Fathromi R

Hikayat Kematian Sungai

22 Februari 2015 - 12.18 WIB > Dibaca 2138 kali | Komentar
 
Beberapa kali kulihat air sungai di hadapanku. Aku jadi ingat sesuatu, dan mungkin ini khayalan yang berlebihan; di dasarnya bersemayam makhluk menyeramkan dengan mata merah kehitaman, gigi yang runcing dan sisik sekeras tiang pagar rumah Pak Penghulu. Mengingat itu, aku jadi selalu ragu melanjutkan memancing. Tapi tidak buat Jamal, kawan dekatku. Tak jarang ia tertawa saat aku cerita soal yang ada di benakku. Kata Jamal, aku terlalu banyak lihat film hantu. Ia tak percaya dengan mahluk-mahluk itu. Pernah suatu ketika, kami memancing ikan dari cabang pohon yang menjorok ke tengah sungai. Kami mendapati mata pancing Jamal tersangkut sesuatu, dan kulihat buih keluar satu-satu, mungkin aku berlebihan, melihat sekilas mata merah kehitaman di balik air keruh itu. Kulihat Jamal masih menarik-narik jorannya yang belum lepas. Ia tak sabar, lalu terjun ke sungai. Lalu sepi. Baru saja aku seperti melihat sebongkah batu jatuh ke air. Jamal tenggelam. Detak jantungku seperti berhenti. Mataku berkunang-kunang saat aku tak melihat Jamal muncul, dan tak menyaksikan lagi mata keji merah kehitaman, namun justru aku melihat bayangan ekor besar penuh sisik bergoyang lalu menghilang. Beberapa menit setelahnya aku melihat ada yang muncul di tepi sungai dekat akar bakau. Mulutnya seperti ingin menahan tawa. Kukira itu Jamal. Ketika aku turun dari cabang pohon ini, aku sangat yakin akan mencekiknya!
***

Tapi aku sepertinya- tak akan pernah berubah. Aku yakin ada napas penuh kebencian di dasar sungai ini. Jamal tentu tengah beruntung tempo hari, tidak digigit betisnya karena telah memberi gangguan tak termaafkan. Aku selalu mengatakan padanya, mengapa airnya menghitam punya bau menyengat seperti bau kematian- lalu kukatakan kisah serupa yang ada dalam pikiranku. Untuk yang satu ini, ia setuju, ia benci bau sungai ini. Ia mengaku hampir mati lemas saat menakutiku beberapa waktu lalu, karena bau kematian ini, meski ia tak percaya ada mahluk mata merah kehitaman dengan gigi runcing yang lapar akan betis manusia. Jamal yakin, bau sungai itulah sebab sekarang ikan susah dicari. Lalu kami seakan kompak melihat dari kejauhan, juga di pinggir sungai, sebuah kilang. Ada puluhan potong batang sagu mengapung, berbaris rapi di sepanjang sungai. Tiap hari kami melihat kilang itu, dan tiap hari kami tidak memiliki apa-apa untuk dikatakan.

Kukira, kami hanya memiliki imajinasi tersendiri soal kilang tersebut. Setidaknya, aku tahu imajinasi dalam benakku. Seperti potongan-potongan kayu sagu yang bergoyang kena gelombang pompong yang datang, mengingatkanku pada film Insomnia, saat Detektif Dormer mengejar Walter Finch di sebuah sungai yang banyak potongan kayu balak besar. Ah! Ini imajinasi yang sama sekali tidak mirip. Warna sungainya juga beda. Aku tentu akan lebih suka berimajinasi soal rumah-rumah tempat peralatan kilang itu yang hanyalah modus belaka. Mereka ternyata memiliki ruangan bawah tanah, rahasia, yang digunakan untuk penelitian rahasia pula: mengungkap keberadaan mahluk mengerikan dan berbau kematian di dasar sungai ini.

Namun imajinasi yang paling aku suka adalah ketika aku menganggap apa yang aku lihat saat ini adalah sebuah lukisan di kanvas yang dilukis dari pensil; di sebuah ruangan, ada meja kerja dan sebuah kursi. Di meja terbentang kanvas yang telah terlukis sungai dengan potongan-potongan batang sagu yang terikat dan tersusun rapi, mengapung di sungai, di pinggirnya ada pohon bakau, beberapa pohon kelapa nyaris tumbang, sebuah pompong tertambat, sampan kolek terikat, dan ada beberapa rumah tanpa dinding, beratap rumbia dan seng. Saat aku melihat semua pemandangan itu, aku tengah duduk rapi di depan meja, dan ujung jari telunjuk dan jempolku telah menyentuh sepotong penghapus pensil. Aku tersenyum senang melihatnya, seperti tengah menemukan air es saat beduk buka berbunyi pada Ramadhan di lima tahun usiaku dulu.

