Kartun dan Kebebasan Ekspresi

1 Februari 2015 - 00.26 WIB > Dibaca 1218 kali | Komentar
 
Kartun dan Kebebasan Ekspresi
Dari kiri, Ketua SiKari Furqon Elwe, Dosen UMRI Eka PN dan Wakil GM Riau Pos M Nazir Fahmi foto bersama usai helat Sembang Petang di Sekretariat SiKari beberapa waktu lalu. Foto: Jefri al Malay/Riau Pos
Sembang Petang yang ditaja Sindikat Kartunis Riau (Sikari), Sabtu (25/1) di Sekretariat Sikari, Gedung Dewan Kesenian Riau (DKR), mendedahkan sejauh mana kebebasan ekspresi dalam sebuah karya seni kartun. Berbagai peristiwa dan tragedi terjadi beberapa bulan terakhir ini yang disebabkan persoalan keberadaan kartun. Dan hal itu terjadi karena karya seni kartun tidak dapat dipahami dari satu sisi. Beragam perspektif yang bermunculan dari sebuah karya seni bernama kartun.

Laporan JEFRI AL MALAY, Pekanbaru

SEPERTI yang terjadi beberapa waktu lalu disalah satu koran terbesar di Jakarta. Seorang pemimpin redaksi harian itu terpaksa berurusan dengan Polda Metro Jaya atas laporan satu organisasi dakwah. Pasalnya, kartun yang kemudian tebit edisi tertanggal 3 Juli 2014 itu, melukiskan lafadz yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia tidak ada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah membawahi tengkorak khas bajak laut. Karikatur tersebut kemudian disinyalir oleh beberapa golongan seolah menyimbolkan Islam sebagai teroris.

Begitu juga tragedi yang terjadi di salah satu majalah kartun di Prancis, Charlie Hebdo yang kemudian menewaskan 10 wartawan dan 2 orang polisi.  Hal itu juga kemudian melatar belakangi Sembang Petang tajaan Sikari seperti yang disampaikan salah seorang pengurus Sikari, Furqon Elwe yang sekaligus juga menjadi pembicara pada kesempatan itu.

Kami merasa perlu diadakan dialog dan diskusi terkait dengan kebebasan berkepresi dari apa yang telah terjadi beberapa bulan belakangan ini, ucapnya.

Tak Ada Kebebasan Mutlak
Pada dasarnya, apa pun karya seni yang dituangkan oleh seorang pengkarya, tidak akan pernah ada yang namanya kebebasan mutlak, begitu juga halnya dengan kartun. Kartun itu pada dasarnya merupakan gambar lucu yang mempunyai pesan berupa presentasi dari sebuah peristiwa yang terjadi.

Kartun juga dipahami bersama sebagai sebuah gambar yang bersifat reprensentasi atau simbolik, mengandung unsur sindiran, lelucon, atau humor. Kartun biasanya muncul dalam publikasi secara periodik, dan paling sering menyoroti masalah politik atau masalah publik.

Ini yang kemudian perlu diketahui bersama oleh kita, dan belakangan dikenal adanya kartun yang mengandung sebuah kritikan yang dimuat sebuah koran atau majalah disebut kartun editorial, jelas Furqon.

Kritik kartun sebenarnya hanya usaha penyampaikan masalah aktual ke permukaan, sehingga muncul dialog antara yang dikritik dan yang mengkritik, serta dialog antara masyarakat itu sendiri, dengan harapan akan adanya perubahan.

Terjadinya pertentangan dalam tradisi penciptaan kartun sebenarnya wajar karena sebuah kartun memiliki beragam tafsir layaknya seni rupa. Tetapi bukanlah lebih mementingkan naluri untuk mengkritik, melainkan bagaimana menyampaikan pesan di dalam kartun itu tetapi mengandung satir, lanjut Furqon.

Karena bagaimana pun tawa dalam penciptaan kartun tetap harus berpihak tidak untuk satu kelompok. Itulah kemudian makanya ada rambu-rambu dalam mengkepresikan karya kartun sebagaimana karya seni lainnya.

Saya tekankan tidak ada kebebasan mutlak, tidak mentang-mentang kartunis, bisa mengakartunkan semua hal yang terjadi kemudian dipubilkasikan. Kartunis itu, pastilah punya filter sendiri, apalagi kita hidup di negeri yang memang memiliki hukum, etika dan norma, ucap Furqon.

Sebagaimana dijelaskannya lagi, bahwa memang sepakat, ada kritik di dalam kartun tetapi harus disampaikan secara lucu. Dan orang yang melihat, hendaklah tersenyum. Setidaknya ada tiga pihak yang harus tersenyum itu. Mengutip pernyataan salah seroang tokoh karikatur, kata Furqon, ke tiga pihak yang harus tersenyum itu, pihak yang dikritisi, masyarakat yang terwakili aspirasinya dan kemudian kartunisnya juga harus bisa tersenyum dan aman-aman saja.

