Oleh: Jatni Azna AR

Nasi Sojuk

1 Februari 2015 - 00.34 WIB > Dibaca 1822 kali | Komentar
 
Dentang jam tepat tengah malam. Seperti biasa, lelaki berbaju hitam-hitam itu akan datang mengitari kampung dan mengetuk rumah satu per satu. Ia selalu menengadah tangan. Tapi, ia tak pernah menengadah muka. Entah apa bentuknya? Entah ia tak berbentuk. Entahlah. Yang jelas hampir setiap malam ia datang. Mengetuk pintu dan menengadah tangan seraya berucap lirih, Minta nasi sojuk!

Lantas, entah sejak kapan pula kisahnya menyeruak tajam di setiap gendang pendengaran orang-orang. Setiap kisahnya mengundang bibir usik-mengusik untuk menelisik dari mana ia datang, atau ke mana ia hendak bertandang. Entah apa pasal sebab musabab predikat hantu itu melekat padanya. Pada lelaki yang senantiasa tertunduk kepala di tengah malam buta dan menghilang kala fajar subuh bertandang. Tak ada yang tahu. Entah betul dia hantu. Entah betul dia manusia. Entahlah
***

Kepala adat mengumpulkan rakyat di laman rumahnya. Berkumandang berita. Bahwa, barang siapa yang mampu mengobati penyakit putrinya, maka akan diberi segala pinta. Termasuk, yang berkeinginan meminang putrinya. Maka, tersebarlah titah. Seluruh penjuru kampung, penduduk desa. Ummat merapat. Mendengarkan segala ucap menelisik setiap cakap. Alih-alih sampai pada pemuda desa.

Warung Wak Kasim selalu ramai saban pagi. Tak ibu-ibu membeli sayur. Tak bapak-bapak minum kopi. Tak lajang-lajang yang hanya sekedar ngumpul. Tak anak-anak yang berlomba-lomba membeli gulo-gulo cucuk.

Cerutu ditiup. Ada parade asap. Mengepul dan membuat bulatan-bulatan di udara. Namun, seolah membaur dan hilang bersama kisah-kisah.

Kalian Tahu? Kembang desa kita yang lawo tu akan segera dipinang, kata seorang lajang memulai perkara.

Aihtidakkan dapat kesempatan kita semondo? Manalah mau gadis cantik jelita dengan kita lajang miskin dan tak berpunya, sambung yang lain.

Jangan banyak cerita kawan, mau diberi makan apa anak orang?

Nasi sojuk, hahahaha.

Membahanalah gelak tawa pemuda-pemuda itu. Akupun berlalu hanya menutup muka dan tunduk kepala dengan topi anyamanku. Membawa segepok nasi sojuk dalam karung yang akan aku olah nantinya menjadi kerupuk dan kujual ke kedai Wak Kasim. Selama ini, hanya ialah yang mau menerima jualanku. Itupun pagi-pagi buta sekali aku sudah meletakkannya dan tak berani menatapnya. Aku takut ia akan lari terbirit-birit melihat wajahku. Tak tahu pasti sejak kapan wajahku buruk rupa begini. Mungkin sejak peristiwa itu. Terbalik jelas dengan wanita yang diceritakan pemuda-pemuda itu.

Kembang desa

Ah! Gadis itu selalu membuat hatiku dirunut gelisah. Anak kepala adat yang cantik jelita. Siapakah gerangan yang mampu memikat hatinya? Pastilah ia pemuda yang tampan dan barangkali gagah perkasa. Dibanding aku. Aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya si buruk rupa dari ujung kampung. Tak pantas dipuji gadis rupawan. Aku ibarat punguk merindukan bulan. Lantas, masih suaikah aku disebut punguk? Bahkan, setelah peristiwa yang menyeramkan itu, aku tak berani lagi ber-angan.

Lantas, adakah hal yang lebih menakutkan dari hantu? Apakah hal yang lebih menyeramkan dari pada aku? Aku selalu berharap suatu saat aku berwujud rupawan dan menawan wanita yang kucintai. Bukan berarti aku menyesali apa yang telah aku dapati, bukan! Aku selalu bersyukur dengan keadaanku sekarang. Walau, acap kali aku menampakkan diri. Orang-orang akan terbirit-birit dan lari ketakutan melihatku. Sebegitu mengerikankah aku? Bahkan, bukan itu saja. Namun, seisi kampung dan mungkin semua orang yang bertemu denganku juga akan menunjukkan kelakar yang sama. Takut!

