Oleh: Muhammad Pical Nasution

Para Pemburu Surga

15 Maret 2015 - 08.57 WIB > Dibaca 1566 kali | Komentar
 
Di suatu sore yang ragu, matahari terlihat seperti makhluk pemalu. Deras arus sungai menyeringai di belantara waktu. Gemericik air yang dilepaskan ikan-ikan memecah sunyi. Saat itu, Rohmat dan Yadi duduk di tepi sungai sambil menunggu ternak mereka yang juga sedang malu-malu melumat sejumput ilalang.

Yad, kau percaya?

Mereka termakan isu. Semua sudah jelas diterangkan dalam kitab suci!

Apanya yang jelas?

Kiamatnya.

Ki Amat yang tinggal di dalam hutan dan misterius itu?

Bukan! Maksudku hari ketika seluruh makhluk hidup di muka bumi ini  dimusnahkan. Tidak ada yang tahu kapan kiamat itu datang, Mat. Hanya Tuhan yang punya hak untuk menentukan jadwalnya.

Jadwal?

Kiamat juga ada jadwalnya!

Seperti film di bioskop saja. Katanya, untuk masuk ke dalam gua itu, kita dikenai retribusi.

Ah, kamu ini bercanda. Seperti mau urus KTP saja.

Betul! Itu yang kudengar dari warga!

Kau harus ingat, surga itu belum dibuka untuk yang hidup!

Kapan bukanya?

Tanya Tuhan!

Ya sudah, begini saja, kalau nanti ada waktu, kita lihat langsung ke sana!

Perbincangan mereka ditelan sang waktu. Perlahan hari bertambah gelap. Suara jangkrik menggantikan tugas burung-burung senja. Bintang-bintang dan dewi rembulan mengusik dengan sangat berani.

***

Menjelang datangnya bulan Suro, warga desa dikejutkan dengan berita keberadaan gua keramat yang ada di dalam hutan. Bahkan sebagian warga berkata kalau gua itu dapat menolong manusia ketika kehancuran alam semesta tiba, saat kiamat melumat-lumat bumi dan seluruh penghuninya.

Yadi dan Rohmat mengumpulkan warga di balai desa sekaligus menegaskan bahwa berita tentang gua keramat itu bohong dan bisa membuat warga tersesat.

Itu bukan isu, Mas Yadi, sambut salah seorang warga.

Ini isu. Sampai sekarang saya dan Rohmat tidak menemukan apa pun di dalam hutan. Kalian bilang ada gua keramat di sana. Mana?

Itu kan karena Mas Yadi belum masuk ke ujung hutan.

Ya, karena saya tidak akan pernah percaya!

Pak Kades ada di antara kerumunan warga. Wajahnya terlihat pucat, lesu, dan sangat tidak bergairah.

Bagaimana Pak Kades? Yadi menyapa.

Ya, bagaimana enaknya sajalah. Kalau menurut Mas baik, kita lanjutkan.

Yadi menggeleng-gelengkan kepala ketika mendengar jawaban Pak Kades. Begitu juga dengan Rohmat. Tak lama setelah mendengarkan jawaban Pak Kades, satu-persatu warga pergi meninggalkan balai desa. Yadi dan Rohmat tak bisa berbuat apa-apa. Ketika hampir seluruh warga berpulangan, salah seorang warga menghampiri Yadi dan Rohmat, Rekso namanya.

Warga percaya kalau gua itu memang ada, Mas.

Itu isu. Apa kamu juga percaya?

Kalau Mas Yadi dan Mas Rohmat mau tahu, temui Ki Amat. Nanti dia yang bawa kita ke tempat itu, sambil berjalan meninggalkan balai desa.

Yadi dan Rohmat mencoba mencari tahu siapa sebenarnya Ki Amat sekaligus kembali menelusuri di mana keberadaan gua keramat yang sudah mencuri perhatian warga selama ini.

