Oleh: Agus Sri Danardana

Singkatan dan Akronim

15 Februari 2015 - 12.36 WIB > Dibaca 2959 kali | Komentar
 
Singkatan dan Akronim
Pada hakikatnya, singkatan dan akronim beresensi sama: sebagai bentuk pendek. Keduanya pun sama-sama digunakan untuk tujuan efisiensi (dan efektivitas) penggunaan kata dalam komunikasi, baik lisan maupun tulis. Perbedaan antara singkatan dan akronim terletak pada kaidah pembuatan dan perlakuannya.

Dilihat dari segi kaidah pembuatannya, singkatan lebih teratur (sistemik) daripada akronim. Pada umumnya, singkatan secara konsisten mengambil huruf pertama setiap kata yang akan dipendekkan, sedangkan akronim tidak pernah konsisten. Jurus yang digunakan dalam akronim adalah jurus “mabuk”, suka-suka: kadang mengambil huruf pertama, kadang huruf kedua, ketiga, dst. Bahkan, jumlah hurufnya pun tak berperi: kadang satu huruf, kadang dua huruf, tiga huruf, tak tentu jumlahnya. Sementara itu, dilihat dari aturan perlakuannya, singkatan cenderung ditulis menggunakan huruf kapital dan dilafalkan/dieja huruf demi huruf (dengan beberapa perkecualian), sedangkan akronim diperlakukan (ditulis, dibaca, dan dilafalkan) sebagaimana layaknya sebuah kata. Contohnya sebagai berikut.

Singkatan:
STSR    : Sekolah Tinggi Seni Riau
KTP    : kartu tanda penduduk
BBM    : bahan bakar minyak

Akronim:
Unri    :  Universitas Riau
pilpres    : pemilihan presiden
balon    : bakal calon

Sekalipun sudah tampak jelas perbedaannya, dalam praktik berbahasa sehari-hari, singkatan dan akronim masih sering menimbulkan persoalan. Dalam tata tulis, misalnya, masih banyak orang yang ragu memperlakukan akronim sebagaimana layaknya sebuah kata. Sebagai akibatnya, di surat-surat kabar sekalipun, masih dapat dengan mudah ditemukan penulisan yang salah, seperti UNRI (alih-alih Unri), UNILAK (alih-alih Unilak), Pilpres (alih-alih pilpres), BAPEDA (alih-alih Bapeda), dan BASARNAS (alih-alih Basarnas).

Begitu pula dalam pelafalan, singkatan dan akronim masih dilafalkan dengan sangat bervariatif. ITC, LNG, dan LCD, misalnya, setidaknya dilafalkan dalam dua bentuk:  /I.Te.Se/ atau /aI.Te.Se/; /eL.eN.Ji/ atau /eL.eN.Zi/; dan /eL.Se.De/ atau /eL.Si.Di/. Padahal, dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD), secara tegas disebutkan bahwa huruf yang berbentuk I i, C c, G g, dan  D d seperti itu, masing-masing, bernama i (bukan aI);  ce (bukan se atau si); ge (bukan ji atau zi); dan de (bukan di).

Konon, pelafalan secara asing (keinggris-inggrisan, kebelanda-belandaan, atau kearab-araban) diyakini dapat serta-merta menjadikan seseorang terkesan modern dan gaul. Oleh karena itu, mekipun dengan bersusah payah (dan sebenarnya membuang-buang energi), masih banyak orang yang melafalkan huruf w pada singkatan nama (seperti George W. Bush dan Hotel J.W. Marriot) dengan /double yu/. Begitu pula huruf q dalam MTQ dan c.q. dilafalkan dengan /kyu/. Sementara itu, k dalam kalbu sering pula dilafalkan /qolbu/.

Anehnya, singkatan-singkatan asing yang lain, seperti WHO (World Health Organization), UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees), TKO (technical knock-out), CSIS (Center for Strategic and International Studies), dan OPBF (Orient Pacific Boxing Federation), pada umumnya masih dilafalkan secara medok, ala Indonesia, dengan /We.Ha.O/, /U.eN.Ha.Ce.eR/, /Te.Ka.O/, /Ce.eS.I.eS/, dan /O.Pe.Be.eF/. Sungguh tidak konsisten.

Setiap bahasa (termasuk bahasa Indonesia) memiliki aturannya sendiri, yang berbeda satu dan lainnya. Artinya, dalam hal pelafalan ini, sesungguhnya memang tidak ada keharusan melafalkan singkatan asing (apalagi singkatan Indonesia) secara asing. Pada umumnya, pelafalan akan menyesuaikan dengan bahasa yang digunakan. Orang yang (sedang) berbahasa Inggris, misalnya, sudah secara otomatis akan melafalkan DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) dengan /Di.Pi.aR/, UT (Universitas Terbuka) dengan /yU.Ti/, dan HGB (Hak Guna Bangunan) dengan /Hi.Ji.Bi/. Mereka melafalkan singkatan bahasa Indonesia dengan cara asing (Inggris). Lalu, mengapa ketika berbahasa Indonesia, pelafalan singkatan justru dilakukan secara asing? Bukankah hal itu sama artinya dengan “melacurkan diri”?

Pelafalan ala asing (Inggris/Belanda) ternyata tidak hanya dilakukan untuk singkatan dan akronim, tetapi juga kata-kata biasa. Kata unit, energi, dan sukses, misalnya, masih sering dilafalkan dengan /yu.nit/, /e.ner.ji/, dan /sak.ses/. Bahkan, nama negara: Cina pun dilafalkan dengan /Cai.na/.

Konon, air conditioner, benda yang dapat mengeluarkan udara dingin itu, di negeri asalnya disebut aircon. Mungkin karena terlalu panjang atau sulit mengucapkannya, di Indonesia benda itu disebut (dengan menyingkatnya menjadi) AC. Celakanya, orang Indonesia sendiri tidak banyak yang (berani) menyebutnya /A.Ce/, tetapi /A.Se/.

Keunikan lain terjadi pula pada nama diri. Banyak orang Indonesia bernama asing akan marah-marah jika dipanggil dengan pelafalan Indonesia. Orang yang bernama Angel, George, dan Cornelis, misalnya, tidak mau dipanggil /A.ngel/, /Ge.or.ge/, dan /Cor.ne.lis/, tetapi harus /En.jel/, /Jos/, dan /Kor.ne.lis/. Begitulah, dalam komunikasi sehari-hari, kaidah bahasa sering terkalahkan oleh kebiasaan, yang salah sekalipun. Sebagai akibatnya, banyak orang yang melakukan/mengalami “penyiksaan”: memaksa atau dipaksa memahami bahasa yang salah itu.

Untuk mengurangi kesalahan-kesalahan berbahasa seperti itu, ada baiknya dicarikan upaya “penyiasatan” agar tidak berlangsung terus. Dalam hal singkatan dan akronim ini, misalnya, penyiasatan terhadap singkatan liquefied petroleum gas (LPG) menjadi elpiji perlu mendapat acungan jempol. Upaya seperti itu, sekalipun bertujuan lain, juga dilakukan oleh beberapa sastrawan dan penulis Indonesia, seperti Emha Ainun Najib, Pamusuk Eneste, dan Budi Hetees. Konon, bagian dari tiga nama (Emha, Eneste, dan Hatees) itu, masing-masing hasil pemendekan (pemanjangan) dari Muhammad (Mh.), Nasution (Nst.), dan Hutasuhut (Hts.).
 Salam.


Agus Sri Danardana
Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us