Opera Melayu "Bulang Cahaya"

Jejak Tiga Wartawan

15 Februari 2015 - 12.28 WIB > Dibaca 1244 kali | Komentar
 
Pementasan naskah lakon Opera Melayu Bulang Cahaya persembahan Sanggar Teater Selembayung Riau menuai decak kagum dari para apresiator yang memenuhi gedung Sumatera Promotion Center, Batam, Kepulauan Riau, Ahad (8/2) lalu.  

Laporan Jefrizal, Batam

Kisah lakon yang diramu dari novel budayawan Riau, Rida K Liamsi oleh Fedli Azis selaku penulis naskah sekaligus sutradara mengisahkan tentang kisruh kekuasan antara bangsawan Melayu dan Bugis, semasa kejayaan Kerajaan Riau-Lingga. Kisah, di mana Pulau Penyengat, Pulau Bintan, dan Daik Lingga masih menjadi pusat kerajaan yang pernah jaya di nusantara itu.

Rangkaian kisah yang termaktub dalam novel Bulang Cahaya itulah yang ditulis kembali dalam bentuk naskah lakon Opera Melayu Bulang Cahaya. Pemanggungan lakon Bulang Cahaya ini disempenakan dengan helat Hari Pers Nasional (HPN), yang helatnya dipercayakan kepada Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Kepri.

Kisah ini bermula dari seorang intelektual Melayu, yang isi kepalanya banyak menyimpan silsilah dan sejarah Raja-raja Melayu. Seperti halnya di dalam novel, dalam naskah lakon ini tokoh Raja Ikhsan, adalah Chif Editor sebuah majalah budaya di Kota Pekanbaru. Di tengah sibuk berhadaan dengan laptop, tiba-tiba suara anak perempuan Raja Ikhsan membahana. Si anak mohon diri untuk keluar karena harus segera menjalani latihan bela diri.

Raja Ikhsan baru saja selesai membaca naskah Melayu lama yang menceritakan tentang Kerajaan Riau Lingga. Naskah yang dikirim sahabat lamanya, seorang Belanda. Isi naskah tersebutlah yang menjadi cerita dalam sandiwara Opera Melayu Bulang Cahaya. Dari adegan Raja Ikhsan menilik naskah itulah, lakon mengalir menjelma dari adegan satu ke adegan lainnya.

Dalam lakon yang dikemas dngan konsep Opera Melayu itu juga tergambar sebuah peristiwa tentang perseteruan antara Bugis dan Melayu. Perebutan kekuasaan antara Tengku Muda Muhammad, ayah Tengku Buntat, Bangsawan Melayu dengan keturunan Bangsawan Bugis. Kisruh kekuasaan ini harus mengorbankan cinta Raja Djafaar dan Tengku Buntat. Raja Djafaar selaku bangsawan keturunan Bugis-Melayu dianggap akan melemahkan kedudukan Bangsawan Melayu jika dikawinkan dengan Tengku Buntat.

Menilik lebih jauh di balik pengkaryaan lakon pentas Opera Melayu Bulang Cahaya ini, ternyata ada tiga wartawan yang terlibat di dalamnya. Pertama, Rida K Liamsi, si empunya atau penulis novel Bulang Cahaya yang merupakan wartawan dan kini menjabat sebagai Chairman Riau Pos Group.

Tokoh jurnalis kedua dan yang tak kalah pentingnya di balik Bulang Cahaya ini adalah Dahlan Iskan. Pimpinan Jawa Pos Group ini adalah editor dari novel Bulang Cahaya yang kemudian diangkat menjadi lakon panggung oleh Sanggar Teater Selembayung Riau.
 
Ketokohan Dahlan Iskan di kalangan jurnalis tidak pula bisa diragukan lagi karena hampir semua wartawan pastilah mengenal sosok mantan Direktur Utama Perusahaan Listrik Negera (PLN) dan menjadi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN).  

Sedangkan jurnalis ke tiga, tentu saja Fedli Azis selaku penulis naskah dan sekaligus sutradara dalam pentas Opera Melayu Bulang Cahaya tersebut. Fedli sehari-hari mengabdikan diri di media harian Riau Pos sebagai Redaktur Pelaksana halaman Budaya.

Pementasan yang berlangsung selama dua jam tersebut disaksikan bos-bos media se-Indonesia, Gubernur HM Sani, pejabat Kepri, Menteri Kabinet Jokowi, dan mentri Komunikasi dan Multimedia Malaysia, Datuk Seri Ahmad Sabery Cheek serta masyarakat Batam dan sekitarnya.

