Oleh: Imelda

Tanah, Marwah, dan Uang

8 Maret 2015 - 07.33 WIB > Dibaca 1412 kali | Komentar
 
Tanah, Marwah, dan Uang
Adalah seorang lelaki tua (kadang disebut juga orang tua) tinggal di sebuah rumah di ujung suatu kampung. Kini, ia menjadi penghuni terakhir, bertahan seorang diri, tanpa anak dan istri.

“Dulu, sebelum perusahaan pembabat hutan datang, di kawasan rumah lelaki tua itu, ada ratusan rumah. Mereka harus rela mengungsi disebabkan himpitan ekonomi. Tanah berserta isinya, terpaksa dan dipaksa dijual ke pihak perusahaan. Pihak perusahaan dengan mengantongi izin dari pemerintah memberi ganti rugi yang tidak sepadan kepada masyarakat yang mendiami kawasan itu. Pihak perusahaan memiliki kekuatan dengan izin yang dikeluarkan pemerintah, sementara masyarakat tidak memiliki surat atas tanah itu. Padahal tanah itu sudah jadi milik mereka dari nenek moyang secara turun-temurun.”

Demikian cuplikan cerpen Rumah di Ujung Kampung karya Hang Kafrawi (Yayasan Sagang, 2014). Nukilan tersebut menjadi latar keseluruhan cerita yang tampaknya diangkat dari hiruk pikuk perkara tanah sebagai imbas dari pembabatan hutan untuk berbagai keperluan (industri dan perkebunan) yang seolah tak terkendali di Bumi Lancang Kuning.

“Ini tanah aku! Tanah inilah marwah aku satu-satunye!’’ ujar lelaki tua itu sambil bercengkak pingang. ‘’Kalau mike nak pindah, pindahlah! Aku tidak!’’ kata lelaki tua itu lagi.” Itu terucap saat ia dibujuk meninggalkan tanahnya untuk diserahkan pada perusahaan pemilik izin pembabatan hutan. Penggalan dialog ini memberi tahu pembaca bahwa bagi tokoh kita, lelaki tua, tanah bukan sekadar lahan untuk menyambung hidup. Pun bukan pula sekadar tempat tinggal. Lebih dari itu, tanah itu  merupakan marwahnya.  

Bagi sebagian orang (sekarang), mungkin apa yang dipertahankan lelaki tua itu dengan tidak mudah (diteror hingga dibunuh) merupakan hal yang sepele: tanah sebagai komoditas (dapat diperjualbelikan). Tidak demikian halnya bagi tokoh sentral cerpen ini, tanahnya adalah marwahnya. Apabila direntangkan lebih luas hingga ke tafsir teks secara sosiologis, tentu akan dapat dipahami pendirian lelaki tua itu. Bagi orang Melayu, (hutan dan) tanah merupakan marwah. Tenas Effendi (alm.) selaku tokoh budaya dan masyarakat Melayu pernah berujar:

‘’Apabila pesukuan tak berhutan tanah, samalah artinya sebagai orang dagang (pendatang), yang hidup menumpang di rimba orang, bernaung di suak sungai orang, menanti belas kasihan orang, menunggu ladang dan belukar orang.  Sehingga persukuan ini ke atas tidak berpucuk, ke bawah tidak berakar, di tengah tidak berbatang. Tuah habis, marwahpun hilang, suku hina kaum pun terbuang’’.

Elmustian Rachman menambahkan pula bahwa ‘’Apabila tidak berhutan tanah, Awak menepi orang ke tengah, Marwah tercampak tuah pun punah, Anak dan cucu akan menyumpah’’(Sani, 2013).

Konflik batin lelaki renta itu bukan pula dipicu perkara marwah semata. Usia senja turut memperkukuh penolakannya untuk pindah dan menyerahkan tanahnya. Suatu saat, ia harus sampai pada “perhentian hidupnya”. Itulah saat ia kembali ke tanah (meninggal dan dikubur), dan tanah (kuburan) itu berada di tanahnya sendiri. Apa yang akan terjadi apabila ia tidak memiliki tanah untuk peristirahatan terakhirnya? Demikian keyakinan yang dimilikinya.

Lelaki tua itu pun merupakan sosok yang tidak mau menghilangkan makna sebuah perjuangan dan kesetiakawanan. Kampung yang dipertahankannya merupakan hasil kerja keras bersama teman-temannya (Ayah Karim dan Daham). Ia tidak mau menghilangkan makna dan kenangan itu.

Tidak seperti lelaki tua (bertahan di kampung, tahan terhadap godaan uang, intimidasi, dan teror), orang kampung justru sangat “realistis”. Mereka keluar (meninggalkan) kampung dan menyerahkan tanah (menjual) kepada pemilik perusahaan. Mereka seolah orang yang tidak mempertahankan marwahnya: mudah menyerah dan menukarnya dengan uang. Sikap yang demikian bukanlah tanpa alasan. Mereka berada di pihak yang tidak diuntungkan (posisi tawar yang lemah) apabila berhadapan dengan hukum pemerintah.  

Lebih tragis lagi apa yang dilakoni oleh Kasim dan Daham. Anak seperjuangan lelaki tua dalam menyulap hutan menjadi kampung ini menjadi kalap karena tuntutan hidup. Mereka ingin hidup senang dari uang hasil penjualan tanah dan upah membujuk orang tua itu untuk meninggalkan tanahnya.  Puncaknya, mereka kehilangan kata, akal, dan kesabaran. Senjatalah yang bersuara: “Dooooorrrrrr...’’  Namun, lelaki tua itu memang tangguh. Ia masih sempat mencekik dan menebaskan parang kepada anak kawan seperjuangannya itu. Baginya tiada kata menyerah: ‘’Ini tanah aku! Siapa pun tidak bisa mengusirku!’’ ucap orang tua itu dengan pasti.”

Sekilas, karya Hang Kafrawi ini terlihat sederhana. Namun, setelah melalui pembacaan ulang, terungkap makna mendalam, sarat dengan simbol. Gambaran dunia lelaki tua, orang kampung, dan Karim beserta Daham begitu dekat dengan kenyataan masyarakat Riau. Melalui tokoh dan narasinya, Hang Kafrawi mengajak pembaca mengenal manusia dan dilema masyarakat (di Riau). Hal itu sah-sah saja dalam pandangan Durkheim (sosiologis), karena karya sastra sangat lekat dengan masyarakat. Dari sudut pembaca, proyeksi kehidupan dalam karya sastra dapat dijadikan referensi tanpa harus mengalaminya secara langsung. Karya sastra dapat menjadi perantara manusia dan realitas di sekitarnya.***


Imelda
Pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us