Oleh: Marlina

Bomo

22 Februari 2015 - 12.19 WIB > Dibaca 1933 kali | Komentar
 
Bomo
Kampung Asap, cerpen yang ditulis Zulhelmi Amran (dalam Negeri Asap, Kumpulan Cerpen Riau Pos 2014), berkisah tentang suatu masyarakat di Riau yang masih mempraktikkan pengobatan tradisional yang dilakoni oleh seorang bomo (dalam bahasa Indonesia disebut dukun, pawang, atau cenayang). Adalah Tuk Bomo lakonnya. Ia dianggap sakti oleh orang kampungnya, bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Oleh sebab itu, apabila sakit dan ingin berobat, mereka tidak perlu mendatangi bidan ataupun dokter. Tuk Bomolah yang disambangi dengan membawa persyaratan pengobatan. Tuk Bomo pun akan melakukan ritual pengobatan dengan membakar kemenyan dan membaca mantra(-mantra).

Tuk Bomo memang sakti, mampu memengaruhi menantunya, Midan (suami Ipah, anaknya). Sang menantu dulunya adalah seorang ustaz yang setiap Jumat selalu memberikan khotbah di kampung tersebut. Namun, sejak menikahi anak Tuk Bomo, Midan banyak berubah. Mantan ustaz ini mulai cekatan membakar kemenyan dan fasih membaca mantra. Setiap hari rumah mereka disesaki asap dan bau kemenyan.

Berbilang bulan, akhirnya Ipah pun melahirkan seorang bayi perempuan. Persalinannya tentu saja dibantu oleh seorang dukun beranak. Tuk Bomo, sang calon atuk, telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kelahiran cucu pertamanya. Ia sibuk menyediakan benda-benda yang dianggap dapat menangkal roh jahat, orang jahat, hingga binatang jahat sekalipun. Akan tetapi, tidak berapa lama, sang bayi menderita sesak napas. Kesehatannya terganggu.

Midan tersadar, asap kemenyanlah biang keladinya. Setiap hari putri kecilnya dikerubungi asap. Tuk Bomo bukannya menghentikan ritual pengobatannya, malah semakin menambah tebal asap kemenyan. Tangis putri kecil Midan tidak juga berhenti. Midan kehilangan kesabaran. Semua peralatan perdukunan Tuk Bomo dibuangnya dengan penuh amarah. Rumah pun bersih dari asap dan bau kemenyan. Namun, sesak napas sang putri tidak juga berkurang. Akhirnya bayi mungil itu pun menghembuskan napas terakhirnya.

Tampaknya, benar pendapat para ahli sastra bahwa karya sastra tidak lahir dari kekosongan. Apa yang didedahkan Zulhemi Amran dalam cerpennya itu bisa jadi terinspirasi oleh realitas dalam masyarakat kita. Terlepas dari drama keluarga Tuk Bomo, memang masih ada ritual pengobatan tradisional semacam itu yang dilakoni oleh seorang bomo. Suku-suku asli yang disebut komunitas adat terpencil (KAT) di Riau masih ada yang menemui bomo; bukan mantri, bidan, apalagi dokter; saat sakit. Uniknya, praktik pengobatan tersebut dibarengi dengan kesurupan (trance).
    
Suku Sakai dan suku Akit di Kabupaten Bengkalis, suku Bonai di Ulak Patian Rokan Hulu, dan suku Petalangan di tiga kecamatan (Langgam, Bunut, dan Kuala Kampar) Kabupaten Kampar merupakan contohnya. Tim peneliti Balai Bahasa Provinsi Riau, pada 2013 silam berhasil mendokumentasikan salah satu kekayaan budaya itu. Walaupun esensi praktiknya sama, tetapi istilah yang dipakai oleh tiap-tiap suku untuk merujuk pada praktik tersebut berbeda: dikir (suku Sakai), badewo (suku Bonai), bedikei (suku Akit), dan belian (suku Petalangan).

Dikir diawali dengan pembacaan mantra oleh bomo. Sambil berkomat kamit, ia menjumput campuran beras putih dan kuning, lalu disebar-sebarkan ke seluruh ruangan. Kemudian, sang bomo mendekati si sakit sambil membacakan mantra seraya menari-nari diiringi tetabuhan gendang dan gong kecil.

Badewo pun diawali dengan membaca berbagai mantra untuk memanggil jin dan makhluk halus. Ketika proses pemanggilan jin dan makhluk halus ini, bomo akan kerasukan. Lalu, sang bomo yang berhias daun pucuk ibung akan menari-nari seraya membaca mantra. Tarian bomo ini disebut badewo lancang kocik, yakni tarian untuk mengusir roh jahat dan penyakit dari dalam tubuh pasien.

Untuk berkomunikasi dengan roh, bomo dalam ritual bedikei juga membaca mantra. Pada saat melakukan ritual pengobatan, bomo dalam keadaan kesurupan. Lalu, ia menyanyikan syair sambil memanggil roh gaib yang mereka percaya bisa menyembuhkan penyakit.

Suku Petalangan menyebut kemantan, bukan bomo. Kemantan yang melakukan ritual belian juga menghubungi makhluk gaib yang baik dan meminta mereka ikut hadir untuk membantu menyembuhkan penyakit pasien. Belian dimulai dengan membunyikan ketabung. Kemantan duduk bersila sambil membaca mantra, lalu sujud menyembah ke arah dian. Setelah itu, ia berdiri dan berjalan mondar-mandir di atas tikar, yang berlanjut dengan menari-nari sambil melantunkan mantra. Kemantan saat itu dalam keadaan kerasukan makhluk gaib. Berikutnya, kemantan meminta obat sambil terus menari-nari dan membunyikan genta, serta mendendangkan mantra.

Itulah berbagai ritual pengobatan suku-suku asli di Riau. Apa pun pendapat (menerima atau menolak) tentangnya, dalam praktik dikir, badewo, bedikei, dan belian tersebut sesungguhnya terekam pengetahuan lokal (indigenous knowledge). Pengetahuan tersebut dalam pandangan Warren (1991) merupakan keunikan. Ia memang berbeda dengan pengobatan yang berlandaskan pengetahuan yang diperoleh dari perguruan tinggi, lembaga penelitian, atau pun perusahaan swasta. Namun, bagi suku-suku tersebut, pengetahuan itu merupakan dasar bagi pengambilan keputusan dalam pengobatan. Keputusan tersebut diambil dari dunia di luar manusia.***



Marlina
Pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:14 wib

Etape Terakhir Diraih Tim Sapura Cycling Malaysia

Follow Us