Namun, sakit hati ini sudah akut. Bukankah kita dihadapan Tuhan sama? Hanya amal sajalah sebagai pembeda. Tapi, tidak penghuni kampung ini. Sejak tersiar kabar satu negeri laki-laki di ujung kampung itu berwujud hantu. Hantu yang bagaimanakah? Hantu tak berkepala? Atau hantu tak berpunggung? Atau hantu tak berperut? Terlepas dari itu. Baru-baru kemarin. Ada sepasang jalang tertangkap tangan di dalam pompong sedang berpagut. Mereka digiring  dihukum lalu dikenai denda entah berapa ekor kerbau banyaknya. Terakhir, kudengar mereka dibuang dari kampung ke negeri antah berantah. Lantas, siapakah yang hantu? Aku si buruk rupa ini? Atau pemuda-pemudi rupawan itu yang tampak indah dari luar. Namun, busuk hati? Entahlah. Entah aku, entah dikau, entah kita, entah perangai kita yang berhantu?
***

Lantas, berduyun-duyunlah semua pemuda desa. Berkumpul di balai adat demi mendapatkan gadis molek cantik jelita. Segala daya upaya dilaksanakan. Ada yang membawa segenggam beras, ada yang membawa segelas air putih, ada yang membawa daun limau, ada yang membawa kemeyan, segala macam behiko behinyak ada.
 
Maka, dicobalah satu per satu. Diminumkan air putih pada anak kepala adat. Selang beberapa saat tak mempan menghalau penyakit yang dikandung badan. Lalu dibakarlah kemeyan untuk mengusir jin jahat yang bersemayam. Jangankan mengusir roh jahat, alih-alih malah si gadis terbatuk-batuk karena asap. Lantas, disiramkan air limau dan pandan, alih-alih si gadis kedinginan. Kepala adat sakit kepala. Tak tahu apa nak dikata. Segala daya upaya telah terlaksana. Namun, tak ada hasil nyata. Gemuruh riuh redam suara ditahan. Dan tiba-tiba mendadak seketika bungkam. Ketika lelaki berbaju hitam-hitam itu datang. Ia hanya menengadah tangan. Tapi, ia tak ia tak mau menengadah muka. Entah apa bentuknya? Entah ia tak berbentuk. Yang jelas ia datang untuk mengikuti peruntungan. Dibawakannya gadis sebuah makanan dan seketika seluruh warga kampung tertawa membahana. Diludahnya si lelaki buruk rupa. Dihinanya lelaki itu sejadi-jadinya.

Oi, sadar dirilah kau! Bentukmu saja tak berbentuk kau ingin meminang gadis cantik pula! Jangankan mengurus orang, kau saja tak bentuk orang! meledak berderai tawa. Lelaki berbaju hitam tetap saja menunduk muka. Sedang kepala adat diam saja.

Maka, beringsutlah si buruk rupa dengan iba. Diambilnya kembali rengginang, kerupuk hasil olahan nasi sojuk miliknya. Orang kampung mencemoohnya dengan luar biasa naasnya. Tidakkah lidah mereka untuk dipelihara? Apakah salah jika si buruk rupa ini turut menunaikan hajat niatnya. Turut meminang gadis cantik rupawan. Begitu pun ia jauh dari kata menawan.

Ia berjalan pulang dalam hujan menuju ujung kampung, menuju peraduan di bawah buluh kuning tak rindang. Di sebuah bilik. Ada sesosok lelaki berbaju hitam-hitam di pembaringan. Dirabanya sosok itu. Namun, si lelaki buruk rupa tetap saja tertunduk wajah.

Aku tak ingin terjerembab ke lubang yang sama Bah. Cukuplah dahulu kita dicerca dan disiksa.

Aku masih tertunduk beku. Lelaki malang? Begitu terus kalimatmu yang terngiang. Abah, aku tahu kau punya seratus bahkan sejuta pesona untuk memikat wanita. Tapi, sangatlah memalukan jika mencintai gadis yang sama? Jika tak teringat pesan Emak mungkin sudah kulanggar segala petuahmu. Dua beranak ingin meminang satu gadis. Apa kata sensanak kita Bah? Apa kata sesoko kita Bah? Apa kata adat? Apa kata orang kampung?

 Malam itu kita kembali becokak untuk pekara yang sama, wanita! Sungguh ia adalah tipu daya yang besar, sungguh memandang ia berada dalam kesesatan nyata, oh wanita! Kenapa mahluk bernama wanita itu begitu indah? Namun, mahluk keturunan Hawa itu pula yang membuat kita saban hari bebanta, Bah. Kau tetap saja dengan pendirianmu, pun aku begitu.

Tua-tua keladi, makin tua makin jadi! Tak ingat umur dah bau tanah! Aku menyumpah. Kau pun memuncakkan maki hamun. Segala carut marut kau sebut. Aku tak ambil peduli.

