Oleh: Desi Sommalia

Gadis Kecil yang Mencintai Pagi

29 Maret 2015 - 09.55 WIB > Dibaca 1607 kali | Komentar
 
Ruth Ruth. Kenapa tidak tidur, Sayang?

Ini kali yang lain Ibu menemukan Ruth tersungkur di tepi ranjang. Terengah-engah. Wajah Ruth tertutup beberapa helai rambut.

Ibu mendekat. Ada apa, Ruth?

Ruth menggeleng dengan tubuh gemetaran.

Ibu membantu Ruth naik kembali ke atas ranjang.

Tidurlah, Ruth.

Tidak bisa, Bu.

Kenapa, Ruth?

Ruth membatu. Menatap mata Ibu.

Coba katupkan kedua matamu, Ruth. Lalu tidurlah.

Tidak bisa, Bu.

Kenapa?

Ruth ingin menunggu pagi, Ibu.

***

Ruth, sebelas tahun, berlari-lari di atas rumput di tanah lapang. Tertawa berderaian. Begitu lepas. Sedetik kemudian Ruth mendongak. Menatap awan putih. Seekor capung terbang melintasi Ruth. Ruth berlari. Mengejar capung. Menunggu ia hinggap di ujung rumput. Ruth bersorak. Begitu riang. Capung hinggap di tepi rumput gajah. Ruth mengintai. Bersiap menyergap sebelum capung terbang meninggalkan Ruth. Ruth mendesah melihat capung terbang. Menjauh. Terus menjauh. Ruth mengejar. Berlari. Lebih kencang. Kaki-kaki Ruth memijak duri puteri malu. Satu dua tetes darah membasah di telapak kaki Ruth. Terusuk duri. Ruth meringis tapi terus berlari. Mengejar capung.
 
Capung terbang ke dalam lorong. Begitu kencang. Menghilang. Membiarkan Ruth terperangkap dalam sebuah lorong. Sunyi. Gelap. Ruth berlarian. Mencari capung. Mencari jalan keluar. Bergantian. Ruth tak menemukan capung. Juga tak menemukan jalan untuk menembus lorong. Ruth hanya melihat gelap, dan sunyi dari dalam lorong. Ruth terjebak pada lorong yang mengunci. Ruth berputar. Menengadah. Ruth menemukan dua dinding dengan atap yang rendah. Memanjang. Tak bertepi. Ruth berdebaran. Gelisah terperangkap di dalam lorong.

***

Ruth terus berlarian. Mengitari lorong. Ruth berharap menemukan sebuah pintu rahasia ditiap sisi lorong. Ya, pintu rahasia untuk menembus dinding lorong.

Ruth Ruth.

Ruth menyalakan daun telinga.

Ruth! Ruth! Ruth!

Dada Ruth berdebaran mendengar sebuah suara. Seperti tidak asing.

Ruth Ruth.

Suara Ibu? Ruth membatin.

Ruth.

Kali ini tidak salah lagi! Ruth yakin mendengar suara Ibu.

Ruth Ruht.

Ruth hanya mendengar suara Ibu. Tapi tidak rupa Ibu.

Ruth Ruth.

Ya, Bu.

Ruth

Ibu dimana? Ruth berteriak.

Lalu hening.

Ruth mengedip-ngedipkan mata. Mencari tubuh Ibu.

Ruth Ruth.

Terdengar lebih jelas. Ruth berlari. Mendekat. Mata Ruth menangkap bayang-bayang berkelebat. Ibu dikepung laki-laki. Satu. Dua. Tiga. Empat. Sekelompok laki-laki. Menyergap. Melahap tubuh Ibu. Ibu meronta. Lelaki lain mendorong tubuh Ibu. Ibu terengah. Terdorong dalam tubuh sekelompok laki-laki.

Ruth Ruth

Dalam dekapan laki-laki, lirih Ibu memanggil. Lelaki membekap mulut Ibu. Ibu meronta. Pakaian Ibu berlepasan. Berjatuhan.

Ruth mendekat. Lebih dekat. Menolong Ibu. Satu lelaki menyeringai. Menatap Ruth. Lelaki lain menarik Ruth. Mendorong. Ruth terpental. Menjauh dari tubuh Ibu. Ruth terhempas. Peluh membasahi kening Ruth. Ruth gemetar dengan nafas yang memburu.