Yadi dan Rohmat kembali masuk ke dalam hutan. Hanya mereka berdua. Di sepanjang jalan menuju hutan, mereka tak menemukan apa-apa. Yang mereka temukan hanya bentangan pohon serta hijaunya dedaunan. Mereka pulang dengan tangan hampa. Tapi, di pertigaan jalan menuju desa, mereka berpapasan dengan seorang lelaki tua yang gelagatnya sangat mencurigakan. Awalnya Yadi tak peduli. Lalu Rohmat menoleh ke arah lelaki tua itu.

Yad!

Ada apa Mat?

Lelaki tua itu. Jangan-jangan itu tadi Ki Amat.

Tak mungkin! Tapi,.. Yadi pun menoleh.

Alangkah terkejutnya mereka saat lelaki tua itu luput dari pandangan mata. Tak ada siapa pun di sana. Yadi dan Rohmat mengejarnya. Tapi apalah daya, secuil jejak pun tak mereka dapatkan. Akhirnya Yadi dan Rohmat datang menemui Pak Kades untuk membahas masalah tersebut.

Pak Kades, kita harus turun tangan. Masalah ini bisa merusak kerukunan antar warga di desa kita.

Pak Kades tidak memberikan respon yang berarti. Sambil mengangguk-angguk, Pak Kades berkata kalau dirinya akan menindaklanjuti masalah itu dengan segera. Yadi dan Rohmat menemui jalan buntu. Tak mau menyerah begitu saja, mereka terus mencari keberadaan Ki Amat.

Laju waktu begitu cepat. Putaran-putaran rodanya tak mengenal kata terlambat. Kian hari, semakin banyak warga yang percaya bahwa di dalam hutan terdapat gua keramat. Sampai pada suatu ketika, saat Yadi dan Rohmat berjalan-jalan di pelataran desa, mereka bertemu dengan Rekso, lelaki yang memberi informasi bahwa hanya Ki Amat sajalah yang mengetahui di mana keberadaan gua keramat itu.

Mas Yadi, Mas Rohmat, sudah jadi bertemu dengan Ki Amat?

Belum. Tapi, beberapa hari yang lalu, saat kami jalan di hutan, kami bertemu dengan seorang lelaki tua, ujar Rohmat.

Mungkin itu Ki Amat. Tidak semua orang bisa bertemu dengan dia.

Kamu sudah pernah bertemu?

Sudah tiga kali.

Apa yang kamu dapat dari tempat itu?

Kalau ke tempat itu belum pernah. Tapi, hampir semua warga sudah menemui Ki Amat. Kalau ingin ke gua keramat, harus registrasi dulu Mas.

Lagi-lagi Rekso pergi begitu saja. Yadi dan Rohmat terdiam. Karena kehabisan akal, mereka kembali mendatangi Pak Kades. Tapi, setibanya di rumah Pak Kades, istrinya menjawab kalau suaminya sedang mengadakan pertemuan dengan Ki Amat dan beberapa warga yang ingin masuk ke dalam gua keramat itu.

Kalian tidak tahu ya?

Tidak tahu apanya, Bu Kades?

Kiamat sudah dekat.

Tahu dari mana?

Ki Amat.

Sudah pernah bertemu?

Ya sudah dong. Kemarin, hampir semua warga ikut. Tapi, kalau Mas Rohmat dan Mas Yadi mau ikut, registrasi dulu ke Bapak. Jangan lupa juga, ada biayanya. Sedikit kok.
Iya Bu Kades. Nanti kami langsung bertemu Bapak saja.
***

Desa terlihat sunyi. Hampir semua rumah tak dihuni. Pak Kades dan istrinya juga tak ada di tempat. Di tengah jalan, Yadi dan Rohmat berpapasan dengan seorang lelaki tua. Karena merasa curiga, Yadi dan Rohmat membuntuti lelaki itu. Mereka masuk ke dalam hutan. Lokasinya sangat jauh.

Mungkin itu Ki Amat, Yad.

Ya. Mungkin juga.