Disayangkan Furqon juga, terutama di Riau, tidak banyak media cetak yang memberi ruang untuk kartun. Sampai saat ini hanya media Riau Pos yang menempatkan dan memberi laman bagi para kartunis yang sebenarnya cukup berkembang di Riau ini.

Dalam kaitan dengan tragedi yang terjadi, setidaknya bila ada ruang untuk berekpresi, menurut Furqon dapat dijadikan salah satu pilihan dalam perlawanan secara elegan. Kartun versus kartun, misalnya, ucapnya.

Kartun dalam Idiologi Koran
Apapun jenis media, pastilah punya idiologi tersendiri terhadap keberadaan kartun. Hal itu disampaikan salah seorang pembicara lainnya, Nazir Fahmi dalam acara Sembang Petang yang dihadiri para pelaku pers dan mahasiswa tersebut.

Idiologi itu, tentu pula bersesuain dengan kepentingan dalam wacana publik pembaca koran itu sendiri. Bagi wakil GM bagian kerdaksian Riau Pos itu, kartun saat ini sudah menjadi salah satu produk jurnalistik yang kemudian tentu saja harus disadari terikat dengan etika dan aturan jurnalistik.

Dengan budaya ketimuran, tentu saja kartun khususnya untuk media, harus beretika karena, ianya masuk dalam ranah publik, yang kemudian harus dipertanggungjawabkan, ucap mantan Pemred Riau Pos itu.

Kartun juga, menurutnya selalu memberikan ide-ide cemerlang terhadap fenomena yang terjadi di dalam masyarakat, baik politik, sosial budaya dan bahkan agama. Hanya saja, dikarenakan kartun sebagai karya yang kemudian bisa melahirkan beragam tafsir, disitulah perlunya batas-batas dalam ekspresinya. Tetapi memang, keberadaanya di media menjadi penting karena tampilan halaman akan lebih menjadi menarik tetapi tetap dengan etika-etika dan aturan yang berlaku dalam sebuah media.

Jelasnya sembari menambahkan beberapa peristiwa yang terjadi belakangan ini yang menunjukkan adanya kebablasan dalam mengekspresikan sebuah ide dalam kartun.

Kartun dan Etika Jurnalistik
Eka PN, narasumber ke tiga dalam sembang petang itu, mengemukakan pentingnya untuk memahami tujuan dan manfaat kartun itu sendiri. Kata dosen  Ilmu Komunikasi di Universitas Muhamadiyah Riau itu, sejatinya tujuan kartun adalah untuk meleluconkan peristiwa dari terjemahan ide pikiran yang kemudian hasilnya, lucu dapat, estetika dapat dan pesan moralnya sampai.

Dalam kesempatan itu, Eka memaparkan panjang lebar terkait dengan kartun dan etika jurnalistik. Katanya, kartun akan berefek apabila dia dipublishkan seihingaa mau tidak mau akan masuk ke dalam ranah pers. Artinya, seorang kartunis bisa dan sah-sah saja mengkartunkan apa saja selama kartun itu tidak dipubliskan ke orang banyak.

Andaikata, sekiranya kartun yang sudah dipublikasikan, ketika itulah perlu adanya etika kalau dalam dunia jurnalistik termaktub dalam kode jurnalistik yang diantaranya mengedepankan asas demokrasi,  asas profesionalitas, asas moralitas, dan supremasi hukum.

Jadi memang, ketika meleluconkan apa saja, ternyata juga harus sesuai dengan aturan di sekitar kita.  Apalagi menyangkut hal yang dapat mencemarkan nama baik. Kita sudah banyak temukan kasus dalam persoala kartun ini, ujar Eka.

Menyikapi persoalan yang terjadi terhadap salah satu majalah di Prancis itu, kata Eka, menjadi agak sulit untuk dijelaskan karena ada paham yang berbeda antara dunia barat dan timur. Konsep kebebasan masing-masing itu yang seharusnya sama-sama dihargai. Lagian ini bukan serangan yang pertama kali terhadap majalah Charlie Hepdo itu, sudah yang kesekian kali. Dan setahu saya, hampir semua agama dileluconkan majalah satu ini. Yang jadi pertanyaan kita, ada apa ini?, apakah kebetulan saja, atau sebuah strategi yang kita pun tak tahulah apa dibalik semua itu tetapi yang penting menurut saya, saling menghargai atas keyakinan dan paham kita masing-masing, tutupnya diagenda perdana tajaan Sindikat Kartun Riau (Sikari), 2015 ini.(fed)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 18:39 wib

Traffic Website SSCN Padat di Siang Hari

Selasa, 25 September 2018 - 17:38 wib

Angkat Potensi Kerang Rohil

Selasa, 25 September 2018 - 17:30 wib

PMI Ajak Generasi Muda Hindari Perilaku Menyimpang

Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki

Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik

Follow Us