Kau urus urusanmu sendiri! Karena aku tak akan patah arang olehmu! Aku yang akan mendapatkan gadis itu! Bila dilihat umur tentu aku yang lebih pantas bersanding dengannya. Namun, kau tak mau kalah.

Tapi, bila dilihat harta tentu ia akan memilihku. Kau itu siapa? Budak kocit! Kencingpun belum berdiri! ejekmu.

Cuih! kataku muak.

Baik, kalau begitu kita putuskan dengan jalan adat. Akan kubawa kepala adat malam ini juga!

Silahkan!

Tepat bakda Magrib. Diundanglah kepala adat untuk menyelesaikan perkara, mencari benang merah. Kita duduk berhadapan. Di tengah, duduk kepala adat dan beberapa rekan. Tapi, kita tak mengundang sanak-sodao. Dan berundingpun dimulai. Sampai tengah malampun tak kunjung usai. Kau tetap bersikukuh dengan pendirianmu. Pun, aku begitu. Berulang kali kau menatapku, berulang kali pula aku membuang muka.

Asal kau tahu Bah, aku takkan surut setapak pun untukmu! Biar kita harus bertaruh nyawa, aku rela!

Dasar anak tak tahu budi! Dua buah jari aku dan Makmu membesarkanmu, sudah besar kau melawan?

Jangan bawa-bawa nama Emak, Bah! Bahkan, Emakpun takkan ridho perihal hasratmu!

Sudah! Sudah! Sampai kapan kalian akan begini? Dua beranak berebut satu wanita! Apakah urat malu kalian sudah dicabut HAH? Apakah kalian tidak malu dari yang disegani dan dimalui malaikat? kepala adat angkat bicara. Kita terdiam tanpa kata.

Dan asal kalian tahu, usut punya usut, rasi punya rasi. Ternyata cucu Nenek Gegasi itu masih satu suku dengan kalian! Itu pula yang ingin kalian perebutkan?

Aku menggeleng berat. Mana mungkin bisa begitu? Kalaupun sesuku, dengan siapa dulu? Karena aku mengikuti garis keturunan Ibu, Matrilineal. Lantas, sesuku dengan siapakah ia? Aku atau bapakku?

Sukunya Meliling, lanjut kepala adat. Aku tersentak hebat, dan kau terkesiap. Membayangkan wajahmu dengan sedemikian piciknya, karena suku kami sama.

Jadi aku harap, jangan ada pertengkaran lagi antara anak dan bapak! kata kepala adat. Aku tertunduk dalam bungkam. Serasa ada ribuan kain yang menyumpal di mulutku. Mana mungkin gadis yang aku cintai jatuh ke tangan Bapakku sendiri? Rembulan mendadak pucat dan sakit. Pun, hatiku.
***

Tiba-tiba kampung menjadi panas. Obor menyala-nyala perumpama amarah yang menyala di setiap warga kampung yang ada. Tak kupahamkan apa hal sebab-musabab suasana sepanas ini. Setiap orang membawa kayu beluti. Apa sebab mereka seberingas ini? Aku turut saja mengikut dari belakang. Ternyata di depan sana sudah ada kerumunan. Seperti sedang mempertontonkan sesuatu. Lantas, telisik punya telisik. Selidik punya selidik aku menumpang, menjengal-jengul diantara kerumunan, ada pertontonan apa gerangan? Dan alangkah terkejutnya aku. Ternyata yang di depan situ. Dua batang yang sudah azab dipelupuh orang. Kepalanya habis dibotakkan. Badanya habis biru legam. Pun, dara jelita di sebelahnya, namun tak separah ia.

Kita bakar saja orang yang tak beradat dan berbuat maksiat di kampung kita! Daripada kampung kita terkena petaka lebih baik kita bakar saja mereka! Setuju.!

Pekik-pingkau membuat aku gamang. Tak tahukah kalian lelaki yang ingin kalian bakar itu adalah Bapakku. Aku merintih, menangis dalam ringkih. Tak kupahamkan sepeninggalan Emak hasratmu tak tersampaikan Bah! Tak kupahamkan itu hal sebab musabab kau ingin meminang gadis yang kucinta Bah? Sebagaimanapun engkau, senista dan sehina apapun engkau, kau tetap Bapakku, Bah! Aku takkan membiarkan orang-orang ini membakarmu! Tak akan! Kuterobos kerumunan orang-orang pitam ini. Kucoba untuk menarik tubuhmu yang ringkih. Tak kupedulikan gadis sebangsa hawa itu yang telah membuat petaka untuk kita berdua. Kucoba memperebutkanmu diantara kerumunan itu. Hingga tak kusadari setetes demi setetes, sedikit demi sedikit minyak dan api panas sudah menjalar di tubuhku. Dan kita terbakar dalam kesesatan.