Datuk Ahmad Sabery Cheek mengaku sangat mengapresiasi pentas lakon Opera Bulang Cahaya tersebut. Lakon itu dinilai benar-benar mencerminkan sifat dan tindak tanduk orang Melayu. Apalagi dengan kostum dan bahasa yang digunakan, hampir-hampir saya merasa di Malaysia. Saya kagum, alangkah bagusnya karya ini juga dibagikan ke orang-orang Melayu lainnya, ucapnya.

Gubernur Provinsi Kepulaun Riau, HM Sani yang hadir didampingi istrinya juga menyatakan hal serupa. Katanya, pementasan karya seni seperti ini sangat perlu terutama untuk generasi muda.

Berbagai kisah di dalamnya juga menunjukkan adegan persatuan, Melayu dan Bugis dalam upaya menjaga marwah negeri. Pementasannya cukup bagus, pemain-pemainnya sangat menguasai materi tetapi menurut hemat saya karena ini menyangkut sejarah, perlu dipanjangkan lagi kisahnya, jelasnya.

Sementara itu, Rida K Liamsi selaku penulis novel Bulang Cahaya sangat mengapresiasi pekerjaan anak-anak muda tersebut. Katanya, meski hanya menjalani proses selama tiga bulan tetapi penggubahan karya dari novel ke pentas lakon sudah cukup memuaskan. Yang jelas saya senang karya saya diberi penghargaan seperti ini. Setelah beberapa tahun diterbitkan, barulah kali ini dapat dipentaskan, ucapnya sembari menambahkan dalam proses penciptaan karya lakon, ia memberikan kebebasan penuh kepada Fedli selaku sutradara.

Pentas di Anjung Seni Idrus Tintin

Setelah sukses pentas di Batam, Opera Melayu Bulang Cahaya juga akan dipentaskan di Anjung Seni Idrus Tintin pada 26-28 Febuari 2015. Tak hanya itu, rencananya juga pentas lakon produksi Sanggar Teater Selembayung ini juga akan tampil di Acara Panggung Publik SeSumatera di Padang Panjang akhir Maret mendatang.

Tak tanggung-tanggung, 17 pelakon terlibat dalam lakon Bulang Cahaya ini. Lakon di kemas dalam alur bolak-balik dan di balik cerita ada cerita.  Lakon ini tak hanya mengandalkan kekuatan akting para pendukung, tapi juga dikemas dalam alunan lagu-lagu bagai sebuah opera. Tak hanya itu, kekuatan pementasan ini juga didukung dengan gerakan-gerakan tari serta multimedia.

Fedli selaku sutradara mengakui  memang harus bekerja keras mewujudkan naskah ini untuk dibawa ke atas panggung. Apalagi, dalam garapan semi opera ini, lakon ini tergolong panjang. Durasinya mencapai 2,5 jam.

Ini pertunjukan Opera Melayu, bukan opera murni yang memakai liberto. Jadi konsepnya, ala-ala teater klasik Bangsawan, jelas pimpinan Sanggar Teater Selembayung itu.
Dalam garapan karya yang kesekian kalinya ini, Fedli tak hanya bekerja sendiri. Untuk memantapkan konsepnya, dia merangkul beberapa ahli sebagai pendukung seperti design panggung oleh Yudi Ys (perupa), Koreografer Syafmanefi Alamanda, (seniman tari), piata kostum Sunardi (seniman tari), penata make up Harry Zardi (seniman tari), Penata musik, Iwan Landel, videografi, Rudi Kodon. Kami juga menggandeng penyanyi Riau, Benni Riaw dan Siska Mamiri vokalis Geliga. Sedang pimpro dipercayakan kepada Rina NE, dedengkot Sanggar Keletah Budak yang juga pengurus inti Teater Selembayung, jelas Fedli.(esi)
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 14:30 wib

Desember, Awal Pemeriksaan JCH

Kamis, 15 November 2018 - 14:13 wib

Pembangunan Berbasis Pengurangan Risiko Bencana

Kamis, 15 November 2018 - 14:00 wib

Ganti Bola LHE Terkesan Proyek

Kamis, 15 November 2018 - 13:49 wib

Greysia/Apriyani Lolos ke 16 Besar

Kamis, 15 November 2018 - 13:45 wib

Maksimalkan Pelayanan Kesehatan untuk Vaksinasi MR

Kamis, 15 November 2018 - 13:15 wib

Azis: Pakai Uang Rakyat, OPD Harus Tanggung Jawab

Kamis, 15 November 2018 - 12:23 wib

Tropicana Slim Ajak Ikuti Senam Sehat di CFD

Kamis, 15 November 2018 - 12:00 wib

Kirim 12 Atlet Ikuti Kejurnas Ski Air

Follow Us