Oleh: Ahmad Ijazi Hasbullah

Kabut Asap

8 Februari 2015 - 12.01 WIB > Dibaca 3521 kali | Komentar
 
Kabut asap tampak memutih, pucat, seperti sobekkan kapas yang beterbangan menyelubungi permukaan bumi. Mataku pedih. Jarak pandang hanya beberapa meter saja. Suara batuk-batuk dan bersin bercampur baur dengan gerutu kekesalan orang-orang yang beraktivitas pagi itu. Matahari yang baru saja berkemas dari persemayamannya tak mampu memancarkan sinarnya dengan sempurna, terhalang oleh kabut asap yang kian merayap.

Mataku yang perih tiba-tiba menggugurkan air mata. Hatiku begitu iba membayangkan tayangan berita semalam. Bencana alam terjadi di mana-mana. Tanah longsor, banjir, angin puting beliung, menelan banyak korban. Sungguh pelik dan membikin gamang.

Kabarnya, di Pekanbaru, baru-baru ini, sudah ada dua orang yang meninggal dunia akibat infeksi paru-paru. Puluhan korban lainnya menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Pembakaran hutan memang kian merebak. Hutan-hutan meranggas, kering kerontang seperti kehilangan nyawa. Kicauan burung-burung yang melompat di ruas dahan-dahan kering seperti sedang lirih meratapi habitatnya yang terus tergusur. 

Aku menyingsing celana abu-abuku karena air begitu menggenang di sepanjang badan jalan menuju sekolahku. Hujan deras dua hari berturut-turut, membuat banjir merendam daerah dataran rendah. Sungguh malang nasib penduduk yang bermukim di sana. Rumah-rumah mereka tenggelam. Bahkan ada sebagian yang roboh diterjang banjir.

Aku langsung membuka masker yang kukenakan saat tiba di sekolah. Kuseka serpihan debu yang menempel di pelupuk mata sebelum memasuki kelas. Kulirik jam di pergelangan tanganku, jam tujuh lewat. Sebentar lagi masuk. Kedua mataku menyapu ke seluruh ruangan kelas. Ada beberapa temanku yang tidak hadir.

Rizki masuk rumah sakit. Tadi ibunya menelepon, katanya dia kena radang paru-paru. Imam si ketua kelas memberi tahuku.

Aku tertegun mendengarnya. Rizki adalah sahabat terbaikku. Dialah yang selama ini selalu memberikan aku motivasi dan lecutan semangat untuk belajar sungguh-sungguh. Semua orang senang berteman dengannya. Di sekolah dia menjabat sebagai ketua OSIS. Prestasi dan penghargaan yang ia raih sudah tak terhitung banyaknya. Namun ia tetap rendah hati.

Mataku bergerak-gerak gelisah. Lidahku kelu, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Beberapa saat kemudian, Pak Harun, kepala sekolah kami melangkah memasuki ruang kelas. Keningku berkerut. Jam pelajaran pertama hari ini adalah mata pelajaran Sejarah. Yang mengajar seharusnya Pak Abdullah. Tetapi kenapa sekarang malah Pak Harun yang masuk? Aku menggumam keheranan.

Pak Abdullah hari ini tidak bisa masuk. Baru saja beliau mendapat kecelakaan saat akan menuju kemari. Kabut asap dan jarak pandang yang terbatas membuat beliau tak dapat mengelak saat sebuah mobil jeep yang melaju menabrak motornya. Beliau sekarang berada di rumah sakit. Keadaannya sangat kritis. Kedua pergelangan tangannya patah dan kepalanya mengalami pendarahan serius, ucap Pak Harun memberi tahu kami.

Aku tercekat menelan ludah. Perkataan Pak Harun barusan terdengar seperti gelegar petir di siang hari. Tiba-tiba dadaku sesak. Rahangku bergemeletak. Dan temperatur suhu di bola mataku memanas, seperti ada butiran kristal yang hendak berguguran.

***
Aku membelokkan sepeda motorku memasuki halaman rumah. Kulihat sebuah mobil mewah terparkir di sana. Aku segera melepaskan masker yang kukenakan lalu bersegera melangkah masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, kulihat ayahku sedang berbicang-bincang dengan seorang pengusaha asing. Di atas meja berserakan surat-surat tanda kerja sama yang harus segera ditandatangani oleh ayahku. Surat-surat tanda kerja sama dalam bisnis illegal! Ah, kubayangkan balak-balak yang terus digelindingkan ke dalam aliran sungai di kejauhan pelupuk mataku. Keberadaan hutan semakin terkikis, seperti hendak menghabiskan riwayat tumbuhnya yang tak lagi dikenang sebagai bagian dari kehidupan manusia. Begitukah?  

Kepedihan di hatiku kembali menyeruak. Rasa muakku mencuat saat kulihat senyum puas tersungging di bibir ayahku yang menerima cek tanda jadi dari pengusaha asing itu. Aku sudah dapat memastikan, jumlah rupiah yang tertulis dalam cek itu sangat fantastis!

