Oleh: Dessy Wahyuni

Perjodohan Pasca-Sitti Nurbaya

8 Februari 2015 - 12.16 WIB > Dibaca 2649 kali | Komentar
 
Perjodohan Pasca-Sitti Nurbaya
Dessy Wahyuni
Oh.. masih ada, belenggu
ruang cinta
Meresap kini, di dinding
zaman...
Oh... memang dunia,
buramkan satu logika
Seolah-olah, hidup kita ini,
hanya ternilai sebatas rupiah...
Katakan... pada mama
Cinta bukan hanya harta
dan tahta
Pastikan pada semua
Hanya cinta yang sejukkan
dunia...
Oh... cukup Siti Nurbaya yang mengalami pahitnya dunia...


Lirik lagu berjudul “Cukup Siti Nurbaya” (dirilis pertama kali pada 2012) yang dilantunkan grup musik Dewa 19 itu masih berkisah tentang Siti Nurbaya yang harus mengalami kepahitan hidup karena menjadi korban kawin paksa. Gadis itu tidak bisa hidup dengan orang yang dicintainya. Dalam lagu ini, Dewa 19 mengumandangkan bahwa ukuran cinta bukan hanya harta dan tahta, cukuplah Siti Nurbaya yang mengalaminya.

Tampaknya, Dewa 19 (boleh jadi sebagian besar masyarakat) masih menautkan “Siti Nurbaya”, dengan “kawin paksa”, walau sumbernya (novel Siti Nurbaya: Kasih Tak Sampai karya Marah Roesli) telah hadir dalam dunia sastra Indonesia hampir satu abad (1922) yang lalu. Perjodohan ala Siti Nurbaya sepertinya masih berlangsung pasca-Siti Nurbaya.

Siti Nurbaya (tokoh dalam novel itu) seolah telah menjadi lambang salah satu perjodohan: oleh orang tua terhadap anak gadisnya. Orang tualah yang memilihkan pria tertentu yang mereka rasa cocok (biasanya pria yang telah mapan meski kadang tak memandang usia) menjadi suami anak gadisnya. Dalam pemikiran mereka, sang calon pasti akan membawa kebahagiaan bagi anaknya. Biasanya, si anak menolak, karena merasa tidak mencintai pilihan itu.

Itulah yang digambarkan Marah Roesli melalui tokoh imajinatif ciptaanya (Siti Nurbaya). Banyak yang menafsirkan bahwa cerita novel tersebut di atas merupakan bentuk pemberontakan dan perlawanan Marah Roesli terhadap adat perkawinan yang keras dan kaku di negeri Minangkabau. Novel yang diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka ini telah membuka cakrawala baru mengenai perkawinan (tanpa paksaan orang tua) sehingga kerap muncul ungkapan, “sekarang bukan zaman Siti Nurbaya lagi.”

Ternyata, kisah Siti Nurbaya ini terinspirasi oleh kisah hidup pengarangnya sendiri. Marah Roesli juga mengalaminnya. Namun, ia tidak sama seperti tokoh rekaannya. Ia melawan. Kisah sang pengarang bermula menjelang kuliahnya selesai (di Nederlands Indisch Veearsen School [NIVS], Bogor), ia mohon izin kepada ayahnya untuk menikahi seorang gadis Pasundan. Akan tetapi, niatnya ini ditentang oleh ayah dan seluruh keluarganya di Padang. Pasalnya, ia sudah dijodohkan dengan wanita Padang.
Marah Roesli bin Abu Bakar tetap teguh pada pendiriannya. Pada 2 November 1911, ia menikahi gadis pujaannya itu, Raden Ratna Kancana binti Kartadjumena, tanpa restu keluarga tentunya. Akibatnya, ia dikucilkan secara adat dan terbuang dari tanah kelahirannya. Melalui Sitti Nurbaya-lah Bapak Roman Modern Indonesia ini menuangkan kekecewaannya terhadap adat perkawinan yang terdapat di negeri kelahirannya.