***    

Ruth Ruth.

Ibu mengguncang-guncang tubuh Ruth. Menyeka peluh di kening Ruth.

Kau sangat ketakutan. Kenapa?

Ruth masih berdebar-debar. Membisu. Mengedip-ngedipkan mata. Mengingat mimpi itu. Betapa jelas. Mimpi yang sama. Menyambangi tidur Ruth. Malam-malam Ruth.

Dia datang lagi, Bu.

Dia? Siapa, Ruth?

Mimpi itu.

Laki-laki. Sekelompok laki-laki. Mengepung Ibu. Dada Ruth membuncah.

Lupakan Ruth.

Tidak bisa, Bu. Ia serupa bayang-bayang. Mengikuti.

Ruth gelisah.

Ibu melihat kabut. Di mata Ruth. Kabut yang sama. Ya, serupa kabut yang berjalan di belakang Ibu. Membayangi.

Ibu mengingat. Malam itu. Bertahun-tahun lalu. Sebelum Ruth hadir. Sepulang mengaji perempuan berjalan pada sebuah malam pekat. Diantara rerumpun bambu. Perempuan mendengar sebuah derit. Berulang. Serupa langkah-langkah kaki berlarian. Begitu cepat. Mata perempuan menangkap sosok di balik rerumpun bambu. Satu. Dua Tiga. Empat. Begitu ramai. Perempuan gemetar. Memacu langkah. Lebih cepat. Perempuan terlambat. Sesosok tubuh menghadang perempuan. Perempuan tersudut. Sekelompok laki-laki menyeringai. Kegirangan. Memeluk tubuh perempuan. Begitu rakus. Begitu lahap. Perempuan meronta. Menjerit. Sekelompok lelaki terus melahap tubuh perempuan. Bergantian. Menindih. Berulang. Meninggalkan nyeri.

Perempuan tersungkur. Menjerit. Kedua pipi berlelehan. Terus berlelehan. Menjadi kabut. Sebuah kabut yang terus menerus membayangi perempuan.
 
***

Tidurlah, Ruth.

Tidak bisa, Bu. Ruth ingin menunggu pagi.

Kau akan menemukan pagi setelah melewati malam, Ruth.

Tapi, Bu. Mimpi itu.

Tidurlah, Ruth. Ibu memotong.

Ruth menatap wajah Ibu. Ruth ingin berucap pada Ibu. Bu, kenapa mimpi itu selalu mengikuti? Apakah mimpi itu merupakan kabut yang selama ini mengikuti, Ibu?
Ruth hanya mengucapkan dalam hati.

Tapi Ibu seperti mengerti. Lupakan mimpi itu, Ruth. Lalu pejamlah. Ibu menyahut lalu membelai Ruth.

Tidurlah, Ruth.

Tapi, Bu.

Tidurlah. Ruth.

Ya, Bu. Ruth mengalah.

Tangan Ibu membentangkan selimut ke dada Ruth. Mengecup kening Ruth. Lalu berjalan menuju pintu.

Tubuh Ibu menghilang di balik pintu, meninggalkan Ruth yang terus berdebaran di tepi ranjang. Ruth gelisah menunggu pagi.

Pekanbaru, 2015.


Desi Sommalia
alumnus Pascasarjana Ilmu Hukum, Universitas Andalas, Padang. Menulis cerpen dan essai. Saat ini ia menetap di Pekanbaru, bergiat di Komunitas Rumahkayu.
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 11:32 wib

Lepas Caleg dengan Seremoni Berdiri

Senin, 24 September 2018 - 11:30 wib

Pemprov Sediakan 80 Komputer

Senin, 24 September 2018 - 11:27 wib

Tergoda Suami Orang

Senin, 24 September 2018 - 11:11 wib

5 Hari Perbaiki LDAK

Senin, 24 September 2018 - 10:50 wib

Pencairan TB Dilakukan Bertahap

Senin, 24 September 2018 - 10:42 wib

350 Guru Komite Akan Diangkat Jadi Honor Pemko

Senin, 24 September 2018 - 10:40 wib

Baby Shima Bius Warga Kota Jalur

Senin, 24 September 2018 - 10:39 wib

Pelaku Curas Antar Provinsi Dibekuk

Follow Us