***
Suasana pagi yang berkabut hari ini diiringi dengan derai gerimis. Jaket tebal hitam yang kukenakan tak mampu menghalau hawa beku yang merasuk ke dalam tulang sum-sum. Aku menangis dengan tubuh menggigil. Begitu juga dengan teman-temanku, para guru dan pelayat-pelayat yang lain. Suasana di pemakaman hari ini banjir air mata. Mengharu biru. Bagaimana tidak, kami harus kehilangan dua orang yang sangat kami cintai; Pak Abdullah guru Sejarah kami, dan Rizki, sang ketua OSIS. Mereka meninggal dunia pada hari yang bersamaan.

Kalian harus belajar sungguh-sungguh. Biar kelak jadi orang yang membanggakan siapa saja. Kalian adalah para pemuda yang menjadi harapan bangsa. Berjuanglah untuk kepentingan orang banyak dengan tulus dan iklas, ucap Pak Abdullah beberapa waktu yang lalu saat ia mengajar. Nada bicaranya yang tegas mengobarkan semangat jiwa muda kami.

Tuhan menyukai hambanya yang giat berusaha. Bila ada aral dan cobaan yang menghadang, anggap saja itu sebuah ujian dari-Nya. Teruslah berjuang kawan! Jangan putus semangat. Tuhan pasti meridhoi setiap perbuatan mulia yang dilakukan hamba-Nya perkataan seperti itulah yang sering terucap dari mulut Rizki. Ucapan penuh nasihat, yang membuat aku tak pernah gagap untuk terus berangkat ke sekolah dan belajar sungguh-sungguh.

Ah, tapi kini nasihat-nasihat seperti itu tidak akan pernah aku dengarkan lagi. Ya, tidak akan pernah. Mereka telah pergi. Pergi dan tak pernah kembali lagi.

***
Udara di tengah hutan ini terasa menyejukkan. Di sini aku dapat menghirup udara segar sepuas-puasnya. Kabut asap tidak terlalu pekat. Nyanyian burung-burung terdengar merdu. Namun hatiku tetap gundah. Dari kejauhan kulihat pembalak-pembalak liar itu sedang menggelindingkan kayu-kayu yang baru saja mereka tebang itu ke dalam sungai. Sebagian lagi masih melanjutkan aktivitas mereka menebang pohon-pohon yang sudah ditandai dengan gancu berwarna merah. Sedangkan ayahku tampak memandori mereka sambil sesekali meneriakkan perintah pada pekerja yang bermalas-malasan.

Beberapa saat kemudian terdengar guntur bergemuruh. Angin bertiup kencang menggoyangkan pepohonan. Langit yang sebelumnya cerah, mendadak dikerubungi mendung serta awan-awan yang menghitam.

Blaaaaarr! Terdengar petir mendentum memekakkan telinga. Menyusul jarum hujan mengucur dengan derasnya. Aku segera berlari mencari tempat berteduh. Pembalak-pembalak liar itu terlihat panik. Mereka menghentikan aktivitas mereka itu dengan segera.

Heh! Siapa yang mememerintahkan kalian berhenti?! teriak ayahku dengan mata membelalak. Begitu murka.

Hujan sangat deras. Kami tidak bisa bekerja dengan baik dalam keadaan cuaca buruk seperti ini. Sangat berbahaya kalau pekerjaan terus dilanjutkan, jawab salah seorang pembalak itu dengan merundukkan wajah.

Heh, kau! Baru dua minggu bekerja di sini sudah berani berkata macam-macam! ayahku semakin meledak-ledak amarahnya. Pembalak-pembalak itu terdiam. Mereka tak berani berkata apa-apa lagi. Kini tubuh mereka telah kuyup dimandikan hujan. Angin yang bertiup kian kencang berputar-putar serupa baling-baling badai yang sedang marah. Gelegar petir semakin riuh, membuat suasana kian mencekam.

Besok pagi pekerjaan ini harus beres semuanya! Aku tidak mau tahu! Terlambat sedikit saja, pengusaha asing itu bisa tidak percaya lagi dengan kita!  Kalian dengar?!! teriak ayahku dengan suara keras di tengah deru hujan yang semakin mengamuk.

Blaaaaarr! Buuuuumm! Sebuah kilatan petir yang mendentum menyambar sebuah dahan pohon yang berada tepat di belakang ayahku.

Kraaaaakkkk! Bunyi patahannya terdengar nyaring. Mata ayahku membeliak saat mengetahui patahan dahan itu rebah ke arah tubuhnya. Ia berusaha menghindar, namun sayang terlambat. Patahan dahan pohon yang cukup besar itu telah lebih dulu menyambar kepala ayahku. Tubuh ayahku terpelanting ke semak-semak. Darah segar muncrat dari kepalanya!

Ayaaahhhh...! aku histeris mendekap tubuh ayahku.  
***



Ahmad Ijazi Hasbullah
Kelahiran Rengat Riau, 25 Agustus. Pernah menjadi Nominator lomba menulis cerpen Kemenpora 2011, 10 besar menulis Puisi Tulis Nusantara 2013, 10 besar menulis Puisi Esai-Jurnal Sajak 2013 dll. Buku cerpen tunggalnya berjudul Tangisan Tanah Ulayat (2014). Saat ini menetap di Pekanbaru. Hp. 085376616953, 085664414801. Email:  aijazihasbullah@yahoo.com
Alamat: Jl Taman Karya Gang Manunggal No. 17 Panam Pekanbaru (28293) No Rekening Bank Mandiri : 108-00-0650978-1 cab. A. Yani Pekanbaru,
a/n Ahmad Ijazi.
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us