Oleh: Jumadi Zanu Rois

Tahanan

22 Maret 2015 - 23.02 WIB > Dibaca 1648 kali | Komentar
 
Suatu hal yang sangat kebetulan bagi mereka yang tidak percaya takdir. Namun bagiku, tak ada yang kebetulan di dunia ini. Setiap apa yang terjadi itu sudah ada yang mengaturnya. Meski aku sendiri tidak percaya adanya tuhan. Jika pun tuhan ada, kenapa tuhan tak pernah hadir meski dalam bentuk apa pun. Melihat Mawardie, lelaki tua yang hampir mati ditelan kesunyian. Menghabiskan semua sisa hidupnya dengan menguburkan segala usia di balik-balik jeruji besi penuh sunyi.

Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Mengabarkan peristiwa yang mungkin sebagian orang menganggap hal ini biasa saja. Dan tak perlu mereka tahu lebih dalam. Tersebab terlalu banyak cerita yang lebih menarik untuk diketahui. Apa lagi di zaman reformasi ini. Semua peristiwa laksana angin yang bisa berhembus ke mana saja. Tak ada yang bisa menahannya. Yang setiap hari hinggap di mana saja.

Aku mengenali lelaki tua ini saat aku berkunjung ke sebuah lembaga pemasayarakatan di kota kami. Kota yang terbilang maju ini, telah melahirkan ribuan pesakitan. Dari tingkat paling bawah, hingga paling atas. Dari rakyat biasa hingga pejabat penguasa.

Aku kadang muak dengan kondisi ini. Kondisi yang sama sekali bukan sebuah harapan. Di mana semua orang harus hidup dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Kejahatan di mana-mana. Dari copet hingga korupsi. Wajar saja kalau setiap hari ada saja penghuni baru di lembaga kota kami.

Meski kondisi ini merupakan keuntungan bagiku sebagai pengacara. Tak jarang aku menerima kasus empat sampai enam perkara satu hari. Jika ini terjadi, jelas penghasilanku juga ikut bertambah. Tapi bukan itu yang buat aku senang. Kadang tak jarang aku harus membela orang yang terbukti bersalah. Tapi di lain sisi, aku harus bisa melakukannya. Agar nama baikku sebagai pengacara juga ikut naik.

Berbeda dengan lelaki tua yang baru aku kenal ini. Ada naluri lain yang datang tanpa aku inginkan. Ingin sekali rasanya aku mengetahui dia lebih jauh lagi. Setidaknya mengetahui apa penyebab dia harus menjadi penghuni di lembaga ini.

Tahanan 107. Berada di sel dengan nomor yang sama. Ada kemiripan. Entah sengaja atau tidak, aku juga tidak tahu. Hari itu tanggal 10 bulan 7. Tepat pukul 10 lewat 7 menit aku melihatnya di giring oleh polisi masuk ke dalam jeruji besi.

Lelaki tua, melihat parasnya aku rasa umurnya sekitar 60 tahun. Mungkin lebih. Sempat lama aku memandang lelaki itu. Tak terlihat olehku ada kejahatan di sana. Berbeda dengan beberapa klienku. Meski para klienku mengatakan dia tidak bersalah, setidaknya dari wajahnya terlihat dia seorang penjahat. Tak peduli dia siapa, rakyat atau pejabat.

Sesampai aku di rumah, wajah lelaki itu masih saja terbayang olehku. Sebenarnya aku begitu letih, ditambah belakangan ini aku memang disibukkan oleh klienku yang rewel itu. Dia memaksa aku harus menyelesaikan kasus tanah yang baru saja dibelinya. Tanah yang masih sengketa, yang menurut undang-undang memang belum layak dibeli. Belum tahu siapa pemilik sah tanah tersebut. Karena merasa dia telah mengeluar uang banyak dan tak mau rugi, dia memakai tenagaku untuk menjadi pemilik sah tanah tersebut. Aku juga tahu dia memiliki begitu banyak uang, kekayaan tiada terkira. Dan rela membayar aku jauh di atas harga yang aku tawarkan, asal keinginannya terkabul.

Baru saja jam dinding di rumahku berdentang 10 kali. Pantas saja mataku sudah terasa begitu berat. Berkas-berkas kerja yang masih menumpuk membuat aku lupa waktu. Besok pagi aku harus bangun lebih awal. Mengurus banyak hal, termasuk ke lokasi tanah yang kasusnya sedang aku tangani.

Segera aku masuk ke kamar. Meninggalkan semua pekerjaan di atas meja kerja. Tanpa aku bereskan. Aku sudah sangat lelah.

Alamak. Aku tak bisa memejamkan mata. Wajah lelaki tua masih terus saja hadir di ingatanku. Seakan dia begitu dekat. Dekat sekali. Padahal aku baru pertama bertemu dengannya. Namanya saja aku tidak tahu. Tapi aku merasa begitu dekat.

