Oleh: Jarir Amrun

Spoorweg dan Voor Steenkool

22 Februari 2015 - 12.04 WIB > Dibaca 2802 kali | Komentar
 
Spoorweg dan Voor Steenkool
Spoorweg dalam Bahasa Belanda artinya jalan kereta api dan voor stenkool (batu bara) dua ‘’kata kunci’’ mengapa dibukanya jalur trans kereta api Sumbar-Riau ketika masa Belanda dan dipaksakan pembangunannya oleh Jepang.

Belanda punya rencana, Jepang eksekusinya. Rancangan Belanda sebenarnya sangat lengkap, bahkan kalau kita melihat peta trans Sumatera Spoorweg milik Belanda, jaringan rel kereta api bukan hanya Sumbar dan Riau, tapi menyatu dari Lampung sampai Aceh.

Khusus trans Sumbar-Riau, rencanya menghubungkan Pelabuhan Teluk Bayur di Kota Padang di Samudera Hindia ke Pekanbaru yakni di Sungai Siak yang artinya wilayah Selat Melaka. Dua wilayah ini (Sumbar dan Riau) merupakan wilayah yang sangat berat medan-nya ketika itu, sementara produk pertanian dan tambangnya melimpah.

Teluk Bayur saat itu dikenal sebagai pelabuhan yang sibuk, sementara pelabuhan di belahan Selat Melaka juga tak kalah ramainya, yakni Singapura, Tanjungpinang, Melaka, Johor dan wilayah lainnya juga memiliki posisi yang strategis. Maka tidak salah jika Belanda bermimpi membangun wilayah Sumbar-Riau ini interkoneksi.

Jaringan rel kereta api pada awal tahun 1900-an merupakan solusi paling sederhana dalam mengangkut barang produksi pertanian, perkebunan, dan tambang, termasuk juga alat transportasi bagi manusia. Belanda sudah merasakan bagaimana manfaat jaringan kereta api yang dibangun menyatukan negara-negara di Eropa, termasuk Belanda.

1890, Belanda membangun jaringan kereta api Medan-Tanjungpura (tambang minyak bumi pertama) - Belawan (pelabuhan internasional) - Siantar (hasil perkebunan) - Tebingtinggi - Kisaran - Rantauperapat. Di wilayah Sumut ini, Belanda sudah merasakan manfaat jaringan rel kereta api dalam mengangkut hasil pertanian, perkebunan, tambang dan alat transportasi bagi manusia.

Bahkan hingga kini, masyarakat Sumut masih menikmati pembangunan jaringan rel kereta api peninggalan Belanda tersebut. Bangunan stasiunnya masih utuh seperti bentuk awal dibangun cuma beda catnya saja, semuanya peninggalan Belanda. Lihat Jembatan Gantung di dekat terminal kereta api Medan, masih asli sejak dibangun tahun 1890. Stasiun kereta api Siantar juga masih asli seperti fotonya di zaman Belanda. Begitu stasiun lainnya, umurnya lebih satu abad. Ini baru namanya mega proyek, tak banyak ‘’semen yang dimakan’’.

Nah, bagaimana kita di Riau? Agaknya nasib belum beruntung. Belanda belum sempat merealisasikan jaringan kereta api, tiba-tiba Jepang datang menggusur Belanda.
Membaca peta jaringan rel kereta api Pekanbaru-Padang, maka beberapa titik daerah yang tercantum dalam peta menarik kita cermati. Jaringan itu berawal dari Padang (Samudera Hindia) - Lubukkalung - Singkarak - Kayutanam - Padangpanjang - Kacang - Solok - Sawahtambang - berbelok ke Sawahlunto (tambang batubara) - Muara (kamp 13) - Silokat - Karumijnen (kamp 12) - Mudikulo (Kamp 11) - Pintubatu - Lubukambacan (Kamp 10) - Sarosa - Logas steengroeve (tambang di Logas Kamp 9) - Muaralembu - Petai - berikutnya rel membelok ke Kamp 14 tambang batubara - Sungaibawang - Kotabaru (kamp 8 di KM 111) - Tanjungpauh (kamp 7) - Kebundurian - Sungaipagar (Kamp 6 Km 36) - Lubuksakat (Kamp 5 Km 23) - Kamp 4 - Teratakbuluh - Tangkirang (maksudnya Tengkerang Km 2, Km 5) - Pekanbaru (kamp 1) lokasinya kamp dan terminal dekat Sungai Siak.
Membaca peta rel kereta api Sumbar-Riau, nampak di situ ada beberapa tambang batubara, bukan hanya sebagai sumber bahan bakar kereta api, tapi batubara itu adalah sumber energi. Namun, sayang, kereta api (spoorweg) dan potensi batubara (voor steenkool) itu sampai kini belum kita manfaatkan.***


JARIR AMRUN
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 20:28 wib

Berlari 15 Menit untuk Daya Ingat yang Baik

Minggu, 18 November 2018 - 20:23 wib

Jadi Pemilik Akun Penyebar Hoax, Istri Gubernur Diselidiki Polisi

Minggu, 18 November 2018 - 20:20 wib

IDI Riau Gembira PN Pekanbaru Menangkan Gugatan Anggotanya

Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Follow Us