Ruang Dengar

21 Maret 2015 - 22.58 WIB > Dibaca 1055 kali | Komentar
 
Bermula dari niat tulus untuk menghasilkan karya yang baik dan layak diapresiasi serta dapat dipertanggung jawabkan. Delapan anak muda yang tergabung dalam grup Riau Rhythm Chambers Indonesia (RRCI) menggelar program bertajuk Ruang Dengar beberapa waktu lalu di Taman Budaya  Riau-Pekanbaru.

Laporan JEFRIZAL, Pekanbaru

PROGRAM yang sengaja disusun manajemen RRCI secara berkesinambungan untuk mematangkan proses pengkaryaan. Tidak ada riuh rendah dan antrian penonton serta tepuk tangan bergemuruh karena memang konsep program Ruang Dengar itu sengaja diperuntukkan bagi segelintir orang.

Penonton pilihan itu pula kemudian yang menjadi harapan untuk memberikan penilaian, masukan dan kritikan atas karya yang dipergelar. Penonton pilihan yang dimaksud merupakan insan seni dari masing-masing percabangan. Sehingga karya yang sudah dihasilkan, dapat dinilai, diapresiasi dari sudut pandang yang berbeda pula.

Upaya untuk menghargai proses peciptaan karya yang diterapkan Riau Rhythm Chambers Indonesia. Rino Dezapati Mby selaku komposer menyebut program Ruang Dengar khusus dilakukan RRCI untuk peningkatan kedalam karya-karya musik yang telah dihasilkan. Karena itulah, dihadirkan limited audience.

Bahwa program ini diharapkan bisa membuka ruang imajinatif dengan mendengar dari sudut pandang seni di luar music. Karenanya sengaja dibatasi penonton agar detil-detil karya dapat lebih ditingkatkan, ucap Rino sembari menambahkan detil karya-karya dalam Jejak Suara Suvarnadvipa sudah hampir 50 persen berjalan sepulang dari tour sembilan kota di Indonesia dan Singapura.

Meskipun proses pembuatan karya-karya dalam Jejak Suara Suvarnadvipa memakan waktu setahun, Bagi RRCI belumlah cukup untuk kematangan sebuah karya. Bahkan proses pembuatan sembilan karya yang mengusung kebesaran sejarah Muaratakus itu dihasilkan melalui proses riset atau terjun langsung ke lapangan untuk menemukan fakta-fakta dan data-data, bertemu langsung dengan pewaris-pewarisnya, tetap saja diperlukan upaya-upaya lain agar sebuah karya yang dihasilkan lebih sempurna. Seperti halnya yang disampaikan Rino bahwa sebuah karya yang baik tidak cukup waktu setahun untuk menciptakannya,perlu waktu dan proses yang panjang agar karya-karya itu menjadi lebih matang, sampai ke titik yang diinginkan, ujarnya.

Ruang Dengar itulah kemudian menjadi salah satu upaya untuk mencapai proses kematangan dalam pengkaryaan. Tito Aldila Mby selaku Manager RRCI mengatakan, program ini akan terus berkelanjutan dengan menghadirkan audien yang berbeda pula. Pada Ruang Dengar I, hadir Budayawan Riau, Taufik Ikram Jamil. Dalam kesempatan itu, TIJ sapaan akrabnya itu menyampaikan apresiasi yang bagus terhadap kary-karya yang dihasilkan RRCI.

Selama 20 tahun menjadi wartawan hanya untuk menulis berita musik, beliau selalu menemukan kesulitan. Bahkan akhirnya, dia menemui seniman dan penulis musik untuk belajar menuliskan berita musik. Namun dalam kesempatan ini, TIJ merasa takjub bisa merasakan dan menikmati tema dalam karya-karya yang disuguhkan.

Tema konsep garapan musik ini saya nilai terletak pada instrument calempong dan gambang. Walau sebelumnya saya hanya mengetahui tema di dalam pertunjukan teater, tari, teks sastra yang memang sangat jelas. Namun musik RRCI secara tematik dapat saya imajinatifkan, ucap Taufik Ikram Jamil.

Hari Sandra Selaku Pemangku Ketua Dewan Kesenian Kota Pekanbaru (DKKP) yang juga hadir mengatakan progres yang RRCI lakukan luar biasa terutama dalam hal mematangkan karya-karya mereka. Hal serupa juga mesti dilakukan oleh cabang-cabang seni lainnya, dengan membuka ruang diskusi sebelum karya itu dipentaskan di hadapan khalayak karena disitulah menurut Hari ditemukan kelemahan dan kekuatan dari sebuah karya. Ruang Dengar inikan konsepnya seperti kuratorial, hanya saja kalau koratorial, kuratornya yang datang sendiri menyaksikan tetapi kalau yang dilakukan RRCI, dengan meminta kehadiran dari para penonton yang dipilih.

Hanya saja menurut Hari, hal yang perlu dievaluasi dari pelaksanaan Ruang Dengar I adalah harus ada teks atau katakanlah penjelasan terkait dengan karya-karya yang ditampilkan karena penonton yang hadir tidak bisa menangkap semua karya yang ditampilkan tanpa adanya penjelasan dalam bentuk teks.
 
Durasi karyanya kan cukup panjang sehingga apresiator tidak ingat benar dengan reportoarnya jadi kalau ada teksnya, penonton akan memahami lebih dalam sehingga ketika sesi diskusi, dapat membicarakan atau memberi masukan terhadap karya lebih dalam pula, ucapnya sembari menambahkan terkait karya-karya RRCI sangat bagus untuk diapresiasi.

Sementara itu,  Syahrul Ramadhan sebagai salah seorang pewaris Muara Takus yang turut serta menjadi apresiator dalam kesempatan itu mengatakan yang luar biasa dari karya RRCI adalah keberhasilan menyampaikan pesan-pesan lewat musik. Baginya tawaran musik dengan mengusung tema besar Muara Takus itu sampai ke relung-relung bhatin paling dalam sebagai mana salah satu karya yang berjudul Suara jiwa. saya pribadi sangat merasakan ratapan di dalam karya itu yang menyiratkan betapa kemudian Muara Takus yang dijadikan salah ikon pariwisata Riau, namun dalam realita yang ada cukup membuat hati miris, ucapnya.

Dari sudut pandang sebagai salah satu pewaris Muara Takus, Syahrul mewakili ahli waris lainnya menitipkan pesan dan menghimbau lewat karya RRCI itu untuk mengajak bersama-sama kepada kahalyak dan orang yang berpatutan untuk membangkitkan kembali peradaban yang dulunya besar dan kini sudah terlupakan atau tenggelam.
 
lewat karya inilah pesaan itu kami titipkan, siapa-siapa yang tergerak hatinya baik ilmuan, akademisi, pemerintah  untuk mengangkat kembali kebesaran peradaban itu. Kalau kataknalah Muartakus itu seperti atlantis, mari kita buka mitologi yang besar itu. Kalau dirawat sama-sama, diangkat sama-sama, maka bukan hanya Muaratakus yang akan gemgerlap tetapi Riau secara keseluruhan akan ikut gemerlap. Dan tentu saja pekerjaan itu mustahil untuk dilakukan sendiri tapi kita gerakkan bersama-sama, ucapnya penuh harap. (fed)
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Follow Us