Menangkal Serbuan Globalisasi

22 Februari 2015 - 12.16 WIB > Dibaca 2260 kali | Komentar
 
Tak di kota, tak di kampung, pengaruh asing dengan beragam model menjadi momok dan menularkan kegamangan yang mencemaskan terutama bagi orang tua-tua. Dalam menghadapi era globalisasi dan kecanggihan teknologi, terutama bagi generasi muda perlu dibekali dengan pemahaman kebudayaan tempatan sehingga tidak mudah terjerumus pada pengaruh negatif.

Laporan FEDLI AZIS, Bengkalis

UNTUK menangkal derasnya arus globalisasi, terutama untuk kalangan generasi muda, Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Kecamatan Bukitbatu menggelar seminar budaya. Helat yang dilaksanakan awal Februari lalu di Aula Mess Pertamina Sungai Pakning itu menghadirkan peserta didik setingkat SMP dan SMA sederajat dan juga para tetua-tetua serta tokoh masyarakat.

Keluh kesah yang tidak dapat dihindari dan terlontar dalam forum seminar itu tak lain mengenai prilaku generasi muda hari ini yang seolah-olah telah tercerabut dari nilai-nilai budaya setempat akibat dari pengaruh budaya asing yang hampir tidak terkendali.

Kampug justru menjadi sasaran empuk dari pengaruh-pengaruh negatif globalisasi, seperti halnya yang disampaikan salah seorang tokoh masyarakat, Syamsul Bahri. Katanya, banyak sikap dan prilaku tak senonoh yang dipertontokan generasi muda hari ini tidak lagi menjadi aib bahkan hampir menjadi trend bagi mereka.

Sebut saja, hamil di luar nikah, kecanduan narkoba, kebut-kebutan di jalan raya, tidak lagi menjadi peristiwa langka di kampung-kampung. Diakui Syamsul, ini bukanlah hal baru terjadi. Tetapi, persentasi dari beberapa hal yang memalukan dan tentu saja melanggar norma-norma agama itu kian hari semakin meningkat.

Inilah barangkali yang seharusnya menjadi poin penting untuk kita pikirkan bersama agar moral dan akhlak generasi hari ini tidak sampai tercerabut dari akarnya, sebagai budak Melayu yang tidak bisa tidak harus berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman, karena bak kata orang bijak, adat Melayu itu, adat yang bersendikan syarak, syarak bersendikan kitabullah, ucap Syamsul Bahri yang juga merupakan pengurus LAM Riau Kecamatan Bukitbatu, Kabupaten Bengkalis.

Bahkan hal-hal yang selalu dianggap sepele selama ini, juga dikeluhkan di dalam seminar sehari itu. Seperti keberadaan acara orgen tunggal di helat pesta pernikahan. Acara yang seharusnya menjadi malam hiburan untuk menghilangkan lelah karena telah mempersiapkan segala bentuk persiapan pada hari bersanding justru menjadi malam di mana segala bentuk kemaksiatan dihalalkan. Minum minuman berakohol, mabuk-mabukkan, para artis orgen menari dengan pakaian serba seksi, belah dada, dedah paha.

Dan itu dipertontonkan di hadapan semua kalangan masyarakat, mulai dari anak-anak sekolah sampailah orang-orang tua yang hadir pada malam itu. Memang bentuknya hiburan tetapi hiburan yang tidak lagi senonoh, tidak lagi sedap dipandang mata, baik di mata adat budaya, apatah lagi agama, ucap Tina, salah seorang pelaku seni tari Kecamatan Bukitbatu.

Hanya saja, lanjutnya sampai hari ini, hal yang menurutnya harus mendapat perhatian dan teguran oleh orangtua, cerdik pandai  di kampung, justru terus saja terbiar berlaku. Seolah-olah prilaku-prilaku yang jelas-jelas menyimpang dari identitas budaya Melayu bahkan agama itu, menjadi peristiwa yang relevan, biasa-biasa saja.

Menanggapi berbagai hal yang dikeluhkan, Ketua Umum LAM Riau Kecamatan Bukitbatu, Muslim Rozali pun menyadari, ada banyak persoalan-persoalan di kampung yang kemudian tanpa disadari sebenarnya akan menjadi persoalan yang serius ke depan, terutama terkait dengan pengaruh-pengaruh negatif globalisasi yang perlahan-lahan akan memangkas akar-akar budaya yang selama ini tertanam.