Sambil menunduk, Yadi dan Rohmat terus mengikuti tanpa sedikit pun melepas pandang. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat ratusan warga berdiri di depan sebuah gua besar. Antrean itu seperti kereta api dengan ratusan gerbong di belakang lokomotif yang membelah kota. Kerusuhan terjadi. Beberapa orang membuat gaduh. Tapi alangkah buruknya nasib pelaku gaduh. Mereka berubah rupa menjadi bangkai yang tak berharga, kemudian mayatnya digotong sosok bertopeng berjubah hitam. Pak Kades dan istrinya terlihat berada di barisan depan. Tepat di depan pintu gua, Ki Amat berdiri. Ia seperti penerima tamu yang mempersilahkan para undangan untuk masuk. Satu demi satu warga diperiksa. Lalu terdengar suara teriakan dari barisan paling belakang.

Ki Amat, Sampai kapan kami harus menunggu? Kalau begini, lebih baik kami pulang.

Manusia bertopeng berjubah hitam mendatangi orang itu. lehernya digorok, mayatnya dicampakkan begitu saja. Ketika hari hampir gelap, pembunuhan demi pembunuhan menjadi sesuatu yang sakral. Beberapa warga ikut membantu mencampakkan mayat tak berharga itu jauh dari barisan. Warga pun masuk ke dalam gua. Yadi dan Rohmat terus memantau.
Semua warga telah masuk. Yadi dan Rohmat memutuskan untuk pulang sembari mengatur strategi. Rekso keluar dari dalam gua. Ia kembali ke rumahnya untuk mengambil baju. Rekso berpapasan dengan Yadi dan Rohmat di pertigaan desa.

Mau ke mana, Mas Rekso?

Rekso terkejut bukan main.

Saya mau menjemput beberapa warga yang masih tersisa. Kami akan berangkat ke surga lebih dulu, Mas.

Apa yang terjadi? balas Yadi.

Kata Ki Amat dan Pak Kades, kiamat sudah dekat. Biar Mas tahu, ke surga itu pakai kuota.

Rekso berlari sekencang-kencangnya. Yadi dan Rohmat mengejar. Namun, jejak Rekso sayup di dalam hutan. Ia menghilang begitu cepat. Akhirnya, Yadi dan Rohmat kembali memantau gua itu. Berhari-hari mereka di sana. Tapi tak satu pun warga yang keluar. Rohmat mencoba masuk ke dalam gua itu.

Ini jalan terakhir, Yad. Aku harus masuk ke dalam. Seandainya aku tak kembali dalam beberapa jam, kau juga harus masuk.

Yadi menunggu di luar gua. Setelah Rohmat masuk, Ki Amat berdiri di depan gua. Yadi masih memantau dari kejauhan. Tiba-tiba, dari belakang lelaki tua itu, sosok bertopeng berjubah hitam menebas leher Ki Amat dengan golok. Yadi tersentak. Sosok bertopeng berjubah hitam itu membuka topengnya. Yadi tersenyum dan mendekat.

Saat Yadi berada tepat di depan mulut gua, berdiri berpuluh sosok bertopeng lainnya. Mereka saling membunuh hingga tak tersisa. Yadi hanya bisa melihat dengan mulut menganga.***

Maret 2014



Muhammad Pical Nasution
lahir di Medan 3 Januari 1986. Beberapa karya fiksinya pernah dimuat di beberapa koran seperti Analisa, Harian Global, Medan Bisnis, Sumut Pos, Sinar Harapan, Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Surabaya Pos, Berita Kota Kendari, Riau Pos, dan Radar Surabaya.
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 08:49 wib

Mulai Kesulitan Cari Dana Talangan

Kamis, 20 September 2018 - 08:39 wib

Harga Beras Premium Masih Tinggi

Kamis, 20 September 2018 - 08:22 wib

Teliti Baca Syarat Lowongan CPNS

Kamis, 20 September 2018 - 01:22 wib

Prabowo Tunjuk Neno Warisman Jadi Wakil Ketua TKN

Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Follow Us