Kesuksesan Marah Roesli dengan novelnya tersebut tidak menyurutkan niat  keluarganya di Padang. Berbagai upaya dan intrik dilakukan agar ia menceraikan bangsawan Pasundan itu dan menikahi perempuan asli Padang, atau setidaknya ia mau berpoligami. Dalam pandangan keluarga Marah Roesli, seorang lelaki Minangkabau harus menikahi perempuan Minangkabau juga. Sementara itu, Marah Roesli sangat antipoligami, sebab ia telah merasakan akibatnya. Sejak ia kecil, ayahnya telah berpoligami. Ibunya berontak dan tidak mau tinggal serumah dengan ayahnya. Akibatnya, hingga dewasa, ia hanya hidup berdua dengan sang ibu.

Sikap Marah Roesli tersebut tertuang dalam novelnya, Memang Jodoh, yang diterbitkan pertama kali pada Mei 2013 (Penerbit Qanita). Marah Roesli memprotes anjuran berpoligami dari keluarganya di Padang. Ia memperlihatkan keteguhan hati untuk menjadi lelaki yang setia hanya pada satu pasangan hingga akhir hayat. Ia pun ingin memperlihatkan bahwa seorang suami memiliki tanggung jawab terhadap istri dan anaknya, yang harus dipelihara dan dibelanya. Ia tidak ingin menjadi suami yang semata-mata menjadi pendatang bagi pihak perempuan yang tidak punya hak apa-apa atas istri dan anaknya.

Memang Jodoh memperlihatkan salah satu perjodohan pasca-Siti Nurbaya bahwa jodoh bukanlah urusan adat, melainkan urusan Tuhan. Sastrawan yang tetap setia menekuni profesinya sebagai dokter hewan ini mendedahkan kepada pembaca melalui ceritanya bahwa kodrat yang sahih datang dari Tuhan, bukan adat. Meskipun adat merupakan satu bentuk kuasa, manusia yang terkodrat olehnya dapat menentang adat tersebut jika tidak sesuai dengan logika kehidupannya.

Naskah “Memang Jodoh” sebenarnya telah dibuat lebih dari 50 tahun lalu. Naskah ini disiapkan oleh Marah Roesli sebagai persembahan bagi istrinya pada ulang tahun perkawinan mereka ke-50, 2 November 1961. Setengah abad menunggu, barulah novel tersebut hadir di tengah khalayak. Ini sesuai dengan wasiat pengarang bahwa novel ini baru boleh diterbitkan setelah orang-orang yang terlibat di dalam ceritanya meninggal dunia. Alasannya, ia tidak ingin menyakiti hati keluarganya di Padang.

Novel yang sekaligus dapat dikatakan sebagai semiautobiografi Marah Roesli ini kebanyakan bercerita tentang permasalahan perkawinan berbeda adat dan anjuran berpoligami yang dialaminya. Semua nama yang terlibat di dalamnya disamarkan. Bahasa Melayu Tinggi yang digunakan Marah Roesli dalam membangun dialog  membuat novel ini terkesan klasik. Meskipun demikian, naskah asli berhuruf Arab gundul yang ditransliterasi oleh penerbit menjadi novel Memang Jodoh ini sangat nyaman untuk dibaca.
 
Tonggak kebudayaan yang ditancapkan Marah Roesli melalui novel yang diluncurkan di Teater Salihara, 21 Juli 2013 ini menggambarkan pergulatan tradisi dalam karya sastra berlatar adat Minangkabau. Menurut Sapardi Djoko Damono, novel ini dapat dijadikan sumber berharga untuk memahami lebih berbagai isu sosial yang menjadi latar sebagian novel karya sastrawan Minangkabau.  Selebihnya, roman yang terpendam lebih dari 50 tahun dan telah menjadi harta karun yang memperkaya wacana sastra Indonesia ini memang layak diapresiasi. Selamat.


Dessy Wahyuni

Pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 20:30 wib

BPJS Kanwil Sumbarriau Jalin Keakraban dengan Perusahaan dan Media

Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Follow Us