Katanya, seminar yang ditaja itu merupakan langkah awal dari kerisauan bersama, tetapi tentu saja, pekerjaan ke depannya tidaklah mudah. Semua unsur lapisan masyarakat diminta pula untuk saling bekerja sama. Baik itu orangtua, pihak sekolah bahkan pemerintah desa setempat.

Diyakini Muslim, salah satu upaya untuk menangkal serbuan globalisasi itu adalah dengan cara kembali mengenalkan kepada generasi muda kepada nilai-nilai budaya yang dimiliki. Misalnya, menggiatkan kembali kegiatan remaja-remaja masjid, membuka kelompok-kelompok seni sehingga ada kegiatan-kegiatan positif dari anak-anak kita ketimbang misalnya hanya berjalan hilir mudik, berkumpul-kumpul tak tentu arah, jelas Muslim.

Bentengi Diri
Hadir sebagai pembicara undangan dari Pekanbaru ketika itu, Seniman/Budayawan pilihan Sagang 2014, Hang Kafrawi. Di hadapan para peserta yang terdiri dari para siswa/siswi dan juga pemuka masyarakat, Hang Kafrawi membentangkan sebuah makalah yang berjudul Memperkokoh Kesejatian Melayu dalam Menghadapi Era Globalisasi.

Dipaparkan Ketua Jurusan FIB Unilak itu, dalam memenuhi keperluannya yang sesuai dengan keadaan zaman, manusia selalu melakukan penemuan-penemuan baru, agar bisa mengikuti rentak waktu dan zaman. Hal itu yang menyebabkan kebudayaan itu tidak statis, kebudayaan itu dinamis sesuai dengan keperluan zaman. Keadaan inilah yang harus diwaspadai oleh suatu puak atau suku. Apabila kehendak zaman diikuti tanpa nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi tidak kuat, maka akan melahirkan kebudayaan hampa, kebudayaan tanpa identitas. Kebudayaan hampa ini penyebab terkikisnya rasa cinta, baik sesama manusia, maupun terhadap alam, paparnya.  

Tentu saja di zaman yang serba canggih ini, dengan ditandai bermunculan teknologi yang dapat mengakses setiap saat keadaan dan kebudayaan luar, tidak dapat diharamkan, ianya berada di tengah masyarakat kita. Diperlukan penggalian terhadap diri, masyarakat atau puak, sehingga nilai-nilai luhur yang turun-temurun dimiliki tidak luncas lepas dari pikiran dan perbuatan.

Itu sebabnya mengenal diri menjadi sesuatu kekuatan dalam membentengi diri dari serangan kebudayaan asing. Mengenal diri dalam artian masyarakat, yaitu mengenal nilai-nilai tradisi. Di dalam tradisi Melayu terkandung nilai-nilai kearifan, keadadilan, kebersamaan dalam mengarungi hidup ini. Kearifan menjaga alam, arif dalam bertindak untuk kepentingan bersama, kearifan untuk memperkuat keadilan agar hidup ini menjadi harmonis, tambahnya.

Hang Kafrawi juga menyetujui, bahwa selain menggiatkan kembali kegiatan-kegiatan agama untuk generasi muda, seni budaya juga merupakan salah satu urutnya, mempelajari seni juga mempelajari hati nurani, dan belajar banyak hal tentang kehidupan. Mengutip pernyataan pakar futuristik, Kafrawi menutup seminar dengan mengatakan Bermula di abad ke 21, dalam menghadapi era globalisasi, agar tidak kehilangan identitas diri, yang menjadi penangkal agar tidak tersesat adalah agama dan seni. Maka isilah hidup dengan berkarya, ucapnya tegas.

Di sesi berikutnya, tampil pembicara Jefri al Malay memberikan pemahaman kepada siswa-siswi terkait dengan nilai-nilai tradisi menjadi identitas karya seni modern. Antusias siswa-siswi mempertanyakan seputar keberadaan seni budaya Melayu dan juga upaya-upaya pengembangannya pada hari ini menunjukkan sebenarnya minat dan keingintahuan mereka cukup tinggi. Persoalannya kemudian, tinggal lagi bagaimana mengarahkan generasi muda dan memberikan laman tempat mereka untuk mengekspresikan kreatifitas saja. Dan hal ini memang menjadi tugas bersama untuk mewujudkannya.***
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us