

Habisi Guru karena Enggan Bayar Utang Minuman

Rabu, 19 September 2018 - 13:30 wib

Kadis Diingatkan Harga Ikan

Rabu, 19 September 2018 - 13:00 wib

Dominasi Kandang

Rabu, 19 September 2018 - 12:30 wib

Epson Luncurkan Proyektor EB-L510 U dan EB L-610U

Rabu, 19 September 2018 - 12:22 wib

Aura Kasih, Tak Kuat Jauh dari Pacar

Rabu, 19 September 2018 - 12:19 wib

Bingbing, Tersangkut Kasus Pajak dan Ditinggal Fans

Follow Us