Pelan-pelan kugerakkan penghapus di atas pohon kelapa yang mau tumbang. Aku tak menyukai pohon kelapa seperti itu. Dan, pohon kelapa itu kuhapus dan hilang dari pandangan. Kurasa itu lebih baik. Jika ada bakau yang juga mau tumbang, tentu sudah kulenyapkan dari kanvas ini. Dan lihatlah, di sungai itu! Sesuatu yang sama sekali tidak mirip dengan yang ada di film buatan Christophen Nolan tersebut. Aku tentu akan menghapus potongan-potongan sagu tersebut. Ia mengganggu. Juga rumah-rumah sagu itu. Aku tidak akan menghapus sampan atau pompong, sebab itu pemandangan yang jika kami melukisnya di sekolah untuk tugas latihan, tentu akan dapat nilai delapan dari Bu Dewi. Dan sekarang aku telah selesai memperbaiki lukisan ini.

Bukankah ini indah? aku bersemangat menunjukkan lukisan kanvas ini ke Jamal.

Ini lukisan apa? tanya Jamal.

Ini sungai, Jamal. Aku mengarahkan telunjukku ke bentuk sungai yang berliku itu. Lihat baik-baik. Engkau mengenalnya? Aku telah membuatnya menjadi sungai sesungguhnya!

Ini...? Dahi Jamal berkerut, Aku tidak mengerti. Katanya. Ia tampak menahan napas. Mungkin pendengaranku salah. Kudengar rahangnya bergemeretak.

Engkau, engkau gila Fik!

Aku mundur beberapa langkah.

Engkau telah menghancurkannya!  

Kini aku tahu, itu lukisannya. Tapi aku yakin, ia belum melihat lukisan yang kuperbaiki itu telah jadi lebih baik dan indah. Kalau ia tahu, tentu ia senang dan menyukainya.

Lihatlah lagi lukisan itu.. Kuarahkan pandangannya dengan telunjukku. Lihat, pemandangan jadi lebih baik, tidak ada kayu-kayu sagu. Tidak ada kilang, bahkan kubuat sungai jadi jernih.. Aku tahu ia tentu senang melihatnya. Aku tahu karakternya.

Engkau.., bisiknya ..menghancurkan lukisanku.. Kurasa, ada api di dadanya. Dan kuyakin ia salah paham. Jamal tidak melihat yang sesungguhnya.

Bukankah itu lebih baik, Jamal? Lihatlah baik-ba..

Engkau tahu, makna dari menghancurkan lukisanku?! Pada detik ini, aku merasa suaranya berubah seperti seorang psikopat di film-film thriller.

Tapi..

Keluaar!!
***

Soal kanvas itu hanyalah imajinasiku. Ia hanya khayalan liar yang tak bisa kukendalikan. Aku tentu tak memiliki fikiran buruk terkait Jamal yang murka karena merusak lukisannya. Itu hanya ilusi. Kuceritakan ini pada Jamal, dan ia lagi-lagi- tertawa, bahkan terpingkal-pingkal, dan menasehatiku agar tak berlebihan melamun. Menjelang Magrib saat kami akan pulang, Jamal selalu ingin mengatakan sesuatu soal khayalan-khayalanku. Namun selalu tidak jadi. Dan seperti biasa, aku segera pulang ke rumah yang berjarak tiga kilometer dengan sepeda, dan Jamal hanya jalan kaki, sebab rumahnya cukup dekat, tak jauh dari kilang sagu tempat ayahnya bekerja.***

Pekanbaru, November 2014


Fathromi R
lahir di sebuah perkampungan bernama Ketamputih, desa terletak di pesisir selat Bengkalis. Lelaki terlahir pada 11 haribulan Mei 1988 ini gemar menulis cerita pendek, sebagian cerpen tersebut di antaranya telah hadir mewarnai media massa lokal dan luar Riau. Beberapa media pernah menerbitkan tulisan-tulisan tersebut, di antaranya, Riau Pos, Metro Riau, Haluan Riau, Koran Riau, Sumut Pos, Malut Pos, Majalah Frasa, juga tabloid kampus saat ia masih berstatus mahasiswa di UIN Suska. Beberapa buku antologi bersama yang pernah ikut ia tulis bersama teman-teman penulis, di antaranya buku kumpulan puisi Sesayat Munajat Doa, Kumpulan Cerpen FLP Se-Sumatera Kerdam Cinta Palestina, Kumpulan Cerpen Pilihan Riau Pos 2012 Dari Seberang Perbatasan, kumpulan cerpen pilihan FAM Indonesia 2013 Kleptomania.
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 15:00 wib

2.000 IKM Tak Terdaftar

Minggu, 23 September 2018 - 14:48 wib

Pemotor Kecelakaan Beruntun

Minggu, 23 September 2018 - 14:34 wib

Polisi Gadungan Ditangkap

Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Follow Us