Oleh: Risda Nur Widia

Bunga Kesunyian

15 Februari 2015 - 12.35 WIB > Dibaca 2409 kali | Komentar
 
Syuriah 2011-2014...

Setangkup sunyi itu seakan merambat di antara udara, menjerat leher, dan merenggut setiap nyawa. Setengkup sunyi itu bahkan mekar, menjadi sekuntum bunga di tengah ladang-ladang pembantaian. Bunga yang begitu indah, yang kelopak-kelopaknya terbuat dari percikkan darah. Bunga yang merekah, ketika kesedihan dan kematian mengental di udara. Aku berpikir, mungkin, salah satu dari bunga kesunyian itu juga tumbuh di atas tubuh ayah dan ibuku yang telah mati membusuk.

Bunga kesunyian itu pun seperti menandai kemurungan di setiap kotasetelah peperangan merenggut begitu banyak nyawa. Aroma bunga itu begitu anyir, merupakan aroma keputusasaan. Setiap memetik bunga itu, aku merasa seakan sedang mengumpulkan kesedihan demi kesedihan dari ratap dan air mata. Barangkali, bunga itu, memang tercipta dari sebuah kematian.

***
Sudah berapa orang kehilangan akibat perang? Aku tidak tahu. Tetapi, anak-anak korban perang sepertiku, kini menjadi segerombol pengembara yang sepanjang waktu hanya mengumpulkan bunga-bunga kesunyian. Setiap hari, ketika sudah tidak ada lagi pembantaian atau rudal-rudal yang berterbangan menghanguskan kota. Kami, anak-anak korban perang, akan menyisiri kota sembari mencari anak-anak korban perang lainnya, seraya mengajak mereka bergabung.

Kami akan mengelana, seraya berharap menemukan sebuah kota yang mampu membangkitkan kenangan. Kota indah dengan gedung-gedung yang masih berdiri kokoh. Kota dengan taman-taman dan bunga-bunga yang bermekaran bebas. Kota yang tak ada permusuhan. Akan tetapi, kota seperti itu, mungkin hanya ada di dalam mimpi.

Perang, memang, tidak akan pernah melahirkan pemenang, tetapi hanya memunculkan rasa penat akan kehilangan. Setelah mengeliling kota-kota yang telah hangus, dan mengerat kesedihan demi kesedihan, malam harinya, kami, anak-anak korban perang hanya termenung di lorong-lorong kota kumuh dan gelap, seraya menunggu mekarnya kuntum-kuntum bunga kesunyian.

Begitulah, malam harinya, ketika setiap orang tertidur di dalam mimpi indahnyaentah mengapa malaikat kematian selalu datang ketika seseorang lengahmulai berdentuman rudal-rudal yang menggempur kota. Dengus tangis dan terikkan terdengar di mana-mana. Rumah-rumah terbakar. Di tengah jalan, pun berbondong-bondong orang berlarian sembari menggenggam senjata. Mereka saling tembak, seraya menyebut-nyebut nama Tuhan.

Namun, satu per satu, orang-orang itu mati mengenaskan dengan kepala pecah, tubuh tercacah-cacah, dan jantung tertembus peluru. Aku pun melihat, kalau rudal-rudal itu kini malah menjelma menjadi seekor kupu-kupu dengan sepasang sayap berwarna merah. Kupu-kupu yang tampak cantik dan rupawan. Kupu-kupu yang hinggap pada kuncup-kuncup bunga kesunyian yang mulai bermekaran di antara gelimpang mayat-mayat tak berdaya.

Apakah aku juga dilahirkan seperti sengkuntum bunga kesunyian itu? Hidup dari kesedihan dan kenangan muram. Ahh, aku memang diciptakan dari percik amarah dan dendam. Ya, akulah anak-anak korban perang yang setiap saat harus menjadi saksi, ketika kuntum-kuntum bunga kesunyian itu tumbuh di antara cercah luka dan genangan darah.

Terbuat dari apa bunga-bunga itu sebenarnya? Kataku lirih, sembari terus mengamati perang. Mengapa bunga itu selalu tubuh di antara kesedihan dan kemalangan? Mengapa bunga itu selalu mengoda untuk dipetik?

Akhirnya, setelah perang usai, ribuan bunga-bunga kesuyian bermekaran. Aku pun memetik salah satu bunga kesunyian yang tumbuh di leher seorang mayat, yang telah kehilangan kepalanya. Aku menghirup aroma kematian pada kelopak-kelopaknya yang kelam. Pun aku memberikan bunga itu kepada anak-anak korban perang lain. Aku berharap, bunga itu dapat menjadi penyejuk hati mereka yang pilu. Tetapi, mereka terus saja menangis, menyebut nama-nama orang tua.

