Oleh: Yeni Maulina

Tagar dan Linimasa

1 Februari 2015 - 00.36 WIB > Dibaca 4309 kali | Komentar
 
Tagar dan Linimasa
Yeni Maulina
Apa itu tagar dan linimasa? Mungkin belum banyak yang mengetahuinya. Kedua istilah itu belakangan ini mulai marak digunakan di media-media sosial, seperti Twitter, Google, Instagram, Path, dan Facebook.

Anda masih menyimpan pesawat telepon di rumah? Periksalah tombol-tombolnya, pasti ada tagar-nya. Pada salah satu tombol itu pasti ada simbol #, ya itulah yang disebut tagar. Tagar merupakan akronim dari kata tanda pagar. Pada pesawat telepon, tagar (simbol #) digunakan untuk komunikasi dengan tujuan (nomor) tertentu/khusus: biasanya dipakai oleh mesin penjawab otomatis sebagai penghubung penelepon dengan operator atau pesawat telepon lainnya.

Tagar (simbol #) semakin meningkat frekuensi pemakaiannya di media sosial, khususnya Twitter. Di media-media sosial, tagar dikenal dengan istilah hashtag. Penggunaan tagar (hashtag [#]), biasanya diletakkan sebelum kata yang dianggap penting oleh pembuatnya, bermanfaat untuk mengelompokkan pesan yang masuk agar dapat dengan mudah dicari. Pada #TarikBudi, misalnya, terjadi diskusi panjang (dan heboh) tentang pencalonan Komjen BG (yang berstatus tersangka dalam kasus rekening gendut yang sedang ditangani KPK) sebagai Kapolri oleh Presiden Jokowi. Diskusi panjang dan menghebohkan itu dapat terjadi karena, di samping mudah ditemukan, #TarikBudi juga menjadi forum diskusi bebas: tidak ada yang bertindak sebagai mederator sehingga semua orang dapat dengan bebas ikut berpendapat, tanpa ada interupsi dan aturan lainnya. Begitu pun #SaveKPK, serta-merta kebanjiran pesan, umumnya dari simpatisan, sejak salah satu Wakil Ketua KPK (Bambang Widjojanto) ditangkap polisi pada 23 Januari 2015 lalu.

Awalnya, saya pun sempat terkecoh dengan istilah tagar sebagai padanan istilah hashtag. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:1374), ternyata tagar memiliki arti sendiri, yaitu ‘guruh atau guntur’. Artinya, kamus kebanggan kita itu belum memuat lema tagar (akronim dari tanda pagar [#]), sebagai padanan hashtag.

Pertanyaannya sekarang adalah mungkinkah kita akan tetap menggunakan tagar sebagai padanan hashtag? Jawabnya, mungkin. Mengapa? Karena, di samping sudah marak digunakan, tagar juga memenuhi persyaratan pembentukan istilah. Dalam hal ini, kita juga mengenal istilah tilang (akronim dari bukti pelanggaran), pasutri (akronim dari pasangan suami-istri), rudal (akronim dari peluru kendali), radar (akronim dari radio detecting and raging), bandara (akronim dari bandar udara), dsb..

Pemadanan serupa bisa juga kita lakukan terhadap timeline. Meskipun hampir bisa dipastikan bahwa pengguna akun media sosial (terutama Twitter dan Facebok) sudah sangat akrab dengan istilah itu, timeline masih berkemungkinan dicarikan padanannya. Apalagi, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Lini_waktu, timeline pun sudah dipadankan (diterjemahkan) dengan (menjadi) liniwaktu dan diberi arti ‘kemampuan untuk menampilkan perjalanan waktu suatu informasi dalam bentuk grafik yang indah’. Bahkan, beberapa pengguna media sosial sudah ada yang memadankannya  dengan linimasa. Upaya Wikipedia dan beberapa pengguna media sosial seperti itu tentu perlu kita apresiasi dengan baik.

Karena masih penasaran, saya mencoba membuka Kamus Bahasa Inggris-Indonesia (John M. Echols dan Hasan Shadily, 1996). Ternyata, dalam kamus itu saya tidak menemukan lema timeline. Namun, setelah saya pisahkan menjadi dua kata: time dan line, keduanya saya temukan. Kata time ‘waktu, tempo; jaman, zaman’ saya temukan di halaman 592, sedangkan  kata line ‘garis; barisan; macam, merek’ di halaman 359. Meskipun demikian, rasa penasaran saya tetap belum hilang. Mana yang harus dipilih? Liniwaktu atau linimasa untuk menggantikan timeline.  Atau, dua-duanya kita gunakan?

Pemadanan (penerjemahan) kata/istilah bahasa asing dengan (ke) kata/istilah bahasa Indonesia memang tidak selalu mudah dilakukan. Di samping harus tepat, layak, dan tidak menimbulkan asosiasi buruk, pemadanan istilah asing (yang memiliki makna hampir sama) sedapat-dapatnya juga diterjemahkan dengan istilah yang berlainan. Kata axiom, law, postulate, dan rule, mislanya, harus diterjemahkan secara berbeda, menjadi aksioma, hukum, postulat, dan kaidah. Begitu pula income dan revenue harus diterjemahkan secara berbeda, menjadi penghasilan dan pendapatan.

Atas dasar itu, sepertinya timeline lebih tepat diterjemahkan menjadi linimasa daripada liniwaktu. Dasar pertimbangannya semata-mata agar tidak terkacaukan dengan bentuk lain yang mirip hasil terjemahannya. Kata deadline, misalnya, selama ini diterjemahkan ‘tenggat waktu, batas waktu’. Jika timeline diterjemahkan  menjadi liniwaktu, tidak tertutup kemungkinan  orang akan menyamakan (terkacaukan, sulit membedakan) antara timeline dan deadline.

Salah satu penyebab sulitnya menentukan istilah (dalam hal ini pemadanan kata/istilah asing) adalah posisi kita (bangsa Indonesia) sebagai bangsa pengguna, bukan bangsa pencipta. Sebagai pengguna, kita praktis tidak memiliki daya pilih sehingga harus menerima apa adanya. Dalam hal ini kita tak mungkin mengingkari bahwa aplikasi yang dipakai media-media sosial menggunakan bahasa asing dan sudah menyebar luas sebelum sempat dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia.


Yeni Maulina
Pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Rabu, 19 September 2018 - 17:45 wib

Sekda Lantik Pengurus HNSI Tembilahan Hulu

Follow Us