Oleh: Muhammad Amin

Ketika Gajah Mati Tak Lagi Meninggalkan Gading

15 Februari 2015 - 12.23 WIB > Dibaca 1777 kali | Komentar
 
PARA leluhur kita punya kearifan lokal yang sangat kuat tentang hewan-hewan tertentu. Mereka bahkan “mendewakan” hewan-hewan itu, menganggapnya “keramat” dan harus dihormati. Penghormatan itu tampak pada penamaannya, juga perlakuan terhadapnya. Jangan sembarangan menyebut nama harimau jika sedang berada di sekitar rimba. Sang raja rimba dapat datang dalam sekejap untuk menunjukkan siapa dia. Siap-siap saja melihat tatapan dan mendengar aumannya yang menggetarkan.

Para leluhur kita memberikan nama “datuk” untuk sang raja rimba. Panggilan lain adalah “datuk belang” atau “tuk belang”. Sebuah panggilan penghormatan yang melegenda. Datuk dalam struktur adat puak Melayu adalah panggilan untuk orang yang dituakan, dianggap pemimpin dan punya tuah tertentu. Begitu pulalah anggapan untuk sang raja rimba. Di beberapa kawasan, tak hanya panggilan datuk yang melegenda dan diturunkan ke anak cucu, bahkan sang datuk punya adat sendiri. Mereka memberikan semah untuk sang datuk.

Selain harimau, di beberapa kawasan, gajah juga diberi gelar “datuk”. Biasanya dengan nama “datuk godang” atau datuk besar. Ini tentunya berkaitan dengan badan gajah yang besar. Seperti halnya harimau, gajah juga dianggap memiliki tuah dan harus dihormati. Munculnya pepatah lama, bahwa “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang” adalah salah satu tuah dari dua hewan ini. Apalagi ini disandingkan pula dengan pepatah “manusia mati meninggalkan nama”. Ini menunjukkan bahwa gading gajah, belang harimau, dan nama manusia adalah tiga hal yang patut dikenang, dan dalam tataran tertentu dihormati.

Kenapa gajah dan harimau? Dalam kearifan lokal kita sejak zaman dahulu, gajah dan harimau adalah pemilik tuah di dalam rimba. Dalam perspektif ilmu lingkungan, keduanya ternyata adalah penyeimbang bagi alam. Harimau adalah puncak rantai makanan di rimba yang menjaga habitat hewan herbivora tetap terjaga. Dalam batasan tertentu, ia juga menjaga hutan dari penebangan liar. Aumannya yang menggetarkan akan menjamin itu. Gajah pun demikian. Tubuhnya yang besar dan kuat menjamin gajah adalah hewan yang “disegani” warga rimba mana pun. Daya jelajahnya yang tinggi dan kembali ke wilayahnya sepanjang tahun menjadikannya hewan yang selalu “berpatroli” antarrimba dengan disiplin. Gajah memerlukan asupan makanan yang berbeda setiap musim, dan akan kembali ke tiap wilayah jelajahnya di musim yang sama. Gajah sesungguhnya adalah penjaga hutan yang paling efektif.

Tapi kisah tentang sang datuk agaknya tinggal kenangan. Tak ada lagi penghormatan atas wilayah rimba yang dikuasai “para datuk” itu. Rimba telah dipetakan, dikapling-kapling, dibabat, dijadikan perkebunan, bahkan perkantoran. Para “datuk” pun mulai kehilangan tuah. Pepatah “gajah mati meninggalkan gading” pun tak lagi diindahkan. Bahkan, pada tataran tertentu, pepatah “manusia mati meninggalkan nama” pun mulai kehilangan makna. Imbauan para tetua adat tentang kearifan lokal dalam menjaga hutan, memelihara rimba, dan menjaga keseimbangan alam tak lagi didengar.

Faktanya sekarang, hutan dibabat, dibakar dan satwanya diburu. Gajah  mati, harimau pun demikian. Tapi kematian mereka tak lagi wajar. Gajah mati, kini tak lagi meninggalkan gading. Harimau mati, kini tak lagi meninggalkan belang. Gadingnya dipotong, belangnya dikuliti. Gading dan belang yang sebenarnya tuah dalam arti lambang penjagaan hutan, berubah menjadi “tuah” yang lain. Tuah gading dan belang itu kini telah menjadi komoditas. Ia tak lagi jadi ingatan kolektif tentang makna penjaga hutan, tapi tuah yang dibendakan, bahkan diberhalakan. Seumpama pemuka agama yang disegani, yang tuahnya justru dimaknai menjadikan fotonya sebagai pelaris dagangan, atau tanah kuburannya menjadi jimat keberuntungan. Manusia pun kini mati tak lagi meninggalkan nama dan jasa yang dikenang, tapi meninggalkan berhala atau kemusyrikan baru.

Begitulah, gading dan belang kini menjadi perhiasan rumah para pesohor, melambangkan derajat kekayaan dan kekuasaan tertentu. Ia juga menjadi lambang kesombongan baru, bahkan pemberhalaan baru. Hewan-hewan itu adalah sumber eksotisme baru bagi hiasan dinding atau ornamen ruang tamu. Ia berubah menjadi komoditas yang diburu, yang tentunya memiliki nilai keekonomian menggiurkan. Harganya naik berlipat-lipat karena nilai eksotisme itu. Tuahnya telah berubah, dari simbol penjaga rimba, menjadi simbol keangkuhan orang kaya. Patutlah kiranya kini, gajah mati tak lagi meninggalkan gading.***


Muhammad Amin,
Wakil Pemimpin Redaksi
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us