Kalau kau mau, ikutlah bersama kami? Ajakku pada bocah-bocah yang menangis itu, dan memberikan sekuntum bunga kesunyian yang aromanya menyerupai darah. Tetapi, aku sama sekali tak tergetar melihat kesedihan yang menggelantung pada wajah anak-anak itu. Bagi kami, anak-anak korban perang, kematian hanya sebuah proses menuju sebuah kekekalan. Kita akan mencari rumah kenangan bersama-sama. Rumah di mana kita bisa menanam bunga dengan bebas. Rumah di mana setiap orang dapat berdamai atas dirinya sendiri.

Akhirnya, semakin banyak anak-anak korban perang yang ikut bersamaku. Tetapi, sejurus kemudian, bertambah banyak pula bunga-bunga kesunyian yang tumbuh di kota-kota yang telah hancur. Kami pun menjadi segerombol gelandangan yang mengembara, yang mengumpulkan setiap tangkai  kesedihan, yang mekar pada kota-kota yang telah mati. Kami mengerat bunga-bunga kesunyian itu, seraya mencium harum kenangan akan orang-orang yang telah terbantai.

***
Forum-forum kemanusiaan pun seakan tidak henti membicarakan kami, dan berharap dapat menyelamatkan kami dari kekacauan perang. Tetapi, anak-anak  korban perang seperti aku, tidak pernah ingin diselamatkan. Kami tidak ingin kehilangan kenangan-kenangan di negeri kelahiran, karena pada kenanganlah kami dapat mengingat orang-orang yang kami sayangi.

Aku dan ratusan anak-anak korban perang lainya tak lelah mengembara, mengumpul setiap kuntum bunga kesunyian yang mekar di tengah ladang-ladang pembantaian. Ya, hanya pada bunga kesedihan itulah kami dapat melabuhkan rindu pada orang-orang yang telah pergi. Karena, hanya pada kesediahanlah kami dapat mengekalkan kenangan.

 Tetapi, orang-orang kini malah menyebut kami sebagai anak-anak pembawa kutukan. Karena, hampir setiap kota yang kami singgahi, memang selalu tertimpa mala petaka.
Apakah anak-anak itu membawa kutukan?

Entahlah, tetapi setiap kota yang digunakan untuk mengungsi anak-anak korban perang, memang selalu menjadi incaran kekacauan!

Jadi, memang mereka membawa kutukan!

Anak-anak pembawa sial!

Begitulah, malaikat-malaikat kematian seakan dapat mengendus harum bunga kesuyian yang telah melekat di tubuh kami. Yang lebih parah lagi, terdapat sebuah mitos ganjil tentang anak-anak korban perang. Mereka menganggap, kesedihan hanya menyukai anak-anak.

Mitos itu pun seakan menjadi benar. Setelah sebuah kota kami datangi, malam harinya, pasti, akan berdentuman rudal-rudal atau peluru-peluru yang menggempur kota. Terdengar pula pekik dan jerit tangisan. Sebuah kota akan terbakar habis dalam waktu semalam. Dan, seusai peperangan, kami, anak-anak korban perang hanya akan menjumpai bocah-bocah murung lainnya, yang baru saja kehilang orang-orang yang mereka sayangi.

Tetapi, aku tak pernah merasa sedih, ketika melihat orang-orang yang terbantai itu. Aku pun tidak lagi ngeri atau lari, saat melihat ceceran darah, atau sebongkah daging yang berserak di jalan. Aku malah melihat keindahan lain dari serakkan mayat itu. Karena pada tubuh-tubuh yang mulai membusuk itulah, kuntum-kuntum bunga kesunyian mulai menampakkan kuncup-kuncup yang cemerlang.

Gesit, aku pun mengumpulkan kenangan dalam setiap tangkai kesuyian itu, menghirup aromanya yang menggetarkan, seraya mengingat-ingat kapan terakhir kali aku merasa sedih, dan hanya di dalam bunga itulah terdapat sebuah kesenduan yang dapat mengingatkan kami akan orang-orang tercinta.  

Mereka tidak akan pernah hidup lagi, walau seribu tahun kalian menangisinya. Kalau kalian mau, ikutlah denganku, kataku mengajak segerombol bocah yang terus menangis pasca perang. Aku memberikan sepucuk bunga berwarna hitam pekat kepadanya. Bunga yang aku petik dari sebidang dada yang berlubang. Kita akan mencari rumah bagi bunga-bunga ini. Kita akan mencari rumah bagi segala kenangan.

Langkah-langkah kami seperti tak henti digerakkan oleh takdir-takdir muram yang menyeret entah ke mana. Setiap hari, kami, anak-anak korban perang tak jemu mencari tempat-tempat indah, yang dapat membangkitan kenangan. Kami akan berpetualang, seraya mencari kesedihaan dan rasa kehilangan yang sudah lama tidak lagi dapat kami rasakan. Kami akan terus mengembara, mencari segumpal kenangan yang tak pernah mati walau seribu peluru menghujamnya.***


Risda Nur Widia
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pernah juara dua Festival Sastra Yogyakarta 2013 (UGM), Nominator Sastra Profetik Kuntowijoyo 2013 (UHAMK). Beberapa cerpenya telah tersebar di media.
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Wafat, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us