Sejarah Terabaikan

15 Maret 2015 - 08.00 WIB > Dibaca 1125 kali | Komentar
 
Menurut sepengetahuan Tengku Uzir, moyangnya, Tengku Bagus Said Toha lahir di Siak Sri Indrapura pada 1830. Orang tua beliau adalah Raja Siak Sri Indrapura yang ke-X (kesepuluh). Ayah beliau bernama Sultan Syarif Kasim I dan Ibunda beliau bernama Tengku Ampuan.

Tengku Bagus Said Toha mempunyai beberapa orang saudara kandung diantaranya Tengku Embung, Tengku Muda, Tengku Tanudi, Tengku Hasyim, Tengku Bagus Said Toha, Tengku Mah Bungsu dan Tengku Anum.

Diceritakan juga, diantara saudara kandung Tengku Bagus Said Toha yang terkenal adalah Tengku Hasyim yaitu yaitu Raja Siak Sri Indrapura ke XI (kesebelas). Tengku Hasyim adalah Ayahnda dari Sultan Syarif Kasim, Raja Siak Sri Indrapura ke XII (keduabelas) yang saat ini telah dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional.

Tengku Bagus Said Toha mempunyai dua orang istri. Istri pertama bernama Cik Tekah dan Istri kedua bernama Tengku Long Cito Syarifah Latifah. Dari Kedua Istrinya itu beliau dikaruniai 11 (sebelas) orang anak yaitu Tengku Embik, Tengku Bih, Tengku Sukma,Tengku Daud,Tengku Usma, Tengku Kelana, Tengku Endut, Tengku Bakar, Tengku Basnu, Tengku Aminah dan Tengku Rahmah.

Sementara itu, sekilas cerita tentang Tengku Bagus Said Toha, menurut salah seorang cicit lainnya, Tengku Syarifudin (63),Tengku Bagus Said Toha bersama-sama saudaranya Tengku Hasyim sangat menentang penjajahan Belanda yang masuk ke Siak Sri Indrapura pada waktu itu.
Suatu ketika, setelah melakukan pertempuran melawan Belanda, akhirnya Tengku Hasyim mengatakan kepada Tengku Bagus Said Toha bahwa beliau akan mengadakan perundingan damai dengan Belanda karena tak tahan lagi melihat penderitaan yang dialami rakyatnya. Hal itu dipertimbangkan Tengku Hasyim dari perlawanan yang sudah dilakukan selama ini, beliau  berpendapat bahwa Belanda tak bisa ditaklukkan dengan jalan perang dan kekerasan namun akan dimenanginya dengan jalan damai dan politik.  Hal itu pula tidak disetujui Tengku bagus Said Toha sehingga terjadilah silang pendapat antara ke dua adik beradik tersebut.

Akhirnya, Tengku Bagus Said Toha dikarenakan merasa pendapatnya tidak dipakai oleh Tengku Hasyim maka beliaupun tersinggung dan bermaksud meninggalkan Siak Sri Indrapura. Kenang Tengku Syarifudin lagi, bahwa Tengku Bagus ketika itu bersumpah tidak akan kembali ke Siak Sri Indrapura. Sumpah tersebut sangat diingat di kalangan keluarga kami yang  berbunyi timbul batu tenggelamlah sabut, baru aku balik ke Siak ucap pensiunan PNS itu yang saat mengulang ucapan sumpah itu, menunjukkan ekpresi bulu kuduknya merinding.
Demikianlah, akhirnya Tengku Bagus Said Toha pindah ke Bengkalis. Awalnya,  menetap di daerah sekitar Parit Bangkong tepatnya di daerah Kelapapati kemudian Beliau pindah lagi ke Damon. Sejak kepindahannya itu, Tengku Bagus Said Toha tidak pernah lagi mengingat kampung kelahirannya Siak Sri Indrapura.

Bahkan ada satu pantun yang juga cukup familiar yang pernah diutarakan oleh Tengku Bagus menunjukkan kekecewaan hatinya.  Pantun itu kemudian disampaikan Tengku Syarifudin di rumahnya sembari menahan sedih Cik badik menikam badik. Badik ditikam sebiji lada. Beramuk dua beradik. Negeri pulang pada Belanda, ucap Tengku Syrafuddin terbata-bata sembari mengusap airmata yang jatuh di tepian kelopak matanya.

Minim Sadar Budaya
Sejarah adalah suatu hal yang perlu diketahui dan dicermati pada hari ini. Namun demikian, keberadaan sejarah juga memerlukan sebuah pengkajian dan penelitian lebih dalam karena kisah-kisah yang terdapat di dalamnya sudah berlangsung di alur waktu jauh ke belakang.
Menurut salah seroang budayawan Riau, Taufik Ikram Jamil. Kisah sejarah mengenai Tengku Bagus ada berbagai versi yang kesemuanya sudah tercatat di beberapa buku sejarah. Perihal merajuk atau mengalahnya Tengku Bagus tidak terlalu penting diperbincangkan hari ini tetapi yang mesti dibenah adalah bagaimana membangkitkan kesadaran berbudaya antara sesama kita di negeri ini.

Tidak hanya BCB makam dan rumah Tengku Bagus yang terlihat seperti terabaikan akan tetapi ada banyak benda cagar budaya di Riau yang tidak terawat dengan baik sehingga pelestarian peninggalan situs bernilai sejarah itu terancam rusak.

Penyair Riau sekaligus mantan wartawan Kompas itu menyebutkan, pelestarian akan keberadaan situs-situs budaya adalah sebuah pekerjaan bersama. Perda Benda Cagar Budaya sudah ada hanya saja Pergub-nya yang belum ada sehingga memang kita merasakan miris ketika menemukan warisan kebudayaan seperti BCB tidak terawat, tidak diperhatikan. Dan inilah saya kira yang perlu digesa dan pekerjaan kita bersama dengan pemerintah, tutup Taufik Ikram Jamil.(jef/fed)
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us