Aku tak bisa tidur dibuatnya. Semakin aku memejamkan mata, semakin jelas wajah lelaki itu muncul diingatanku. Bahkan terlihat persis raut dan tatapan mata. Ada apa ini? Tanyaku dalam hati. Apakah ini disebabkan pekerjaanku sebagai pengacara? Sehingga aku merasa layak untuk mengetahui dan mengenal lelaki itu lebih dalam lagi.

Aku ambil keputusan, pagi-pagi sekali aku harus berjumpa lelaki itu. Sekadar ingin kenal dan tahu penyebab apa hingga dia harus berurusan dengan penegak hukum. Mungkin dengan ini rasa penasaranku bisa berkurang. Dan tentang kegiatanku besok pagi, segera saja aku SMS klienku itu dan aku batalkan dengan alasan aku ada urusan keluarga yang tak bisa aku tinggalkan.

Pagi. Pagi sekali. Setelah aku bereskan semua pekerjaanku yang sempat tertunda, segera saja aku berkemas menuju rumah tahanan di mana lelaki itu ditahan. Lumayan jauh dari kediamanku. Harus menghabiskan waktu tiga puluh menit dengan mengunakan sepeda motor.

Tepat pukul 9, aku sudah berada di depan rumah tahanan. Langsung saja aku menjumpai kepala rumah tahanan dan mengatakan keinginanku. Sempat pula aku ditanya banyak hal. Karena menurutnya, aku tak punya alasan kuat untuk bertemu lelaki itu. Aku mengaku akan hal itu. Tapi setidaknya, mereka bisa mengizinkan aku karena aku beniat baik ingin menjadi pengacara untuk lelaki itu.

Mempertimbangkan banyak hal, akhirnya aku diizinkan untuk berjumpa lelaki tua itu. Di balik jeruji, aku melihat lelaki itu guling dengan nyamannya. Di atas lantai yang sama sekali tak beralaskan meski selembar koran sekali pun.

Melihat kedatanganku, lelaki tua itu langsung berdiri.

Jangan harap aku menjawab apa yang engkau tanyakan, jelasnya.

Lelaki tua itu lebih dulu membuat aku diam. Aku bingung dibuatnya. Dia telah menebak kedatanganku. Tapi setidaknya, lebih baik kalau aku memperkenalkan diri dulu. Dan menyampaikan alasan aku datang untuk menjumpainya.

Aku telah melanggar hukum. Dan tak mau melanggar untuk yang kedua kalinya. Lebih baik anda pulang. Aku tidak butuh pertolongan dari siapa pun. Aku sudah siap menerima hukuman, sambil mengarahkan aku menuju pintu keluar dengan telunjuknya.

Aku tidak berkutik. Diam bagiku sikap yang sangat baik. Dan tak cukup kuat alasanku untuk menolak permintaannya.

Segera saja aku memenuhi permintaannya. Dengan rasa hampa, aku meninggalkan lelaki itu. Segera aku menuju petugas. Mudah-mudahan melalui petugas, aku bisa tahu sedikit tentang laki-laki ini.

Dia melanggar peraturan pemerintah nomor 10 pasal ketujuh pemerintah tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran, jelas polisi kepadaku.

Lelaki itu hanya seorang staf dari sebuah rumah sakit. Dia ditahan dengan tuduhan telah membeberkan rahasia dokter. Yang menurut undang-undang dia telah bersalah. Dengan menuduh seorang dokter meniduri pasiennya. Sedang menurut dokter yang tertuduh, itu sama sekali tidak dilakukannya. Tindakan lelaki itu, menurut dokter tersebut telah membuka rahasia seorang dokter.

Tapi aku yakin lelaki tua itu benar. Karena aku juga baru mendapatkan tawaran kasus yang sama. Di mana klienku telah ditiduri seorang dokter. Dan sekarang klienku sedang menempuh jalur hukum untuk mendapat keadilan. Aku yang sedang menangani kasus itu. Aku pergi tanpa berkata sepatah kata pun kepada penjaga rumah tahanan dan berjanji akan usut tuntas masalah ini. Agar keadilan terus menjadi panglima di negeri ini.***

Ruang Sempit, Jan-Maret,2015


Jumadi Zanu Rois
Alumni Jurusan Teater di Akademi Kesenian Melayu Riau(AKMR)  yang sekarang menjadi Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR). Banyak mengerjakan dekor panggung untuk pementasan teater. Cerpennya pernah terbit di kumpulan Cerpen Pilihan Sagang Negeri Asap (2014). Menulis sastra, Cerpen dan Puisi di tengah pekerjaan sebagai Jurnalis. Kini tinggal di Pekanbaru.
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us