Kembali kubelai tubuhmu. Bahkan, tak seorangpun yang membelamu termasuk kepala adat itu. Entah mereka tak punya hati, entah mereka tak mau tahu, entah mereka tak sudi, entah mereka tak peduli, entahlah. Yang aku tahu aku tak ingin mengikuti jejakmu. Biarlah rupaku tak serupawan dulu. Bahkan, mungkin akulah si buruk rupa yang tak berupa. Tak masalah. Asalkan aku bisa bersamamu, Bah. Namun, aku takut. Takut menuntutkan hakku, takut membalaskan hasratmu, takut melampiaskan amarahku yang telah kuredam pada semua warga kampung yang terus membenciku dan mengataiku dengan sebutan hantu, takut melaksanakan sebuah rencana yang telah aku simpan dalam, dalam diam, dalam-dalam, dendam!

Dibelainya sosok berbaju hitam-hitam itu. Namun, sosok itu tetap bungkam, diam membisu. Seluruh tubuhnya kaku. Lelaki buruk rupa berbalik arah. Ditinggalnya sosok hitam-hitam itu di atas tilam lusuh. Sosok itu seolah membeku, kaku! Matanya terpejam. Mulutnya bungkam. Wajahnya pucat dan mengerikan. Luka bakar di tubuhnya berbelatung. Tangan dan kakinya hampir buntung. Namun, saat si lelaki buruk rupa berbalik arah. Mata itu tiba-tiba membelalak merah, merah darah, merah amarah, merah nyawa, merah nyala!
***

Anak gadis kepala adat terdengar sekarat. Bahkan, sampai detik inipun tak ada satupun yang mampu mengobati penyakitnya. Lantas, kembali berserulah si kepala desa. Ia akan memberikan apapun yang dipinta termasuk harta-benda dan nyawanya sekalipun. Maka, tersohorlah ucapnya. Semua lelaki, tua-muda berbondong-bondong mencoba menolong sekaligus ingin ditolong. Namun, tak satupun yang mampu membantu. Semua obat tak mujarab.

Dentang jam tepat tengah malam. Lelaki berbaju hitam-hitam itu datang ke rumah kepala adat. Belajar pada sebelumya, jika ia menampakkan diri di siang buta maka, akan banyak mulut dan hina yang mencerca. Malam sekali ia menampakkan diri. Diketuknya rumah tak henti-henti. Apakah kepala adat tidur mati? Sampai-sampai tak tahu ada tamu tak di undang datang bertandang.

Lantas, dibukanyalah pintu. Lelaki itu hanya menengadah tangan. Tapi, ia tak ia tak menengadah muka. Entah apa bentuknya? Entah ia tak berbentuk. Yang jelas ia datang dengan niat baik. Belajar pada sebelumnya, ia belum sempat memberikan rengginang pada anak gadis kepala adat. Maka, dikunyahlah kerupuk dari olahan nasi itu, dan tak disangka tubuh lemas itu kini mendadak cerah. Ada binar harapan di sana. Kepala adat tersenyum riang. Namun, lelaki berbaju hitam-hitam itu tiba-tiba menghilang. Ia belum sempat menunaikan janjinya. Namun, apa nak dikata. Lelaki itu telah menghilang di bawah sinar rembulan.

Bah, mana lelaki hitam itu Bah? Tanya Mai sesaat setelah ia tersadar kepala adat menggeleng kuat.

Kalau tak khilaf Mai, tadi ia berpesan sesuatu, Bah, katanya masih lemah.

Apa pesan dia Nak?

Dia tak meminta apapun dari Abah. Tapi, ia hanya meminta satu hal.

Apa itu Nak?

Nasi sojuk

Kepala adat bergidik ngeri. Dipandangnya keluar jendela di tengah malam buta, Pun setelah itu saban malam. Akan ada lelaki berbaju hitam-hitam datang mengitari kampung dan mengetuk rumah satu per satu. Ia selalu menengadah tangan. Tapi, ia tak pernah menengadah muka. Lelaki yang senantiasa tertunduk kepala di tengah malam buta dan menghilang kala fajar subuh bertandang. Tak ada yang tahu. Entah betul dia hantu. Entah betul dia manusia. Entahlah, entah apa bentuknya? Entah ia tak berbentuk? Entahlah. Yang jelas hampir setiap tengah malam ia datang. Mengetuk pintu dan menengadah tangan seraya berucap lirih, Minta nasi sojuk!***


Jatni Azna AR
Penikmat sastra dan seni Pecinta film dan fotografi Penulis cerpen dan puisi
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Rabu, 19 September 2018 - 17:45 wib

Sekda Lantik Pengurus HNSI Tembilahan Hulu

Follow Us